
Prilly gugup, tak ingin membuang waktu yang terisa untuk bersembunyi, cepat gadis itu berlari menuju ruang gudang. Namun sungguh nahas, ia sudah tak sempat. Priska dan Nyonya Sharta lebih dulu masuk sebelum ia sempat bersembunyi.
Deg.
"Prilly?" Suara panggilan itu bethasil menghentikan langkahnya.
Deg.
Itu terdengar seperti suara malaikat maut, berhasil membuat Prilly tegang hingga mencapai titik adrenalin terendah. Pelan ia menoleh.
Wajah Nyonya Sharta terlihat penuh tanda tanya, sedang Priska terlihat penuh dendam membara.
"Kenapa kau tidak membukakan pintu untuk kami?" tanya Nyonya Sharta.
Prilly tercengang sesaat. Dia tidak marah kan, berniat jahat padaku, bukan?
"Prilly?" tanya-nya lagi karena gadis itu tak kunjung menjawab.
"Ah, anu, maaf, Nyonya. Saya baru selesai dengan pekeriaam saya di belakang." Prilly kehabisan akal. Tak tahu lagi alasan apa yang digunakan untuk berbohong. "Saya pikir pelayan lainnya akan membukakan." Lagi, ia berbohong.
"Oh, ya! Kalau begitu, di mana pelayan lainnya?"
"Eh?" Prilly mengedarkan pandangannya ke sekitar. "Mereka tidak ada di sini, ya?" Berpura-pura tidak menyadari kalau kini apartemen itu tak berpenghuni selain dirinya.
Priska mengernyit. 'Anak ini, semakin hebat saja dia berakting.
Ia geram dengan Prilly yang semakin bertingkah melebihi batasan. "Apa maksudmu bertanya begitu, sangat aneh jika kamu bertanya ke mana perginya mereka, kamu pikir kami yang baru datang ini lebih tahu?"
"Ah, maaf, Nona. Sepertinya mereka keluar tanpa memberitahuku."
"Hmm, begitukah?" Priska melipat kedua lengan di dada. "Bagaimana jika aku menebak kau hanya berbohong?"
"Ahh?" Prilly tersentak, menatapnya dalam, dengan pandangan yang nyaris terbelalak, sedang tatapan Priska tersenyum sinis, ia menyunggingkannya di sana.
Kali ini kamu pasti tak bisa mengelak, Gadis Kampung!
"Priska, sudahlah. Mamah rasa gadis ini berkata jujur. Lagipula, gadis selugu seperti Prilly mana mungkin bisa berbohong." Nonya Sharta tak lagi melanjutkan acara intimidasi itu, ia lebih memilih untuk duduk dan beristirahat di sofa setelah lelahnya perjalanan yang memakan waktu kurang lebih satu jam.
Deg.
Mamah, apa-apaan sih, kenapa Mamah membelanya?
Priska terlihat kesal, keinginannya untuk menjatuhkan Prilly gagal.
Napas Prilly masih tertahan, seakan berat untuk mengaturnya agar stabil. "Ah, kalau begitu, biar saya buatkan Nona muda dan Nyonya minum dulu." Bergegas Prilly mengambil tindakan awal untuk menghindar.
"Tidak perlu," lirih Nyonya Sharta yang terlihat sibuk, tanpa melirik sedikitpun pada Prilly saat ia bicara.
"Eh?" Prilly melempar pandangan padanya.
__ADS_1
Deg.
Ahh, semoga saja Nyonya tidak punya niatan apapun?
"Hari ini, aku dan Priska akan pindah ke mansion, begitu pun dengan Revan." Ia masih bicara sambil sesekali memainkan gawai, sejenak melirik Prilly. "Kurasa kamu sudah mengetahui hal ini. Untuk yang satu ini, Priska dan Revan pasti memberitahukannya pada kalian sejak jauh hari, bukan?"
Mata Prilly terbelalak mendengar ucapan Nyonya Sharta.
"Ah iya, Nyonya. Kami sudah mengetahui hal ini."
"Bagus!"
"Hanya saja ...." Ucapan Prilly tersendat.
"Ya, lanjutkan, Prilly?" imbuh Nyonya Sharta, sedang Priska sudah semakin tak kuasa ingin mencabik-cabik gadis yang tampak menurut tapi mulai membangkang itu.
Agghh, kesal sekali aku melihat gadis pembualan ini. Dasar gadis kampung tak.
tahu diri, penjilat! Ia memaki kasar dalam hati.
"Soal kepindahan itu, Tuan Revan bilang kami tidak perlu ikut bersama ke mansion." Mendengarnya, Nyonya Sharta mengernyit.
"Maksudmu? Priska dan Revan hanya memperkerjakan kalian selama tinggal di apartemen ini dan tidak membutuhkan kalian lagi untuk mengurus mansion?"
"Emm!" Prilly mengangguk.
Hah? Gadis ini bodoh atau apa, kenapa dia memilih tidak mau ikut, dan justru ingin berpisah dari Revan? Apa dia sudah menyerah, baguslah jika niatnya begitu, artinya aku tak perlu berusah-payah menjauhkannya dari Revan.
Atau jangan-jangan .. dia ingin berbebas-ria berduaan dengan Revan di apartemen ini tanpa kehadiranku? Priska mulai menerka-nerka.
Ya, sepertinya memang itu tujuannya, aku tak akan membiarkan hal itu terjadi.
Buru-buru Priska menyela. "Tidak, Mah. Aku yakin Prilly sudah salah duga. Meski ingatanku belum pulih total, tapi aku yakin tak ingin melepas mereka. Aku masih membutuhkan jasa mereka untuk bebersih, terlebih Mansion itu terbilang cukup besar. Aku pasti memerlukan pelayan lebih untuk mengurusnya.
"Hmm, kamu baik sekali, Sayang. Kamu benar-benar gadisku yang dermawan, bahkan disaat lupa ingatan, kamu masih bisa memikirkan nasib para pelayan jika kehilangan pekerjaan. Mamah rasa, mereka pasti sangat senang dengan keputusanmu. Bukan begitu, Prilly?" Sedetik, ia mengalihkan pandangan pada gadis yang semakin tercengang itu.
Deg.
Apa .. bagaimana caranya aku mengelak?
"Ah, biar saya tanyakan hal ini pada tuan muda dulu." Mendadak Prilly seperrti mendapat sebuah ide.
"Tidak perlu," sahut Priska. "Revan sudah mengatakan padaku kalau dia akan menyetujui semua keputusanku."
Deg.
Astaga, apakah ini akan menjadi awal mula penderitaanku?
Prilly menegang saat melirik ke arah Priska yang mulai tersenyum puas akan semua upaya liciknya. Ia sampai meremas ujung baju yang ia kenakan.
__ADS_1
"Nah, kalau begitu, tak perlu menanyakannya lagi. Mulai saat ini, semua pelayan di apartemen ini akan pindah tugas ke mansion."
Prilly lemas mendengarnya. Urat nadinya seakan melemah.
"Prilly, kemarilah." Mendadak Nyonya Sharta memanggilnya. Gadis itu mendekat pelan. "Ya, Nyonya?" tanyanya saat jarak mereka hanya sejauh satu meter. Ia masih berdiri di sana.
"Sini, duduklah." Nyonya Sharta menepuk sofa di sampingnya, membuat Priska mengernyit akan tingkah aneh ibunya.
"Mamah apaan sih, dia kan cuma pelayan, tidak seharusnya dia duduk bersebelahan dengan kita."
"Priska, jaga bicaramu, tidak boleh bersikap begitu, walau bagaimanapun, Prilly juga manusia."
"Huh!" Priska melempar jauh pandangan. Pelan Prilly duduk di sofa yang tadi sempat ditepuk Nyonya Sharta, kini jarak mereka hanya terpisah sejauh satu jengkal.
"Ya, ada apa, Nyonya?"
Lamat Nyonya Sharta memandanginya. "Kau benar-benar cantik untuk ukuran seorang pelayan." Ia menyibak rambut yang menutup setengah wajah Prilly, mengaitkannya ke sela daun telinga.
Apa dia memanggilku hanya untuk satu pujian ini?
"Ah, terimakasih, Nyonya." Prilly benar-benar dibuat bingung oleh sikap Nyonya Sharta.
Ada apa dengan Nyonya, kenapa dia terlihat begitu perhatian padaku, apa karena aku seumuran dengan anak gadisnya?
"Nyonya, maaf, saya rasa anda telah memberi perhatian lebih pada saya."
"Benarkah, kamu merasa begitu?" jawabnya ramah.
"Ya."
Nyonya Sharta tertawa singkat. "Itu karena, kamu memiliki banyak kemiripan wajah dengan putriku. Matamu, hidungmu, aku bahkan sudah menyadarinya sejak pertama bertemu."
"Eh?" Prilly melongo, tapi tidak dengan Priska langsung terlihat kesal karena hal itu. Bukan ikut melongo, sebaliknya ia menatap tajam penuh kebencian.
Mamah apa-apaan sih, enak saja menyamaiku dengan gadis kampung ini. Tentu saja aku berbeda dengannya. Aku jauh lebih cantik. Cuih, gadis kampung, nikmati saja kesenanganmu yang sesaat ini, silahkan sekarang kau melambung tinggi, tunggu saja bila saatnya tiba, aku akan membuatmu terhempas dan hancur berkeping-keping. Ia menyumpah kesal.
"Benarkah saya mirip dengan nona muda?" Prilly masih tak percaya dengan apa yang ia dengar tadi.
"Emm!" Nyonya Sharta mengangguk pelan. "Terlebih, kamu juga masih terlalu muda untuk menjadi pelayan."
"Saya akan mengikutsertakanmu ke Mansion. Bagaimana, kau mau kan?"
Deg.
Apa? Tidak, aku tidak mungkin ikut ke mansion. Aku tidak mau.
"Maaf, Nyonya. Tapi kontrak kerja yang kami tandatangani hanya hanya sampai Nona dan tuan muda pindah ke mansion. Sisanya kami akan kembali menjalani kehidupan masing-masing."
Nona Priska pasti akan mengerjaiku habis-habisan jika aku ikut serta ke mansion.
__ADS_1