
Prilly masih tak percaya dengan apa yang ia alami 2 jam lalu itu. Saat ini ia memilih berbaring di kasur berlatar nuansa kekuningan dari cahaya lampu tidur. Ada bayangan pria berdiri tergambar pada dinding, pria itu kemudian duduk mengusap pelan pucuk kepalanya. Ya, Revan berusaha menenangkan hati Prilly yang terluka, gadis itu menangis pilu mengingat akan hal yang baru saja ia alami.
"Percayalah, Prilly. Aku mampu melewati semua masalah ini. Kau tenang saja. Jangan bebankan isi kepalamu dengan masalah begini, aku bisa mengurusnya."
'Selalu saja tuan berkata begitu, pada kenyataannya aku tetap sakit hati sampai saat aku berbaring ini. Ia mengeluh dalam hati.
"Prilly." Lagi, tanga itu membelai lembut rambut Prilly yang terurai, pelan Prilly mengingkirkannya.
"Tuan, izinkan aku sendirian untuk saat ini." Ia tak ingin terganggu. Hanya ingin bersemayam bersama kesendirian. Entah, malam itu ia merasa tuan muda gagal melindunginya. Keputusan Revan 2 jam lalu berhasil membuat hatinya terluka parah.
"Baiklah, aku akan meninggalkanmu sendiri saat ini, jika ada yang kau inginkan jangan sungkan untuk mengatakannya padaku." Prilly tak menjawab, hanya gerakan mata memperhatikan dinding, ada bayangan hitam yang bergerak menjauh.
Ia masih enggan bangkit, lebih memilih mendekapkan diri dalam balutan selimut. Guyuran di luar sana terdengar ramai, derasnya hujan seakan menjadi alunan syahdu yang menggantikan aliran deras pada kedua matanya, dan pada akhirnya mengantar Prilly ke alam mimpi
Sementara itu, dua jam lalu ....
.
.
"Kau gila, Revan. Apa kau sudah tak waras, keterlaluan kau, teganya kau berbuat begini pada kami, apa kau ingin kita bangkrut dan jatuh miskin, hah?"
Puluhan kali Nyonya Harlem mendaratkan pukulan pada punggung putranya, tapi pria di sana terlihat datar saja, hingga beberapa saat ia mulai habis kesabaran, serangan itu akhirnya ia tangkis juga, membuat lengan Nyonya Harlem berada dalam genggamannya. Lalu ia menghempasnya kasar.
"Cukup, Bu. Aku akan mengurus hal ini. Tidak akan ada yang terjadi pada perusahaan Arkandi Group."
"Dengan cara apa, hah?"
"Aku akan mengikuti permainannya untuk tinggal di mansion bersama Priska."
"Permainan katamu?"
"Ya, memanglah semua ini hanya permainannya!"
Nyonya Harlem terdiam sesaat, entah apa yang ia pikrkan , sekelebat bayangan iblis seperti meneror pikirannya, menghasut agar ia semakin menekan putranya.
"Kau yakin hanya dengan begitu semua akan baik-baik saja?"
"Ya, aku akan pastikan itu."
"Aku tak yakin hanya dengan cara itu semua akan berhasil. Aa kau sadar, kau udah menyakiti hati putri Tuan Sharta, itu artinya kau juga menyakiti hati Presdir Sharta dan Nyonya Sharta, terlebih karena kini putrinya amnesia, apa kau tahu bagaimana paniknya ibu saat mereka datang ke kediaman kita bersama putrinya yang mabuk berat, katanya semua terjadi karena ulahmu."
Revan hanya diam. Tak ada kata yang ingin ia ucap. Hidupnya sudah seperti perisai yang wajib menjadi tameng untuk melindungi keluarga dari kemelaratan.
__ADS_1
Sementara Nyonya Harlem masih menatapnya geram. Kau tahu, artinya sekarang kita hanya bisa pasrah dan menunggu masa-masa kebangkrutan. Kau puas sekarang, Revan?"
"Cih!" Revan tertawa tipis, sepintas menoleh. Membuat ibunya mengernyit.
"Apa yang kau pikirkan, apa kau sudah benar- benar tak waras, bahkan disaat begini kau masih bisa tertawa?"
"Bukankah sudah kukatakan, Prilly adalah gadis kiriman anak dari Tuan Sharta. Aku sudah tahu kelemahannya. Putri Sharta akan melunak saat aku mengatakan untuk tinggal bersamanya, sementara urusanku dengan Prilly akan menjadi urusan pribadi, jadi kuminta Ayah dan Ibu jangan pernah ikut campur lagi."
Lagi, pernyataan tak masuk nalar itu membuatnya keheranan.
Apa maksud Revan dengan mengatakan mengetahui kelemahan Priska, benarkah pernikahan mereka hanya sebuah permainan, semua kini makin terlihat nyata, sepertinya memang benar mereka tak serius menjalankan pernikahan ini.
"Kau yakin sekali, Revan!"
"Tentu saja!"
"Dengan cara apa kau membuktikannya pada kami orangtuamu?"
"Bukankah sebuah perjanjian tak bisa dilansasi tanpa sebuah kontrak?"
Deg!
Apa maksudnya?
Mereka mengernyit. "Maksudnya?"
"Jadi Ayah dan Ibu masih belum paham?"
Tak ada jawaban ya atau anggukan, hanya tatapan fokus untuk menyimak penguraian Revan.
"Bukankah sudah kukatakan Prilly adalah gadis kiriman dari putri Tuan Sharta? Tentu saja dia memiliki bukti kontrak itu."
Mereka diam.
"Bukankah semua sudah jelas sekarang? Kalau begitu, sebaiknya Ayah dan Ibu pulang saat ini juga. Aku tak ingin Prilly dan bayinya terganggu jika kalian berlama-lama. Dan lihat saja kabar yang akan kalian terima esok."
Nyonya Harlem melirik pias gadis yang beringsut itu.
Kau benar-benar beruntung gadis kampung.
"Baik, jangan kecewakan orangtuamu."
Nyonya Harlem berbicara tepat di depan wajah Revan. Sebelum pergi ia sempatkan melirik gadis yang makin tersudut di belakang sana. "Jika yang kau lakukan nanti berakhir gagal, Ibu dan Ayah tak segan untuk menjauhkan gadis pembawa sial itu darimu," tuturnya disusul berbalik badan. Kini mulai bergerak meski sedikit lamban, sesekali masih menoleh pada putra tunggal itu.
__ADS_1
Revan memang menyayangi mereka, hingga memilih mengorbankan seluruh hidup untuk orangtuanya itu.
"Tunggu." Panggilan Revan spontan menghentikan langkah mereka. "Semua pengorbanan yang kulakukan tentu saja harus ada timbal baliknya."
Deg.
"Maksudmu, apa kau sedang bernegosiasi pada orangtuamu sendiri?"
"Ya!"
Kini tatapan mereka kembali geram, ingin memukuli putra tangguh itu untuk kedua-kalinya.
.
.
Ada sedikit cahaya kekuningan yang mengintip di balik sekelebat awan gelap, hujan yang baru usai malam tadi tak lantas mengembalikan keceriaan sang surya. Ia masih bersembunyi di balik cuaca mendung temaram itu.
Sementara itu, aktifitas kepadatan di atas bumi mulai memadat, jadwal shooting Nona Airen akan berlangsung 1 jam akhirnya tertunda oleh beberapa alasan, kabarnya 2 orang artis senior tak dapat melakukan shooting pagi itu.
"Cut!" Sang sutradara mengehentikan aktifitas pengambilan gambar, gadis itu beranjak, mengibas-ngibas wajah dengan kipas tangan menuju kursi riasnya.
"Uhh gerah." Beberapa asisten langsung menghampirinya, sebagian membawa minuman, sebagian lain menyalakan kipas untuk menyegarkannya.
"Benar-benar menyusahkan!" Ia mengeluh, dasar artis tak profesional!" Lagi, Airen mengutuk 2 artis yang gagal shooting pagi itu. Mereka mengakibatkan jadwal shooting yang harusnya usai menjadi tertunda. "Coba kamu cek, apa masih ada scenario untukku pagi ini?" Ia meminta sang manager pribadi mengeceknya, dan hanya dalam waktu beberapa saat ia kembali.
"Hari ini, jadwal shooting untuk Nona sudah berakhir."
"Oke, bagus!" sahutnya tanpa menatap, dua perias tampak melepas beberpa aksen yang pelengkap riasan shooting. Sedang mata Airen masih fokus menatap layar pada ponselnya. Tiba-tiba terlintas berita hangat mencuat mengenai kabar pernikahan putra-putri perusaan terkuat Sharta Group dan perusahaan Arkandi group. Seperti mendapat hiburan baru, matanya berbinar membuka berita yang diliput melalui media online itu.
Aku berharap hubungan pemuda putra tunggal Arkandi Group itu berakhir dengan istrinya. Ia mencengir, merapal doa buruk.
"Nona Airen, Pak Choi bilang hari ini jadwal meeting telah selesai."
"Oke!" sahutnya. "Kim, antar aku ke apartemen sekarang. Ada drama menarik yang ingin kukupas di sana."
"Siap, Nona!"
Have a good fight with me, Priska. Sambutlah kedatanganku, aku akan semakin menghancurkan hidupmu. Ia tersenyum kecil.
bersambung ....
maaf belum bisa update panjang. sementara sehari satu chapter dulu, nanti kalo author punya banyak waktu senggang, sesekali authot berikan crazy up. jadi tetaplah dukung, oke 😉
__ADS_1