Rahim Untuk Tuan Muda

Rahim Untuk Tuan Muda
Eps 47


__ADS_3

Sementara itu masih di seputaran gedung Sharta Group, tuan besar itu terlihat duduk tenang di ruang pribadinya. Menikmati secangkir kopi panas ditemani alunan musik dari piringan hitam. Ya, alunan syahdu dari musik klasik itu membawanya pada kenangan lama, seketika terngiang bayangan wajah Ahyoungra tersenyum manja padanya.


Aku merindukanmu, Ahyoungra!


Tok. Tok.


Suara ketukan pintu di depan sana menyentaknya. Ia mengerjap, semua bayangan memory nostalgia itu lenyap. Sedikit rasa kesal menggelayuti saat ketenangan Sharta terganggu.


"Masuk!" perintahnya.


Krieeet.


Pelan pintu itu terbuka, sosok pria dengan kemeja hitam lengkap dengan jaz datang memberi hormat.


"Ada info apa?" Tanpa basa-basi, Sharta langsung menembak dengan menanyakan maksud dan tujuan pria itu.


"Ya, Tuan. Info kali ini mengenai putri anda dari Nyonya Ahyoungra."


Deg.


"Kau mendapatkan info tentangnya?" Sharta sampai tertegun, bediri tegak mendengar kabar itu.


"Ya, Tuan."


"Cepat katakan, di mana putriku berada saat ini?"


"Soal itu, kami mendapat kabar kalau putri anda tengah bekerja sebagai pelayan di salah satu apartemen di kota ini."


Deg.


Sharta terduduk. Ia amat terpukul mengetahui kabar bahwa putri kesayangannya mengalami hidup berat, sampai bekerja sebagai pelayan bahkan di usia yang masih muda. Cukup lama ia terdiam, lalu kembali memandang pria yang masih setia berdiri menghadap padanya menyampaikan info.


"Di mana lokasi tempat Prilly bekerja?" Sharta bertanya dengan raut tegang.


"Kami mendapat info bahwa dia menjadi pelayan seorang pebisnis muda di sebuah kawasan apartemen elit."


"Perbisnis? Pria?"


"Ya, Tuan, dan dia ...."


"Dia kenapa?"


Pria itu diam sejenak, seakan berat menyampaikan info kali ini. "Dia pelayan tunggal."


"Apa?!" Sharta benar-benar terkejut tak percaya, matanya terbelalak sementara dadanya terasa sesak, cepat ia memeganginya dengan satu tangan, perlahan kembali duduk di kursi pribadi.


Pria yang tadi berdiri berlari menghampiri tuan besar itu, mengambil segelas air putih yang tersedia di atas meja. Membuka penutupnya, memberikan pada Sharta.


Sharta masih tampak mengatur napas agar kembali stabil.


"Kunjungi lokasi itu. Jemput putriku malam ini juga."


"Baik, Tuan. Akan kami lakukan."


.


.


Prilly masuk lebih dulu ke dalam mobil disusul Revan belakangan. Degup daun pintu membuat suasana ramai tadi seketika menjadi redup saat mereka yang di dalam tak membuka sedikitpun ruang untuk celah.


Revan tampak meraih sesuatu yang ia selip di kursi belakang.


"Ini!" Ia memberikan pada wanita kesayangannya itu.


"Apa ini?"

__ADS_1


"Buka saja."


"Baiklah."


Satu paket menu makanan yang terbungkus pada satu buah rantang berisi berbagai macam makanan terlihat menggugah lidah di sana. Kumpulan menu sederhana mulai dari Mandu, Bungoppang, Tteokkokki, dan lain lagi, langsung menggelitik perut Prilly.


"Tuan .. membuat ini?"


"Tidak, tapi temanku. Aku membelinya di Resto Gongxha, tadi sempat terjebak macet, kebetulan posisiku berada di depan resto itu, aku mampir sekalian membelikannya untukmu, kau suka?" tutur Revan panjang lebar, sambil mulai menjalankan mobil di atas lajur.


Suasana hangat semakin terasa dalam mobil itu. "Ah, terimakasih, Tuan. Tentu saja aku suka. Boleh aku memakannya sekarang?"


"Tentu, kenapa tidak." Revan tersenyum kecil. Mobil mulai melaju pesat, membelah jalan yang sebagian sudah mulai bersalju. Puluhan petugas kebersihan area jalan nampak kerepotan. Tingginya curah hujan salju tahun ini membuat para pekerja itu harus bekerja ekstra.


"Aku benar-benar tak menyangka jika wanita mengidam bisa melakukan hal yang aneh-aneh. Kupikir, ngidam hanyalah bentuk perubahan selera makan. Ternyata ada banyak, ya."


"Aku juga kurang tahu, Tuan. Krmarin saat memeriksa, dokter itu mengatakan mengidam itu ada banyak macamnya. Termasuk pergi ke suatu tempat, atau menginginkan suatu benda yang aneh-aneh!" Prilly berucap sambil sesekali mengunyah salah satu makanan itu di dalam mulutnya, hingga terdengar sedikit desauan saat ia bicara.


"Hmm, jadi begitu, ya. Apa sekarang kau merasakannya, bagaimana rasanya?"


"Ya, kurasa .. aku mulai merasakannya. Rasanya seperti menderita jika kemauan itu tak sampai terkabulkan."


"Begitukah?" Revan menolah sejekap, lalu kembali fokus menyetir. "Baiklah, mulai sekarang demi kesehatan bayi dan ibunya, aku akan memanjakanmu, aku akan mengabulkan semua keinginanmu, asal bukan sesuatu yang di luar kemampuanku."


"Tuan serius?"


"Tentu saja!"


"Ah ... sebenarnya masih ada satu hal yang terus mengusikku sejak kemarin."


"Apa itu? Katakan saja."


"Aku sangat ingin berada di atas sebuah balon terbang."


Bruuup.


"T-Tuan, kau baik-baik saja?" Revan sampai terbatuk saat berusaha menahannya.


"Aku tidak apa-apa!"


"Ini .. minumlah." Prilly memberikan sebuah botol berisikan air mineral yang tutupnya sudah ia buka terlebih dulu. Cepat Revan meraih, menenggaknya hingga tersisa setengah saja. Ia kemudian menutupnya, lalu meletakkan kembali di sisi mobil.


"Tuan, kenapa anda terkejut mendengar itu?"


"Ah bukan apa-apa!" Revan berusaha menutupi kenyataan bahwa ia takut ketinggian.


"Baiklah, sepertinya Tuan tidak menyukainya. Maka aku tidak akan meminta hal itu lagi."


"Tidak, sudah kukatakan bukan, aku akan mengabulkan semua keinginanmu kecuali hal yang di luar kemampuanku."


"Benarkah, artinya Tuan serius akan membawaku berada di atas balon terbang?"


"Tentu saja," jawab Revan yang tak dapat menutupi wajah pobia-nya, tapi Prilly sungguh tak menyadari ekspresi itu. Prilly begitu bahagia hingga memeluk erat Revan yang tampak fokus menyetir di sampingnya itu.


"Terimakasih, Tuan." Ia masih menempel di sisi Revan. Itu adalah kali pertama Prilly memeluk, membuat debaran di dada Revan seketika membuncah, wajah Revan menegang, sementara Prilly tak menyadari jika hal yang ia lakukan membuat darah pria disampingnya berdesir kuat.


Perlajanan masih berlanjut, Revan berhenti di sebuah toko sepatu wanita. Sementara Prilly terlelap di bahu Revan sejak awal ia memeluk. Pelan Revan menepuk untuk membangunkannya.


"Sayang, Sayang?" Tapi sepertinya gadis itu terlalu lelap dalam tidurnya. Ia tak goyah meski Revan sudah memanggil sebanyak 2 kali. Pasrah, kali ini Revan membiarkannya terlelap untuk waktu yang lama.


Ia memandang wajah Prilly sambil terus tersenyum, kini ia mulai menyadari, bahwa hal yang menggiringnya ke jenjang pernikahan ternyata adalah landasan cinta yang tumbuh tanpa sengaja.


Salju terus berjatuhan di atas mobil yang di dalamnya di huni 2 insan itu. Perlahan mulai menutup kaca-kaca pada mobil Revan. Menatap lamat wajah Prilly membawa Revan pada nafsu membara. Tiba-tiba ia tergod untuk mencium bibir merah tipis yang tak bergerak di sampingnya itu.


Ia mendekatkan wajahnya. Bahkan kini napas Prilly dapat ia rasakan, tapi belum saja Revan mendaratkan ciumannya, mendadak Prilly bergerak pelan, menggusap kedua matanya. Cepat-cepat Revan kembali menegakkan tubuhnya. Debaran di dada semakin menjadi-jadi. Ia sudah seperti seorang perampok yang tertangkap basah saja. Ketingat dingin mengalir dari dahinya.

__ADS_1


Prilly mengerjap. Ia tak menyadari hal baru saja terjadi. "Aku tertidur ya, Tuan?" ucapan Prilly mengawali pembicaraan di antara mereka. "Apa kita sudah sampai?"


"Tidak, belum, aku .. hanya ingin membawamu ke toko sepatu di seberang sana." Revan menunjuk ke arah toko sepatu. Tapi ada hal yang mengganjal yang ditangkap Prilly saat pria itu bicara. Ya, nada bicara Revan terdengar gelagapan. Revan masih berusaha menstabilkan jantungnya.


"Untuk apa?"


"Hah?" Revan menoleh, alisnya sudah mengernyit. "Tentu saja untuk membeli sepatu untukmu."


"Tidak perlu. Aku memakai sepatu Tuan saja."


"Lalu, aku pakai apa?"


"Eh?" Prilly lupa kalau sejak tadi Revan telanjang kaki. "Ehehhe, iya. Maaf, Tuan. Aku lupa Tuan tak mengenakan alas kaki."


"Hmm, kalau begitu, mari kita ke sana."


"Baik."


Setelah mengenakan jaket tebal, mereka keluar bersamaan, dengan Revan yang hanya mengenakan kaos kaki tanpa alas. Ia tidak malu, meski beberapa mata paparazi terlihat nenatap gila. Terlebih wanita-wanita cantik di sana, mereka melongo tak percaya.


"So sweet sekali."


"Iya, pasangan yang membuat iri saja."


"Andai aku yang berada di sisi pria itu."


Mereka mematut, menautkan tangan di bawah dagu.


Prilly dan Revan sudah berjalan sekitar 20 meter, tapi tiba-tiba saja Prilly tersandung, hingga nyaris terjatuh. Beruntung sejak awal Revan sudah memegangi tangannya, hingga ia sigap mengangkap tubuh Prilly sebelum berhasil mendarat di trotoar.


"Ahh! So sweet!" Para wanita paparazi tadi semakin tersentuh melihat kemesraan Revan dan Prilly.


"Kau baik-baik saja?" tanya Revan.


"Sepatu Tuan kebesaran dan berat, ujung kuku-ku terasa nyeri saat tersandung tadi."


Tak lagi bicara. Revan langsung berjongkok membelakanginya. "Naiklah ke punggungku!"


"Eh?" Prilly terkejut. "Tapi, Tuan!"


"Sudah, cepat naik, udara semakin dingin."


Para paparazi di sana sudah semakin menjerit, mereka meleleh seperti es batu di atas terik matahari.


"Ouuuhh sweeeet!"


Tak kuasa melihat sikap romantis Revan yang berusaha menjaga wanitanya. Bahkan keirian di wajah mereka terhadap Prilly sudah meningkat pesat mencapai level 100.


Prilly mengedar pandangan sejenak. "Cepat naik! Kau mau kugendong di punggung atau di depan?"


"Tidak keduanya, Tuan. Aku masih bisa berjalan, kok." Prilly merasa seperti di pantau. Ia tak nyaman karena kini puluhan mata berfokus pada mereka. Tapi ucapannya membuat Revan menoleh. Pria itu berdecak sebelum bangkit.


"Karena kamu sudah menolak di atas punggung, artinya kau sudah memutuskan pilihan kedua."


Eh! Prilly terbelalak. Apa yang akan Tuan lakukan?


Mendadak Revan mengangkat tubuhnya di atas dada.


"Tu-Tuan, turunkan aku."


"Diamlah!" Jawabnya Revan. Wajahnya terlihat dingin, sepertinya keputusan kali ini sudah tak ada toleran.


Ya, Tuhan. Aku benar-benar malu. Batin Prilly meringis.


Sementara paparazi di sana sudah histeris.

__ADS_1


"Jangan hiraukan mereka!" Tiga kata itu berhasil membuat Prilly tak berkutik. Kini, tak ada alasan apapun yang boleh terlontar darinya. Ia sudah seperti boneka patung tergenggam dalam dekapan Revan.


Maaf lama. Satu lagi akan segera menyusul. Mungkin senja kelar. 🤗


__ADS_2