
Dari kediaman Airen di apartemennya.
Gadis bertubuh molek itu tak dapat menutupi kebahagiaan. Kegilaannya semakin menjadi saat ia mengira bahwa nomor yang Prilly berikan adalah nomor Revan.
Ia sudah duduk di bibir ranjang, sambil terus menatap ke layar ponsel. Nama Pangeran Revan ia tetapkan dalam kontak, padahal nomor yang terkandung di dalamnya adalah murni milik Priska.
"Aku harus memulai dari mana ya?" Ia berulang kali mencari kata yang tepat untuk memulai percakapan dalam dunia chatting.
"Bilang apa, ya? Apa benar yang dikatakan pelayan itu?" Sejenak, Airen mengingat percakapan yang terjadi antara dirinya dan Prilly sebelum beranjak dari apartemen Revan.
Ya, Nona katakan saja jika Nona adalah saya, maka Tuan tidak akan mengabaikan Nona. Dan satu lagi .. Nona jangan terkejut jika balasannya sedikit kasar, karena Tuan Revan memang selalu bicara kasar pada saya.
Kata-kata gadis itu mengiang sejenak dalam benak Airen.
"Ah, apa iya aku harus berpura-pura menjadi pelayan itu, huh. Memangnya kenapa jika Revan mengetahui aku menghubunginya?" Antara bimbang, ragu, dan percaya dengan perkataan Prilly, Airen sampai menghempas tubuhnya ke atas kasur. Masih setia memandangi kontak nomor telepon bernama pangeran yang ia kira Revan itu. Cukup lama, akhirnya ia tak dapat menguasai diri menahan lebih lama jika hanya sekadar menatap, Airen akhirnya memutuskan untuk mengikuti saja saran Prilly.
"Ah, sebaiknya aku ikuti saja saran pelayan itu."
Ia mulai mengirim beberapa pesan pada nomor milik Priska.
Siang, Tuan Revan. Ini saya Prilly.
Ia mulai mengirimnya, matanya terus menatap pesan yang sudah mendapat centang 2 itu. Gugup, Airen sampai berbalik badan, membenamkan wajahnya dalam bantal, menunggu menunggu ponselnya bergetar.
Drrttt!
Satu buah notif menggetar di sana, dengan cepat, meski gugup dan girang ia langsung meraih ponsel itu, dan membaca isi balasan.
Apa maumu?
"Huh, ternyata pelayan itu benar, dia galak!"
Maaf mengganggu anda, Tuan. Tapi bisakah Tuan menemuiku sekarang? Ada hal yang ingin kubicarakan.
Klik.
Ia mengirim.
Selang beberapa detik, tiga titik di sana bergoyang, lalu kembali sebuah notif menggetarkan ponsel yang sudah tergenggam erat itu.
Baiklah, kau ingin menemuiku di mana?
Airen terkejut. Ia tak percaya bisa mengelabui Revan dengan semudah itu. Ternyata ada bagusnya juga aku mengikuti saran pelayan itu.
Bagaimana kalau di Cafe The Lounge, Tuan?
The Lounge, baiklah, kapan?
Hari ini, bisa?
Bisa, jam berapa?
Deg.
"Apa, benarkah semudah ini bertemu langsung dengan Revan. Oh Revankuuu?" Airen begitu bahagia mendapat balasan dari Priska yang ia kira Revan. Ia sampai menghempas tubuhnya ke kasur, berguling sebentar lalu kembali meraih ponsel, membalas pesan chat dari Priska itu.
__ADS_1
1 jam ke depan. Aku akan menunggumu di sana.
Baik, 1 jam ke depan aku juga akan di sana.
Airen sampai histeris membaca balasan itu. Tak kusangka, berjumpa Revan ternyata tidaklah sulit. Baiklah, Revan. Tunggu kedatanganku!
.
.
Sementara itu di kediaman keluarga Sharta.
Sandiwara pura-pura amnesia Priska sudah terbongkar oleh ayahnya, Sharta. Ia sampai marah dan memaki, tapi putrinya itu tak peduli. Disaat ayahnya berteriak mencurahkan keluhan di hati, Priska justru meninggalkannya ke dalam kamar sambil melayangkan bantingan pintu.
"Keterlaluan, benar-benar tak berguna!"
"Papah, cukup! Kenapa tidak Papah cari tahu alasan kenapa Priska sampai berpura-pura amnesia. Dia melakukannya juga bukan tanpa alasan."
"Untuk apa mengorek alasan orang yang menipu keluarganya. Membohongi keluarganya. Apa kau tahu betapa malunya aku jika ternyata keluarga Harlem lebih dulu mengetahui perihal kebohongannya. Terlebih, berita amnesia ini sampai tersebar ke publik. Lalu di mna aku harus menaruh muka?"
Priska tak peduli dengan perdebatan di luar sana, masalah yang ia hadapi membuatnya memilih bermalas-malasan di dalam kamar, membuat Sharta semakin muak melihat tingkah manja gadis itu. perdebatannya dengan Yoona di luar sana tak membuat Priska tersentuh. Tak ia pedulikan ocehan ayahnya yang meminta Yoona untuk mendidiknya menjadi gadis yang lebih bermanfaat.
"Untuk apa dia sekolah ke luar negeri, jika akhirnya hanya bermalasan seperti itu di kamar. Aku sudah mengeluarkan banyaj uang untuk biaya pendidikannya, apa dia mengambil jurusan mengelabui, hah?"
"Cukup, Pah! Dia juga masih muda, biarkan dia menikmati masa mudanya."
"Masih muda katamu, muda menjadi alasanmu untuk membelanya, menutupi kesalahannya."
Priska mulai tak kuat mendengar perdebatan itu, ia menutup kedua telinga dengan bantal, hingga ponselnya menyala. Sebuah notif pesan menyentaknya.
"Nomor baru, siapa?" Penasaran, Priska membukanya
Siang, Tuan Revan. Ini saya Prilly.
Deg.
"Eh, benarkah Prilly salah kirim pesan, hmm .. apa yang mau dia bicarakan dengan Revan?"
Apa maumu? Masih dengan perasaan kesal saat membaca nama Prilly, membuatnya tak dapat mengendalikan diri.
"Astaga, kenapa aku membalasnya kasar. Harusnya aku berpura-pura saja menjadi Revan, biar aku bisa caritahu apa tujuan si anak kampung ini."
Maaf mengganggu anda, Tuan. Tapi bisakah Tuan menemuiku sekarang? Ada hal yang ingin kubicarakan.
"Prilly ingin menemui Revan?" Ada semangat picik berapi-api dalam benaknya, mengetahui kini Prilly ingin menemui Revan yang ternyata adalah dirirnya.
"Ini kesempatanku untuk membalasnya, jika di apartemen aku tak bisa bertemu dengannya, maka lebih baik membalasnya di luar saja." Tawa licik Priska bahkan terdengar menggema.
Baiklah, kau ingin menemuiku di mana?
Cepat Priska mengambil tindakan. Dengan senyuman picik ia tertawa geli.
Bagaimana kalau di Cafe The Lounge, Tuan?
"Oh, si kampung ini rupanya ingin merasakan sensasi cafe berkelas ya, kasihan! Baiklah akan aku kabulkan."
__ADS_1
The Lounge, baiklah, kapan?
Lagi, tawa liciknya mencuat di area bibir.
Drrrt!
Hari ini, bisa?
Bisa, jam berapa?
Drrrt!
1 jam ke depan. Aku akan menunggumu di sana.
"1 jam? Ah bisakah aku pergi dari rumah dalam waktu singkat ini, ah semoga saja perdebatan orangtuaku segera usai."
Baik, 1 jam ke depan aku juga akan di sana. Balas Prilly cepat.
"Aku harus bersiap, apapun yang terjadi aku harus menemui si kampung itu di kafe. Aku akan membuat keputusan mengenai kontrak. Akan aku berikan hadiahnya secara gratis, asal dia mau melepas Revan. Bukankah dia membutuhkan rumah. Aku yakin dia tak akan berani menolak."
Usai bersiap, Priska mengendap keluar dari kamarnya. Pandangannya menyapu keliling, sudah tak ada lagi sosok kedua orangtuanya. Tapi para pengawal tampak berjagaan di depan sana.
Sial, papah memakai jasa pengawal untuk menghalangku.
Nekat, Priska mendekat ke arah pintu yang di jaga oleh dua pengawal.
"Minggir, aku mau lewat." Priska mengibas tangannya, tak luput dengan gaya angkuhnya.
"Maaf, Nona. Tuan bilang Nona tak boleh ke mana-mana."
Deg.
Gadis itu melotot pada mereka. "Apa katamu, kamu mau melawanku?"
"Tidak, Nona. Kami hanya menjalankan perintah Tuan Besar."
Sial! Sepertinya ini akan menjadi sulit.
"Aku tidak percaya. Minggir, jangan menghalangiku!"
"Maaf, Nona. Kami siap mati jika perlu, kami tetap tidak akan membuka jalan meski Nona memaksa sekalipun."
"Kalian!" Priska menunjuk ke wajah mereka dengan geram. Tapi tetap wajah para pengawal itu terlihat datar, gertakan Priska tak ubahnya seperti aungan meong bagi mereka. "Agghh!" Priska mengehntak kesal. Lalu kembali ke dalam kamarnya.
Ia menghempas tubuh di atas kasur, menatap langit kamar. "Huh, pengawal menyebalkan. Awas saja, aku akan membuat mereka dipecat!" gerutunya.
Sekilas matanya melempar ke arah jendela kaca yang terbuka. Tak ada besi tralis yang menutup di sana. Hanya saja, kamar Priska berada di lantai 2.
"Apa aku turun melalui jendela saja."
Pelan ia bangkit, menghampiri jendela kamar tadi. Ia menengok ke bawah, cukup membuat merinding untuk keluar melalui jalur itu.
"Baiklah, sepertinya hanya ini aksesku!"
Priska mengumpulkan beberapa pakaian untuk ia sambung, dan akan digunakan sebagai tali menuruni jendela.
__ADS_1
masih ada satu lagi