Rahim Untuk Tuan Muda

Rahim Untuk Tuan Muda
Eps 23


__ADS_3

Gadis itu menyambut tangan Revan. Cepat ia bangkit, tapi Revan langsung melepasnya begitu Priska sudah berdiri sempurna.


"Aku akan mengantar ke apartemenmu. Kau bisa menyiapkan beberapa barang yang ingin kamu bawa."


"Terimamasih, Revan."


"Tidak perlu berterimakasih, aku melakukan ini bukan karenamu, melainkan karena menghargai orangtuaku dan orangtuamu."


Deg.


Apa? Jadi semua kebaikan ini bukan karena rasa simpatimu. Priska mengdelik kesal.


Apa semua ini karena gadis kampung itu. Hmm aku gak menyangka, keberadaannya benar-benar berpengaruh besar dalam hidup Revan. Apa aku singkirkan saja dia?


Sepanjang menuju area parkir, Priska tak hentinya berpikir, hingga tubuhnya berhasil mendarat di kursi depan pun masih saja terlihat melamun.


"Kencangkan sabuk pengamanmu."


"Eh?" Ia terkejut. Cepat tangannya meraih benda hitam panjang itu, melilitkan ke area pinggulnya. Baru saja sabuk itu berhasil terpasang, Revan sudah menancap gas, melajukan mobil sport itu dengan kecepatan tinggi.


"Re-Revan, pelan-pelan. Aku takut kita menabrak pengendara lain." Priska sampai gemetar karena kini Revan melajukan mobil sport tanpa mengendurkan gas sedikitpun. Sesekali tubuh Priska terlempar, menghantam bahu Revan saat melewati putaran yang nyaris 180°.


Pergerakan orangtuaku dan Priska sangat cepat. Aku tak ingin mereka tahu, cukup ayah yang mencium aroma mencurigakan yang kumainkan bersama Priska. Aku tak ingin Prilly menderita jika mereka tahu keberadaan Prilly yang tidak menguntungkan mereka itu. Revan berpikir keras selama perjalanan itu.


"Revan, kenapa kamu begini, apa yang terjadi padamu, apa kamu ingin kita mati?"


Revan tak menghiraukan Priska yang sedari tadi memaki karena ketakutan. Hingga tiba di perempatan jalan. Terlihat lampu rambu-rambu yang tadi hijau sudah berubah kuning. Tak ingin melewatkan kesempatan, Revan menaikkan kecepatan hingga 80 lebih perkilo meter. Namun tiba-tiba, sebuah minibus datang dari depan, membuat Revan terkejut seketika membanting setir hingga menabrak pembatas jalan.


Braaak.


Bamper bagian depan langsung penyok. Diikuti asap yang kini mulai keluar dari bagasi belakang.


Lalu lintas yang tadi lancar seketika berubah sedikit macet. Sirine mobil polisi langsung menggema di area perepampatan.


Priska masih sedikit sadar. Ya, karena sebelumnya gadis itu sempat mengeratkan sabuk pengaman pada pinggulnya, sehingga ia hanya mengalami benturan kecil. Walau begitu, rasa trauma yang masih hangat membuatnya tak imbang, ia mulai kurang kesadaran, tapi masih bisa melihat Ravan yang kini tergeletak tak sadarkan diri, dengan darah mengalir di pucuk dahi.


Ponsel Revan berdering. Masih dapat Priska melihat nama pemanggil yang membuat emosinya membuncah. Walau sudah dalam keadaan nyaris lemah.


Sedetik kemudian, ponsel itu kembali redup.


"Revan." Pelan Priska memanggilnya. Lambat laun, penglihatannya semakin buram. Ia juga mulai hilang kesadaran.


*****


Beberapa waktu sebelumnya.


Prilly masih asyik bermanja di atas kasur di kamarnya. Memakan cemilan ringan di temani tayangan televisi kesayanghan. Sesekali tawa cekikik menggelitik di perutnya. Ia masih menatap ke sana saat tiba-tiba satu buah notif masuk ke dalam ponselnya.


Bip.


Istriku Sayang, yang cantik dan menggoda, maukah kamu pergi menonton bersamaku?


"Heee?" Matanya terbelalak tak percaya. 'Ada apa dengannya? Kurasa tuan salah kirim. Ia mulai mengetik balasan.


Tuan, sepertinya anda salah kirim.


Ia meletakkan ponselnya setelah membalas satu kali, lalu kembali menatap ke layar besar di depan mata.


"Ha-ha-ha!" Prilly tertawa hingga nyaris memegangi perut.


Bip.


Lagi, sebuah pesan mampir, membunyikan nada bipbop itu.


Prilly, tolong jangan kamu tanggapi, pesan terkirim itu bukan dariku.


Prilly membacanya lalu mengernyit.


Hmm, apa yang terjadi. Kupikir itu memang tulisannya untuk Nona Priska, tapi ternyata salah kirim, ya. Huh, kenapa begitu aku mengingat hubungan mereka yang sah membuatku iri dan cemburu. Ahhh ... Ia menggeleng cepat.

__ADS_1


Prilly merebahkan tubuhnya dengan kasar. Seketika teringat permintaan Revan pagi tadi.


Izinkan aku menjadi suamimu, izinkan aku menikahimu, walau itu artinya kamu hanya akan menjadi istri simpanan, kamu mau kan, Prilly?


Ia mengingat ucapan Revan.


"Ya ampun Prilly. Apa yang kamu pikirkan. Tuan Revan kan milik Nona Priska. Huh! Aku tak boleh egois." Ia meringis pilu. Mengesampingkan tubuh seraya memeluk guling.


Bip.


Prilly menoleh. "Siapa lagi yang menghubungiku?"


Ia meraba benda yang sebelumnya ia letakkan di samping itu. Lalu mulai berbaring dengan posisi telentang.


Tuan Muda.


Lagi, nama itu yang tertera sebagai pengirim pesan.


Prilyy.


Buru-buru Prilly membalasnya.


"Ya, Tuan. Ada apa?"


Itu .. aku hanya ingin bertanya, apa nanti malam kamu punya waktu senggang?


"Eh?" Ia terkejut. "Pertanyaan macam apa ini. Ya, aku super sibuk, sibuk mondar-mandir dalam apartemen ini. Dasar Tuan Revan, padahal tahu saja selama ini aku tak ke mana-mana. Tentulah aku tak sibuk.


"Tidak, Tuan. Memangnya kenapa?"


Oh, tidak. Hanya saja .. apa kamu mau pergi menonton film bersamaku malam nanti?


Mata Prilly terbelalak. "Apa dia serius? Menonton? Denganku? Kenapa mendadak dadaku berdebar ya?" Prilly girang. Ia sampai bangkit dari tidurnya, duduk dengan melipat kedua kaki. Sambil tersenyum ia membalas pesan dari Revan itu.


"Tuan serius?"


"Ahhh!" Prilly menjerit girang. "Siap, Tuan," balasnya.


Oke, tunggu aku nanti malam.


Gadis itu masih setia membaca dan membalas pesan darinya.


"Siap, pukul tujuh malam aku akan menunggu Tuan di halte." balasnya.


Terkirim.


"Ah leganya, akhirnya hari berliburku tiba juga."


Prilly berbaring, merengtangkan kedua tangannya. Sesekali mengelus-elus sprei lembut itu. Hingga tak sadar ia terlelap, masuk ke alam mimpi.


Satu buah nada dering dengan lagu Kill This Love yang dipopulerkan oleh grup band blackpink, berhasil membangunkan Prilly yang baru tertidur beberapa saat. Ia meraihnya pelan.


"Uh, siapa lagi yang menghubungiku, aku kan ngantuk sekali." Ia mengusap matanya, lalu mulai melirik pemanggil yang membangunkan tidurnya.


"Tuan muda? Ada apa, semoga bukan hal yang serius." Ia mulai meletakkan ponsel itu ke sela telinga setelah sebelumnya menggeser ikon hijau dalam layar.


"Halo? Ada apa, Tuan?"


Halo, Prilly, kamu di mana? Nada bicara Revan terdengar resah.


"Di apartemen, Tuan."


Keluarlah dulu, tunggu aku di lobi belakang, sekarang.


"Ta-tapi, kenapa, Tuan."


Tidak perlu bertanya. Tunggu saja di sana.


"Ah, baik, Tuan."

__ADS_1


Tut.


Tut.


Tut.


Revan mematikannya terlebih dulu. Prilly mulai gugup.


Apa yang terjadi, kenapa nada bicara tuan terdengar khawatir. Aku harus buru-buru menunggunya di lobi.


Prilly bangkit, dan langsung menuju pintu utama. Membukanya lalu berjalan cepat menuju lift. Ia menekan tombol untuk lantai dasar, karena lobi hanya berada di lantai itu.


Cepat ia melangkah ke sana untuk mulai menunggu. Sampai sudah, Prilly masih setia menggenggam ponselnya.


Hubungi lagi atau jangan? Ah lebih baik jangan, manatahu tuan muda sudah di jalan. Aku bisa saja mengganggu konsentrasinya selama mengemudi.


Tiga puluh menit sudah berlalu, belum ada tanda-tanda kehadiran Revan di sana. Hanya para penghuni lain yang tampak berlalu lalang. Prilly menyerah, ia mencoba menelepon.


Tuuut.


Tuuut.


Dua menit menunggu tak kunjung di angkat. Ia memutuskan untuk mengakhirinya saja.


Mungkin benar tuan sedang di jalan. Ia akhirnya menyimpulkan sendiri. Prilly masih setia menunggu, bersandar pada dinding lobi.


Tap.


Tap.


Tap.


Derap langkah seseorang terdengar memasuki area utama lantai dasar. Penasaran, Prilly mencoba melirik ke arah sumber suara.


Deg.


Ia terkejut. Sosok Harlem dan istrinya terlihat berjalan memasuki lift.


Itu kan Tuan Besar dan Nyonya. Apa yang mereka lakukan di sini, apa mungkin mereka mencari tuan muda?


Ia mulai menelisik dengan berjalan ke arah sana, tapi baru saja ia sampai di depan lift, mendadak pintunya kembali terbuka. Spontan Prilly memutar tubuhnya membelakangi sosok yang baru keluar dari elevator itu.


Semoga saja mereka tidak mengenaliku.


Apa? Revan dan Priska kecelakaan?" Suara Tuan Harlem terdengar kaget.


Deg.


Tuan dan nona kecelakaan, apa aku tidak salah dengar?


"Oke, segera beritahu rumah sakit mana mereka membawa."


[ .... ]


"Oke, mengerti!"


Ia menutup panggilan itu. "Ayo, Mah. Kita harus segera ke rumah sakit XX sekarang."


Mereka keluar, sepanjang jalan masih jelas terdengar suara Nyonya Harlem yang tak hentinya meracau.


Tuan, apa kamu kecelakaan karena berusaha cepat menjemputku. Oh tidak!


Prilly lemas di sudut ruang di samping lift. Ia berjongkok, merangkul kedua betis.


Tuhan, sekarang bagaimana?


Bersambung ....


kita sambung besok lagi yaa, Readers 🤗

__ADS_1


__ADS_2