
"Tidak perlu sungkan begitu, Prilly. Bukankah kontrak itu aku yang membuatnya. Jadi, aku juga berhak mengubahnya, kan? Mulai sekarang aku akan mengubah kontrak, kalian semua tidak lagi bekerja di apartemen, kalian tetap bisa bekerja walau pindah ke mansion. Bagaimana, kau juga pasti masih butuh uang kan, lagipula kau tau konsekuensinya jika berani memutus kontrak sepihak bukan?"
"Eh?" Prilly mendongak kaget. Baru saja Priska bicara padanya, ia sangat yakin jika gadis itu akan segera memberi anggukan. Sepasang mata Priska sudah tampak melotot, seperti sebuah ancaman besar andai Prilly berani berkata tidak. Sedang saat itu Nyonya Sharta ikut menunggu detik-detik Prilly memberi jawaban. Sekejap, Prilly mengangguk. Seketika bola mata Priska yang tadi melotot langsung meredam.
Anak pintar! Ia tertawa lirih dalam hati.
"Priska benar, kau seharusnya memang tidak menolak. Bagus jika sekarang kamu menerima tawaran dari Priska." Nyonya Sharta menyetujui usulan gadisnya itu. "Itu artinya, kita hanya perlu menunggu pelayan lainnya kembali."
Prilly hanya bisa terdiam. Tak tahu lagi alasan apa yang bisa diajukan. Malang tak dapat ditolak, sementara si nona empunya kuasa semakin merajalela, menjerumuskan wanita yang hanyalah gadis miskin tak berdaya, semakin terperosok ke dalam penjara yang diciptakan olehnya.
"Oh, iya, Prilly, kapan pelayan lainnya kembali?" tanya Nyonya Sharta yang menyadari sejak mereka datang, pelayan lain tak kunjung menampakkan batang hidung.
Deg.
Pelayan lainnya?
Prilly kini semakin terhimpit keadaan. "Ah, soal itu ...."
"Ya, ini sudah satu jam lebih, kenapa mereka masih belum kunjung kembali?" tanya Priska dengan nada ketus, sementara seutas bibirnya sudah naik ke atas.
Kena kau Prilly, skakmat, mana ada pelayan lain selain dirimu. Priska menyunggingkan senyumnya. Aku ingin tahu, alasan apalagi yang sanggup kamu mainkan kali ini.
"I-itu, izinkan saya menelepon mereka dulu?"
"Ya, silahkan!" Buru-buru Prilly bangkit untuk menjauh, karena satu-satunya nomor yang dapat dihubungi untuk masalah ini hanyalah Revan.
"Kau mau ke mana?"
Deg.
Pertanyaan Priska berhasil menghentikan langkahnya. "Saya mau meneleponnya di luar sebentar, Nona."
Sial, sepertinya Nona Priska ingin mengerjaiku lagi.
"Kenapa harus di luar, telepon saja di sini." Wajahnya sudah terlihat sangat puas mengerjai Prilly, sementara Prilly pucat pasi.
Sial, bagaimana ini.
"Ahh, baiklah. Saya akan menelepon di sini saja."
Berani sekali dia. Apa dia tak takut kalau sandiwaranya tertangkap. Mana ada pelayan lain selain dia kan? Priska tertawa kecil.
Bagaimana caranya aku mengatakan pada tuan muda. Haruskah aku bersandiwara dalam telepon. Tapi, sandiwara apa yang harus kumainkan? Sementara Prilly sudah pusing memutar otak, mencari sejuta alasan.
"Cepatlah hubungi mereka, jangan membuat kami menunggu."
"Ah, iya, baik, Nona."
Tangan Prilly sudah gemetar, menyembunyikan rasa gugup rasanya benar-benar sulit. Ia mulai menekan tombol hijau pada kontak ponsel bernamakan tuan muda.
Prilly menyematkan ponsel ke sela telinga, menunggu yang di seberang sana mengangkat panggilannya.
Klik.
Halo, Prilly, ada apa?
"Ah, maaf, apa kalian para pelayan bisa kembali sekarang, karena di sini ada Nyonya Besar, dan Nona Muda."
Apa? Kamu bicara apa?
__ADS_1
"Nyonya dan Nona menunggu kalian, cepatlah kembali.
Apa Nyonya Sharta dan Priska berkunjung ke sana?
"Ya, dan beliau menunggu kalian kembali, cepatlah."
Oke, aku mengerti, tunggu saja di apartemen.
Tut.
Tut.
Tut.
Telepon berakhir.
Semoga tuan muda benar-benar mengerti kodeku. Prilly merapal doa.
Apa yang direncanakan gadis kampung ini? Priska bergumam, wajahnya terlihat tidak senang.
Sejak kemarin dia selalu berhasil menghindar dari seranganku. Apa kali ini dia akan berhasil lagi?
"Sementara menunggu pelayan lainnya kembali, ada baiknya kau terlebih dulu mengemas barang-barangmu." Nyonya Sharta menambahi.
Ehh? Untuk apa?
Prilly tak menjawab, hanya bola matanya yang tampak menatap nanar.
"Kami akan mengikutsertakanmu pindah ke mansion hari ini. Jadi berkemaslah."
"Tapi ...."
"Bagaimana dengan pelayan lainnya?"
"Kami akan membawa mereka juga. Bukan begitu, Mah."
"Iya, Mamah selalu mendukung apapun yang terbaik untukmu."
Dag. Dug.
Dag. Dug.
Apa yang harus kulakukan sekarang?
Prilly bangkit, menuju kamarnya. Ia masuk dan menutupnya pelan, tubuhnya luruh di atas lantai. Ia lemas membayangkan nasib apa yang nanti akan menimpa ke depannya.
Pelan gadis itu menyalakan layar ponsel yang sebelumnya redup, satu-satunya tempat mengadu hanyalah Revan.
Berulang kali ia menelpon tapi yang di seberang tak kunjung mengangkat.
Tuuut.
Tuuut.
"Tuan, ayolaaah. Angkat!" tangisnya pecah dalam telepon.
Tuuut
Tuuut
__ADS_1
Tilut. Tilut.
Ponsel sudah melemah, tanda kalau daya baterai harus sergera di isi.
"Oh tidak! Baterainya sudah lemah. Tidak" Ia sampai menghentak-hentak ponsel itu di atas penggung tangannya. Berharap ponselnya hanya eror sesaat, tapi semua yang ia lakukan sia-sia, karena kini ponsel itu redup total.
Tok
Tok
Tok
"Prilly, apa kau sudah siap? Kita akan berangkat sekarang."
Oh, tidak!
"Iya, Nyonya, saya masih berkemas." Nada bicara Prilly bahkan sudah parau.
"Oke, cepatlah!"
Apakah nasib malang ini adalah takdirku? Ia meringis dalam hati
Selang beberapa saat Prilly keluar. Satu buah koper ia seret dari dalam kamar.
"Hai, Prilly, ada apa?" Nyonya Sharta sedikit heran saat menemukan rona sendu dalam mata Prilly. Matanya bahkan masih tampak berkaca-kaca.
"Saya, baik-baik saja, Nyonya." Nyonya Sharta masih memegangi pundak gadis itu.
"Kamu serius? Jika memang ada sesuatu yang membebanimu, katakan saja?"
Melihat keakraban yang tercipta dalam waktu singkat, membuat Priska benar-benar kesal.
"Mah, sudahlah, dia hanya pelayan. Untuk apa terlalu peduli padanya. Salahnya menjadi anak dari orang miskin."
"Priska!" Nyonya Sharta kesal akan ucapan putrinya itu. "Kita memang terlahir sebagai orang terpandang, tapi bukan bararti kita harus bersikap sombong pada mereka yang berkekurangan. Di mana etikamu?"
Priska terkejut. Tak percaya jika kini ibunya memakinya hanya karena seorang gadis kampung. "Mamah, jahat!" Matanya berkaca, sedetik ia sudah berlari memasuki kamar Revan. Membanting daun pintu itu. Cepat Nyonya Sharta mengejar, tapi kencangnya bantingan pintu membuatnya kalah cepat.
Kini ia hanya bisa berinteraksi pada putrinya dari luar pintu. Berharap emosi anaknya segera meredam. Ia sadar telah menyakiti perasaan gadisnya. Tiga kali Nyonya Sharta sampai meminta maaf, gadis itu akhirnya luluh. Pelan ia membuka pintu untuk kemudian menemui ibunya.
"Priska, maafkan Mamah. Mamah tak berniat menyakitimu, hanya saja .. kita tidak boleh bersikap kasar pada mereka yang berada di bawah kita."
Sementara itu, Priska masih memilih diam. Membuang pandangannya ke samping. Selang beberapa saat hadir lima insan asing yang tiba-tiba masuk melalui pintu depan.
"Maaf, kami terlambat."
Semua terlihat menjinjing sayuran dalam tas belanja.
Siapa mereka, bukankah Revan tidak memiliki satupun pelayan di sini. Bahkan aku sendiri sudah memastikan ada di sini kemarin.
Priska melongo, melihat keempat wanita yang meletakkan belanjaan di lantai, sedang wajah mereka menunduk.
Prilly tak kalah sama melongonya. Bagaimana tidak, ia baru saja menelepon satu jam lalu, dan sekrang sudah hadir empat wanita muda yang siap mengaku sebagai pelayan di sana.
Pergerakan tuan muda benar-benar cepat.
"Jadi sekarang kalian sudah datang. Aku akan menjelaskan beberapa hal pada kalian." Nyonya Priska mulai menerangkan perihal kepindahan itu pada mereka.
****
__ADS_1