Rahim Untuk Tuan Muda

Rahim Untuk Tuan Muda
Eps 28


__ADS_3

Cahaya mentari masih condong, belum beranjak total dari persembunyiannya di ufuk timur, saat itu Priska sudah bangun, sudah tak sabar untuk bertemu dengan Revan.


Semangat, hari ini ke apartemen Revan. Ahh, aku sudah seperti kutu saja mengganggunya, tapi .. dia kan suamiku.


"Priska, kamu sudah siap, Sayang?" Nyonya Sharta masuk tanpa mengetuk, tampak sibuk mengacak isi tas branded miliknya. Style ala wanita berkelas sudah melekat di tubuhnya, sementara putrinya tampak manis dengan gaun selutut.


"Sudah, Mah."


Nyonya Sharta memandang padanya, dan langsung melebarkan senyuman. "Bagus, kamu selalu cantik, Sayang." Mereka berdiri tepat di depan sebuah cermin, memantulkan dua wajah wanita cantik dengan tampilan berkelas. "Baiklah, siap berangkat sekarang?" Priska membalas dengan senyuman.


Mereka kini keluar beriringan.


*****


Revan sudah kembali dengan stelan rapi khas kantoran, sementara Prilly masih asyik melahap bubur yang tadi diberikan untuknya.


"Masih belum selesai makannya?" Ia datang dan menarik kembali kursi yang sebelumnya di duduki itu. Prilly sedikit terkejut mendapati Revan yang kini sudah rapi, sosok tampan, elegan, berkarisma, selalu melekat padanya.


"Loh, Tuan bilang hari ini libur?"


"Ah, mendadak Presdir meneleponku, katanya ada hal penting. Paling lama dua jam, aku akan kembali lagi."


"Emm, begitu, ya?"


"Apa siang ini kau ingin makan sesuatu yang lain?"


"Ehh, apa boleh?"


"Tentu saja boleh, kita akan di resto manasaja yang kamu mau, asal bukan pinggir jalan."


"Hmm, baiklah, akan aku kabarkan nanti, sekarang belum terpikir ingin makan apa."


"Bagus, aku akan pergi sekarang, ingat jangan bebani dirimu dengan aktifitas berat,"


"Siap, Tuan!" Prilly manggut, mengacungkan jempol, membuat senyum manis merekah di bibir Revan.


Melihat tingkah manismu, membuatku berat beranjak pergi. Ah, semoga kamu baik-baik saja selama kutinggal. Revan menggumam dalam hati.


.


.


Revan sudah pergi bekerja, meninggalkan wanita cantik yang tengah hamil muda seorang diri di apartemen. Gadis itu sempat memandangainya dari lantai sepuluh, memperhatikan pergerakan mobilnya keluar dari area baseman VIP.


Ia berbaring, melintang di ranjang, sepasang kaki menjuntai ke lantai, sementara dua tangannya bermain di udara, menatap langit-langit kamar yang mulai terang dari biasan cahaya matahari.


Lamat-lamat, bayangannya mulai terngiang pada sosok wanita yang dulu memberinya kehangatan. Sosok wanita yang pernah mengandung janin seperti dirinya saat ini.


Ibu ....


Ia memanggil pelan dalam hati.


Benarkah yang dikatakan ayah? Benarkah Ibu pergi meninggalkan kami demi si pengusaha kaya.


Semua pertanyaan lama itu kembali menggerayung dalam pikirannya, hingga tiba-tiba bunyi bell di depan pintu menyentaknya.


Ting Tong.


"Siapa yang berkunjung di pagi begini, tak mungkin kan Tuan Revan kembali, lagipula Tuan Revan tak pernah membunyikan bell saat pulang."


Ting. Tong.


Kembali bell itu berbunyi.


Aku akan mengeceknya dulu.


Pelan Prilly bergerak menuju pintu depan, seperti biasa, ia tak langsung membuka, lebih memilih mengintip dulu.


Deg.


Itu kan Nona Priska, bersama siapa dia, wanita itu terlihat lebih tua, apa mungkin itu ibunya?

__ADS_1


Ting Tong.


Ah, bagaimana ini, apa aku telepon tuan muda saja dulu?


Prilly menuju ruang dapur, menelepon Revan sesaat, karena ia bingung harus berbuat apa.


Klik.


"Halo, Tuan."


[ .... ]


"Maaf mengganggu anda, ada Nona Priska berkunjung ke sini, saya harus apa?"


[ .... ]


"Bagaimana kalau dia bertanya perihal siapa saya?"


[ .... ]


"Ya, Tuan, baiklah, saya mengerti."


[ .... ]


"Ya, Tuan hati-hati juga."


Tut.


Tut.


Telepon itu sudah terputus, Prilly mulai menarik napas dalam sebelum kembali menuju pintu depan. Mendapat izin dari Revan, ia akhirnya membuka walau sedikit gugup.


Cklek.


Krieeet.


Dua sosok wanita cantik langsung menyambutnya. Raut Nyonya Sharta sedikit terkejut mendapati Prilly di sana, ia heran bagaimana bisa ada gadis yang tinggal satu atap hanya bersama menantunya. Sementara Priska, ia terlihat sini menatap Prilly. Semua itu membuat Prilly semakin gugup.


Aduh, bagaimana ini?


"Sa-saya, pelayan tuan muda dan Nona Priska."


"Pelayan?" Pandangannya menyisiri tubuh Prilly dari atas hingga ke bawah.


Dia tidak tampak seperti pelayan. Nyonya Sharta menggumam dalam hati.


"Benarkah kamu pelayan di sini?"


"Emm," angguknya.


"Apa kamu pelayan tunggal?"


"Tidak, Nyonya. Saya bersama pelayan lain, hanya saja mereka sedang keluar. Nona Priska bisa menjelaskan hal ini." Mengingat Priska adalah gadis amnesia, Prilly mengambil kesempatan itu. Nona Priska tak mungkin mengelak, begitu pikirnya. Yang Prilly tahu, wanita itu bahkan tak mungkin mengingat apa-apa.


Sialan, berani sekali gadis kampung ini berbohong. Dia pasti sudah mengetahui perihal amnesiaku, makanya dia memanfaatkan kesempatan ini. Dasar penjilat.


"Di mana Revan?"


"Tuan Revan sedang pergi bekerja."


"Oh begitu, apa kamu tidak tahu jika Nona Priska mengalami amnesia?"


Astaga, kenapa sikapnya dingin sekali, apa aku salah bertindak? Prilly mendesah dalam hati.


"Benarkah?" Ia pura-pura terkejut. "Tapi, tuan muda belum mengatakan hal itu."


"Hmm, begitu ya?" telisik Nyonya Sharta. Ia sedikit mengerutkan alis saat bicara, membuat Prilly menunduk, semakin terpojok, ia bahkan tak berani walau untuk sekadar menatap.


"Silahkan, Masuk. Nyonya." Prilly menyingkir, memberi jalan.


Nyonya Sharta masuk, diikuti Priska dari belakang, matanya langsung menyapu ruang minimalis mewah itu. "Jadi ini tempat tinggal Revan?" Matanya terlihat seperti bicara.

__ADS_1


"Ya, Nyonya, biar saya buatkan minum dulu." Buru-buru Prilly menuju ruang dapur, ingin segera mengambil napas dalam, setelah cukup lama menahan napas akibat rasa gugup.


Sesampainya ia langsung menariknya dalam, lalu menghembus pelan. Kini, gadis itu mulai meracik dua gelas jus. Lalu membawanya pada mereka.


Dua wanita tadi sudah duduk di sofa, mereka benar-benar terlihat seperti tamu. Ya, mereka memang tamu, meski Prilly berdalih bahwa Priska adalah satu penghuni di apartemen itu.


Ia meletakkan minuman itu di sana. "Silahkan diminum, Nyonya."


"Terimakasih."


"Kalau begitu, saya kebelakang dulu." Buru-buru Prilly pergi, ingin segera menghindar dari mereka, tapi mendadak Nyonya Sharta memanggilnya.


"Tunggu, siapa namamu?"


"Ah?" Ia terlonjak, menoleh. "Saya ... Prilly."


"Hmm, nama yang cantik, duduklah di sini." Ia menggoyangkan tangan, melambai pada Prilly.


Oh .. ayolaah, apalagi sekarang?


Sedikit canggung Prilly mendekat, ia lalu duduk bersimpuh. "Ya, Nyona?"


Seketika Nyonya Sharta menarik pelan lenganya. "Jangan duduk di bawah, duduklah di sini. Aku tak suka melihat pelayan yang bersimpuh begitu." Kali ini, nada bicaranya sedikit lebih hangat. Bahkan ia membubuhkan senyuman manis, membuat Prilly sedikit bingung.


Eh, ada apa dengannya?


Kini Prilly sudah duduk tepat di sampingnya. Ia masih menyematkan senyuman pada Prilly.


Ada apa dengan Mamah, kenapa mendadak bersikap lembut pada si kampungan itu. Ahhh, membuat kesal saja. Priska bersungut dalam hati.


"Tadi namamu Prilly, ya?" Gadis itu mengangguk. "Kamu masih muda, sepertinya seumuran dengan putriku."


"Ah, iya, sepertinya begitu, Nona."


"Kalau boleh tahu, kenapa kamu memilih profesi ini, apa sudah tidak ada perusahaan yang bisa menerimamu bekerja. Atau mingkin, kamu tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali?"


"Ah, itu benar, Nyonya. Saya tak pernah merasakan dunia pendidikan." Prilly terpaksa berbohong lagi.


Dasar penjilat, semakin hebat saja dia bersandiwara. Priska kesal.


"kenapa kamu tidak menikah saja, apa tidak ada satu pun pria yang melamarmu?"


Menikah? Lamaran? Tidak ada yang pernah melamarku kecuali satu, dia Tuan Revan.


Prilly tertawa canggung. "Tidak ada pria yang pernah melamarku, Nyonya."


"Benarkah? Aneh, padahal kamu cukup manis."


"A-ha-ha, terimakasih, Nyonya." Prilly tertawa kecil.


Huh, puji saja terus dia, Mah. Nanti seletah Mamah pergi, giliran aku yang memberi pelajaran. Priska semakin geram karenanya.


"Hmm, aku ke sini hanya untuk mengantar Nyonya Priska, tapi sepertinya kamu sudah akrab dengannya, aku titip dia, tolong jagakan selama Revan belum kembali."


Deg.


Mendengarnya, Prilly terkejut.


Apa .. meninggalkan Nona Priska di sini?


"Ah, baik, Nyonya. Saya akan menjagakan Nona Priska sampai tuan muda kembali."


"Bagus, kalau begitu, aku pergi dulu." Nyonya Sharta bangkit, berdiri menghadas gadisnya. "Priska, Mamah pergi dulu, kamu tinggallah di sini bersama pelayan ini, dia sudah akrab denganmu, mungkin saja perlahan ingatanmu akan kembali."


"Baiklah, Mah. Aku tidak apa. Mamah bisa pulang tanpa harus mengkhawatirkanku."


"Baiklah, kalau begitu, Mamah pergi dulu."


Nyonya Sharta akhirnya benar-benar pergi, meninggalkan jejak bayangannya di atas sofa.


Ya Tuhan, semoga tuan muda cepat kembali. Prilly menggumam, berharap Revan segera kembali.

__ADS_1


Bersambung ....


Sampai sini dulu yaa, kita sambung besok pagi, semoga cepat rampung. Silahkan menebak alur cerita sesuai ekspektasi kalian, atau berharap alur kelanjutan cerita sesuai keinginan, semua dihalalkan 😄👍🏻👍🏻


__ADS_2