Rahim Untuk Tuan Muda

Rahim Untuk Tuan Muda
Eps 21


__ADS_3

Revan telah usai mengantar Priska sampai ke apartemen kediamannya, gadis itu turun tak luput tetap bergelayut manja.


Sepanjang jalan tadi gadis itu sudah tak hentinya menempel pada bahu Revan. Tapi Revan tak dapat mengelak, karena ia harus fokus pada kemudi, atau bisa saja nyawanya menjadi korban tumbal baru di atas jalanan.


"Makasih ya, Suamiku Sayaang."


"Ck, lain kali kalau kamu menggangguku lagi selama mengemudi, aku akan menurunkanmu di jalan."


Pernyataan Revan yang dingin dan tegas membuat Priska terdiam, tapi bukan Priska namanya kalau hal itu membuatnya trauma lalu berhenti menggoda Revan.


Baiklah, kamu boleh saja mengabaikanku sekarang, Revan. Tapi lihat saja apa yang dapat kuperbuat. Kamu suamiku, aku berhak mendapatkan cintamu.


Ia memandang mobil sport yang kini sudah semakin jauh, lambat laun lenyap dari pandangan.


Prilly, kamu benar-benar keterlaluan. Kamu sudah berani bertingkah melewati batas. Kamu sudah kuberi kebaikan tapi masih ingin merebut suamiku, aku tak akan mengampunimu.


*****


"Meeting hari ini cukup sampai di sini. Terimakasih atas kerjasama kalian." Revan mengakhiri meeting siang itu dengan menutup laptop. Semua mulai menggeser kursi yang mereka duduki sebelumnya, lalu bergerak pelan sambil berbincang menuju kantin yang memang di sediakan oleh Perusahaan Arkandi Group. Semua asyik berbincang bersama rekan, hanya Revan dan yang terlihat sibuk dengan berkasnya sendiri, merapikan beberapa lembar file kerja untuk dibawa ke ruang kantor pribadi.


"Pak Direktur." Seseorang menyentaknya. Asisten Revan itu terlihat berbicara di ambang pintu, satu tangannya bahkan masih menggantung pada handle. Revan mendongak kecil.


"Em, ada apa?"


"Anda dicari oleh Presdir Harlem, beliau sudah menunggu di ruangannya."


Kenapa ayah mencariku lagi. Jika untuk membahas Priska, enggan sekali rasanya aku ke sana.


"Oke, sampaikan padanya, aku akan ke sana dalam sepuluh menit."


"Baik, Pak." Pria itu kembali merapatkan daun pintu lalu menghilang di baliknya. Sementara Revan, ia baru kelar mengemas berkas-berkasnya yang kemudian langsung menuju ruang kantor pribadi untuk menyimpan dokumen itu di sana.


Ia berjalan cepat, dan karena jarak kantor pribadi dengan ruang meeting cukup dekat, Revan akhirnya sampai dengan cepat.


Baru saja pintu ruangan terbuka, sosok gadis mengesalkan kembali hadir memenuhi ruang penglihatannya. Gadis yang siap untuk mengawali kekacauan baru dalam ketenangan hidupnya hari itu.


Huh, tidak di apartemen ataupun di kantor, Priska selalu saja menggangguku. Jangan salahkan aku jika dalam waktu dekat ini akan menyingkirkanmu sejauh-jauhnya. Batinnya menggumam kesal


"Revan, aku datang untuk mengunjungimu," ucapnya. "Hmm, jadi begini suasana di kantor suamiku, ruanganmu cukup nyaman," Kali ini ia kembali bergelayut manja, mendekati sang direktur seakan Revan menyukainya.


"Pulanglah, ini bukan tempat rekreasi yang bisa kamu kunjungi kapan saja."


"Ehh, aku kan baru sampai, kenapa menyuruh pulang sih. Kamu belum  makan siang kan, Sayang? Bagaimana kalau kita makan di restoran steak di dekat butikku. Itu adalah restoran yang baru dibuka oleh keluargaku, cobalah untuk mencicipi, kamu pasti suka."


Revan yang tampak sibuk meletakkan berbagai file ke atas meja kini sudah terlihat menganggur. Ia menoleh, menatap gadis yang terlihat tak jauh berbeda dengan rubah betina.


Lalu mulai mendekat, sorot matanya menatap lekat hingga membuat gadis itu sedikit kagok.


Eh, ada apa dengannya?


Revan melangkah pasti, seperti serigala lapar yang hendak menerkam mangsa.


Deg.


Pelan Priska berjalan mundur, tapi Revan terus mendekat hingga langkah Priska sudah merapat ke dinding. Ia terhenti, sudah tak ada lagi ruang untuk melangkah mundur.


Revan semakin mendekat, dengan sorot mata yang semakin dingin dan tajam.


"Re-revan, kamu mau apa?" Priska mulai gugup.

__ADS_1


"Aku mau apa katamu? Bukankah kamu yang memaksaku begini. Bukankah kamu selalu menempel padaku?"


"Ehh!" Priska nyaris terbelalak. 'Apa maunya? Kenapa tatapannya menakutkan sekali?


Revan sudah semakin dekat, jarak mereka hanya berkisar satu senti, ia bahkan sudah merapatkan tangannya ke dinding, mengunci Priska di tengahnya.


"Kau ingin aku melakukannya di mana, hah, Di sini?" Revan masih menatap dengan sorot dingin menakutkan. Tangannya mulai menelusuri leher mulus gadis itu. Ia mengetes Priska.


"A-apa maksudmu?"


"Kamu ingin melakukannya atau tidak?" Kali ini bicara Revan sedikit menggertak. Prika sudah tak berani menyahut, hanya terlihat berat menelan saliva. "Kenapa, apa kamu takut? Kalau begitu jangan terus-terusan mempermainkanku." Revan kembali berdiri tegak, memberi jarak jauh pada gadis itu, sedang sepasang matanya masih tak berpindah dari wajah Priska yang mulai ketakutan.


Jantung Priska bahkan sudah berdebar kencang.


Dag. Dug.


Dag. Dug.


Pucat langsung menghias di wajahnya.


"Kau takut?" tanyanya dengan ekspresi mematikan, sambil menjauh pelan. "Kalau begitu, jangan pernah menganggu kehidupanku, aaplagi pribadiku, kau mengerti?"


Priska diam, ia ketakutan hingga tak ada sahutan dari bibirnya.


"Oh iya, bukankah kamu pernah memintaku untuk bersenang-senang dengan gadis yang kamu kirim itu, kuharap kamu tidak lupa!"


Seketika Priska teringat saat pertama kali mengirim Prilly pada Revan. Saat itu dia memang meminta Revan untuk bersenang-senang.


"Aku cuma mau bilang, terimakasih untuk hadiahmu itu. Aku sangat menyukainya." Ia tertawa lirih, kemudian pergi meninggalkan Priska di sana.


"Tommy, tolong kamu urus istriku itu, antarkan dia pulang." Revan memerintah salah satu asistennya yang baru tiba di depan kantor.


Salah satu asisten lainnya segera mengikuti Revan dari belakang, untuk menuju ruang kantor Harlem.


Revan bergerak cepat menuju ruang kantor Presdir Harlem. Sepanjang jalan ia tak tampak gusar, wajahnya terlihat datar seakan tak memiliki beban. Ya, itulah salah satu bakat hebat yang memang dimiliki Tuan Muda Revan.


Ia meraih ponsel di dalam saku. Entah makhluk apa yang sudah menghasutnya, pikiran tentang kerjaan mulai terbagi dengan gadis yang kini setia menunggu di apartemen.


Prilly, sedang apa dia sekarang? Selama ini aku sudah bersikap dingin padanya, apa yang harus kulakukan?


Ponsel yang tadi di saku sudah berpindah ke tangan, tapi Revan hanya menatap nomor Prilly yang tertera dalam kontaknya.


Kenapa susah sekali rasanya untuk menghubungi dia. Telepon atau kirim pesan saja.


Revan mulai tak mampu mengendalikan diri saat melihat foto Pirlly dalam ponselnya. Seketika senyumnya mengembang di sana.


"Tuan?" Asisten yang tadi mengikuti itu menyentaknya.


"Ah, ada apa?"


"Sepertinya, hari ini suasana hati Tuan cukup bahagia."


Revan berdecak kecil mendengarnya. "Ya, sebenarnya aku lagi memikirkan sesuatu, hal apa yang biasa dilakukan pria saat ingin menyenangkan wanitanya? Karena aku tak terbiasa dengan hal begini."


"Wah, anda bertanya pada orang yang tepat, Tuan. Soal urusan menyenangkan wanita, saya memang ahlinya." Ia tertawa kecil lalu bersungut saat melihat raut Revan yang terlihat datar dan dingin menunggu jawaban pasti. Ia sadar, sepertinya sudah terlalu banyak bicara.


Hal itu membuatnya sedikit canggung.


Ya ampun, dia manusia atau apa, sikapnya dingin sekali.

__ADS_1


"Biasanya saya memberikannya hadiah berupa perhiasan atau pakaian mahal dan semacamnya-lah. Yaah, wanita kan menyukai hal itu."


"Hmm ...." Revan sedikit menyungut. "Tapi gadis ini tidak menyukai hal itu."


Hah? Masa sih Nona Priska tak menyukai itu, aneh. Dia kan Ratu Shopper.


Semua staf memang mengenal Priska sebagai gadis manja yang angkuh, yang suka menghamburkan uang untuk sekadar berfoya-foya.


"Hmm, begitu ya, Tuan. Kalau begitu, bagaimana jika mengajaknya menonton ke bioskop!"


Spontan Revan menoleh. "Bioskop ya, tapi .. aku belum pernah ke sana."


"Serius, Tuan belum pernah ke sana?" Tatapannya menghunjam tak percaya.


"Ya, menurutku menonton adalah hal yang membosankan."


"Ah, kalau begitu, Tuan coba dulu saja. Biasanya wanita juga suka diajak menonton."


"Saranmu bagus juga, akan aku coba." Revan mulai mengetik pesan dalam gawainya. Sepatah-duapatah kata mulai tertulis tapi kembali dihapus. Berkali-kali ia menulis tapi lagi-lagi kembali dihapus. Ia akhirnya hanya bisa menghela napas berat.


"Huh, kenapa susah sekali mengirim pesan padanya?"


Asisten yang nengikutinya sejak tadi itu terus memperhatikan. "Perlu bantuan, Tuan?"


"Ah?" Revan tersentak. "Boleh." Ia memberikan ponselnya pada asisten itu. Dengan semangat menggebu pria itu menulis pesan yang Revan rasa cukup panjang. Dan langsung mengirimnya ke nomor yang sudah tercantum tanpa meminta izin terlebih dulu.


"Hei, kenapa lama sekali?"


Pria itu tersenyum, lalu menyerahkan ponsel itu kembali ke tangan Revan. "Kamu menulis apa? Tunggu, kamu sudah mengirimnya, tanpa seizinku?"


"Tuan baca saja dulu!" Ia bicara menyelingi senyum penuh percaya diri, sangat yakin kalau Revan akan menyukai hasil karyanya di sana.


Istriku Sayang, yang cantik dan menggoda, maukah kamu pergi menonton bersamaku?


Isi pesan itu tak luput ia dibumbui emot kiss. Membuat Revan mendadak terbelalak.


"Apa ini?" Ia terkejut bukan kepalang, dan segera saja ingin menghapus, tapi tiba-tiba terlihat titik tiga bergoyang dalam aplikasi chat itu, yang artinya pesan itu bukan hanya terkirim tapi juga sudah terbaca, bahkan sang penerima sudah mengetik pesan balasan.


Astaga, dasar asisten bodoh!


Bip.


Notif sudah berbunyi. Setengah resah ia membuka isi pesan.


Tuan, sepertinya anda salah kirim.


Jleb.


Oh, tidak, dia sudah membacanya.


"Ah, kamu ini ceroboh sekali." Revan menggerutu kesal pada asisten tadi, berjalan satu langkah di depan.


Loh, bukankah tadi dia yang minta bantuan, kenapa sekarang malah marah padaku. Asisten itu menggaruk kepala, bingung.


Prilly, tolong jangan kamu tanggapi, pesan terkirim itu bukan dariku. Revan hanya bisa membalas dengan kalimat itu.


Kacau semua, ahh ....


Satu lagi akan segera menyusul. 🤗

__ADS_1


__ADS_2