Rahim Untuk Tuan Muda

Rahim Untuk Tuan Muda
Eps 54


__ADS_3

Priska termangu. Pemandangan di depan mata itu berhasil membuat mentalnya melemah. Bagaimana tidak, pertikaian yang berujung perang dingin itu dilangsungkan oleh dua pihak kerabat terdekat. Ya, keduanya memiliki hubungan yang masih melekat erat dengannya. Revan sang suami itu tengah bersitegang dengan ayahnya sendiri. Terlebih mencengangkan, mereka bertikai perihal gadis yang awalnya hanya makhluk rendah tak bermartabat, yang kini menjelma menjadi tuan putri dadakan. Sungguh ironi, begitulah hatinya berkata.


Priska terhenyak di sana. Bersandar pada sandaran kursi mobil. Tangan yang tadi setia memegang setir, kini beralih menutupi wajah, isakannya memekik kecil, hanya memenuhi ruang kedap itu. Sementara kaca mobil ia biarkan tertutup selama berada di sana, agar pengintaian itu tak berujung pemergokan.


Sharta terlihat menjauh dari tempat itu, bersamaan dengan kedua buah mobil pengawal yang juga lenyap dari pandangan mata, dan hanya menyisakan Revan yang mematung di bawah lampu jalan di sana.


Ingin rasanya Priska berlari dan memeluknya, suami sandera yang kini berhasil memikat hatinya, tapi ia sadar bahwa jika bertemu Revan, pastilah ia diabaikan, tak akan sesuai dengan ekpektasi. Priska mengurungkan niatnya. Kini ia mulai memutar arah mobil. Tak ada tujuan, hanya membelah dinginnya malam bertabur salju yang sebagian menutup di sepanjang pinggiran jalan.


Meski memiliki puluhan pengawal dan asisten pribadi, tapi Priska tak ayalnya gadis kesepian, ia tak pernah meluapkan kesedihannya pada mereka. Satu-satunya tempat pelabuhan di mana Priska biasa meluapkan rasa sakit hanyalah Dinda sahabatnya. Namun kini, ia tak dapat menghubungi gadis itu, sebab saat pergi dari maindhouse, ia tak membawa ponsel, benda itu sudah disita ayahnya. Ia hanya berbekal diri dan satu buah senjata yang ia rebut dari pengawal di kediaman Sharta malam itu.


Pekay mulai menyelimuti Kota Seoul, udara dingin di luar sana membuat setengah muda-mudi penduduk Kota Seoul memilih menghabiskan malam mereka di beberapa bar dan diskotik.


Priska memutuskan untuk menghabiskan malam kelamnya di sebuah bar ternama. Tempat di mana kaum kelas atas biasa menikmati hiburan.


Ia sampai pada sebuah bangunan, di mana ada dua penjaga berdiri di depan pintu. Mereka para pengawas yang bekerja di bar ternama itu. Priska memarkirkan kendaraannya, lalu masuk ke sana tanpa berbekal uang maupun kartu debit dan kredit. Hanya membawa dirinya, bahkan ia meninggalkan senjata itu di dalam mobilnya.


Priska masuk tanpa kendala. Mereka sudah biasa dengan kedatangan Priska di sana, hingga ia bebas keluar masuk tanpa ada ada hambatan.


Pemandangan huru-hara langsung menyapu ruang luas itu, dengan lampu kerlap-kerlip menyempurnakan suasana bar malam itu. Puluhan wanita dengan pakaian yang nyaris terbuka berkumpul berkelompok. Tawa mereka menggema pada kelompok-kelompok tertentu.


Priska mendekati bartender, meminta salah satu penjaga di sana untuk memberikannya minuman terbaik.


"Berikan aku satu yang terbaik." Hanya kerlingan mata dan satu acungan jempol dari si penjaga bartender, Priska langsung menggenggam segelas wine berisi penuh, dengan merk terbaik.


"Nona, sangat jarang anda datang seorang diri, di mana sahabat wanita yang biasa bersama anda."


Priska membuang wajah, memainkan jari telunjuk pada meja di hadapannya. "Dia tidak sedang bersamaku."


"Wah, tumben sekali. Apa Nona sedang dalam masalah."


"Yah, begitulah," jawab Priska yang kemudian kembali menenggak minuman itu. Ia menghabiskannya dalam hitungan detik, lalu kembali meletakkan gelas kosong itu ke meja, cepat sang penjaga bartender mengisinya lagi. Hal itu terus berlangsung hingga Priska mabuk berat. Ia mulai meracau tak karuan, membuat beberapa pasang mata pengunjung teralihkan padanya.

__ADS_1


"Hei, siapa di sana?" Salah satu kumpulan kaum elit bicara sambil melihat ke arah Priska. Gadis itu nampak oleng, bangkit sebentar lalu kembali merapatkan lagi kepalanya ke atas meja.


"Joshua, bukankah dia Priska mantan mainanmu?" Kumpulan insan yang terdiri dari 4 pasangan pria dan wanita itu ternyata diketuai oleh Joshua, mantan kekasih Priska. Tapi kali ini, Joshua tidak sedang bersama Airen. Ya, hubungan yang mereka pamerkan di depan publik hanyalah sebuah scandal, selain untuk memanasi Priska, mereka juga memerlukan hal itu untuk lebih menaikkan popularitas.


Joshua berdecih, menertawakan Priska yang terlihat malang.


"Ada apa dengannya, sepertinya dia sedang ada masalah." Salah satu pria kumpulan di sana bicara pada Joshua. Joshua tampak melepas lengannya yang tadi terpaut di atas bahu gadis dengan pakaian seksi, dan mulai berdiri dengan pandangan mata yang fokus ke Priska.


Pelan ia bergerak, meninggalkan kumpulannya.


"Joshua, kau benar-benar pria brengs*k!" ledek kumpulannya padanya. "Kau ingin bermain-main dengannya?"


"Cih, tentu saja. Kau bodoh atau apa, ada mainan di depan mata, kenapa membiarkannya menanggur." Ia berpaling sebentar saat bicara, lalu kembali bergerak ke arah Priska.


"Lalu, bagaimana jika suaminya datang."


"Itu tidak akan, aku tahu semua mengenai gadis ini." Ia tertawa kecil, langkahnya semakin pasti, sehingga tak akan mungkin terdengar lagi jika kumpulannya bicara padanya.


Kini jaraknya semakin dekat.


"Ah, baik, Tuan."


"Revan, kamu-kah itu?" Priska yang mabuk berat, mulai kurang kesadaran.


"Sayang, tenanglah. Aku akan mengantarmu pulang." Joshua tertawa kecil dalam hati.


'Priska Sayang. Bersenang-senanglah denganku malam ini. Selama ini kau selalu menolak ajakanku, aku lelah menunggu waktu yang tepat untuk bisa bersamamu, Sayang." Ia mulai membopong Priska di atas dadanya. Sambil menyelesaikan transaki di bar itu menggunakan kartu unlimitied miliknya.


"Waaah, sepertinya ada yang akan bersenang-senang malam ini," ledek kumpulannya padanya, kecuali gadis yang menemaninya tadi.


"Joshua, apa kamu akan meninggalkanku malam ini." Ia meringis manja. Joshua hanya memberikan kode pada pengawal yang membuntutinya untuk memberikan tips pada gadis itu. Setumpuk uang langsung mendarat di pangkuannya, membuat senyumnya merekah.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Joshua. Datanglah lagi lain kali."


Hal itu membuat 3 wanita di sampingnya sedikit iri. Wajah mereka kusut, dan hanya dapat menenggak saliva melihat tumpukan uang dalam dekapan gadis tadi.


Joshua kemudian membawa Priska menuju mobilnya. Ia meletakkannya di atas pangkuan.


"Antar kami ke Dongdaemun Hotels," pintanya pada supir yang sedari tadi setia menunggu di dalam mobil.


"Baik, Tuan." Tanpa menunggu aba-aba lagi, supir itu langsung bergerak mendatangi tempat tujuan yang Joshua pinta padanya.


Hujan salju kembali menipis, Priska masih meracau dalam dekapan Joshua, berkali-kali memijat kepalanya yang semakin terasa pening.


Joshua meraih ponsel dalam saku bajunya, memindai nomor asisten kepercayaan. Begitu nomor dalam kontak itu terpampang, ia langsung menekan ikon hijau untuk menelepon.


Tuuut


Klik.


Ya, Tuan. Apa yang bisa saya lakukan untuk anda?


"Tolong, bawakan aku satu ramuan perangsang terbaik. Antar ke Dongdaemun sekarang juga."


Baik Tuan.


Tut


Tut


Tut


Panggilan itu berakhir, seiring dengan senyum seringai Joshua yang menertawakan Priska.

__ADS_1


Kena kau kali ini, Priska. Ini salahmu sendiri karena berani datang ke bar tanpa pengawal. hingga menuntun jal*ng sepertiku padamu, tapi aku berjanji, akan memuaskanmu malam ini. Ia tertawa penuh seringai


Bersambung dulu yaaa. Mohon maaf, akhir-akhir ini jarang update. πŸ₯ΊπŸ₯ΊπŸ™πŸ™


__ADS_2