
Ting Tong.
Bell di depan apartemen menyentaknya. Ia bangkit dari rebahan, terhuyung menuju pintu, mengintipnya sebentar, dan ....
Apa? Tuan dan Nyonya Harlem, apa yang mereka lakukan, kenapa mereka kemari, bukankah mereka tahu jika tadi tuan muda kecelakaan?
Ting Tong.
Sementara menunggu gadis itu membuka pintu, mereka yang berdiri di depan sana justru tampak berdebat.
Aduh, gawat. Sepertinya ini ulah tuan besar, beliau mengadukan keberadaanku pada nyonya besar, apa mereka akan mengintimidasiku? Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku tak akan membuka pintu ini.
Ting Tong.
Mereka yang berdiri di sana terus saja menekan bell itu. Berharap Prilly membukanya. Gadis itu mulai was-was, sedang sesekali masih mengintip ke layar kecil, berharap mereka segera pergi.
Tuan Revan, please! Datanglaaah. Ia merapal doa.
Cukup lama Prilly menunggu mereka pergi, bahkan sudah sekitar sepuluh menit.
Ting Tong.
Ayolaaah, jangan tekan terus! Ia mendesah dalam hati. Prilly kini sudah enggan mengintip, ia pejamkan erat kedua kelopak matanya.
Cklek.
Kuncian terbuka.
"Eh?" Ia tersentak kaget.
Kriieet.
Seiring dengan terbukanya pintu, Prilly bangkit dan berlari semampu tenaga, ia ingin bersembunyi, rahasia dan identitas keberadaannya dalam apartemen Revan harus ia sembunyikan dengan rapat, terlebih untuk kedua orangtua Revan.
Gawat, semoga Tuan dan Nyonya tidak melihatku.
Tak perduli dirinya sudah terlihat atau belum oleh mereka, Prilly berusaha berlari memasuki kamarnya, untuk kemudian mengurung dirinya di sana. Namun, tiba-tiba sebuah tangan menahan punggungnya dari belakang, merangkulnya.
"Prilly ada apa? Tenanglah, ini aku."
Mendengar suara itu, seketika Prilly lemas. Ia lega, tapi tubuhnya langsung lunglai karena sebelumnya sempat tegang.
"Prilly, Prilly."
Revan langsung menahannya. Kini tubuh Prilly berada dalam dekapan Revan, kedua pasang mata itu bersitatap sempurna.
"Kamu baik-baik saja?"
Prilly menggeleng, tampak rona pucat menggantung di wajahnya. Revan langsung mengangkat tubuhnya, membawanya ke kamar dan meletakkannya dengan pelan.
Ia meluruskan kedua betis gadis itu, menutupnya menggunakan satu buah selimut agar terasa hangat.
"Aku ambilkan air putih," ujarnya. Revan bangkit untuk menuju ruang dapur. Segelas air putih mungkin bisa mengurangi rasa tegang gadis itu, pikirnya.
Sesaat kemudian ia kembali dengan segelas air putih. Ia kemudian menyelipkan tangan ke bawah pundak Prilly untuk membangunkannya 30°.
"Ini, minumlah." Prilly menenggaknya sedikit. Lalu kembali berbaring, sesaat kemudian gelas itu langsung mendarat olehntangan Revan di atas nakas di samping lampu tidur.
"Prilly, apa yang terjadi padamu?"
"Tidak ada, Tuan." Ia berusaha menyembunyikan.
"Jangan bohong, wajahmu pucat sekali, mana mungkin tak ada hal yang terjadi?"
Prilly diam sejenak. Lebih tepatnya ia tak ingin menyusahkan tuan mudanya. Biarlah ia menanggung penderitaannya.
Cukup lama mereka bertatap muka, hingga pandangan Prilly mulai tertuju pada perban kecil yang menempel pada dahi di atas alis Revan.
"Apa ini sakit?" Ia merabanya pelan. Terkejut, spontan Revan menahan tangannya.
"Jangan sentuh, ini .. luka jahitan."
Sesaat bola mata gadis itu langsung membulat. "Apa, luka jahitan?"
"Emm." Ia berdehem pelan, sedang pandangan mereka masih setia bersitatap.
"Pasti sakit, ya?"
"Tidak juga."
"Benar tidak juga?"
"Ya, tentu saja."
"Luka jahitan mana mungkin tidak sakit." Prilly mendengkus kesal, membuat tawa kecil Revan pecah.
"Kalau benar sakit, apa kamu berniat membantu menguranginya?"
Prilly mengernyit. "Maksud Tuan?"
Membantu menguranginya, memangnya apa yang bisa kulakukan? Prilly sedikit kesal, juga agak heran.
"Temani saja aku tidur malam ini, bagaimana?"
__ADS_1
Apa? Menemaninya? tapi .. kami kan belum sah.
"Tapi, Tuan?"
"Aku tidak akan melakukan apa-apa, aku hanya ingin berbaring dan memelukmu, bolehkan?"
Dag. Dug.
Dag. Dug.
Duh Tuan, sikapmu membuat jantungku hampir melompat, tahu!
"Emm." Prilly mengangguk pelan. Wajahnya terlihat malu, rona merah menggantung di sana. Revan membalas senyuman itu.
"Baiklah, aku akan membersihkan diri sebentar." Revan bangkit, berjalan keluar menuju kamarnya.
Ya, ampun. Apa yang sudah kulakukan, bagaimana bisa tadi aku berkata iya? Ahhh ...
Ia mendesah, menyesal karena sudah mengiyakan, tapi tak dapat menutupi kenyataan jika kini hatinya bahagia. Ia lantas menutup wajahnya dengan selimut.
Selang beberapa saat Revan kembali, sepasang piyama tampak cocok melekat di tubuhnya, mengubah tampilan yang sebelumnya elegan menjadi hangat dan menggemaskan.
Aduh, tuan muda tampan sekali, apa dia itu malaikat?
Ia melirik, gadis itu langsung memejamkan mata, pura-pura tertidur, membuat Revan berdecih lirih.
"Cih." Pria itu datang dan duduk tepat di samping Prilly, sepasang kaki panjang itu ia biarkan menjuntai ke lantai.
"Prilly?" Ia menyentuh pelan. Pelan juga gadis itu membuka mata. Satu buah senyuman manis tampak mengembang dari bibir Revan.
Oh tidak, dia tampan sekali.
Glek.
"Apa kamu sudah makan?"
Gadis itu menggeleng.
"Kau ingin makan apa?"
"Emm .. entahlah. Bubur yang ingin aku beli waktu itu sepertinya enak."
Revan mengernyit. "Bubur? Sudah kubilang kamu tidak boleh memakan makanan pinggir jalan itu, itu tidak bagus." Ia menolak kasar.
"Tapi, aku hanya ingin makan bubur itu."
"Hmm." Revan mengernyit. "Prilly, jujur padaku, sebenarnya apa yang terjadi padamu hari ini?"
"Hmm .. itu ...."
Gadis itu terdiam sejenak sebelum akhirnya bicara. "Sebenarnya .. saya memang sedikit lemas, tadi tadi siang saya memuntahkan semua yang saya makan, perut ini terus saja terasa mual, begitu juga dengan kepala, rasanya pusing sekali."
Revan menatapnya lekat. "Benarkah itu yang terjadi?"
"Emm!" Prilly mengangguk.
Tuan muda itu bangkit, meraih ponsel untuk menelepon seseorang. Ia berdiri di tepi jendela, menghadap Kota Seoul. Tak banyak percakapan yang terdengar darinya, hanya beberapa kata seperti "ya" dan "segera" setelahnya ia kembali menutup telepon.
"Ada apa, Tuan?" Prilly bertanya saat Revan kembali merapatkan duduknya di atas tempat tidur Prilly.
"Aku menghubungi dokter, dalam tiga puluh menit lagi dia akan datang untuk memeriksamu, jadi bersabarlah menunggu." Selalu, Revan menyelipkan senyuman diakhir kalimat.
"Oh, begitu. Terimakasih."
"Tak perlu berterimakasih, ini sudah menjadi tanggungjawabku selama kamu di sini."
Selesi bicara, kini keduanya diam sesaat.
"Tuan?"
"Hem?" Alis Revan naik satu tingkat, tanda bahwa ia siap menerima pertanyaan.
"Apa Nona Priska juga baik-baik saja?"
Revan memalingkan wajahnya sekilas. "Kamu tak perlu mengkhawatirkannya, dia bahkan tidak akan mengingatmu?"
"Maksud, Tuan?"
"Dia mengalami amnesia setengah ingatan, tapi dokter menyatakan dia baik-baik saja, tidak ada luka serius."
Benarkah Nona Priska amnesia, lalu bagaimana dengan kontrakku? hu-hu-hu.
"Oh, iya, dalam dua hari ke depan, aku akan pindah, aku akan mengikutsertakanmu ke Mansion."
"Mansion?"
"Ya, itu adalah rumah hadiah pernikahanku dan Nona Priska. Nantinya, di sana akan ada puluhan pelayan, jadi kamu tak perlu repot-repot lagi untuk memasak dan bebersih." Ia berbicara pada Prilly dengan senyuman ramah. "Oh iya, kamu bilang mau memberi jawaban atas tawaranku jika aku sudah tiba. Jadi .. bagaimana, apa jawabanmu? Kau tidak menolakku kan?"
"Soal itu ...."
"Kau akan menjadi satu-satunya wanita yang kucintai."
Dag. Dug.
__ADS_1
Dag. Dug.
Jantung Prilly kembali berdetak cepat saat Revan mengatakan akan mencintainya saja.
Benarkah yang Tuan katakan?
Ting Tong.
"Sepertinya dokter yang kutelepon sudah datang, aku akan membukakannya dulu."
"Emm." Prilly mengangguk pelan. Kini ia menatap punggung Revan yang bergerak keluar kamar. Hanya dalam hitungan menit, tuan muda kembali bersama seorang pria yang berbalut jaz berwarna putih. Mereka tampak mengobrol akrab, sedetik kemudian dokter itu menghampiri Prilly.
"Selamat malam, Nona." Ia menyapa Prilly dengan ramah. Satu buah alat medis stetoskop tampak menggantung pada permukaan lehernya.
"Saya dokter Hilman, tadi Tuan Revan yang menelepon, katanya Nona kurang enak badan, jadi bagaimana jika sekarang Nona jabarkan keluhan apa saja yang dirasakan saat ini?" Ia berbicara dengan sangat ramah.
"Itu, Dok .. sejak siang tadi, kepala saya pusing, terus perut saya juga mual, saya sampai memuntahkan semua yang saya makan."
"Hmm, begitu? Baiklah, saya coba periksa dulu." Ia mengaitkan dua ujung stetoskop ke sela telinga lalu meletakkan bagian tunggal stetoskop pada perut Prilly. Beberapa kali ujung stetoskop itu berpindah posisi, hingga beberapa saat alisnya berkerut, ia mulai beralih mengecek tensi gadis itu.
"Tensinya rendah." Hanya dua kata itu yang dia ucap.
"Bagaimana, Dok? Apa yang terjadi padanya?"
"Ahh, sebenarnya ini tidak masuk dalam ranah bidang saya, tapi sedikit banyak-nya saya paham dengan apa yang terjadi pada Nona ini."
"Maksud Dokter?"
"Apa dia istri anda?"
Deg.
"Ya, tentu saja dia istriku?"
"A-ha-ha, maaf, saya hanya ingin memastikannya. Kalau saran saya, ada baiknya Tuan Revan memeriksakan istri Tuan ke dokter kandungan."
"Ke dokter kandungan."
"Ya, ada denyut berbeda yang saya rasakan saat memeriksa, tapi sepertinya janinnya masih terlalu muda."
"Anda serius?"
"Tentu saja, Tuan. Selamat ya, Tuan Revan. Kabar ini pasti membuat anda benar-benar bahagia, tapi saya tidak bisa menjamin bahwa dalam rahimya sudah benar-benar hadir seorang bayi, maka dari itu saya sarankan pada Tuan untuk segera mengeceknya ke dokter spesialis kandungan." Revan tercengang sesaat. Sementara Prilly terdiam dengan mulut mengatup.
Hamil?
"Jadi, saya hamil, Dok?" Dokter itu menoleh pada Prilly.
"Kemungkinan besar begitu, Nona." Jawabnya ramah. "Tapi saya tidak bisa memastikannya, karena ini bukan bidang saya."
Prilly diam, membuat Dokter Hilman mengalihkan pandangannya pada Revan. "Tuan Revan, jika benar istri anda hamil, saya hanya bisa mengucapkan selamat." Ia menepuk pundak Revan.
"Baiklah, sepertinya tugas saya sudah selesai, saya akan pamit dulu."
"Oh oke, terimakasih, Hilman. Biarkan aku mengantarmu."
"Terimakasih."
Mereka keluar beriringan, masih terdengar jelas obrolan keduanya yang tampak akrab dan hangat. Revan dan dokter itu benar-benar lenyap dari pandangan mata. Prilly mulai melamun sejenak, lalu kembali menatap perut, mengusapnya pelan, perut itu masih terlihat datar, tapi siapa sangka ada sosok janin yang mungkin kini bersemayam di sana.
Prilly terseyum manis karena bahagia, lalu sesaat kemudian semua itu memudar, seiring dengan ingatan memory tentang penjanjian kontrak. Janin dalam rahim itu kelak bukan menjadi miliknya, bayi itu telah di tebus oleh ulah keserakahan. Prilly menggadaikannya untuk sebuah rumah kontrakan.
Mendadak airmata mengalir di pipinya, tangisnya pecah membayangkan jika kelak harus berpisah dengan bayi yang munhkin kini bersemayam dalam kandungnya.
.
.
"Maaf, Tuan Revan. Saya mau bertanya, bukankah istri anda itu adalah Nona Priska dari keluarga Sharta Group?"
"Ahh, bagaimana anda tahu hal itu?" Revan masih tertawa, meski pertanyaan itu seperti sebuah sindiran, tapi Revan tak tersinggung sedikitpun. Dia tahu pasti, Dokter Hilman adalah teman sejak lama, sehingga Revan yakin kalau Hilman bukanlah sosok pria yang suka bergosip, apalagi memperbincangkan pasal ranah rumahtangga orang lain.
"Tentu saja aku tahu, bukankah aku juga hadir dalam acara pesta pernikahanmu?"
"Astaga, benar sekali, aku sampai lupa."
"Jadi .. apa status istrimu itu?"
"Dia tetap istriku, tapi kau tahulah, kami menikah karena perjodohan, jadi statusnya tak lebih hanya sebatas menyimpan nama."
"Oh begitu. Aku doakan, semoga Tuan dan Nona anda sehat selalu, dan semoga bayinya lahir dengan selamat."
"Ah, terimakasih."
Dokter itu sudah berpijak di luar ruangan. "Oh, iya. Jaga kesehatan anda. Luka itu ...." Ia mengarahkan pandangan ke arah dahi Revan. "Jika terjadi sesuatu, Tuan tahukan, Tuan bisa menghubungiku kapan saja."
"Oh oke, tentu saja, terimakasih Dokter Hilman."
"Sama-sama."
Bersambung ....
Noted:
__ADS_1
Jika author belum update, mohon maklum ya, artinya author benar-benar sibuk di dunia nyata. Akan tetap diusahakan update setiap hari. 😄👍🏻