Rahim Untuk Tuan Muda

Rahim Untuk Tuan Muda
Eps 34


__ADS_3

Selesai sudah acara berberesnya pagi itu. Mentari sudah mulai naik ke puncak teratas. Sementara Prilly terjebak dalam rantai yang digembok oleh keluarga Sharta.


Ia meringis di sudut sofa di dalam mobil yang berisikan Nyonya Sharta itu, sedang Priska tak tampak batang hidung di sana. Prilly meratapi diri dengan memandang kepadatan di kota seoul. Pandangannya tak berpindah dari lalu lalang kendaraan hingga Nyonya Sharta menyentaknya.


"Prilly?"


"Emm, ya, Nyonya?"


"Kenapa sejak tadi kamu selalu murung, apa kamu punya masalah?"


"Ah, tidak, Nyonya."


"Kalau begitu, cobalah untuk tersenyum."


"Em!" Prilly mengangguk, menyematkan senyuman tipis, lalu kembali melempar pandang ke jalanan.


Selanjutnya, tak ada lagi obrolan sepanjang jalan. Hening. Nyonya Sharta tampak sibuk dengan gawainya, sementara Prilly termenung meratap diri.


*****


Revan telah selesai dengan aktifitas jadwal meeting-nya. Bersama beberapa rekan ia keluar beriringan, sambil sesekali membahas perihal usulan proyek yang baru kelar dibahas dalam rapat tadi.


Tepat beberapa saat kemudian, benda dalam saku Revan berdering. Ponsel yang sebelumnya sempat tertinggal di dalam mobil baru miliknya kini kembali dalam genggaman.


Cepat ia menggeser locksreen pada layar redup itu, dan betapa terkejutnya Revan mendapati puluhan panggilan tak terjawab dari Prilly.


Deg.


Apa yang terjadi? kenapa banyak sekali panggilan masuk dari Prilly?


Buru-buru Revan menelpon gadis itu, tapi nomor itu sudah tak aktif. Tak lagi Revan melanjutkan panggilan, hanya secepat mungkin ia berlari menuju mobil yang terparkir di area khusus. Tujuan utama sebisa mungkin segera kembali ke apartemen.


Sepertinya sekarang keadaannya kurang baik. aku harus segera kembali secepatnya.


Tak peduli meski sebelumnya sempat mengalami kecelakaan akibat berkendara dengan kecepatam tinggi, kali ini Revan mengulanginya lagi, semua ia lakukan demi seorang gadis yang awalnya ia pandang sebelahmata.


Prilly tunggulah. Aku akan segera ke sana. Ia menggumam dalam hati. Segera Revan menjalankan mobilnya dengan kecepatan melebihi rata-rata.


Tak butuh waktu lama, berkendara cepat membuat Revan berhasil memarkirkan kendaraan roda empatnya di area baseman apartemen dengan waktu singkat, dan langsung berlari memasuki lantai dasar menuju lift.


Ia masuk dan berdiri di sana dengan perasaan cemas. Sebelumnya ia tak pernah menunggu dan berharap lift terbuka cepat, tapi kini penantian itu terasa sangat lama. Dua menit rasanya sudah bagai 30 menit.


Ting.


Alarm lift berdenting satu kali, selang sedetik pintu itu terbuka. Tanpa menunggu lagi, Revan berlari menuju pintu depan. Cepat ia memasukkan kodenya dan langsung membuka lebar saat kode berhasil teridentifikasi.


Dap!


"Prilly? Prilly?"


Ia langsung memanggil nama gadis itu saat tiba. Tapi tak ada jawaban, membuatnya gusar saja. Cepat Revan menelusuri ruang apartemen minimalis itu. Ia mencari ke ruang dapur dan gudang penyimpanan, berharap gadis itu bersembunyi di sana seperti beberapa waktu lalu saat sedang ketakutan. Tapi semua pencarian itu berujung nihil.


Ia kemudian berlari kecil menaiki anak tangga menuju kamar Prilly.


Dap!


Lagi, pintu ia buka dengan kasar. Namun, hanya kamar kosong dan senyap tanpa kehadian Prilly yang menyambutnya.


"Prilly?" Kembali Revan memanggil. Kali ini hanya kamar miliknya yang belum dikunjungi.


Dap!


Ia membuka kasar. Membuat suara benturan daun pintu dan dinding menge-dap. Kali ini, Revan mendapati gadis itu berbaring, berbungkus selimut di atas matras di kamarnya.

__ADS_1


"Hufh!" Ia menghela napas lega. "Di sini kamu rupanya. Aku mencarimu ke mana-mana, kenapa kamu tak menjawab panggilanku?"


Tak ada sahutan.


"Prilly?" Pelan Revan merapatkan duduknya di atas matras, membuka selimut yang menjadi penutup tubuh gadis itu. Namun, seketika matanya terbelalak. Bagaimana tidak, sosok wanita yang tidak diharapkan hadir di sana.


"Priska?" Ia mengernyit.


"Hai, Sayang. Kamu sudah pulang?" Gadis itu.mengembangkan senyumnya, berharap Revan melakukan hal yang sama, tapi semua harapan hanyalah angan semu. Kini senyuman Revan meredup, berubah garang.


"Apa yang kamu lakukan di apartemenku?" Nada bicaranya bahkan terdengar dingin.


"Apa lagi, hanya ingin berbaring di atas kasur bersama suamiku, dan menunggunya pulang. Apa itu salah?"


"Di mana Prilly?" Napasnya bahkan sedingin salju bagi Priska.


"Hmm, kamu belum menjawabku, tapi sudah menanyakan hal lain."


"Aku bertanya, di mana Prilly?" Kali ini ia sudah menggertak keras. Membuat Priska tersentak hingga membelalak.


Eh?


"Revan. Kenapa kamu terus saja memarahiku, memang apa salahku? Salahkah jika kini aku amnesia sampai, apa itu alasan kamu lebih memilih gadis itu." Bukannya takut, Priska malah semakin berani. Bahkan tanpa ragu ia memeluk erat tubuh Revan, juga menciptakan airmata palsu.


"Priska!" Nada Revan masih sama dinginnya, sementara gadis itu masih memeluk erat tubuhnya. "Cukup. Aku tahu tentang sandiwaramu!"


Deg.


Seketika Priska terdiam, walau masih belum merenggangkan pelukannya.


Apa yang kamu tahu, Revan. Jawablah aku perlu kepastian. semoga yang kamu maksud bukan perihal amnesiaku! Ia merapal doa.


"Aku tahu jika amnesiamu hanyalah kebohongan semata."


Deg.


Priska belum melepas pelukannya, tapi Revan sudah mulai melepas paksa. Namun, ia tak langsung melepas begiut saja, pria itu masih merekatkan jemarinya pada kedua bahu Priska.


"Priska, dengarkan aku. Bukankah kita sudah sepakat untuk mengakhiri hubungan setelah satu tahun ke depan, bukankah kamu juga berharap begitu, bahkan kamu sampai mengirim Prilly padaku. Kamu memintaku untuk bersenang-senang dengannya, kenapa sekarang kamu seakan melupakan hal itu?"


Priska menunduk. Kali ini sandiwaranya sudah tertangkap basah.


Selesailah sudah semuanya.


"Maafkan aku, Revan. Tapi aku terpaksa melakukan ini."


"Apa maksudmu dengan terpaksa?"


"Aku menyesal mengirim Prilly untukmu, sekarang aku benar-benar menyukaimu, bisakah kita mengulang semuanya dari awal. Aku akan tetap membiarkan Prilly mengambil keuntungan dari kontrak itu, juga membebaskannya dari semua jeratan kontrak kita." Matanya tampak menatap nanar. "Kau mau kan, Revan?"


Revan terdiam sejenak. Hanya dua bola matanya yang terlihat bergerak menatap sepasang mata Priska. "Bodoh!"


Deg.


"Kau memang gadis bodoh. Kenapa baru sekarang kau menginginkanku?"


"Apa tidak boleh?"


"Tentu saja tidak boleh. Prilly sudah terlanjur mengandung benih dari anakku. Aku bahkan sudah resmi menikahinya. Jadi mulai saat ini, aku sudah memutuskan untuk fokus padanya, tidak dengan gadis manapun lagi di dunia ini."


Deg.


Apa? jadi Prilly sudah hamil? Tidak! Revan pasti bohong, dia pasti hanya menggertak.

__ADS_1


"Tapi, Revan. apa kamu tidak mau memikirkannya lagi?"


"Tidak ada kata tapi! Pulanglah."


Priska kini hanya bisa tertunduk, isak tangis mulai mewarnai kesedihannya.


"Pergilah. Karena aku sudah tidak akan peduli meski kau menangis darah sekalipun." Gadis itu tetap menangis di sana.


"Baiklah, kalau begitu aku saja yang pergi." Revan mulai mrlanhkahkah kakinya, bahkan sudah terlihat satu langkah di luar pintu. Namun, mendadak terhenti.


"Priska?" Ia kembali memanggil gadis itu.


Deg.


Apa benar yang kudengar? Apa aku tak salah? Revan memanggilku kan, mungkinkah dia masih mengharapkanku?


Pelan Priska mendongak.


"Ke mana kalian membawa Prilly?"


Eh, jadi hanya untuk menanyakan di mana Prilly?


"Kau terlambat Revan. Ibuku sudah membawanya ke mansion milik kita. Kelak di sana ia akan jadi pelayan."


"Apa?" Revan terkejut bukan kepalang. Nyaris saja dia melayangkan pukulan pada Priska dengan kepalan tanganya. Beruntung ia masih mampu mengontrol emosi mengingat bahwa Priska adalah seorang wanita, ia mengurungkannya.


"Kau?" Ia menunjuk ke hadapan wajah gadis yang kini mampu menatapnya tanpa berkedip. "Kau adalah iblis berkepala manusia. Kau manusia yang tak punya hati nurani. Aku membencimu, Priska."


Deg.


Revan langsung berlalu setelah selesai memaki. Meninggalkan Priska yang kini terduduk lemas. Ucapan Revan berhasil mematah semangatnya.


Tak peduli meski kini Priska mulai meraung dalam tangis. Revan tetap berlalu menuju baseman untuk kembali berkendara, ia bahkan tak sempat untuk sekadar mengisi perut di jam makan siang.


Siang itu, ia pergi dengan berbekal emosi yang membara dan rasa khawatir yang teramat dalam, menuju kediaman mansion milik mereka, hanya untuk memastikan keadaan Prilly baik-baik saja.


*****


Prilly sudah tiba. Ia turun dengan menyeret koper miliknya.


Sebuah pemandangan menakjubkan terpampang di depan mata. Satu buah air mancur yang mengelilingi patung, sedang di tengahnya terdapat sebuah patung sebagai simbol kekayaan keluarga Sharta Group, pandangan yang langsung memadati ruang penglihatan Prilly. Tapi sayang, semua itu tak lantas membuat Prilly merasa takjub. Bahkan untuk sekadar tersenyum pun sudah sangat berat ia lakukan.


Nyonya Sharta memberikan arahan pada pelayan lain untuk mengatur kamar untuk Prilly.


Anehnya, Nyonya Sharta setuju dengan keputusan putrinya yang hanya mengambil Prilly untuk melanjutkan kontrak kerja sebagai pelayan. Sedang keempat pelayan sebelumnya tak ia lirik sedikitpun.


"Prilly, mulai sekarang kau akan ikut menjadi penghuni mansion ini. Dan mereka ...." Ia menunjuk pada beberapa pelayan wanita berumur yang tampak rapi berbaris  menyambutnya di sana. "Mereka kelak akan menjadi rekanmu." Ia terseyum simpul pada Prilly. Sedang gadis itu sendiri mengulum senyumnya, menunduk kecil. "Kalau begitu, aku akan meninggalkanmu pada mereka. Sementara itu, tolong kamu urus data gadis ini." Ia beralih bicara pada kepala pengurus mansion.


"Baik, Nyonya."


Nyonya Sharta melengangang pergi, sedang semua pelayan berbaris itu setia menunduk selama wanita tua itu masih berlalu. Kini ia benar-benar lenyap dari pandangan, barulah mereka sibuk dengan urusan masing-masing.


Prilly masih termenung saat sang kepala pengurus mansion menyentaknya.


"Mari ikut denganku, aku akan mengantarkan ke kamarmu."


"Em!" Prilly menangguk.


"Oh, iya. Tolong berikan berkas datamu padaku, kami harus menyimpannya sebagai jaminan."


Prilly mengeluarkannya dari dalam koper dan menyerahkan pada wanita tua itu.


"Oke, aku akan memberikan berkas ini nantinya pada Nyonya Sharta."

__ADS_1


"Em!" Lagi, Prilly hanya mengangguk.


__ADS_2