
"Jadi .. anak yang Mamah maksud yang memiliki ahli waris Sharta Gruop itu, Prilly?" tanya Priska, hasil menyimpulkan kisah rahasia besar ibunya tadi. Ia menatap lamat, berharap jawaban "tidak" meluncur dari bibir ibunya.
Ya, tanpa sengaja, Yoona telah mengungkapkan pada Priska bahwa Prilly-lah anak yang menjadi pewaris tunggal Sharta Group dengan menyebutkan nama Ahyoungra sebagai ibu Prilly, istri Jung Ah. Artinya, wanita itulah yang dulu menjadi rahim penyambung keturunan.
Deg.
Oh tidak! Aku tak sengaja mengungkap pada Priska siapa pewaris Sharta Group. Bagaimana ini, Priska pasti sangat terpukul mengetahui bahwa anak itu adalah Prilly.
Wajah Yoona sudah pucat pasi. Ia sadar, satu-persatu kebahagiaan yang dia miliki akan terenggut. Semua berawal dari kehadiran Prilly dalam keluarganya.
Entah, apakah ke depannya mereka masih bisa menyandang status sebagai keluarga dengan marga Sharta. Atau jangan-jangan, kelak semua akan berpindah tangan pada gadis tak berdosa di luar sana. Yang kini tengah mengandung anak Revan.
.
.
"Tuan, kita mau ke mana? Bukankah arah pulang harusnya belok kiri, ya?" Prilly tercengang, Revan sudah melewati satu buah simpangan yang mana jika menuju apartemen, seharusnya mereka berbelok di simpangan tadi.
"Tentu saja pulang!"
Pulang, tapi kenapa melalui jalur ini, ini kan berlawanan arah, apa iya ada jalan di sini yang menembus ke apartemen? Batin Prilly mencoba menerka.
"Tapi, Tuan?"
"Sudah, kau duduk tenang saja di sana."
Prilly diam, sedang dalam hati menjawab. Baiklah, aku hanya akan mengikuti Tuan.
Perjalanan malam itu cukup singkat. Meski hujan salju masih turun, tapi tak sebanyak sebelumnya, malam itu salju yang jatuh mulai menipis, para pekerja yang membersihkan menggunakan traktor untuk mengeruk salju terlihat memadati area jalan tol.
Hanya dalam waktu singkat, Revan telah sampai di depan satu buah kediaman minimalis, halamannya cukup luas, cukup untuk menjadi taman bermain. Arsitek modern tertampang di sana. Tapi tak memungkiri bagian atap sudah penuh dengan salju.
"Ini di mana?" Prilly tercengang.
"Di rumah. Mulai sekarang rumah minimalis ini adalah rumah kita, kaus suka?"
Prilly masih tercengang, menatap ke arah rumah yang cantik dan tampak imut itu. "Tuan, bagaimana kau tahu seleraku?" Ia bicara, masih setia menatap ke sana.
"Itu mudah, aku hanya tinggal search di google."
"Apa?" Prilly mengernyit. "Tidak mungkin."
"Ha-ha-ha." Revan terbahak. "Tentu saja bukan. Mana mungkin aku bisa menemukan seleramu hanya dengan mencari pada aplikasi itu." Tawa itu masih belum usai. Ia bahkan tak kuasa untuk tidak memegangi perutnya.
"Huh, itu tidak lucu."
"Hahhaha, maaf aku hanya bercanda."
"Lalu, bagaimana dengan apartemen Tuan?"
"Aku sudah menjualnya. Apartemen itu sudah di beli 1 hari yang lalu, hanya saja aku baru menemukan tempat tinggal yang cocok, makanya aku baru mengajakmu pindah hari ini."
"Lalu, bagaimana dengan barang-barang?"
"Sudah aku persiapkan semuanya. Kau hanya perlu datang dan meramaikan kediaman baru milik kita ini."
__ADS_1
"Terimakasih, Tuan." Ada secercah kebahagiaan yang terbaca dari senyum Prilly.
"Tentu saja, kau tak perlu berterimakasih. Akulah yang seharusnya mengucapkan itu. Kehadiranmu adalah kado terindah bagiku."
Prilly tersipu oleh ungkapan Revan itu. Namun karena terlalu lama di luar, hawa dingin sudah mulai meresap sampai ke tulang. Berkali-kali Prilly terlihat bergidik menahan getaran dari udara dingin.
"Oke, baiklah. Ayo kita masuk sekarang, udara semakin dingin, nanti kau bisa jatuh sakit." Revan merangkul pundak istrinya. Mengajaknya memasuki halaman itu.
"Kau mengajakku masuk, tapi meninggalkan mobilnya di sana."
"Tidak apa-apa, nanti aku akan keluar sebentar."
"Ke mana, aku boleh ikut?"
"Tidak, ini sudah malam. Kau harus di rumah saja, tidak baik wanita hamil terlalu sering berada di luar, terlebih ini sudah memasuki musim dingin juga kan."
"Baiklah!" Prilly bersungut sendu.
"Hei, aku hanya akan ke apartemen sebentar. Untuk mengambil beberapa dokumen kerja."
"Aku mau ikut. Aku juga ingin mengambil barang-barangku yang tertinggal di sana."
"Tidak perlu, katakan saja barang apa yang ingin kau bawa. Nanti akan aku ambilkan."
"Baiklah!" Lagi, perintah itu berhasil membuat bibir manis itu mengkerut kecil. Mimiknya terlihat imut, membuat Revan semakin gemas hingga mencubit kedua pipinya, sambil menggoyang-goyangkannya.
"Tuaaan, ini sakiiit!" Prilly menjerit manja.
Pemandangan harmonis itu berakhir saat keduanya sudah melangkah masuk, menutup rapat pintu, juga menguncinya.
Percakapan biasa tapi mengesankan berlangsung di dalam sana, hingga 30 menit, Revan melirik pada arloji di tangan, waktu yang menunjukkan pukul 21:30 malam.
"Aku akan pergi sebentar saja. Kau tidak takut kan?"
"Sebenarnya, aku sedikit takut."
"Baiklah, jika kau takut, aku akan memanggil asisten yang bekerja di kantorku untuk menemanimu. Kebetulan rumahnya berada tidak jauh dari sini. Kau, mengobrollah dulu dengannya, oke, Sayang."
"Baik!" sungut Prilly. Revan mengecup hangat keningnya.
"Aku pergi dulu, ya. Jaga dirimu baik-baik. Kunci semua pintu saat aku tak ada. Sekitar 10 menit, asisten itu akan datang ke sini."
"Em!" Prilly mengangguk, tanda setuju.
Revan keluar, memasuki mobilnya yang tadi terparkir di depan pagar. Melambai pada Prilly sebelum menutup kembali kaca mobil. Perlahan menyisakan bekas lindasan ban yang mulai kembali tertutup salju.
Prilly masuk, menutup daun pintu dan menguncinya, kembali ke sofa sembari menyalakan tv, menunggu asisten yang dimaksud Revan tadi untuk segera datang.
.
.
Sementara itu di kediaman Sharta.
"Bagaimana hasilnya, ke mana tujuan landasan Yoona kemarin?" Sharta bertanya dengan nada dingin pada pengawal yang berdiri di hadapannya dengan kepala menunduk.
__ADS_1
"Ada banyak hal yang mengejutkan yang terjadi, Tuan. Kemarin kami mendarat di kota Dangjin."
"Hmm, apa yang dia lakukan di sana?"
"Dia mendatangi satu buah makam, Tuan."
"Makam, atas nama siapa?"
Pengawal itu diam sesaat, seperti gugup untuk menyampaikan kali ini. "Pusara itu .. bertuliskan nama Ahyoungra."
Deg.
Sharta terbelalak, sedang tubuhnya spontan berdiri tegak. "Dia mendatangi makam Ahyoungra, bukankah itu hal biasa?"
"Ada hal yang tidak biasa terjadi di sana, Tuan."
"Hal apa itu?"
"Saat kami berada di makam, ada seorang pria paruh baya yang juga sedang mendatangi makam itu, pria itu adalah Jung Ah, suami mendiang Ahyoungra."
"Maksudmu, bukankah sekarang dia lumpuh, bagaimana bisa dia ada di sana?"
"Saya kurang tahu mengenai itu, Tuan. Tapi yang pasti, pria itu memanglah Jubg Ah."
"Lalu?"
Nyonya terlibat percakapan serius dengannya."
Deg.
"Percakapan seperti apa?"
"Pria itu mengaku kalau dulu mereka pernah melakukan hubungan serius. Dia menanyakan perihal anak yang dikandung Nyonya dulu."
"Maksudmu? Dia menanyakan perihal Priska?"
"Sepertinya begitu, Tuan. Tapi Nyonya Yoona mengelaknya."
"Hmm, jadi ada kemungkinan kalaundulu Yoona berselingkuh, begitu?"
"Ya, tapi Nyonya tidak mengakuinya, Tuan. Mungkin saja pria itu memfitnahnya, untuk mencari keuntungan."
"Kau benar, mungkin juga begitu, selidiki terus kasus ini. Cari informasi yang dalam mengenai masa lalu Yoona. Gali sampai yang terdalam. Jika benar dia berselingkuh, maka aku pastikan akan memberikan sanki yang setimpal padanya. Beraninya dia menodai kehormatanku."
Pria di depannya masih setia menunduk.
"Lalu, bagaimana dengan penjemputan putri Tuan?"
"Tetap laksanakan."
"Apa Tuan akan ikut?"
"Tentu saja."
Bersambung dulu yaa, jangan lupa untuk mampir juga di audio book author. Caranya klik profil author, audio book ada di bagian terbawah. Terimakasih 🤗
__ADS_1
Votenya jangan pelit untuk RUTMðŸ¤