
Suasana kerlap-kerlip dari lampu diskotik membuat pandangan Priska semakin buram. Sudah belasan gelas kaca yang tergenggam di tangan kosong ia tenggak setiap kali terisi penuh. Minuman beralkohol menjadi satu-satunya pilihan terakhir saat seperti ini. Ya, saat Frustasi, gadis yang berumur 22 tahun itu selalu menghabiskan malam kelamnya di tempat yang sia-sia.
Berkali-kali ia oleng dan hampir terjatuh, ia sandarkan kepala pada bahu sahabatnya, Dinda.
Merem melek menyaksikan puluhan wanita dengan pakaian terbuka bagian di belakang, berlenggak-lenggok mengikuti alunan musik.
"Hei, Dinda. Kau tahu tidak, saat ini akulah orang yang paling mengenaskan," ucapnya parau.
"Kamu bicara apa sih, kebanyakan minum bicaramu jadi sembarangan, Priska."
"Tidak, aku berkata yang sebenarnya. Kau tahu tidak, aku sudah mengikuti saranmu untuk menjadi istri muda yang baik, tapi apa yang kudapat, pria itu berpaling dariku, dia mengkhianatiku, kau tahu siapa yang dia pilih?"
Dinda tak menyahut, hanya menatapnya pias. "Cih, kau menyedihkan sekali!" Ia mencibir kesal. Sebagai seorang sahabat, ia kesal karena temannya sudah terlalu bodoh, tak seharusnya Priska mengirim Prilly ke dalam pelukan suaminya, hal yang ia sesalkan karena pada akhirnya sahabatnya terjerumus dalam permainan yang dibuat sendiri.
"Itulah aku, Dinda. Aku menyedihkan. Apa sebaiknya aku mati saja?" Kepala Priska sampai terantuk-antuk ke dinding saat mencoba menstabilkan tubuh yang oleng. "Huh, mati sekalipun Revan sudah tak peduli. Aku sudah bersandiwara tapi semua yang kulakukan hanya membuatnya semakin dekat dengan Prilly. Aku harus bagaimana?"
Dinda tak menyahut, hanya sesekali terdengar dengkusan napas kasar karena harus menemani wanita mabuk yang pasti kelak akan melupakan apapun yang terjadi malam itu. "Priska, kita pulang sekarang. Oke!" Ia menautkan lengan sahabatnya di bahu.
"Tidak mauuu." Priska menepis lemah, membuatnya nyaris terjatuh ke lantai, tapi cepat Dinda menangkap tubuh sahabatnya, mendudukkannya dengan kasar kembali ke sofa. "Huh, kau bau dan berat sekali." Ia mengeluh. "Sebaiknya aku menelepon ibunya saja."
.
.
Sementara itu di apartemen. Revan sudah selesai dengan acara mandi malamnya, ia menuju ruang dapur, belum saja kakinya berpijak di sana, bayangan Prilly yang tengah memasak menggunakan celemek terlihat seksi dan menggoda. Ia berhenti, tersenyum tipis dari jauh, menyandarkan tubuh pada dinding tembok. Padahal gadis itu sudah memakai piyama yang cukup menutup seluruh permukaan kulit kecuali kepala, punggung tangan dan seputaran mata kaki. Ia juga mengunci rambutnya dengan bentuk sanggul simpul, tapi entah di mata Revan gadis itu selalu terlihat berbalut piyama tipis terbuka.
"Kenapa diam saja di sana, Tuan. Kemari dan bantu aku membuatnya." Prilly menoleh sesaat, lalu kembali sibuk dengan segala macam peralatan tempur dan bahan makanan yang ia sajikan di atas meja.
"Kau sedang membuat apa?" Revan mendekat, merebut benda dari tangan Prilly. "Duduklah, biar aku yang membuatnya."
"Tuan, biar aku saja."
"Tidak usah, duduk saja. Mulai sekarang kau adalah ratunya. Tidak boleh lelah sedikitpun." Ia terseny tipis, mengelus pucuk kepala Prilly. Lagi, hal itu membuat Prilly tetbawa suasana.
Unnccchhh, benarkah ini? Tuan muda romantis sekali. Tuhan, Pliis jangan pisahkan aku darinya, sampai kapanpun, aku berharap dia benar-benar ditakdirkan untukku. Gadis itu terharu, merapal doa.
"Kau sedang apa, kenapa berdiri saja di sana. Duduklah, nanti kakimu bisa pegal."
"Tuan, kenapa kau mengambil bagian tugasku, harusnya aku saja yang melakukannya, aku kan istrimu, sejak kemarin selalu saja kau melakukan tugas memasak, lagipula apa Tuan tahu masakan apa yang akan aku buat?"
Revan menoleh, memancarkan sedikit aura sombongnya. "Kau meremehkanku ya, aku ini bisa memasak apa saja, tahu. Tanpa kamu beritahu aku sudah mengerti."
Benarkah?
__ADS_1
"Hmm, baiklah. Karena Tuan memaksa, aku terpaksa duduk saja."
"Nah, begitu lebih baik, sebagai seorang istri, kau seharusnya menurut saja." Revan tampak cekatan memotong beragam bahan mentah itu, hanya sepintas menoleh pada Prilly, ia kembali fokus pada menu. Aroma semerbak dari campuran rempah dan bumbu mulai menggelitik hidung, mengguncang cacing di dalam perut yang mulai meronta.
"Sudah siap!" Revan menyiapkan dua mangkuk sedang, menuangnya hingga hampir penuh terisi, meletakkan dengan pelan ke atas meja.
Aroma lezat bercampur uap sudah menghujani mata dan hidung Prilly, nyaris saja gadis yang tengah hamil muda itu khilaf, melahapnya sesuap sendok dalam keadaan panas.
"Panas, panas!" Ia mengibas-ngibas lengan di depan lidah, membuat Revan gelabakan mencari air putih, seakan ia lupa tetaknya.
"Duuh, pelan-pelan dong. Itu kan masih panas."
"Iya, maaf, Tuan. Aku sudah tak tahan mencium aromanya yang lezat. Aku benar-benar tak sabar ingin menyantapnya." Prilly tertunduk.
"Hei, kenapa merasa bersalah begitu?" Revan langsung berjongkok di depan Prilly yang tengah duduk di kursi. "Aku tidak sedang menyalahkanmu, kau tahu?" Pelan gadis itu mendongak, takut jika kali ini ia membuat kesalahan.
Tuan benar-benar ramah padaku, benarkah tuan peduli padaku, atau hanya karena kini aku mengandung anaknya?
Ting. Tong.
Suara bell di depan pintu apartemen berhasil membuat keduanya menoleh. "Siapa yang datang di saat malam begini?" Revan melirik jam yang tergantung pada dinding, di sana masih menunjukkan pukul 20.15 artinya baru menginjak hendak sepertiga dari malam. "Aku akan membukanya." Ia menepuk pelan bahu Prilly, lalu berjalan membelakangi gadis itu. Membuat Prilly menatap ke sana dengan pandangan panjang.
Tuan, aku benar-benar masih tak bisa percaya akan semua yang kita alami saat ini.
Deg.
Ayah dan ibu? Untuk apa mereka ke sini?
Raut yang mereka pancarkan ke hadapan kamera tampak tak mengenakkan, seakan ingin segera menghajar Revan saat posisi sudah bertatap nyata.
Krieet.
Pelan Revan membuka. Belum sempat ia bicara kedua orangtuanya itu langsung mengahambur masuk.
"Di mana gadis itu?" Pertanyaan dingin dan terdengar mematikan itu langsung mereka lontarkan. Segera Revan mengejar mereka yang terlihat linglung mengedarkan pandangan, mencari sesuatu.
"Hai, apa yang Ayah dan Ibu lakukan di apartemenku?"
Plak!
Tamparan melayang dari tangan Nyonya Harlem mendarat di pipi Revan, membuat Revan mengernyit heran. Ia tak bertanya, hanya memicingkan mata, heran dengan sikap ibunya. Tanpa berkata, Nyonya Harlem sudah tahu dengan pasti isi kepala putranya itu.
"Bodoh! Apa yang kamu lakukan?"
__ADS_1
"Apa maksud, Ibu?"
"Revan." Kini Presdir Harlem ikut bicara. "Apa benar kau berselingkuh dengan seorang gadis kampung?"
"Aku tidak berselingkuh, dia istriku, Priska dan aku sudah sepakat akan hal ini."
"Apa maksudmu dengan sepakat?"
"Priska setuju jika aku menikahi gadis itu."
Plak!
Untuk kedua kalinya, Revan kembali mendapat serangan layangan tangan dari ayahnya.
"Apa kau tahu konsekuensi apa yang akan terjadi pada perusahaan Arkandi Group gara-gara ulahmu itu?"
Revan diam, menatap kedua orangtua mereka yang mulai menegang. Sementara Prilly, ia berjalan takut-takut memegangi dinding. Menghampiri keributan yang terjadi di luar sana.
Nyonya Harlem mulai menyadari kedatangan gadis itu. Ia menoleh pelan dengan pandangan sinis.
"Singkirkan gadis itu, atau perusahaan kita akan bangkrut."
Deg!
Pernyataan itu berhasil membuat debaran hebat pada jantung Revan, bahkan terasa berhenti sesaat. Ia tersentak, menoleh pelan ada Prilly yang kini terlihat sendu. Bulir-bulir kristal terlihat memadat di area pelupuk matanya. Baru saja mereka merasakan kemesraan beberapa menit lalu, kini haruskah semua musnah oleh keserakahan pihak-pihak kerabat keluarga.
"Tidak, Ibu. Aku tidak mau!" Revan memalingkan wajah di hadapan mereka saat mengutarakan isi hati menolak dengan tegas.
"Revan, jangan bertindak bodoh, sebelum semua terlambat, kau harus mengakhiri semuanya."
"Kenapa, Bu, Ayah! Kenapa! Kalian terus mempermainkan hidupku, apa kurang pengorbananku ini? Aku bahkan menikah dengan wanita yang tidak kucintai hanya untuk memperkaya perusahaan Arkandi Group. Aku sudah tak ubahnya boneka." Kesal. Revan sampai memaki kasar mereka, orangtuanya bahkan terbelalak akan sikap perubahan mendadak dari anaknya itu.
"Apa yang baru saja kau katakan? Kau berniat membantah kami karena gadis itu?" tanya ibunya dengan tatapan tak percaya.
Revan membungkam, membuat suasana hening sesaat selama dua menit.
"Dia sedang mengandung anak dariku. Anak yang akan menjadi cucu kalian."
Deg.
Bagai tersengat aliran listrik, seketika darah dalam tubuh orangtua mereka berdesir. Nyonya Harlem sudah tak kuat menahan emosi, di pukulnya berkali-kali punggung putranya itu. "Kau gila, Revan. Apa kau sudah tak waras, keterlaluan kau, teganya kau berbuat begini pada kami, apa kau ingin kita bangkrut dan jatuh miskin, hah?" Ia menghantam pukulan bertubi-tubi pada punggung Revan, tapi Revan tak menghindar, hanya wajah datar yang tergambar di sana.
Bersambung dulu yaaa ....
__ADS_1