Rahim Untuk Tuan Muda

Rahim Untuk Tuan Muda
Eps 24


__ADS_3

Decitan roda dari dua ambulance stretcher terdengar memekik telinga. Cepat para perawat itu berlari membawa dua insan yang terbaring lemah ke ruang UGD. Ya, Revan dan Priska memang baru saja mengalami insiden di perempatan jalan, dengan posisi mobil menabrak pembatas jalan.


Orangtua Priska sudah lebih dulu di sana sebelum akhirnya Keluarga Harlem menyusul. Mereka langsung menghampiri pasangan suami-istri dari keluarga Sharta itu.


"Suster, di mana Revan putraku?" Ia langsung menghampiri salah satu perawat begitu tiba.


"Nyonya, tolong tenang dulu. Dokter kami sedang mengusahakan yang terbaik. Jadi, ada baiknya Nyonya banyak-banyak berdoa saja, semoga tidak ada hal buruk yang terjadi."


Nyonya Harlem menangis, memegangi dada. Satu buah selendang yang melekat di bahu sebagai ciri khas style-nya ia remas. Sambil meraung dalam tangis, ia duduk pada kursi panjang di pinggiran lobi.


"Mah, tenangkan dirimu, lebih baik kita berdoa." Harlem mengelus pelan bahu istrinya, berharap dengan begitu istrinya bisa lebih tegar, tapi Nyonya Harlem semakin hanyut, ia menyandarkan kepala pada bahu suaminya.


Pelan Nyonya Sharta menghampirinya. Wanita itu lebih tegar. Ya, itu karena dia sudah mendengar semua dari kesaksian warga yang melihat langsung. Ada yang mengatakan jika saat itu Priska sempat tersadar, sedangkan Revan sudah tergeletak lemah dengan darah mengalir di dahi.


"Nyonya Harlem, aku turut berduka atas musibah yang terjadi pada anak kita, tapi sebagai orangtua, kita tidak boleh lemah, kita harus bisa kuat agar anak kita lebih tegar, kita doakan saja semoga mereka tidak kenapa-napa."


"Em." Nyonya Harlem masih terisak, ia manggut sambil menyeka air mata yang tadi sempat membubuhi pipi. Tak ada kata yang keluar dari mulutnya, ia terlihat melamun, pandangannya tampak kosong.


Sementara Harlem dan keluarga Sharta sesekali masih berbicara seperlunya. Sisanya lebih banyak diam dan menunggu dokter keluar.


Cukup lama mereka mendekam di depan lobi, beberapa saudara sepupu yang ikut menunggu tampak merapal do'a. Berharap jawaban kesembuhan yang nanti akan mereka terima saat dokter itu keluar.


Kriieeet.


Pintu UGD terbuka pelan. Semua mata menyalak, tertuju ke sana. Menunggu bayangan sang dokter hadir ke hadapan mereka. Hingga 30 detik, dokter akhirnya keluar.


Nyonya Harlem yang sedari tadi sudah mewanti-wanti kehadiran sang dokter akhirnya bisa melepaskan rasa pertanyaan yang bergemuruh di dada.


"Bagaimana keadaan anak saya Revan, Dok?"


"Ah." Dokter itu tampak mengedipkan mata pelan. Sepertinya ia ingin menyampaikan dengan tenang. Sementara wajah Nyonya Harlem sudah nampak 100% was-was.


"Nyonya, bagaimana jika kita bicarakan di ruang saya saja."


"Bisakah Dokter sampaikan sekarang saja?"


Dokter itu menatap ke arah Harlem dan keluarga Sharta. Sejuta rasa cemas nampak menggunung di wajah mereka, menantikan jawaban yang akan diuraikan sang dokter. Ia menelan saliva dengan berat. "Baiklah, kalau begitu, akan saya jelaskan di sini."


Semua kini semakin fokus menatapnya. Saking penasarannya sampai terlihat menahan napas. "Syukurnya, mereka semua dalam kondisi baik, kami sudah melihat hasil X-Ray. Tidak ada tanda-tanda luka serius pada bagian organ dalam. Hanya luka kecil pada permukaan wajahnya."


Seketika semua tampak bernapas lega. "Ah, syukurlah." Nyonya Harlem mengelus dada, sekali lagi menyeka air mata yang baru saja keluar akibat rasa bahagia.


"Hanya saja, untuk luka kecil itu perlu di jahit, tapi tenang, kami sudah menggunakan metode simple interrupted, dan antibiotik, jadi tidak akan menimbulkan bekas pada luka."


"Terimakasih, karena sudah melakukan yang terbaik untuk anak saya."


"Sama-sama Nyonya. Hanya saja .. masih ada satu masalah kecil," ucap sang dokter terputus, dan berhasil membelalakkan mata mereka. Semua kembali lekat menatapnya.


"Masalah apa, Dok?"


"Ahh .. anu ...." Dokter itu terlihat berat untuk bicara. "Mengenai gadis itu ...."


Deg.


Deg.


"Anak saya kenapa?" Nyonya Sharta mulai panik.


"Dia belum sadar, mungkin karena shok berat saat insiden kecelakaan itu terjadi, sehingga masih belum tersadar. Tapi, Tuan dan Nyonya tenang saja, hal begini sudah biasa terjadi, setelah beberapa asupan vitamin, dia pasti akan tersadar juga."


"Dokter serius, Priska tidak kenapa-kenapa, kan?"


"Iya, kalau menurut hasil X-Ray harusnya tidak terjadi apa-apa."


"Apa?" Nyonya Sharta tersentak kaget. "Kata dokter, harusnya tidak terjadi apa-apa? Apa itu artinya ada kemungkinan hal buruk terjadi?"

__ADS_1


"Iya, bisa saja, tapi kemungkinannya kecil, hanya sekitar 5 persen. Jadi saya sarankan Nyonya tak usah terlalu risau. Sambil berdoa saja, semoga gadis Nyonya segera sadar."


Bola mata Nyonya Sharta tampak menyalak, nyaris tak berkedip, tatapan itu beralih ke lantai. Lalu kembali menatap dokter itu. "Apa saya bisa menemuinya sekarang."


"Oh, tentu saja. Mari." Dokter itu mempersilahkan dengan merentangkan tangannya. Tak lagi ingin berdiam lebih lama, segera Nyonya Sharta bangkit, disusul oleh suaminya dan keluarga Harlem yang masuk untuk melihat kondisi menantu mereka.


Hawa dingin dari Air Conditioner yang disetting maksimal langsung menerobos ke tulang-tulang. Bau obat-obatan juga menyapa indera penciuman mereka, tapi hal itu tak lantas mengurungkan niat mereka untuk menemui Priska.


Sampai. Gadis itu tampak terbaring lemah di atas ranjang Ruang UGD. Bola matanya indah dengan bulu mata lentik yang dulu selalu terawat tampak sedikit lusuh.


"Gadisku, sayang." Nyonya Sharta langsung menarik sebuah kursi, memegang punggung tangan gadisnya. Ia menciuminya. Perlahan, bola mata priska mengerjap. Melihatnya, Nyonya Sharta langsung bersemangat.


"Dokter, Dokter! Anak saya sudah bangun! Dokter!"


Dokter tadi langsung bergerak cepat, menghampiri Priska yang sudah mulai bisa memutar kepala.


"Apa yang terjadi?" Ia bertanya.


"Ah, syukurlah kalau kini kamu baik-baik saja." Ia mengelus pelan pucuk kepala gadisnya. "Terimakasih, Tuhan," rapalnya dalam doa.


Papah, Mamah, Tuan Harlem dan Nyonya, mereka semua di sini untukku, tapi semua itu percuma saja, tidak ada artinya jika tidak bisa mendapatkan hati Revan. Huh, kenapa tidak aku mati saja saat kecelakaan itu terjadi.


Ia menggerutu kesal dalam hati.


Terdengar juga beberapa percakan Tuan Harlem dan Nyonya Harlem yang membicarakan pasal putra mereka. Mereka senang karena kini Revan baik-baik saja.


Ah, syukurlah, ternyata Revan baik-baik saja. Priska masih diam dalam lamunan.


"Sayaaang, ini Mamah, bicaralah pada Mamah." Nyonya Sharta mulai sedikit khawatir, sementara Priska masih setia membungkam.


Apa yang terjadi pada putriku, kenapa dia terus diam saja, apa dia melupakanku, apa dia mengalami lupa ingatan?


Sementara Nyonya Sharta berpikir risau, di dalam benak Priska juga berpikir keras.


Berpikir, Priska, berpikir. Kamu harus bisa mendapatkan cara untuk merebut kembali Revan. Kalau tidak lebih baik mati saja.


"Priska?" Yang lain mulai ikut memanggilnya. Tak terkecuali ayahnya yang juga mulai risau.


"Priska." Dokter mulai turut memanggil. "Apa kamu ingat siapa mereka?" Ia mengarahkan tangan pada kedua orangtua gadis itu.


Apa yang harus kulakukan? Apa aku pura-pura amnesia saja?


"Priska?"


Ah, iya, sepertinya lebih baik aku pura-pura amnesia saja.


Pelan Priska menggeleng. Seakan ia benar-benar lupa pada kedua orangtuanya.


Semoga begini sudah benar. Papah, Mamah, maafkan aku. Aku tak bermaksud membohongi kalian.


Deg.


Nyonya Sharta langsung terhenyak melihat gelengan yang dilakukan Priska, sebagai jawaban bahwa ia tak mengenal ibunya.


"Astaga, benarkah ini?" Dokter itu juga sedikit terkejut tak percaya. "Aku yakin tadi hasil X-Ray memperlihatkan bahwa dia baik-baik saja."


"Dokter, bagaimana ini, benarkah gadis saya lupa ingatan? Hu-hu-hu." Nyonya Sharta sampai tersedu.


"Ah, bagaimana ya, kalau begitu, siapa saja yang ikut bersama Nyonya, mungkin saja dia bisa mengingat keluarga lainnya?"


"Di sini, ada keluarga dari suaminya juga. Ada Tuan Harlem dan juga Nyonya Harlem."


"Baiklah, kita coba, mungkin saja gadis ini punya ingatan tentang mereka."


Tak menunggu lama, mengetahui Priska membutuhkan, cepat kedua menghampiri.

__ADS_1


"Priska, apa kamu mengingat kami?" tanya Harlem.


"Ya, apa kamu bisa mengenali kami?" Nyonya Harlem menambahi.


Sekian detik mereka menunggu Priska yang terus diam tak menjawab, hingga akhirnya gelengan kepala menjadi kunci jawaban.


Deg.


Apa? Kenapa akhirnya begini? Nyonya Priska sudah semakin was-was melihat Priska yang terus menggeleng itu.


"Sungguh langka, ini belum pernah terjadi sebelumnya." Dokter itu langsung menyibukkan diri, membuka kembali lembar hasil X-Ray lalu menggantungnya ke udara dengan tangan.


Sementara itu, Nyonya Sharta semakin meraung tak kuasa, hatinya benar-benar terpukul mengetahui anaknya amnesia. Ya, lebih tepatnya Priska pura-pura amnesia.


"Apa masih ada keluarga lain yang ikut kemari?" tanya dokter.


"Tidak, mereka semua sudah pulang." Presdir Sharta selaku ayah Priska hanya bisa menjawab seadanya. Namun, mendadak Harlem seperti mendapat ide. "Bagaimana jika dia bertemu dengan suaminya."


"Ayah, itu tidak bisa," sanggah Nyonya Harlem. "Revan baru saja tersadar. Kita bahkan belum melihatnya sedari tadi."


"Di mana suami gadis ini?"


"Dia adalah pasien kecelakaan yang sama dalam satu mobil bersama gadis ini." jawab Harlem.


"Ohya, kalau begitu kita coba saja." Dokter itu tampak memberi saran, karena bisa saja di sana terdapat sebuah harapan. "Dia tidak terluka parah, kita bisa membawanya ke sini, lalu mencobanya, ini juga demi kebaikan istrinya."


Mendengar saran itu, Nyonya Harlem hanya bisa pasrah. "Baiklah, kita bawa Revan ke sini."


Harlem dan istrinya langsung menuju pintu, keluar di temani dokter tadi menuju ruang tempat di mana Revan dirawat. Dan hanya butuh beberapa menit mereka kembali.


Bunyi derit pintu yang terbuka membuat pandangan yang berada di dalam langsung menelusuri asal suara. Selang beberapa saat langkah keempat insan itu masuk. Harlem, istrinya, Revan, dan satu dokter sudah terlihat memasuki ruang rawat Priska.


"Revan, cepatlah kemari."


Pria itu berjalan pelan. Sedikit demi sedikit mulai terlihat di matanya gadis yang tengah terbaring di atas ranjang UGD.


"Priska?" Ia memanggil pelan. Gadis itu langsung menoleh untuk menatapnya.


Hai, Suamiku Sayang! Dalam hati ia memanggil mesra.


"Apa kamu mengingatku?" Awalnya gadis itu diam saja. Berpura-pura berusaha mengingat. "Ya!" jawabnya sekilas.


"Benarkah kamu mengingatku?"


"Ya, melihatmu di sini, aku ingat bahwa aku pernah menikah dan bersanding denganmu."


"Ohya, selain itu, apa lagi yang mungkin kamu ingat?"


Priska mulai memejamkan erat matanya. Sesaat kemudian menekan pelipis. "Ahh, kepalaku sakit!" Ia berdalih.


"Revan, cukup, Nak. Jangan memaksanya. Yang terpenting sekarang dia masih mengingatmu, artinya masih ada harapan untuk Priska cepat pulih. Terlebih, dia mengingatmu sebagai suaminya, bukankah itu bagus, akan mudah ke depannya untuk membuat ingatannya kembali?"


Revan terdiam, lalu kembali melirik priska yang kini menatapnya lekat.


Priska, apa yang terjadi padamu, padahal aku yang terluka parah, kenapa kamu yang sampai kehilangan ingatan?


Ia mulai memegangi pelipis.


Huh, bagaimana kabar Prilly sekarang, ya? Aku bahkan menjanjikannya menunggu di lobi tadi siang, semoga dia tidak terus menungguku di sana.


Sementara Priska yang terlihat diam terus bersorak dalam hati.


Hahaha, sepertinya cara ini berhasil. Aku akan memanfaatkan sebaik mungkin, akan kusingkirkan gadis kampung itu, dan akan mengambil alih hati Revan. Tunggulah aku suamiku.


Bersambung ....

__ADS_1


Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya, akankah ada cinta segitiga? Tunggu besok yaa 😄👍🏻


__ADS_2