Rahim Untuk Tuan Muda

Rahim Untuk Tuan Muda
Eps 50


__ADS_3

Jung Ah sudah tiba di rumah, usai turun dari bandara. Bersama seorang pengawal yang wajahnya tersirat penuh teka-teki.


Ya, dia adalah pengawal dari Nona Priska, tentu saja dia mengenal Nyonya Yoona.


Sungguh, di luar dugaan. Bagaimana bisa pak tua ini memiliki hubungan dekat dengan nyonya besar di sama lalu?


Sejuta teka-teki berkecamuk dalam isi pikiran pria itu. Sepanjang pulang dari bandara tadi, dia bahkan tak berbicara sepatah-katapun pada Jung Ah.


Jung Ah juga masih shok akan pertemuan dengan Yoona yang tadi membuat pikirannya juga teracuni oleh bayang-bayang teka-teki kematian Ahyoungra..


Sungguh tak pernah terpikirkan olehku kalau ternyata Yoona mengenal mendiang istriku. Sebenarnya siapa dia, benarkah dulu dia hamil dari benihku, dan benarkah dia mengandung anakku. Kalau iya, artinya mungkin sekarang anak itu seumuran dengan Prilly?


Ia terdiam. Netranya terlihat sendu menatap lalu lalang kendaraan tanpa beralih dari sana.


Apa mungkin, kematian Ahyoungra juga ada kaitannya dengan Yoona. Dia belum menjelaskan padaku sudah berapa lama dia mengetahui perihal kematian Ahyoungra. Apa mungkin sejak awal dia sudah tahu. Benar-benar mencurigakan.


.


.


Hari sudah mulai menginjak pertengahan malam. Saat Prilly dan Revan akhirnya memutuskan untuk kembali ke apartemen.


Udara di luar sudah bertambah dingin, para pengunjung juga semakin melonggar. Lampu-lampu jalan terlihat setia menyala. Tapi para penghuni malam sudah mulai menipis, menyisakan beberapa pasangan muda-mudi yang dilanda asmara.


Mereka sudah masuk ke mobil. Prilly tampak melepas sarung tangan, lalu meniupnya agar cepat hangat. Revan yang melihat hal itu cepat menggengam tangan Prilly, berkali-kali menghembuskan napas kasar agar tangan wanita kesayangan itu kembali hangat.


Prilly tak menolak, ia justru terperangah. Cukup lama sekitar 2 menit Revan mulai bertanya.


"Sudah lebih baik?"


Prilly tersentak. "Ah, i-iya, sudah." Ia menarik lagi tangannya. Wajahnya tertunduk, ia sadar baru saja tanpa sengaja terpana melihat wajah pria yang selalu cool di sampingnya itu.


Padahal bisa saja tuan juga kedinginan, tapi dia selalu mengutamakanku dulu.


Prilly melihat ke arah Revan yang mulai meniupkan semburan hawa hangat ke tangannya. Tanpa pikir panjang ia meraih tangan yang bertangkup itu, dan langsung meniupinya.


"Kau, sedang apa?"


"Apalagi, hanya ingin membuatmu merasa hangat juga." Revan terdiam. Tak ada raut senyum yang tergambar di sana. Hanya tatapan terpana dan mata yang berkedip dengan jeda lama. Selang beberapa saat, Revan kembali menarik tangannya.


"Sudah, kau hangatkan tanganmu saja. Kesehatanmu lebih dari segalanya. Tak perlu mengurusiku, karena di sini aku yang menjagamu."


"Tapi aku juga ingin menjagamu, Tuan. Apa itu tak boleh?"


"Ya, itu tak boleh!"


"Bagaimana jika Tuan yang jatuh sakit, apa aku juga tak boleh membantumu sebagai bentuk kasih sayangku?"


Ucapan itu berhasil membuat Revan mematung, menatap tanpa berkedip ke arah jalan di depan sana. Hening mulai menyelimuti keduanya, hingga beberapa saat Revan mulai tak kuasa mengendalikan diri, dia memutar badannya, menangkap tubuh Prilly yang matanya langsung terbelalak, mendaratkan ciuman penuh gairah dengan melum*t lembut bibirnya, lalu perlahan menuruni buaian itu ke selubung leher Prilly.


Bintang-bintang di langit bertabur indah, mengintip mereka di balik kaca mobil yang mulai tertutup salju dengan sempurna. Revan nyaris tak dapat mengendalikan nafsunya malam ini.


.

__ADS_1


.


Sementara itu di kediaman Sharta. Yoona memilih ikut mengurung diri di dalam kamar sebagai bentuk ancaman jika saja Sharta masih melanjutkan hukumannya, hingga pagi menjelang. Namun nyatanya, Sharta tetap tak mengizinkan Priska untuk menginjakkan kaki di luar kamar sampai pagi datang.


Di dalam kamar itu, dua pasangan dari ibu dan anak itu tampak saling merangkul, saling menguatkan.


"Mah, kau tahu apa yang terjadi padaku siang tadi saat keluar?"


Yoona menatap ke depan, mengedip puluhan kali, bayangannya masih melayang, memikirkan pertemuan dengan Jung Ah yang terjadi sore tadi, walau begitu tangannya masih setia merangkul gadis yang matanya mulai tertutup rapat karena kantuk, berbaring bersama di atas ranjang.


"Apa yang terjadi padamu, Sayang?" tanyanya dengan pikiran yang jauh mengarah ke bayangan berbeda.


"Aku ditipu gadis kampung itu, Mah. Dia mengerjaiku. Aku sampai rela menuruni jendela hanya untuk bertemu dengannya, tapi tak kusangka, dia hanya menipu."


Deg.


"Maksudmu?"


"Dia berjanji bertemu denganku di kafe, tapi saat aku sudah di sana, dia mematikan ponselnya dan tak menemuiku. Dia membuatku lelah menunggu, bisa Mamah bayangkan, aku menunggunya dari terik sampai tengah malam."


"Benarkah dia berani berbuat hal itu padamu?"


"Ya, Mah. Keterlaluan sekali."


"Benarkah?" Yoona terkejut tak percaya.


"Iya, aku menyesal membuat kontrak dengannya. Aku bahkan memfasilitasi ayahnya dengan perawatan khusus dari dokter spesialis."


Deg.


Apa mungkin yang Priska maksud adalah Jung Ah?


"Si-siapa ayahnya itu, Sayang?"


"Namanya Jung Ah, kemarin dia hanyalah pria stroke yang tak bisa apa-apa. Kalau bukan karena bantuanku, pastilah sampai sekarang dia masih terbaring lemah di atas kasur saja. Itu menunjukkan betapa dermawannya aku kan, Mah. Tapi lihatlah gadis itu, dia pengkhianat laknat. Apa seharusnya aku lenyapkan saja ayahnya Mah, untuk mengancamnya?"


Deg.


"Jika dia masih mendekati Revan. Aku kirim saja pembunuh bayaran seperti yang dulu Mamah lakukan pada istrinya, setuju tidak Mah?"


Yoona membeku, sejak pertama Priska menyebut nama Jung Ah, ia sudah mulai gugup, berkeringat dingin, tak kuasa menahan getaran pada tangan dan bibirnya.


"Tidak, Priska! Kau tidak boleh melakukan hal itu!"


Priska mengernyit. Ia terkejut mendapati ekspresi ibunya yang terlihat pucat dengan bibit bergetar saat bicara.


"Kenapa, Mah. Apa yang terjadi pada Mamah?"


"Tidak ada. Pokoknya kau tidak boleh melakukan itu?"


Tingkah aneh ibunya membuat kecurigaan mencuat dalam benak gadis itu.


"Apa mungkin Mamah punya rahasia yang disembunyikan dariku?"

__ADS_1


Yoona semakin gemetar, ia tak mampu untuk sekadar menatap mata putrinya itu.


"Mah, bicara padaku, apa aku benar?"


"Tidak, tidak!" Mendadak Yoona menangis histeris, memejamkan mata sambil menutup kedua telinga.


"Mah, ada apa, Mah?" Priska berusaha merangkul ibunya, rasa curiga berubah menjadi rasa cemas. Ia takut jika yang kini terjadi adalah sebuau bentuk gangguan mental akibat tak kuat menahan beban penderitaan.


"Mah." Pelan ia membelai tangan ibunya. Mengelusnya, berharap dengan begitu akan mampu menstabilkan emosi ibunya. Dan benar saja, hal yang ia lakukan berhasil menghentikan tangis ibunya.


Yoona melepas pelan tangan yang tadi mengatup pada telinga, lalu menatap sendu putrinya. Bibir itu masih bergetar saat mencoba bicara.


"Priska, mungkin ini saatnya Mamah menceritakan kisah masalalu Mamah yang menjadi rahasia besar."


Deg.


Priska memasang mata dengan lebar, telinganya juga sudah siap mendengar rahasia yang ingin diuraikan ibunya.


"Dulu, ibu pernah melakukan hubungan badan dengan Jung Ah."


Dag. Dug.


Dag. Dug.


"Niat Mamah hanya agar Ahyoungra ibu Prilly itu bisa merasakan sakitnya di khianati seperti yang Mamah rasakan. Ayahmu berpaling dari Mamah saat ibunya Prilly hadir dalam kehidupan Rumah Tangga Mamah."


Priska masih memasang telinga, berusaha menyimak dengan khusuk.


"Dan sebulan setelahnya, Mamah hamil. Mamah tidak tahu apakah kamu anak ayahmu Sharta, atau mungkin anak Jung Ah."


Deg.


"Apa? Tidak! Tidak mungkin."


"Itu mungkin saja, Priska. Karena saat itu Mamah berhubungan dengan dua pria dalam waktu yang berbeda-beda."


"Tidak, Mamah pasti berbohong kan? Mamah bohong kan?!"


"Ini hanya kemungkinan, Priska. Karena selama 3 tahun ibu berhubungan dengan ayahmu Sharta, ibu tak kunjung hamil. Tapi, 1 bulan bersama Jung Ah, ibu hamil."


"Tidak, Bu. Tidak mungkin."


"Hanya ada satu cara. Ibu belum pernah menguji tes DNA antara kau dan ayahmu Sharta. Jika hasilnya sama, itu artinya kau anak ayahmu, tapi jika hasilnya berbeda, maka kau harus siap menerima kenyataan, bahwa Jung Ah-lah ayahmu yang sebenarnya."


Priska lemas. Rahasia yang disampaikan itu berhasil membuatnya cukup frustasi. Ia yang tadi tegar, berubah sungut dan sendu.


"Mamah ...." Ia menangis tak kuasa menahan diri. "Aku pasti anak ayah, aku pasti anak ayah kan, Mah!" Ia menangis dalam pelukan ibunya.


*******


Hai, bagaimana menurut kalian dengan jalan cerita RUTM ini? Apa kalian suka?


Adakah diantara kalian yang mungkin penasaran dengan suara author?

__ADS_1


Jika kalian penasaran, kalian bisa mendengarkan audio book perdana author ya. Author sekarang menjadi dubber trainee. Novel yang author bawakan berjudul "Yang Ku Nanti"


Oke, itu dulu yaaa. Selamat membaca kisah Revan & Prilly.


__ADS_2