Rahim Untuk Tuan Muda

Rahim Untuk Tuan Muda
Eps 36


__ADS_3

Cepat Nyonya Sharta meraih ponsel itu, dan langsung menggeser ikon hijau untuk mengangkat panggilan via video.


Kini terpampang wajah gadisnya dengan mata merah akibat menangis yang cukup panjang, ia makin tercengang saat melihat satu buah pisau dalam genggaman Priska siap menggores lengan, hal menakutkan itu menyambutnya, mengawali percakapan.


Nyonya Sharta tersentak kaget, tanpa sengaja menjatuhkan ponsel itu ke lantai. Sedetik ia masih memegangi mulut dengan kedua lengan, masih taknpercaya dengan apa yang baru saja ia lihat. tapi cepat ia sadar dengan apa yang barusan terjadi.


Tampaknya putri sematawayang itu putus asa dan ingin mengakhiri hidup dengan mengiris pergelangan tangan. Cepat Nyonya Sharta mengambil kembali ponsel yang terpental tadi. Dengan ragu ia menghadapkan permukaan layar terang itu ke depan wajah.


Seketika dadanya berdebar hebat, bagaimana tidak, putri kesayangan ingin menghabisi nyawa di depan mata. Mulut Nyonya Sharta bahkan serasa terkunci, lidahnya kelu untuk sekadar bicara singkat.


"Pe-Priska, apa yang kamu lakukan, Sayaang. Tolong buang benda itu. Buang benda itu!" Ia terbata.


Gadis di seberang sana masih terisak, ia menyahut.


"Mah, aku tahu Revan di sana. Berikan ponsel Mamah padanya, kalau tidak aku akan benar-benar bunuh diri."


"Priska jangan. Oke, oke, Mamah akan memberikan ponsel Mamah pada Revan. Tapi Mamah mohon, jangan lakukan itu. Emm." Ia tak dapat menutupi wajah gugup itu. Nyonya Sharta gemetar melihat benda berkilau tajam siap memuncratkan darah dari pergelangan tangan gadisnya.


"Cepat, Maaah!" gertaknya masih di dalam sana.


Tak lagi berpikir panjang, segera Nyonya Sharta mengambil langkah seribu mengejar Revan. Berlari dalam ruang luas yang bak istana itu, langkahnya bahkan sudah menapaki area teras dengan pilar-pilar besar di samping kiri dan kanan. Beruntung ia masih menemukan pria yang berjalan cepat menggenggam lengan Prilly menuju hamparan taman luas, taman yang sekaligus menjadi tempat Revan memarkirkan kendaraannya.


"Revan, Revan!" Berusaha ia menghentikan langkah menantunya itu, dan tentu saja hal itu berhasil. Revan berhenti, berbalik badan.


"Revan, kamu harus melihat ini." Dengan napas tersengal Nyonya Sharta menyodorkan ponsel miliknya untuk Revan terima. Pria itu masih diam tak menyambut.


"Apa ini?"


"Tolong lihatlah!"


"Katakan saja apa itu, jika bukan hal penting, aku tak akan mau!"


Nyonya Sharta semakin geram, ia sampai mengepal erat tangannya, sementara giginya sudah menggertak di dalam sana. Revan terlihat kembali membalik badan meninggalkannya. Langkah pria itu bahkan sudah sepuluh kaki lebih jauh.


"Revan, Priska ingin bunuh diri!" Ia meneriakinya dari belakang.


Deg.


Ungkapan itu berhasil kembali menghentikan langkah Revan yang menggandeng Prilly, ia mulai membalikkan badan menghadap Nyonya Sharta.

__ADS_1


Bahkan kini dapat Nyonya Sharta lihat ekspresi wajahnya yang tidak peduli dengan alis mengernyit seakan tak percaya.


"Kalau begitu, biarkan saja!"


Deg.


Apa?? Menantu tak tahu diri, teganya dia berkata begitu untuk istrinya. Nyonya Sharta semakin geram. Ia mulai khawatir, membalikkan layar itu menghadap ke arahnya. Terpampang di layar wajah putrinya masih menggantungkan benda tajam itu di atas pergelangannya. "Priska Sayaang, Mamah mohon, buang benda itu."


"Tidak mau, mana Revan?"


"Dia ...."


"Cepat Mah, panggil Revan. Atau aku akan benar-benar mengiris lengan ini." Nada bicaranya masih diimbuhi bumbu isakan.


"Oke, oke, tapi tolong, jauhkan benda itu." Tak kuasa melihat hal tragis di depan mata, ia kembali membalik layarnya, dan mulai menatap pada Revan yang terlihat sudah memasuki mobil miliknya.


'Sial, haruskah aku mengemis pada pria di sana untuk menyelamatkan anakku?


Revan sudah menyalakan mesin mobil itu, siap untuk membawa Prilly pergi dari sana. Namun, segera Nyonya Sharta mengejar, menghambat kepergiannya.


"Revan, tolonglah. Plis." Ia terlihat memohon saat jarak mereka hanya sejauh satu meter, sambil tak kuasa mengatur napas yang tersengal akibat berlari cepat. Prilly sampai bergidik melihat wanita yang kini memohon itu.


Deg.


"Revan, tolonglah. Priska akan benar-benar bunuh diri jika kau tak mau menerima telepon darinya."


"Sudah kukatakan aku tak peduli."


"Revan. Dia akan mengakhiri nyawanya di apartemenmu, kelak kamu juga akan terlibat dalam kasus ini."


"Itu tidak akan terjadi, jika dia bunuh diri, para penyidik pasti akan menemukan kebenarannya. Tak akan ada yang terkena imbas. Lagipula, aku siap dengan pengacaraku jika hal itu terjadi."


Plak!


Spontan Nyonya Sharta melayangkan tamparan tepat mengenai wajah Revan. "Kau benar-benar keterlaluan, Revan.  Tidak bisakah kau memandang Priska dengan hati nuranimu, bahkan jika dia bukan istrimu, tidakkah kau mau menolongnya. Baiklah jika kamu tak mau menganggapnya sebagai istri, tapi setidaknya kamu menyelamatkan Priska dari sisi kemanusiaanmu."


Hening sesaat, Revan membisu, sebaliknya napas Nyonya Sharta terdengar semakin memburu.


"Tuan." Pelan Prilly yang merasa benalu itu memanggilnya, membuat Revan menoleh padanya. "Terima saja telepon itu, kumohon, demi kebaikan Nona Priska." Revan tak menjawab, permohonan tulus dari Prilly membuatnya luluh. "Baiklah." Ia akhirnya kembali membalik badan menghadap Nyonya Sharta.

__ADS_1


"Baiklah, karena Prilly yang meminta, aku akan mengabulkannya, tapi dengan satu syarat."


Sial. Apalagi yang dia mau! "Baiklah, apa syaratnya?"


"Mudah, hanya satu, jangan pernah mengganggu Prilly lagi. Di manapun dan kapanpun jika bertemu, anggap saja tak mengenalnya."


Deg.


Apa? Beruntung sekali dia. Baru saja aku berniat melenyapkan, sekarang sudah mulai bermunculan para penjaganya. Kau benar-benar beruntung, Prilly.


"Bagaimana, Nyonya setuju?"


"Eh?" Ia tersentak dari lamunan. Setuju? Tentu saja tidak.


"Baiklah, aku setuju. Ini cepatlah terima!" Ia menyerahkan ponsel miliknya yang masih tersambung tadi. "Tolong segera bicara padanya."


Ia menerimanya dan mulai bicara dengan gadis si tukang bersandiwara itu.


Cukup lama percakapan itu berlangsung, Nyonya Sharta terlihat was-was, berharap tak terjadi apa-apa, lalu setelah selesai membujuk, Revan menyerahkan kembali ponsel milik Nyonya Sharta setelah panggilan berakhir.


"Jangan khawatir, dia tidak akan berani melakukannya." Ucapan Revan seakan mematahkan semangat Nyonya Sharta yang baru saja menghirup udara segar, setelah sebelumnya terasa sesak untuk sekadar bernapas.


Sialan, hanya begitu?


Selesai dengan kesepakatan tadi, kin mobil Revan mulai melaju, meninggalkan kediaman mansion, istana milik orang terpandang itu.


Menantu kurang ajar. Aku akan membuatmu menyesal karena telah menghinaku juga mengabaikan putriku.


Ia menggertakkan gigi sambil terus memandangi kepergian Revan. Sementara itu, bayangan tentang anak Sharta kembali menghantui pikirannya. Cepat ia kembali ke dalam untuk mengistirahatkan tubuh dari rasa lelah karena peristiwa tak mengenakkan yang baru saja terjadi itu.


Sepanjang jalan, para pelayan yang bekerja di sana setia memberi hormat padanya, mereka sentiasa menundukkan kepala saat Nyonya Sharta melintas. Nyonya Sharta masuk ke ruangannya diikuti oleh sang kepala pengurus mansion.


"Kunci rapat pintu itu!" perintahnya pada kepala prlayan itu.


"Baik, Nyonya."


Segera sang kepala pelayan mansion mengunci rapat pintu, sementara Nyonya Sharta sudah terlihat tegang, pikirannya kacau, ia memegangi pelipis dengan satu tangan.


Tak kusangka, karma berlaku padaku. Padahal aku sudah berusaha melenyapkan kisah kelam itu. Aku sudah berusaha berubah menjadi wanita baik, aku tak lagi mau mengungkit masalalu yang nyaris membuatku gila, bahkan aku sudah berjanji itu adalah yang terakhir, tapi ternyata gadis itu masih hidup. Ini tidak boleh dibiarkan, suamiku Sharta tak boleh mencium bau keberadaannya. Kalau tidak semua perjuanganku akan sia-sia.

__ADS_1


__ADS_2