Rahim Untuk Tuan Muda

Rahim Untuk Tuan Muda
Eps 22


__ADS_3

Revan sudah semakin dekat dengan Kantor Pribadi Presdir Harlem, hanya berjarak sepuluh langkah lagi, tapi matanya masih setia tertuju ke layar ponsel.


Oke, tunggu aku nanti malam.


Ia mengirim pesan singkat itu pada gadis yang kini menjadi penunggu di apartemennya.


Siap, pukul tujuh malam aku akan menunggu Tuan di halte.


Revan tersenyum. Secercah rasa bahagia saat berkirim pesan dengan Prilly, membuatnya lupa sesaat dengan beban masalah yang kini ia hadapi.


Krieeet.


Ia membuka lebar pintu ruang kantor ayahnya, sedang saat itu matanya terus fokus ke layar ponsel.


Saat kaki melangkah masuk, ia mulai mendongak. Empat pasang mata tampak menyorotnya. Ia terkejut.


Ada apa ini, kenapa orangtuaku dan orangtua Priska ada di sini?


"Revan, dari mana saja kamu? Bukankah asisten itu sudah mengatakan padamu untuk ke kantor Ayah selepas meeting tadi."


Revan tak membela diri, hanya tampak menghela napas berat. "Maaf, Ayah." Hanya itu yang mampu ia ucap.


"Cepatlah masuk, beri hormat pada keluarga Sharta Group!" Ucapan itu sudah seperti perintah yang tak dapat dielak. Revan melirik mereka yang juga menatap lekat ke arahnya. Kemudian menunduk pada sepasang orangtua Priska itu.


"Sudahlah, Presdir Harlem, tidak perlu memarahinya begitu. Lagipula, hanya telat beberapa menit." Ia tampak menetralkan emosi Harlem. "Revan, kemarilah."


Revan datang lalu duduk pada kursi kosong di sana. "Apa kamu tadi bertemu dengan Priska di ruang kantormu?"


"Hah?" Harlem dan istrinya terkejut menatap besannya itu.


"Jadi, kamu terlambat tadi karena Priska ke kantormu?" Harlem memutar pertanyaan itu dan melontarkannya pada Revan.


"Emm," Revan hanya berdehem singkat, tak bisa ia membual perihal hubungan palsunya dengan Priska.


"Wah, lihatlah pasangan pengantin baru ini, mereka sangat harmoni." Mereka tertawa kecil pada Harlem dan istrinya, tampak kebahagiaan sempurna terpancar dari raut keduanya.


"Padahal setiap hari sudah bertemu, tapi masih saja saling merindukan," imbuh Nyonya Harlem.


"Iya, lihatlah, Revan sampai terlihat malu-malu, dia bahkan susah untuk sekadar tersenyum." Ucapan terakhir Nyonya Sharta Group berhasil membuat gelak tawa menggema dalam ruangan itu.


"Ehem!" Revan berdehem. Seketika suasana yang tadi hangat berubah dingin. Tak suka dengan itu, Revan sampai membuat tawa mereka terhenti total.


"Ada apa Revan?" tanya Nyonya Sharta.


"Apa perbincangannya sudah selesai?"


"Eh?" Semua terkejut.


Anak ini, apa dia ingin mempermalukan orangtuanya? Harlem sampai menggerutu kesal dalam hati.


"Revan, apa yang terjadi?"


Semua kini menatap lekat padanya. Tak terkecuali Harlem yang langsung menghunjamkan tatapan tajam nyaris membuat merinding.

__ADS_1


"Maaf, sekarang aku ada janji. Kalau sudah tidak ada yang diperlukan lagi, aku pamit undur." Ia menunduk lalu berjalan cepat menuju pintu keluar.


"Revan, kami di sini untuk membahas perihal kalian." Langkah Revan terhenti, ia menoleh pada semuanya.


Krieeet.


Pintu ruangan Presdir Harlem kembali terbuka, kejutan kali ini lebih membelalakkan mata Revan. Ya, itu karena kini Priska juga hadir, dan langsung disambut hangat oleh semuanya.


"Nah, ini dia gadis terbaiknya, cepat sayang, ajak suamimu duduk di sini. Ada yang mau kami bahas tentang kalian. Oh iya, beri salam pada Tuan Harlem dan Nyonya Harlem dulu." Gadis itu menunduk pada mereka, begitu pun Harlem dan istrinya yang langsung membalas dengan anggukan kecil.


"Mamah dan Papah, mau bahas apa?"


"Revan, cepatlah kemari, duduk bersama istrimu."


Revan masih berdiri, masih belum ingin beranjak dari sana.


Sampai kapan kalian mau tinggal di apartemen? Segeralah pindah ke Mansion yang sudah kami hadiahkan untuk kalian."


Kami? Bukankah itu pemberian ayah?


Revan memutar pandangannya pada Harlem. Pria yang kini membuang pandangan untuk menutupi kenyataan bahwa Mansion itu memanglah dari Keluarga Sharta.


Oh, jadi ternyata itu milik Sharta Group. Aneh, sebenarnya apa yang terjadi. Ayah seperti menutupi sesuatu dariku.


Revan akhirnya mengurungkan niatnya untuk pergi dari ruangan itu. Ia kembali duduk pada kursi yang sudah tak kosong lagi. Ya, ia terpaksa duduk berdempetan dengan Priska. Gadis itu tak lagi terlihat bergelayut manja seperti sebelumnya. Melainkan terlihat kagok dan grogi.


"Priska, ada apa?"


Priska menatap orangtuanya. "Ah, tidak ada apa-apa, Mah."


Sejenak Priska mengembangkan senyumnya di sana. "Ah itu perasaan Mamah saja. Aku senang kok saat ini, iya kan suamiku?" Pelan nadanya saat mengalihkan bicara pada Revan.


"Hm," sahut pria di sampingnya itu.


"Mamah pikir ada sesuatu yang buruk terjadi di antara kalian."


"Oh, tentu tidak ada, Mah."


"Baguslah. Revan, Priska, kami akan menemani kalian malam ini, berkemaslah sekarang juga. Kita semua akan menginap untuk pertama kali di Mansion milik kalian."


"Tapi, Tante."


"Eh, kok panggilannya Tante? Ini kan Mamahmu juga." Nyonya Sharta mengembangkan senyumnya. "Sudah sejak lama aku sangat menginginkan Revan menjadi menantuku, dia pemuda yang tampan juga memiliki potensi. Aku bersungguh-sungguh mengatakan ini."


"Benarkah, ah kami juga sudah sangat lama menginginkan Nona Priska menjadi menantu kami, dia gadis yang energik."


"Ha-ha-ha, Priska gadis yang manja, dia tak dapat melakukan apa-apa selain berdandan dan menghambur uang. Revan pasti kewalahan saat mengajarinya. Betul 'kan, Nak Revan." Ia melempar pertanyaan itu pada Revan.


"Eh, he-iya." Revan teratwa lirih. Lalu kembali membuang pandangan.


Sial, aku sudah berjanji akan mengajak Prilly menonton malam ini. Harus bagaimana, apa yang harus kulakukan untuk menghindari mereka?


"Baiklah, kalian pulanglah bersama terlebih dulu, nanti kami akan menyusul."

__ADS_1


Revan tak lagi banyak bicara. Ia memilih bangkit, menunduk sebentar lalu keluar tanpa mengajak Priska, sedang Priskan sendiri sudah terlihat gelabakan, bingung.


"Priska, ayo susul suamimu."


Ia mendesah pelan. "Iya, Mah. Kalau begitu, Priska pamit dulu." Semua tampak tersenyum ramah. Bergegas ia menuju pintu yang sudah kembali rapat, menyusul Revan yang lebih dulu keluar.


Revan masih terlihat oleh matanya di jarak sepuluh meter. Langkahnya sangat cepat. Priska sampai terengah-engah mengejarnya.


"Revan, tunggu." Setengah berteriak ia memanggil, tapi Revan tak menggubris. Ia tetap saja berlalu menuju parkiran mobil sport miliknya yang terparkir di area khusus VIP.


Tuut.


Tuut.


Klik.


Revan menggenggam ponsel di sela daun telinga. Menunggu yang di seberang mengangkatnya. "Ayolah, Prilly. Angkat!"


Halo? Ada apa, Tuan?


"Halo, Prilly, kamu di mana?" Nada bicara Revan terdengar resah.


Di apartemen, Tuan.


"Keluarlah dulu, tunggu aku di lobi belakang, sekarang."


Ta-tapi, kenapa, Tuan.


"Tidak perlu bertanya. Tunggu saja di sana."


Ah, baik, Tuan.


Tut


Tut.


Tut.


Revan memutus panggilan. Menyelipkan kembali ponsel itu pada saku baju. Langkahnya sangat cepat. Berlari pada gadis penurut yang mungkin kini sudah menginjakkan kaki menuju lobi. Sementara itu, Priska yang mengikutinya akhirnya memilih berhenti. Sudah berkali-kali ia bertanya, juga meminta Revan untuk melambatkan langkahnya, tapi pria itu sama sekali tak mendengarkan. Seakan Priska hanyalah pengganggu yang keberadaanya tak lebih dari serangga.


Revan, tak bisakah kamu memandangku walau untuk sejenak?


Ia terduduk lemas. Bersimbuh ke lantai, sedang kedua punggung tangan langsung menjadi alas penyanggah tubuhnya. Tersedu, air mata juga sudah berjatuhan di sana.


"Apa yang kamu lakukan di situ?"


"Eh?" Gadis itu kaget, mendongak pelan. Kini, tampak Revan berdiri di hadapan, pria itu sudah mengulur tangan untuk membantunya bangkit. "Ayo, bangun!"


Revan, jadi kamu kembali untukku?


"Ada apa denganmu, itu bukan airmata Priska yang aku kenal. Priska bukanlah gadis cengeng. Jadi, cepatlah ikut denganku, kita harus melanjutkan sandiwara ini, kau juga tak ingin membuat orangtuamu kecewa, 'kan?"


"Eh, em?" Ia manggut.

__ADS_1


Begini juga tak apa? Semakin sering kita bertemu, aku yakin semakin kuat benih-benih cinta akan tumbuh di hatimu, Revan.


__ADS_2