
Hingga kini, Presdir Sharta masih meyakini bahwa putrinya masih hidup. Meski jelas 15 tahun silam ia sendiri bahkan ikut mengantar ke peristirahatan Ahyoungra dan putrinya Prilly, tapi tetap ia yakin bahwa jasad yang dikubur di dalam sana bukan putrinya.
Surat wasiat ia tulis untuk Prilly sebagai ahli waris tunggal kekayaan Sharta Group yang diserahkan pada pengacara itu bahkan belum pernah berubah sejak pertama dibuat.
Hanya satu cara untuk mengubahnya, dan semua itu akan terjadi jika Presdir Sharta menghembuskan napas terakhir, maka secara otomatis surat wasiat yang tercantum atas nama Prilly akan berganti menjadi Priska Ananda Sharta.
Yoona yang teramat mencintai suaminya tak sampai hati melakukan hal itu hanya untuk menguasai harta Sharta. Tapi siapa yang tahu bagaimana dengan isi hati putrinya, Priska.
*****
Yoona alias Nyonya Sharta sibuk mondar-mandir di dalam ruang pribadinya, dan hanya ditemani oleh kepala pengurus mansion.
"Aku harus memikirkan cara untuk menyingkirkan gadis itu. Ahh!"
"Nyonya, tenanglah. Jangan bebankan pikiran Nyonya. Tenaang."
"Bagaimana aku bisa tenang. Aku sendiri bahkan yang membawanya ke sini. Artinya aku yang sudah mengantarnya kembali pada Sharta."
"Nyonya, bagaimana kalau kita gunakan jasa dari Organisasi Gagak Merah, kita lenyapkan saja gadis itu."
"Tidak semudah itu. Kau sendiri sudah melihat bukan, bagaimana Revan memperlakukan dia layaknya seorang ratu. Dia istimewa di mata anak itu. Revan pasti akan menjaga dengan ketat mulai sekarang, terlebih karena dia sempat melihatku yang memerintah pengawal untuk mengurungnya. Aku takut dia mencurigakan sesuatu lalu mengorek-ngorek ranah identitas Prilly."
"Yaa. Nyonya benar."
"Pantas saja Priska tampak membencinya, ternyata Prilly ini mengkhianatinya. Harusnya sejak awal bertemu aku sudah menyadarinya. Pantas saja, wajahnya benar-benar mirip dengan putriku Priska. Tak kusangka dia gadis yang selama ini dicari Sharta."
"Jadi, kita harus bagaimana, Nyonya?"
"Untuk sementara, hanya ada satu cara agar tidak mencolok. Jangan bertindak yang sekiranya mencurigakan. Pura-pura saja tidak tahu-menahu mengenai gadis itu. Jika Revan mengetahui siapa sebenarnya gadis itu, maka bisa jadi semua rencana yang sudah kususun sejak puluhan tahun silam akan gagal, harta warisan yang seharusnya milik putriku akan jatuh ke tangan gadis sialan itu. Juga terutama pernikahan putriku dengan Revan, bisa saja berakhir mengenaskan."
"Nyonya, saya punya usul. Bagaimana kalau kita buat putri Nyonya hamil. Saya berpikir mungkin saja dengan menghadirkan seorang cucu akan merubah cara pandang tuan besar, lalu boleh jadi Tuan Sharta mengganti ahli waris tunggal pada cucu dari anak Nyonya."
Netra Nyonya Sharta berbinar mendengar rancangan ide pengurus mansion sekaligus tangan kanan itu.
"Idemu benar-benar cerdik."
Ia tak menyahut, hanya senyum yang mulai mengembang di sana.
*****
Langit malam kembali menyongsong langit biru, hangat mentari masih tersembunyi di balik awan tebal, tapi sedikit demi sedikit mulai mengintip dunia.
Suasana Balai Sharta Group sudah terlihat ramai oleh padatnya staf yang siap mengawali aktifitas. Sedini mungkin, Presdir Sharta sudah menduduki kursi kerjanya, berkutat dengan beberapa lembar file kerja hasil laporan para karyawan untuk ia tandatangani.
Tok.
Tok.
__ADS_1
Sebuah ketukan pintu berhasil mengalihkan padangan pria berumur lebih dari 50-an itu.
"Masuk."
Kriieeet.
Seorang pria masuk, kemudian berdiri di hadapan Presdir Sharta dengan mengenakan kaos hitam berlapis jaket kulit, tapi pandangan Sharta masih tak berpaling dari laptop dan lembaran file tadi. Meski begitu, ia tetap mengetahui sosok tamu yang mengusik itu.
"Katakan, ada hal apa kau menemuiku?"
"Aku baru saja mendapatkan kabar penting, Tuan."
"Hmm, begitu?" Ia sedikit mengintip di balik kacamata tebal. "Berita penting apa yang kau bawa?"
"Ini mengenai putri anda dari Nyonya Ahyoungra, kami menangkap sinyal keberadaan mereka."
Deg.
Mendengarnya, seketika Sharta menghentikan pengerjaannya. Ia terdiam sejenak sebelum kemudian melepas kacamata. "Benarkah berita yang kamu katakan ini?" Netranya berbinar menatap sang anggota CIA itu. Pria yang sudah puluhan tahun bergelut bersamanya untuk membantu mengatasi berbagai masalah yang menyangkut identitas dan rahasia Sharta Group. Termasuk pencarian putri yang selama ini keberadaannya masih dalam teka-teki.
"Ya, Tuan. Kami sudah mengidentifikasinya. Berita yang kami bawa adalah benar, hanya saja kami masih belum menemukan dengan pasti lokasi Nona Prilly saat ini."
"Apa maksudmu?"
"Kami menemukan pria bernama Jung Ah yang dulu menjadi suami Nyonya Ahyoungra, dia tinggal di sebuah kontrakkan kecil milik kelurga Sharta Group. Tapi, saat kami menanyakan perihal putri dan istrinya, dia bilang hanya tinggal bersama putrinya, istrinya sudah lama meninggalkan sejak puluhan tahun, sedangkan putrinya bekerja di suatu tempat, dia juga mengatakan tidak tahu-menahu mengenai lokasi dan pekerjaan apa yang digeluti putrinya itu, jadi kami belum mendapat keterangan pasti mengenai lokasi dan pekerjaan Nona Prilly."
"Ya, Tuan. Kami sengaja tak melanjutkan misi ini untuk sementara waktu, untuk meminimalisir kecurigaan mereka."
"Bagus, tapi kau harus terus pantau mereka. Kerahkan puluhan anak buahmu untuk memantau lokasi tempat tinggal pria itu."
"Siap, Tuan."
Pria tadi mundur, lalu keluar melalui pintu depan.
Prilly, akhirnya Ayah menemukanmu. Sudah kuduga kamu memang masih hidup. Akan kuusut penyebab hilangnya dirimu juga kematian ibumu. Bersabarlah, aku akan mengungkap semua saat waktunya sudah tiba.
*****
Gemercik air dari shower dalam bathub terdengar memercik di lantai. Sebuah tirai putih transparan menggantung, menjadi penutup tubuh seseorang yang mandi di sana.
Revan tersenyum pulas, menyandarkan punggungnya pada gawang pintu, sementara kedua lengannya melipat di dada. Sekitar setengah jam menunggu, sosok wanita yang tadi mandi sudah berhasil keluar, berbalut satu buah baju mandi dan handuk yang melilit di kepala. Wanita itu belum menyadari hingga Revan menyentaknya.
"Sudah selesai?"
"Eh, Tuan?" Ia terkejut, terbelalak. Spontan menutupi dada yang hanya terbungkus baju mandi.
"Kenapa malu begitu, aku kan suamimu?"
__ADS_1
Suami? Astaga aku lupa kalau tuan muda sudah menikahiku.
Pria itu berjalan mendekat, membuat Prilly semakin grogi dan menegang. "Tu-tuan apa yang ingin anda lakukan?"
Revan tak menjawab, hanya senyum penuh nafsu ia pancarkan. Semakin dekat ia sehingga Prilly semakin kehabisan langkah untuk mundur. Kini jarak antara mereka hanya beberapa jengkal saja. Revan menutup matanya, mendengkus aroma semerbak yang menguak dari tubuh gadis paska mandi itu.
"Kau menggunakan sabun mandiku, ya?"
"Eh??" Ia terkejut, sesaat tersenyum pias. "Hihi maaf, aku juga bahkan memakai kamar mandi tuan muda loh. Maaf aku melanggar lagi."
"Hmm, istriku sekarang mulai nakal yaa, apa ini artinya sebuah kode?"
Eh, kode apa maksudnya?
"Tuan, tolonglah jangan berpikir yang tidak-tidak!"
"Kenapa, apa berpikir yang tidak-tidak terhadap istriku sendiri juga tak boleh?"
"Ehh, bukan begitu, tentu saja boleh." Lagi, ia mengucap tanpa sadar.
"Benarkah? Apa itu artinya sekarang aku boleh menciummu?"
"Eh?"
Tidaaak. Aku belum siaaap.
Mendadak Prilly merasa seperti terkena serangan jantung. Dadanya berdebar dengan riangnya. Sementara otak kirinya sudah terinstal sebuah film romansa dewasa. Cepat ia menggeleng untuk menghapus memori yang terputar otomatis itu.
"Cium?" Revan menunjuk pipinya, sambil mengarahkan pipi kanan untuk segera diberi kecupan.
Apa? aku tak bisa.
Prilly hanya diam, sedang rona merah di pipi sudah tak dapat ditutupi.
"Kok lama, tidak mau ya? Baiklah."
"Eh, bukan begitu."
"Hmm?" Revan kembali memutar tubuhnya. "Jadi, mau?" Lagi, dia menunjuk pipi yang sama.
Oh tidaaak! Ah, kenapa mendadak diminta begini sih? Prilly memejamkan erat kedua mata. Namun mendadak sebuah kecupan singkat mendarat di bibirnya. Ia terkejut dan spontan membuka mata.
"Selamat pagi, Istriku Sayang!"
Senyuman hangat langsung memadati ruang penglihatannya. Prilly melayang, bagai terhempas di atas hamparan ratusan macam bunga. Ia bahkan masih melongo saat Revan sudah beranjak masuk ke dalam bathub, mengisi kamar mandi yang kini kosong usai Prilly keluar.
Bersambung ....
__ADS_1