Rahim Untuk Tuan Muda

Rahim Untuk Tuan Muda
Eps 25


__ADS_3

Gelap mulai menghampiri Kota Seoul, deru angin di malam hari lebih dingin, suhunya bisa mencapai 20° celcius. Ya, itu karena saat memasuki Bulan Juni hingga Agustus, Kota Seoul berada di musim panas lembab. Jadi tak heran saat malam tiba, dingin akan menyambut kulit.


Revan sudah terbungkus jaket sweater begitu pun dengan semua keluarga yang kini bersiap pulang.


Revan dan Priska akhirnya diperbolehkan kembali oleh pihak Rumah Sakit, mereka dinyatakan sembuh karena memang tidak ada luka serius saat pemeriksaan. Hanya saja, mereka menyarankan untuk terus memantau kondisi Priska yang di duga mengalami amnesia setengah dari ingatan.


"Terima kasih, Dok."


"Sama-sama, Nyonya Harlem dan Nyonya Sharta. Perminggu, salah seorang dokter muda kami akan berkunjung ke kediaman Tuan Revan dan istrinya untuk memeriksakan kondisi Nona Priska."


"Terimakasih." Nyonya Sharta menggenggam erat lengan sang dokter, tanda kalau ia benar-benar bersyukur atas bantuan itu.


"Tidak masalah, saya senang dapat membantu Keluarga Sharta."


Acara pamitan itu di sudahi oleh sang dokter yang kini mulai memasuki jadwal operasi pasien lainnya.


"Kalau begitu, saya pergi dulu, saya sudah di tunggu di ruang operasi."


"Oh, iya. Silahkan."


Mereka menunduk pelan, disambut dokter itu yang langsung berlalu cepat.


Sebenarnya, bukan mereka tak mampu menyewa dokter khusus agar tidak perlu bersusah payah merawat anggota konglomerat ke Rumah Sakit, hanya saja para medis ambulance yang bertugas membawa pasien dengan insiden kecelakaan terlanjur membawa mereka ke salah satu Rumah Sakit dalam kota Seoul.


"Revan, sebenarnya apa yang terjadi pada kalian, kenapa bisa kamu lalai begitu dalam berkendara, sampai terjadi kecelakaan, huh apa kamu tak tahu betapa cemasnya Mamah?"


"Sudahlah, Mah. Aku lelah, kepalaku juga masih sakit, aku tak ingin membahas perihal ini."


"Revan." Ia meraung kesal.


"Sudahlah, Nyonya Harlem, Revan benar. Biarkan dia beristirahat." Nyonya Sharta tampak menyemangati besannya itu.


Revan melirik sekilas, lalu lebih dulu keluar menuju pintu Entrens Rumah Sakit. Hatinya masih gundah memikirkan Prilly, entah apa yang dilakukan gadis itu di apartemen tanpanya.


Prilly, maaf aku terlambat. Kuharap kamu baik-baik saja dan tidak mencemaskanmu.


Derap langkah keluarga besarnya yang memegangi Priska di belakang dengan pelan, terdengar jelas, menggema dalam ruangan itu. Tiga mobil Maserati Ghibli dengan warna hitam sudah menunggu tepat di depan teras Rumah Sakit. Segera mereka memasukinya, tampak semua memadati isi kursi itu, kecuali Revan yang masih setia berdiri mengotak-atik ponsel.


"Revan, apa yang kamu lakukan, ayo masuk. Kami akan mengantar kalian ke Mansion, mulai hari ini kalian akan tinggal di sana."


Apa? Ini gila. Aku dan Priska baru saja mengalami kasus kecelakaan, dan secepat ini mereka meminta kami untuk pindah? Revan kesal, mengeluh dalam hati.


"Tidak untuk saat ini, maaf aku tak bisa ikut kalian. Masih ada hal yang harus aku urus. Aku akan ke sana dalam dua hari."


"Revan. Tolonglah, jangan terus-menerus mengelak." Harlem sudah terlihat sangat kesal.


"Ayah, aku tidak bilang tak mau, aku hanya ingin ke sana setelah dua hari. Tentu saja aku punya alasannya. Bisakah kalian menghargai itu?"


Presdir Sharta dan istrinya sedikit terkejut melihat sikap Revan. Sesaat kemudian memandangi wajah putri mereka. Gadis itu tampak polos, memasang senyum seakan ia tak pernah sakit hati karena kini amnesia.


"Ada apa, Mah?"


"Bukan apa-apa, Sayang."


Priska kembali memasang senyum palsu pada ibunya.


Ya, Tuhan. Apakah kami salah menjodohkan gadis ini dengan pria tampan dan cerdas itu. Aku kira selama ini hubungan mereka harmoni, tapi sepertinya tak begitu.


Nyonya Sharta mengelus pelan pucuk kepala putrinya. Sementara perdebatan Harlem dan Revan semakin sengit di sana.

__ADS_1


"Presdir Harlem." Ia memanggil pelan. "Tak apa, biarlah Revan menyelesaikan urusannya, bukankah dia bilang dalam dua hari ini akan pindah ke Mansion juga?"


Harlem menghela napas berat, menatap Nyonya Sharta yang sedang bicara padanya itu, sesaat kemudian kembali melemparkan pandangan geram pada putranya yang kukuh mempertahankan sikap keras kepalanya.


"Baiklah, ayo kita jalan." Seruan itu langsung di kabulkan oleh supir pribadi mereka. Kini Revan hanya bisa memandangi kepergian mobil mewah itu.


Revan kembali mengecek ponselnya. Isi pesan yang ia kirim untuk Prilly masih belum dibaca.


Apa yang dia lakukan, kenapa sampai kini masih belum membalas pesanku?


Menyerah untuk menunggu balasan pesan, Revan mulai menelepon gadis itu.


Tuuut.


Tuuut.


Kurang lebih satu menit menunggu, sekarang mulai terdengar nada seseorang bicara di seberang sana.


"Ke mana saja, kenapa baru mengangkat?" Bukan bertanya dengan ramah, Revan langsung memakinya. Ya, mungkin karena rasa khawatirnya yang sudah sangat menumpuk, dan nyaris meledak.


"Maaf, Tuan. Saya habis dari kamar mandi." Suara di seberang sana terdengar lirih, seperti menahan sakit. Seketika emosi Revan mencair.


"Prilly, apa kamu baik-baik saja?"


"Ya, Tuan. Aku baik-baik saja."


"Benarkah? Aku akan ke sana dalam tigapuluh menit."


"Tuan, jangan matikan ponselnya dulu."


"Ada apa?"


Seketika suasana tegang berubah hening. Baik Revan maupun Prilly masing-masing diam. "Kamu .. tahu dari mana hal ini?" Revan kembali memulai percakapan.


"Tadi siang, Nyonya dan Tuan Harlem berkunjung ke apartemen, beruntung mereka tidak menemukanku, karena saat itu aku ada di lobi. Mereka baru memasuki lift tiba-tiba kembali keluar, aku sempat mendengar percakapan Tuan Harlem dalam telepon."


Revan masih diam, masih setia menyimak.


"Apa Tuan baik-baik saja?"


Dag. Dug.


Dag. Dug.


Entah kenapa, bicara dalam telepon dengan Prilly saat itu membuat jantung Revan tak terkendali. Ia mulai terenyuh atas sikap Prilly yang terdengar mencemaskannya.


"Apa kamu mencemaskanku? Apa kamu mulai merindukanku?"


Deg.


Prilly terdiam.


Apa? Benarkah aku merindukannya, tapi soal rasa khawatir ini, sepertinya memang benar. Ya, aku benar-benar mencemaskannya. Sebenarnya apa yang terjadi padaku?


"Prilly? Apa sekarang kamu sudah bisa memutuskan jawaban atas permintaanku, aku akan mengulanginya, maukah kamu menerimaku, menerima tawaranku menjadi suamimu?"


"Ehh!" Prilly tersentak kaget.


Aku harus jawab apa? Haruskah aku mengiyakan, kenapa hatiku terus berkata iya, harusnya aku menolak karena sadar tuan adalah milik nona, tapi kenapa hati kecil ini tak terima jika aku menolak?

__ADS_1


Gejolak dalam diri Prilly terus meronta, menuntut bibirnya untuk segera menjawab 'ya' atas permintaan sakral tuan muda.


"Tuan."


"Ya?"


"Aku akan menjawabnya saat Tuan sudah di sini."


Senyum Revan mengembang. Kebahagiaan terpancar dari pergerakan bibir yang terlihat seutas naik ke atas.


"Oke, tunggu aku di sana."


"Baik, jangan mengebut lagi, ya."


"Cih!" Revan tertawa lirih. "Baiklah, aku akan menjadi penurut untuk saat ini."


Tut.


Tut.


Tut.


Telepon itu sudah mati. Revan yang memang sudah menghubungi asistennya segera bersiap untuk berangkat, ia mendatangi mobil yang terparkir di tepi jalan. Ya, asisten terbaik itu sedari tadi sudah menunggunya di sana.


"Antar aku ke apartemen, sekarang!" Revan memberi petintah saat dirinya sudah berhasil mendarat dalam kursi bagian belakang.


"Siap, Tuan!"


Mobil kini melaju pesat.


*****


Beberapa saat sebelumnya ....


Prilly merasa badannya kurang enak, berkali-kali ia harus mengoles krim pada bagian tubuh yang terasa pegal, tapi hal itu tak ubah membuatnya merasa lebih nyaman. Rasa sakit kali ini berawal dari kabar yang ia dengar mengenai tuan muda.


Semenjak mengetahui Revan mengalami kecelakaan ia semakin terpuruk, hanya bisa berbaring di sudut kasur. Rasa mual dan pusing mulai menyerang, berkali-kali Prilly harus mondar-mandir kamar mandi, nyaris memuntahkan semua isi perutnya. Tentu saja, kini tubuhnya lemas.


Semakin lama rasanya lemas itu semakin menjadi-jadi mengingat Revan tak kunjung menelepon, hingga suara dari nada ringtoon mengalihkan perhatiannya. Segera ia mengecek panggilan yang ternyata berasal dari tuan muda.


Akhirnya tuan meneleponku.


Cukup lama perbincangan mereka dalam telepon itu berlangsung. Revan mengabarkan bahwa ia baik-baik saja, hal itu berhasil mengurangi sedikit rasa pusing pada kepalanya. Meski mual masih menyerang, ia memilih menahannya. Menyambut kedatangan Revan lebih berharga dari sekadar rasa mual di perut.


Telepon sudah terputus, ia mulai menunggu.


Tuan bertanya mengenai jawaban itu, aku jawab apa ya?


Ia berbaring dengan posisi telentang, sedang kedua tangan melipat ke dada. Netranya menatap langit-langit di kamar untuk yang ke sekian kali.


Ting Tong.


Bell di depan apartemen menyentaknya. Ia bangkit dari rebahan.


Ah, sepertinya tuan muda sudah datang, tapi .. kenapa perjalanannya cepat sekali?


Dengan terhuyung ia menuju pintu, mengintipnya sebentar, dan ....


Bersambung ....

__ADS_1


Kita lanjut besok 😄👍🏻


__ADS_2