Rahim Untuk Tuan Muda

Rahim Untuk Tuan Muda
Eps 31


__ADS_3

Revan tak peduli oleh tingkah Priska yang kesal dan membanting pintu, dia asyik saja bersenda-gurau bersama Prilly.


"Jadi bagaimana, apa kamu siap ke klinik?" tanya Revan. Gadis di depannya terlihat mengusap pelan perut tipis itu.


"Em." Ia mengangguk pelan, menyematkan senyuman di sana. Revan hanya bisa membalas dengan hal yang sama.


"Baiklah, Tuan. Saya akan bersiap dulu."


"Oke, jangan gunakan baju yang ketat."


"Emm!" Prilly mengangguk. Lalu berjalan pelan menuju kamar miliknya, sementara Revan masih asyik melahap bubur buatannya.


Selesai, cukup lama ia menunggu tapi gadis itu belum kunjung kembali. Mendatanginya ke kamar rasanya kurang etis, karena status mereka belum sah, Revan akhirnya memilih mengirim pesan singkat padanya.


Tunggu aku di sofa ruang depan.


Klik.


Terkirim.


Tanpa menunggu balasan, Revan menuju kamarnya, setelan kantor masih melekat di tubuh. Ya, sebab sebelumnya ia punya rapat penting di kantor.


Baiklah, aku akan mengganti baju dulu.


Sesaat Revan lupa kalau tadi Priska memasuki kamar miliknya dan bahkan masih bersemayam di sana.


Krieeet.


Ia terkejut mendapati Priska di sana."Apa yang kamu lakukan di sini, Priska?" Revan bertanya setelah masuk ke dalam kamarnya sendiri. Gadis itu berbaring di atas matras miliknya, membalut tubuhnya dengan selimut tebal.


"Apa maksudmu, Sayang? Aku ini istrimu, bukankah sebelumnya kita memang terbiasa bersama di sini?" Nadanya terdengar mendesah manja.


"Huh, apa keteranganku tadi belum jelas, istriku adalah Prilly, dan perlu kuingatkan padamu, pernikahan kita hanyalah sebuah sandiwara. Tidak ada ruang untukmu di apartemenku, jadi pergilah!"


Deg.


Apa? Kenapa begini jadinya, kenapa Revan justru mengusirku, apa tak ada rasa simpati untukku?


"Keterlaluan kamu, Revan, teganya kamu mengusirku. Hu-hu-hu."


"Pulanglah, segarkan dulu otakmu agar kamu bisa mengingat semuanya."


"Tidak mau! Aku mau di sini, bersamamu."


Revan geram, kini tubuhnya mulai semakin mendekat. "Jangan membuatku memaksa, Priska."


"Kenapa?" Kali ini Priska terlihat jauh lebih berani dari sebelumnya.


Apa sekarang kamu akan mengancamku seperti di kantormu hari itu, kali ini akan kupastikan tak akan menolakmu lagi, Revan. Ayo, lakukanlah.


Meski ragu dengan keputusannya, tapi Priska tampak tegar dengan pendiriannya kali ini.


Tatapan mata Priska yang menantang membuat Revan semakin merapat, bahkan kini jarak mereka hanya tinggal sejengkal. "Kenapa? Apa sekarang kau ingin memaksaku untuk melakukannya, seperti di kantor hari itu?"


Deg.


Priska gugup.


Tunggu, kenapa Revan seperti tahu isi kepalaku, kenapa dia menanyakan perihal yang pernah terjadi pada kami kemarin, apa mungkin Revan mencium aroma sandiwara amnesiaku?


"A-apa maksudmu, Revan. Aku tak mengerti?"


"Cih, tentu saja kau tak mengerti." Revan berdiri, beranjak menuju lemari pakaian, menggantinya tanpa canggung. "Tentu saja kau tak mengerti, kau kan amnesia. Cih, amnesia." Ia menertawakannya, seakan hal itu lucu.


Ada apa dengannya, dia tak terlihat simpati sedikitpun, apa mungkin  dugaanku benar?


Revan sudah berganti pakaian dengan setelan kasual, ia masih setia berdiri di depan cermin, memastikan tak ada yang kurang dari penampilannya.


"Pulanglah!" ujarnya, masih tanpa menatap. "Aku akan menelpon sekretarisku untuk mengantarmu."


Priska mengernyit. Rasa kesal menyelubungi isi hatinya. "Tidak mau, aku mau di sini bersama suamiku."


"Jangan memaksaku untuk membuatmu mengakui sandiwaramu, jika aku masih memberimu kesempatan, maka dengarkanlah!"


Apa? Benarkah Revan mengetahui perihal sandiwaraku?

__ADS_1


Revan sudah selesai mengganti pakaian, kini giliran ia harus beranjak pergi. Tanpa menyapa wanita yang berbaring di atas matras, Revan keluar.


"Revan, tunggu, kamu mau ke mana?" Cepat Priska mengejarnya, menahan tangan pria itu. Tapi Revan langsung menepis.


"Ck, itu bukan urusanmu." Ia menuju ruang tengah, tampak Prilly sudah menunggunya, duduk di atas sofa dengan raut suram, sebab Priska terlihat mengejar di jarak 20 meter, langkah gadis itu lalu terhenti, menyadari kini Revan mendatangi wanita kesayangannya.


Segera Revan menarik tangan gadis itu, mengajaknya pergi.


"Revan, kamu mau ke mana? Izinkan aku ikut!"


"Maaf, aku tak suka membawa tumpangan. Pulanglah bersama asisten yang sudah kuhubungi."


Kini Priska hanya bisa memandangi mereka dari jauh, telak ditolak, ia tak lagi melangkah maju.


Keterlaluan, Revan kamu benar-benar keterlaluan.


Ia mendelik kesal, memperhatikan pergerakan mereka yang lambat-laun menghilang di balik pintu.


Ia kemudian menuju sofa, duduk memengangi kepala dengan kedua tangan.


Prilly semakin keterlaluan saja, dia sudah melewati batasannya. Baiklah, kuakui aku kalah olehmu kali ini, Prilly. Tapi tunggu saja, aku tak akan tinggal diam! Ia masih merutuk kesal.


*****


Dua hari sudah berlalu.


Priska benar-benar setia menunggu hari kepindahan Revan ke Mansion. Meski sudah puluhan alasan Revan gunakan untuk menolak, tetap saja akhirnya ia harus tinggal di sana.


Priska yang kini berstatus amnesia-lah yang menjadi alasan kuat orangtua mereka untuk memaksa Revan tinggal di Mansion.


Revan akhirnya tak dapat menolak, ia terpaksa mengikuti kehendak orangtua. Sementara Prilly, ia meminta gadis itu untuk tetap tinggal di apartemen, ia juga akan mengirim beberapa pelayan untuk mengurus Prilly di sana.


Kemarin saat pemeriksaan, Revan dan Prilly sempat melongo melihat gumpalan darah kecil yang belum berbentuk janin dalam layar monitor di klinik dokter kandungan.


"Selamat ya, Nona. Anda dan Tuan akan dihadirkan seorang bayi." Dokter wanita itu berbicara ramah.


"Terimakasih, Dokter," ujar Revan.


"Nona dan Tuan benar-benar pasangan yang serasi. Cantik dan tampan, pasti nanti bayinya terlahir sempurna."


"Sama-sama, jangan lupa untuk selalu menjaga kesehatan, juga makannya harus lebih teratur, terutama sayuran dan buah-buahan tak boleh dilewatkan, susu juga, semua harus lengkap. Jangan pilih-pilih, ya." Ia bicara menatap Prilly. Gadis itu hanya bisa tersenyum tipis, sedikit tertahan.


Revan tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya mengetahui Prilly benar-benar hamil, senyumnya mengembang, sementara Prilly hanya tersenyum singkat, seketika muncul beberapa bayangan di masa depan gadis itu. Ia tak mampu membayangkan jika kelak bayi itu harus berpindah tangan ke Nona Priska, ia takut jika kelak bayi itu akan memanggil Priska dengan sebutan mama, sedang dirinya hanyalah wanita asing yang sama sekali tak di kenal.


Selesai menjalani masa pemeriksaan, Prilly dan Revan pulang bersama dalam satu mobil. Sepanjang jalan, Prilly lebih banyak diam, padahal sebelumnya ia sempat mengoceh panjang lebar.


"Hai," sapa Revan di sela keheningan saat menyetir, membuat Prilly tersentak lalu menoleh. "Ah, ada apa, Tuan?"


"Harusnya aku yang bertanya padamu, ada apa, kamu terus saja melamun dan tidak tampak senang?"


"Ah, tidak begitu, Tuan! Tentu saja saya senang."


"Benarkah, kalau begitu cobalah untuk tersenyum."


Prilly membuat senyum yang dipaksakan di depan Revan, hingga tak tampak natural, membuat pria itu tertawa kecil, spontan mengelus pucuk kepala Prilly.


"Jangan bebani dirimu dengan pikiran yang tidak-tidak. Ingat, kamu harus menjaga kesehatanmu dan bayi kita," ucapnya yang kini fokus menyetir.


Kita? Apa bayi ini milik kita, bukan milik tuan dan nona? Prilly hanya menebak dalam hati, tanpa berani bertanya.


"Hai, kamu melamun lagi." Kembali Revan menyentaknya.


"Ah, maaf, Tuan."


Keduanya hening sesaat.


"Jadi bagaimana?"


"Eh?" Prilly melongo. "Bagaimana apanya?"


"Kau belum menjawab, bagaimana, apa aku diterima menjadi suamimu?" Ia menatap Prilly, sedang Prilly sendiri memilih diam, matanya tak berkedip menatap ke jalan di depan mata. "Jika kamu bersedia, aku akan menyegerakan pernikahan kita. Kita akan menikah di gereja, tapi .. kemungkinan pernikahan ini akan sederhana. Hanya kita dan satu orang pendeta. Kau mau, kan?"


Deg.


Prilly masih belum menyahut.

__ADS_1


"Aku akan memperjuangkan hubungan kita, kelak kamu tak perlu bersembunyi dari publik, kamu akan menjadi satu-satunya Nona Besarku."


Tunggu, apa? Apa maksudnya dengan mengatakan hanya aku satu-satunya nona baginya.


Prilly terkejut dengan pernyataan Revan.


Apa tuan berniat mengakhiri hubungannya dengan Nona Priska, oh tidak. Apakah yang kulakukan ini sudah benar, apakah ini artinya aku menjadi wanita perusak rumahtangga tuan muda.


"Prilly, apa kau mendengarkanku?"


"Ah, iya, Tuan. Saya mendengar anda."


"Bagus, jadi bagaimana? Kamu mau kan?"


"Ah iya, Tuan." Tanpa sadar Prilly sudah mengiyakan.


Astaga. Barusan aku bilang apa? Aduuuh aku keceplosan!


"Ah, syukurlah." Revan tersenyum lega. Ada secercah kebahagiaan yang tak dapat digambarkan di wajahnya.


.


.


Mentari hangat menyambut hilir mudik kendaraan di Kota Seoul. Pagi itu Revan harus lebih dulu ke kantor, urusan perpindahan bisa ia lakukan siang nanti. Dengan dijemput sang asisten setia, Revan menatap keluar kaca jendela, mereka berhenti di perempatan jalan lampu merah. Sekilas tak ada yang berbeda, hanya pemandangan padatnya lalu lintas. Lalu tiba-tiba tanpa sengaja matanya menangkap sebuah mobil dengan flat yang tidak asing di arah yang berlawanan. Melaju dengan kecepatan sedang.


"Itu kan mobil Nyonya Sharta, mau ke mana dia?" Revan mulai mengetik pesan untuk Prilly.


Prilly, hubungi aku jika ada sesuatu yang terjadi.


Selang beberapa saat, tiga titik itu bergoyang, lalu ....


Bip.


Siap, Tuan!


Revan terseyum lega membaca pesan singkat itu. Mobil yang mereka kendarai kembali melaju di atas lajur.


Sementara di dalam apartemen.


Prilly berbaring lemah di atas kasur di kamarnya. Satu hari yang lalu ia melangsungkan pernikahan singkat dan sederhana di salah satu gereja, dan kini ia sah menjadi istri simpanan tuan muda. Meski begitu, mereka masih tidur terpisah.


Lamat gadis itu menatap foto wedding miliknya bersama tuan muda. Ia tak hentinya tersenyum memnadangi foto perniakahan itu. Seketika bayangannya kembali teringat pada sosok ayah yang terbaring di kontrakan sederhana.


Maafkan Prilly yang tidak mengabarimu perihal pernikahan ini, Ayah. Ia bicara sendiri, seakan ucapan itu sampai pada ayahnya.


Ting Tong.


Suara bell itu menyentak lamunannya.


Siapa yang berkunjung ke apartemen ini pagi ini?


Heran, bukankah tuan Revan juga akan pindah hari ini, lalu siapa yang masih mencarinya. Prilly mulai menelisik, ia beringsut dari kasur, menuju pintu depan.


Gadis itu mencoba mengintipnya.


Deg.


Matanya terbelalak.


Nyonya Sharta? Ada hal apa sampai dia kemari di pagi begini?


Prilly mulai menduga hal yang tidak-tidak.


Tuan bilang aku harus menghubunginya jika ada sesuatu yang terjadi, baiknya sekarang aku menghibunginya saja.


Gadis itu masih memperhatikan layar kecil di sana. Hanya Nyonya Sharta terlihat berdiri menunggu pintu terbuka, sementara Prilly juga masih menunggu Revan mengangkat teleponnya, hinggat tanpa di duga, seorang wanita datang dan berdiri di samping Nyonya Sharta, wanita yang tak asing itu tak lain adalah Nona Priska, ia terlihat terlibat percakapan singkat. Sesaat kemudian Priska tampak memasukkan sandi pada tombol kunci.


Dag. Dug.


Dag. Dug.


Astaga, aku lupa memberitahu tuan muda kalau Nona Priska sudah mengetahui kode apartemen ini. Sekarang aku harus bagaimana. Prilly semakin gugup.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2