
Sementara Sharta kembali melanjutkan sarapan pagi, Yoona yang sangat terpukul itu memilih meninggalkannya menuju kamar Priska. Dengan perasaan gundah ia mendatangi gadis sematawayang ke kamar itu.
Dari jauh, pintu itu tertutup rapat, tapi ia tahu, anaknya hampir tak pernah menguncinya dari dalam. Yoona mengetuk pelan lalu membuka, dan masuk tanpa izin.
Krieeet.
Dia nampak pulas di atas matras di sana. Berbalut selimut menutup sempurna tubuhnya. Pelan Nyonya Sharta mendatanginya, duduk di ranjang di sampingnya sebelum menyapa gadisnya itu.
"Priska?" Ia mencoba mengintip di balik selimut yang membungkus putrinya. Ternyata sejak tadi Priska sudah membuka mata, tapi tidak langsung bangkit, melainkan hanya berdiam, sesekali berkedip dengan tatapan ke satu titik.
"Priska?" Panggilan kedua kali itu membuatnya menoleh. "Priska sayang, kok belum bangun?" Yoona membantu bangkit dengan mengangkat pundak Priska. "Bagaimana keadaanmu, Sayang?" Yoona memang pandai terlihat tegar untuk menutupi kekacauan di hatinya saat bertatap muka dengan orang terkasihnya.
"Aku tak baik, Mah."
"Sudah minum obat pereda mabuk itu?"
Priska menggeleng.
"Minumlah." Yoona menuangnya sedikit ke dalam gelas kaca, mengarahkan pada bibir putrinya. "Minumnya pelan-pelan saja, ya." Tak ada jawaban, Priska hanya menenggaknya sampai habis. "Apa semua yang terjadi padamu benar karena perselingkuhan suamimu?"
"Emm!" Ia mengangguk kecil.
"Sayaang, apa kamu benar-benar mencintai putra tunggal Arkandi Group itu?"
Lagi, jawabanya hanya anggukan.
"Sayang, Mamah hanya ingin menyarankan, mulai sekarang kau lupakan saja dia. Ciptakan sendiri kebahagiaanmu, biarlah nanti ibu membantu mengurus perceraianmu."
Deg.
Cerai?
Mendengar itu, spontan Priska berbalik badan, memegang erat tangan ibunya.
"Enggak, Mah. Priska gak mau. Priska sayang Revan."
"Sayaang." Dengan raut sedih, Yoona menyentuh pipi lembut putrinya. "Ada banyak pria yang siap menyambutmu di luar sana, pria yang juga dari kalangan terpandang, bahkan lebih kaya dan tampan dari Revan. Cobalah pikirkan, untuk apa bertahan dengan pria yang tidak mencintaimu, yang bahkan mengkhianatimu. Terlebih disaat kau sedang amnesia, dengan jahatnya dia justru memanfaatkanmu, dia memfitnahmu. Kau tahu, dia bilang kamulah yang mengirim gadis kampung itu ke pelukannya. Tidakkah kamu membencinya, Sayang?"
Priska terdiam atas ceramah panjang itu. Seketika ia merasa seperti tertimpa reruntuhan dari puing-puing akar masalah yang ia ciptakan sendiri. Cukup lama ia berpikir untuk menjawab nasehat panjang ibunya tadi. Kini Priska mulai mengumpulkan keberanian untuk bicara.
"Mah." Ia menatap sendu.
"Ya, Sayang?"
"Maafkan Priska!"
"Maaf?" Yoona mengernyit. "Untuk hal apa, kau tidak berbuat salah kan, Sayang?"
"Maafkan Priska, hu-hu-hu." Gadis itu mulai tersedu, tak kuasa menahan gejolak dalam diri. "Sebenarnya, yang Revan katakan adalah benar, Mah."
Deg.
"Apa? Kau pasti bercanda kan, Sayang?"
"Tidak, Mah. Bahkan amnesia ini hanyalah tipuan agar Revan memiliki rasa simpati padaku!"
__ADS_1
Dag. Dug.
Dag. Dug.
"Apa? Tapi kenapa?"
"Aku terpaksa, Mah. Aku hanya ingin perhatian dari Revan. Aku tak menyangka jika akhirnya malah jadi begini."
"Lalu kenapa kau mengirim gadis kampung itu pada Revan?"
"Untuk itu, aku juga terpaksa, Mah. Kemarin kalian menuntut aku dan Revan untuk segera memiliki momongan, tapi saat itu aku dan Revan sama sekali tak memiliki rasa cinta, aku belum mencintainya. Aku terpaksa mengirim gadis itu untuk mengandung anak darinya." Mendengarnya, seketika Yoona lunglai. Bagai terhantam godam, ia terhenyak lemas.
"Kau tidak bersungguh-sungguh dengan ucapanmu, kan?"
"Maaf, aku mengatakan yang sebenarnya, Mah."
Dag. Dug.
Dag. Dug.
"Tidak, tidak mungkin." Nyonya Sharta sampai terbata menahan getaran yang mulai mencuat di bibirnya.
"Mah, Mamah kenapa?" Priska sampai ketakutan melihat ibunya yang kini terlihat pucat pasi, juga sedikit gemetar.
"Priska, cepat batalkan kontrak yang kau buat dengan gadis itu."
"Tidak bisa, Mah. Revan sudah terlanjur mencintainya."
"Tapi kamu yang membuat perjanjian kontrak itu, bukan?"
Deg.
Saat itu juga, Yoona lemas. Ia tersandar tepat sandaran matras, membuat putrinya cukup panik.
"Mah, Mamah kenapa?"
"Priska." panggilnya pelan. "Mungkin ini saatnya kau mengetahui kisah masalalu Mamah." Ia mulai bercerita. "Dulu saat awal menikah, Mamah sulit untuk mendapatkan momongan, kau tahu, Mamah terpaksa memakai jasa pinjam rahim dari wanita lain."
Deg.
Jantung Priska langsung berdesir mendengarnya. Matanya menatap lekat tanpa berkedip, sementara bibirnya bungkam menyimak kisah kelam ibunya.
"Dan akhirnya Mamah menyesal, karena ternyata papahmu tidak hanya menaruh benih dalam rahim wanita itu, dia juga menaruh hati untuk wanita itu, dia mengabaikan Mamah. Bahkan disaat Mamah mulai mengandung kamu, papahmu sudah tak peduli lagi. Dia sibuk dengan wanita itu."
"Apa itu artinya, aku punya saudara?"
"Ya! Saudara seayah."
Deg.
"Kau tahu, sayang. Mamah tidak ingin kau menyesal seperti Mamah. Jika memang Revan menyakitimu, maka cerai saja dengannya. Dia bukan pria yang teramat kaya. Dia hanya anak peyambung untuk memperkaya perusahaan ayahnya."
"Tapi, Mah."
"Sayang, dengarkan Mamah. Tinggalkan Revan."
__ADS_1
"Tidak, Mah. Tidak semudah itu, aku terlanjur mencintainya."
Nyonya Sharta semakin termangu atas sikap keras kepala putrinya.
"Baiklah, jika memang kamu tak bisa, hanya satu pinta Mamah, buatlah dirimu mengandung anak darinya. Jika kamu berhasil memberikan cucu laki-laki pada papahmu, maka kekayaan Sharta Group akan diwariskan pada putramu."
Deg.
"Apa maksud Mamah, apa saat ini Sharta Group sudah mencatat nama ahli waris, tapi ahli waris itu sudah pasti atas namaku, bukan?"
Yoona terdiam sesaat. Masih menatap lekat putrinya. "Tidak, Sayang. Ahli waris Sharta Group sudah tercatat atas nama gadis yang dikandung oleh wanita penyambung rahim dulu."
Sepasang mata Priska membulat tak percaya. "Lalu, di mana anak itu, kenapa aku tak pernah mendengar namanya disebut-sebut oleh papah."
"Dia .. seharusnya sudah lama lenyap, karena dulu Mamah mengirim pasukan pembunuh bayaran untuk memusnahkan mereka."
"Lalu? Apa maksud Mamah dengan berkata, seharusnya? Apa artinya sekarang anak itu masih hidup, dan berkesempatan merebut hak waris Sharta Group."
Yoona mengangguk. Sedang tatapannya beralih ke lantai.
"Apa Mamah tahu di mana dia?"
"Ya!"
"Lalu, kenapa tidak Mamah lenyapkan saja secepatnya?"
"Tidak bisa, Sayang. Sekarang dia sudah memiliki bentengnya sendiri. Papahmu belum mengetahui jika dia masih hidup. Akan sangat rawan jika Mamah melenyapkannya saat ini. Karena sekarang, semua gerak-gerik kita dipantau oleh anakbuah papahmu."
Hening. Priska terdiam sesaat. Pun dengan Yoona ibunya.
"Lalu, kita harus bagaimana?"
"Bersikaplah wajar, jangan terlihat mencurigakan."
Kembali keduanya hening.
"Mah. Bolehkah aku tahu siapa gadis itu?" Pertanyaan itu berhasil mengalihkan pandangan ibunya yang tadi lurus ke depan.
"Tidak, Sayang."
"Kenapa, tolong beritahu aku, Mah. Aku punya banyak jaringan yang mungkin tidak terpantau oleh papah. Mungkin saja aku bisa membantun Mamah melenyapkannya."
"Tidak, sekarang, Sayang. Kau tidak boleh mengetahuinya sekarang."
"Tapi kenapa, Mah. Please, Mah. Aku penasaran."
"Tidak, Mamah tidak ingin kau terkejut untuk kesekian kali. Cukuplah cerita masalalu Mamah mengejutkanmu, Mamah tidak ingin menambah beban di pikiranmu."
Priska bersungut atas keputusan ibunya itu.
"Baiklah, Priska akan sabar menunggu waktu yang menurut Mamah tepat." Ada secercah senyuman kecil terpancar dari raut Yoona saat Priska berkata begitu.
"Anak baik, yang terpenting untuk kamu lakukan sekarang adalah bagaimana caranya sebisa mungkin kamu mengandung anak dari benih suamimu, Revan. Kamu bisa melakukannya, kan?"
"Baiklah, Mah. Akan kucoba."
__ADS_1
Bersambung ....