Rahim Untuk Tuan Muda

Rahim Untuk Tuan Muda
Eps 27


__ADS_3

Prilly sudah benar-benar terlelap saat Revan kembali dari mengantar Dokter Hilman ke depan pintu. Gadis itu tampak nyenyak, meski dalam keadaan perut kosong.


Jadi, rupanya kamu sudah tidur? Ia menggumam dalam hati.


Sesaat kemudian menutup pelan daun pintu agar tak membangunkan Prilly. Usai dengan semua kelelahan malam itu tak lantas membuat Revan langsung terlelap dalam bayangan mimpi. Permintaan Prilly tadi dirasa cukup sakral, ia memutuskan untuk mencari sendiri si pedagang yang menjual bubur.


Hanya mengenakan kaos dan cardigan tipis, Revan nekad keluar, menggunakan mobil ia mencarinya. Revan membelah jalan, menerjang dinginnya malam di Kota Seoul. Wajah tampan itu tak terlihat gentar sedikitpun meski terpapar udara sedingin es. Butuh waktu dalam pencariannya kali ini, tapi ternyata perjuangan melelahkan itu tak membuahkan hasil. Menyesal bukanlah sifat sejati Revan, sekalipun tak kunjung menjumpai si pedangang bubur kaki lima, Revan tak menyerah.


Jika aku tak bisa menemukannya, maka aku sendiri yang akan membuatnya.


Salah satu kedai lama milik sahabat Revan menjadi pelabuhan terakhir.


Semoga aku bisa mendapat resep bubur itu di kedai ini.


Bip. Bip.


Ia memarkirkan kendaraannya di depan kedai itu, menekan tombol lock pada kunci mobil sebelum meninggalkannya.


Kedai dengan design kaca transparan bagian depan itu memperlihatkan sejumlah pengunjung yang memadati meja di dalam sana. Revan masuk, disambut oleh salah seorang pelayan.


"Maaf, Tuan. Meja kami masih penuh, Tuan bisa menunggunya dulu, atau jika memang tak bisa menunggu, kami tak bisa menahan Tuan untuk mencari kedai lain." Ia mengucap dengan ramah.


Revan menatapnya lekat, tubuh yang terlanjur terpapar udara dingin membuat mimiknya terlihat beku dan mematikan. Pelayan itu hanya bisa menenggak saliva karena tatapan dingin dari Revan.


Glek.


"Aku ke sini untuk mencari koki sekaligus pemilik restoran ini."


"Eh?" Ia tersentak. "Tapi, beliau sedang sibuk di dapur."


"Kalau begitu, katakan padanya kalau aku mencarinya."


"Ah, iya, baiklah." Ia bersungut saat pergi.


Menyuruhku untuk memanggil chief, dia sendiri tidak sebutkan nama, dia pikir chief akan meladeninya. Ia menggerutu kesal.


Pria itu menuju ruang dapur, tempat di mana beberapa koki terlihat sibuk memasak.


"Ada apa, apa ada pesanan baru?" Salah seorang koki bertanya padanya.


"Tidak, di mana chief?"


"Di sini, ada apa?" Pria berjuluk chief itu bersuara, membuat pelayan tadi menoleh padanya.


Ia terlihat sibuk dengan sarung tangan plastik bersatu pada jemari, dan sebuah centong yang ia gunakan untuk mengaduk sop.


"Ada yang mencari anda, Chief."


"Siapa?"


"Tidak tahu."


"Katakan padanya, aku sedang sibuk." Koki pemilik kedai itu masih setia mengaduk kuah sop dalam kuali, sesekali mencicipinya, lalu memasukkan beberapa rempah ke dalamnya.


"Tapi, Chief, katanya dia ingin menemui anda saja. Wajahnya dingin, membuatku takut, Chief."


"Ah, kamu ini, penakut sekali."


"Saya serius, Chief."


"Begitukah?"


Sebuah anggukan kecil ia layangkan, menjadi jawaban atas pertanyaan chief tadi.


Chief itu lantas memanggil koki lain untuk memercayakan kerjaannya pada mereka, ia mulai melepas sarung tangan, meletakkannya di atas meja, juga melepas apron dan topi toque blanches, menggantung alat tempur perisai itu ke gantungan besi yang tersedia. Lalu mulai berjalan beriringan dengan pelayan tadi menuju area luar.


.


.


Selang beberapa saat, Revan melihatnya keluar menuju area utama kedai itu. Pria itu tampak terkejut oleh kehadiran Revan yang berkunjung ke restoran sederhana miliknya.


"Revaan!" Ia terkejut, menyambut ramah. "Tumben sekali kamu berkunjung, ada perlu apa, sudah sangat lama sejak terakhir kali kamu ke sini."


"A-ha-ha, maaf, selama ini aku terlalu sibuk mengurus perusahaan orangtua." lirih Revan.


"Wahh, kau sudah semakin sukses, lihatlah dirimu, semakin tampan saja."


"A-ha-ha, tidak begitu, kau berlebihan."


"Aku hanya berbicara apa adanya. Oh iya, maaf, saat malam begini kedaiku selalu padat pengunjung, sehingga kamu tidak akan kebagian tempat duduk. Ah, bagaimana kalau kita berbincang di ruanganku saja."


"Itu tidak perlu. Aku ke sini karena butuh sedikit bantuanmu."


"Hmm, bantuan apa?"


"Ah .. bagaimana ya cara mengatakannya ...."

__ADS_1


"Katakan saja."


"Begini, aku butuh kamu untuk mengajariku membuat menu bubur."


Pemilik restoran itu terdiam sesaat. Seperti tak percaya dengan yang Revan katakan, lalu seketika terbahak. "Kau bercanda, memangnya buat apa?"


"Ahh ini .. memang terdengar sedikit konyol, tapi aku serius." Revan bicara tanpa membubuhi tawa kecil, membuat chief itu terpaku sesaat.


"Baiklah, ini seharusnya mudah, aku akan mengajarimu, ikutlah ke ruang dapurku."


Ini kali pertama Revan melakukan sesuatu yang benar-benar di luar naluri. Pria dingin yang hanya berbakat dalam dunia bisnis itu terjun ke ruang dapur resto kecil, demi sebuah pencapaian yaitu memberikan bubur terbaik untuk seorang wanita. Ya, dia wanita yang kini tertidur lelap dalam apartemennya, wanita yang kemungkinan besar mengandung anak dari benihnya.


Astaga, benarkah aku melakukan hal ini, Ini benar-benar konyol. Aku tak percaya melakukan ini demi seorang wanita.


Ia menggumam dalam hati, masih tak percaya dengan apa yang ia lakukan.


*****


Priska bersungut dalam ruang kamarnya. Malam itu, untuk pertama kalinya ia kembali tidur di kamar lama, setelah sekian tahun ia memilih tinggal terpisah ke sebuah apartemen mewah, kini akhirnya kembali berpijak di ruang nostalgia karena ulah pura-pura amnesianya.


Apa yang harus kulakukan, terpisah dengan Revan selama dua hari? Aku malah terjebak dalam permainanku sendiri. Berpura-pura amnesia kupikir adalah jalan terbaik. Ahh bodoh!


Ia memaki diri sendiri.


Keluar kamar atau jangan?


Kriieet.


Seseorang membuka pintu kamarnya, suara derit kecil dari daun pintu membuatnya bersembunyi di balik selimut, berpura-pura tidur.


"Priska, Sayaang?" Orang itu ternyata Nyonya Sharta, ibu kandungnya sendiri. Langkahnya berderap dalam ruang kamar, semakin mendekat, lalu merapatkan duduknya pada ranjang. Ia membuka pelan selimut yang menutup sempurna tubuh gadis semata wayangnya.


Priska masih berakting, masih memejamkan mata seolah ia benar-benar tertidur.


"Priska, bangunlah, makanlah sebentar." Gadis itu membuka pelan matanya. Ia melihat sekilas, lalu berpaling.


"Tidak mau, aku tidak mengenalmu." Ia membalikkan tubuh, miring ke kiri.


"Priska, kenapa tidak mau, ini kan Mamah, Sayang."


"Tapi tetap saja aku tak mengenal anda, Nyonya."


Deg.


Pernyataan Priska yang berdusta membuat hati ibunya sedikit terhenyak.


"Baiklah, aku mau makan, tapi hanya jika suamiku yang menyuapi."


Pupus sudah harapan, Nyonya Sharta nyaris menyerah, sudah sejak awal ia membujuk tapi selalu saja Revan yang dicari.


"Baiklah, Sayang. Kita akan menemui suamimu besok pagi yah, jadi sekarang Priska makan dulu, Oke."


"Benarkah?"


"Ya, Sayang, jadi apa sekarang kamu mau makan?"


"Emm!"Priska manggut, senyum polos terpancar di wajahnya, seakan dia gadis yang tak tahu apa-apa, pelan Nyonya Sharta mengelus pucuk kepala putrinya. Tersirat di wajahnya perasaan gundah, sedang Priska sendiri berjingkrak dalam hati.


Yess, wellcome to my life, Revan. Aku pastikan kamu hanya akan melirikku. Dan untukmu Prilly, goodbye gadis kampung.


*****


Sinar mentari kembali mencerahkan pagi, suasana hangat karena terbalut selimut masih meresap dalam raga Prilly. Ia mengerjap. Tidur sepanjang malam setelah puas dilanda mabuk membuatnya begitu nyenyak. Ia mengedarkan pandangan, menyapu ruangan kamar yang luas bernuansa putih cream.


Jam berapa ini, apa mungkin Revan sudah berangkat kerja?


Prilly bangun, beringsut dari ranjang. Nyaris saja ia terjatuh di langkah pertama saat menginjak lantai karena yang tubuh yang masih terlalu lemah.


Kruuuk.


Ya, ampun, rasanya lapar sekali.


Ia mengelus perut yang tadi sempat berbunyi, lemas. Sedikit lunglai Prilly menuju luar kamar.


Aroma bubur kesukaan langsung menendang indera penciumannya.


Hmm, bau masakan ini enak sekali. Aku tak salah menghirup kan?


Prilly mencoba menelisik, menuju ruang dapur untuk memastikan bahwa aroma yang ia hirup tidaklah salah. Namun, baru saja langkahnya tiba di sana, kini pemandangan berbeda menyambut kehadirannya.


Ya, Prilly sedikit terperangah saat melihat Revan yang sedikit kesusahan memasak sesuatu di depan meja kompor. Suara dari tangan yang memotong sayuran menggunakan pisau berpadu suara masakan mendidih dalam panci terdengar merdu. Sesekali terdengar suara meringis.


Ia melihat ke sana, tapi Revan tak melihat karena posisinya membelakangi gadis itu, satu buah apron tampak melengkapi penampilan Revan saat memasak, seolah ia sudah seperti koki handal.


Prilly menarik sebuah kursi, ia duduk di depan meja makan sambil tersenyum dan menautkan kedua lengan di bawah dagu. Sesekali ia tertawa kecil melihat Revan yang menjerit saat tanpa sengaja menyentuh panci panas di hadapan.


"Perlu bantuan?" Pertanyaan Prilly mengagetkannya.

__ADS_1


"Eh?" Ia berbalik dan tersenyum. "Kau sudah bangun?"


"Emm!" Gadis itu manggut tak luput menyematkan senyuman. "Tuan sedang memasak apa?"


"Cih, kamu penasaran ya?"


"Hmm, sedikit."


"Baiklah, kamu tunggu di situ, oke?" Ia mengambil sebuah mangkuk, menuangkan makanan itu ke dalamnya. Meracik dengan memasukkan beberapa bumbu untuk melengkapi tampilan menu itu.


Sedikit mendesah Revan saat membawa mangkuk panas itu ke atas meja di hadapan Prilly. Padahal ia sudah menggunakan sarung tangan, membuat Prilly tertawa geli saja.


"Apa ini, bubur?"


"Iya, aku membuatkannya untukmu," ucapnya sambil merapatkan duduknya di kursi yang berhadapan dengan Prilly.


Serius, si ganteng ini membuatkan bubur untukku? Uncchhh aku terenyuh ....


Rona pipi Prilly memerah.


"Aku tidak tahu apakah kau menyukainya atau tidak, tapi kuharap kamu suka. Ini .. cobalah." Ia menyerahkan sebuah sendok pada Prilly. Gadis itu menyambut, lalu mulai mengaduk. Ia mengambil sesuap, meniupnya sebelum memasukkan ke dalam mulut.


Sensasi gurih berpadu aroma rempah terasa nikmat dalam suapan pertama.


"Hmm, ini sih enak sekali, hmm." Prilly sampai memasukkan dua suapan sekaligus, bahkan hampir tersedak karenanya."


"Ah, makannya pelan-pelan saja," ujar Revan. "Kau pasti kelaparan sekali, ya."


"Hu-um, sejak kemarin seharian penuh aku nyaris muntah saja, rasanya tak satu pun makanan yang sangkut dalam perut, aku sampai lemas." Ia tertawa lirih.


"Hahahha, begitukah?"


"Huum."


"Jadi kamu suka bubur buatanku?"


"Iya, ini enak sekali."


"Baguslah, kalau begitu habiskan."


Prilly membalasnya dengan senyum hangat. "Sejak kapan Tuan pandai membuatnya?"


"Aku .. hanya membuka resep melalui you tube."


"Benarkah?"


"Tentu saja."


Wahhh, dia hebat sekali.


"Tuan hebat sekali." Revan tampak malu mendapat pujian dari Prilly, tapi gadis itu tak menyadarinya karena saking asyiknya melahap bubur buatan Revan.


"Apa hari ini Tuan tidak bekerja."


"Ya, aku libur."


Benarkah? Apa karena aku.


"Aku libur karena hari ini kita akan ke klinik, kita akan memeriksakan kandunganmu."


Deg.


Oh iya, aku baru ingat, tadi malam dokter itu menyarankan tuan membawaku ke dokter kandungan.


Seketika wajah Prilly berubah pias.


"Ada apa?"


"Ah, tidak ada." Makannya pun mulai melambat.


Aku senang jika benar aku hamil, tapi entah kenapa hariku terluka, apakah ini perasaan seorang ibu terhadap anaknya saat tahu akan berpisah di kemudian hari.


Seketika Prilly melamun, bayangannya terngiang pada ibu kandung yang tega meninggalkannya demi mengejar seorang pengusaha kaya.


Apakah benar yang dikatakan ayah, ibu meninggalkanku demi seorang pengusaha kaya? Apa ibu tak merasakan sedih seperti yang kurasakan saat tahu kelak akan berpisah?


Semua pertanyaan yang tak berujung jawaban itu kembali mengjantui pikirannya.


"Prilly, ada apa?"


"Ahh." Ia tersentak kaget. "Tidak ada, Tuan."


Apa mungkin buburnya tak enak, tapi sepertinya tadi malam aku sudah belajar dengan benar. Batin Revan menggumam.


"Baiklah, aku akan bersiap dulu. Kamu lanjutkan saja dulu makannya." Ia melemparkan senyuman itu sebelum pergi. Prilly manggut, mengucap terimakasih.


Bersambung ....

__ADS_1


Kita sambung besok, oke! 😎


__ADS_2