
Sementara itu, rapat yang dipimpin oleh Revan sebagai wakil ketua dewan direksi, mengenai proyek infrastruktur antar 2 perusahaan itu berjalan mulus. Sekitar 3 jam lamanya rapat berlangsung, akhirnya Presdir Sharta menutupnya dengan kesepakan yang ditetapkan bersama puluhan dewan di sana.
"Baik, rapat hari ini cukup sampai di sini. Ke depannya, proyek ini aku serahkan pada Revan sebagai penanggungjawab penuh," ujarnya merujuk pada Revan. Pria yang di tunjuk itu mengangguk setuju dengan keputusan Presdir Sharta. Tepukan tangan para dewan atas kerja Revan menjadi penutup rapat pagi itu. Setelahnya, satu-persatu beranjak bubar, meninggalkan 3 insan yang masih bertahan di dalam sana.
Tak ada percakapan selama mereka menunggu ruang ramai itu menjadi kosong, hingga bangku-bangku di sana benar-benar tak berpenghuni lagi, barulah salah seorang asisten memberi sinyal pada Presdir Sharta. Hanya dengan satu anggukan, asisten pengawal itu langsung bergerak, menutup rapat pintu aula utama meeting.
Hening. Bahkan Harlem yang juga selaku Presdir pendiri Arkandi Group tidak berani bersuara.
"Bisa tinggalkan kami berdua?" Pertanyaan dingin dari Sharta menggetarkan jiwa Harlem. Lamat ia menatap Sharta, lalu melempar pandangan pada putranya. Seakan berkata apa yang ingin tuan bahas bersama putraku, jika mengenai perselingkuhannya tolong jangan apa-apakan dia, tapi pertanyaan itu tak berani ia lontarkan. Hanya memendamnya dalam benak terdalam.
"Baik!" Hanya itu yang akhirnya ia ucapkan. Ia mulai menggeser pelan kursi yang membuatnya tertahan sejak 3 jam lalu. Ikut bubar bersama puluhan dewan lainnya yang sudah lebih dulu berpencar.
Kini, ruangan luas itu hanya dihuni 2 pria antara seorang mertua dengan menantu. Sepuluh menit lamanya waktu hening yang berlalu, kini Presdir Sharta mulai bicara.
"Benarkah rumor yang beredar tentangmu?"
Deg.
Revan mengalihkan tatapan padanya. "Benarkah kau sedang menyelingkuhi putriku Priska. Sampai membuatnya terluka?"
"Itu tidak benar, aku tidak berselingkuh. Semua yang terjadi padaku atas kesepakatan antara aku dan Priska."
"Jangan mencoba untuk mengelabuiku. Apa kau memanfaatkan kekurangan putriku yang tengah amnesia sebagai landasan alibimu?"
Deg.
Revan diam. Kini semua akar permasalah seperti menyudut padanya. "Tuan boleh saja tak percaya padaku, karena aku tahu, tidak ada seorangĀ ayah yang tak marah mengetahui putrinya terluka. Tapi untuk masalah tuduhan perselingkuhan ini memang tidak benar. Wanita itu memegang kontrak yang ditandatangani oleh putri anda juga."
"Apa maksudmu, Revan?"
"Tuntutan untuk segera memiliki momongan membuat putri anda mengirim seorang gadis padaku."
Deg.
"Lalu, kalau benar, kenapa kau tidak menolak?"
"Aku tak berniat menjelekkannya, tapi memang dia memaksaku. Bahkan sudah satu bulan terakhir gadis itu bersamaku."
Plak!
Tamparan keras mendarat pada rahang Revan. Rasa panas itu langsung meresap hingga membekas merah pada permukaan kulit yang terkena layangan tangan tadi.
"Tinggalkan gadis itu!"
"Tidak bisa!"
Sharta sudah menatapnya penuh murka.
__ADS_1
"Apa kau melawanku, maka itu artinya, kau siap mengantar Arkandi Group pada masa kebangkrutannya."
"Jika memang harus begitu, maka aku siap berperang dengan anda!"
Deg.
Sharta terdiam, antara marah dan takjub. Keberanian Revan memutuskan untuk mempertahankan gadis itu membuatnya terharu.
Pendirian Revan benar-benar patut kuacungi jempol. Tak kusangka dia bahkan siap bertempur denganku hanya demi merangkul gadis itu dalam lindungannya.
"Kau membuatku terharu, Revan. Apa yang membuatmu begitu kuat mempertahankan gadis itu?"
"Karena dia sudah terlanjur mengandung anak dariku."
Deg.
Sepasang mata Sharta menyalak mendengar pernyataan itu. "Kau bilang, dia mengandung anakmu?"
"Yaa!"
Bagaimana bisa Revan mengalami hal yang dulu pernah kualami?
"Siapa gadis yang membuatmu takluk itu, bisakah aku melihat wajahnya?"
"Tentu saja!" Revan meraih satu buah ponsel dari dalam saku jasnya. Menyalakan layar redup itu untuk mencari foto wedding bersama Prilly. Hanya dalam waktu singkat, ia berhasil memperlihatkan foto weddingnya bersama Prilly. "Ini ...." Ia menunjukkan gambar dalam layar itu pada Sharta.
"Namanya Prilly, dia orang tak punya, ayahnya mengalami stroke, dia juga tak memiliki tempat tinggal."
Lamat Sharta memandangi wajah dalam foto itu. "Kau bilang namanya Prilly?"
"Ya."
Ia diam sesaat. Seperti memikirkan sesuatu.
"Mendadak aku ingat putriku yang sudah lama meninggal, namanya juga Prilly."
"Benarkah? Tapi .. aku pikir putri anda hanyalah Priska?"
"Ah, iya. Dalam data keluarga, putriku Prilly memang tidak tercantum sebagai keturunan dari marga Sharta. Ahh, kenapa aku jadi membahasnya." Ia kembali menatap Revan yang tampak tak memiliki ekspresi itu. Semua yang tergambar di wajah Revan hanya raut datar.
"Entah kenapa .. mendadak aku ingin kau menjaga gadis itu, melindungi gadis itu."
Revan masih diam dengan raut yang sama, sedang dalam hati mulai menerka-nerka.
"Tapi .. aku mengizinkanmu menjaga gadis itu hanya sampai dia melahirkan anak benih darimu itu. Ke depannya, kau harus bercerai dengannya. Atau semua kontrak yang sudah terjalin antar perusahaan ini akan menjadi korbannya."
"Maaf, aku tak bisa menjanjikan hal yang Tuan minta. Entah, aku sendiri tak tahu akan berapa lama bertahan dengannya. Tapi yang pasti, untuk saat ini aku tak akan melepasnya apapun alasannya."
__ADS_1
Kali ini, senyum hangat mendadak tersirat dari wajah Sharta. Hilang sudah rasa kesal yang sebelumnya sempat membara akibat luluh oleh cerita singkat mengenai wanita Revan.
"Tolong bimbing putriku juga. Aku tahu, kau mungkin tidak menyukainya, dia gadis yang teramat manja, tapi tolong jaga dia."
Revan diam saat Sharta memintanya menjada Priska, pria tua itu tak lagi nampak kesal, seakan benar-benar luluh setelah percakapan mereka yang memakan waktu hampir satu jam itu.
"Akan kulakukan semampuku," jawab Revan. Secercah senyuman hangat tergambar di wajah Presdir Sharta.
"Aku harap, aku bisa mengandalkanmu, seperti kau yang pandai memimpin kelancaran jalannya rapat, kuharap kau juga pandai memimpin menjadi kepala dalam rumah tangga."
Cukup aku yang gagal menjadi kepala rumahtangga, Revan. Jangan sambung bakat burukku ini.
.
.
Perjalanan pulang kali ini terasa lambat bagi Revan. Mobil yang dikendarai oleh asistennya itu serasa siput berjalan. Ingin segera berjumpa Prilly membuatnya tak kuasa membendung rasa rindu.
Di depan sana, kemacetan menambah lamanya masa perjalanan, gerah sudah tak terbendung, Revan memilih mampir ke sebuah restoran milik teman lamanya. Berbincang mengenai resep-resep masakan sehat mulai menjadi aktifitas rutin yang nyarid tak terlewatkan.
Ya, tujuan utama hanya untuk menyajikan makanan terbaik untuk wanita dan calon buah hatinya.
Sementara itu masih di seputaran gedung Sharta Group, tuan besar itu terlihat duduk tenang di ruang pribadinya. Menikmati secangkir kopi panas ditemani alunan musik dari piringan hitam. Ya, alunan syahdu dari musik klasik itu membawanya pada kenangan lama, seketika terngiang bayangan wajah Ahyoungra tersenyum manja padanya.
Aku merindukanmu, Ahyoungra!
Tok. Tok.
Suara ketukan pintu di depan sana menyentaknya. Ia mengerjap, semua bayangan memory nostalgia itu lenyap. Sedikit rasa kesal menggelayutinya saat ketenangan itu terganggu.
"Masuk!" perintahnya.
Krieeet.
Pelan pintu itu terbuka, sosok pria dengan kemeja hitam lengkap dengan jaz datang memberi hormat.
"Ada info apa?" Tanpa basa-basi, Sharta langsung menembak dengan menanyakan maksud dan tujuan pria itu.
"Ya, Tuan. Info kali ini mengenai putri anda dari Ahyoungra."
Deg.
"Kau mendapatkan info tentangnya?" Sharta sampai tertegun, bediri tegak mendengarnya.
"Ya!"
Bersambung dulu ....
__ADS_1