Rahim Untuk Tuan Muda

Rahim Untuk Tuan Muda
Eps 49


__ADS_3

Mentari sudah bergeser dari cahaya jingganya, menyongsong menuju langit gelap bertabur bintang di angkasa.


Yoona sudah tiba di kediamannya. Ia langsung membersihkan diri begitu sampai.


Sepanjang berendam di dalam bak pemandian, pikirannya terus melayang, masih terngiang perihal pertemuan tak sengaja tadi sore yang berhasil mengejutkannya.


Bagaimana bisa Jung Ah mengetahui makam istrinya. Padahal sudah kupastikan untuk menutup rapat rahasia mengenai kematian dan pemakaman Ahyoungra. Tidak mungkin Jung Ah dapat menemukan kalau bukan seseorang yang mungkin membocorkan lokasi pemakaman itu padanya. Aku harus menyelidiki hal ini. Ini berbahaya, kalau sampai Jung Ah mengetahui segalanya, aku bisa kehilangan semua yang kumiliki saat ini.


Lamunannya semakin hanyut, membawanya ke alam bawah sadar. Ia akhirnya tertidur dalam rendaman air hangat.


.


.


Priska pulang dengan perasaan kesal. Menggunakan jasa taksi online ia tiba di kediamannya.


Gadis kampung kurang ajar, beraninya dia membohongiku, awas saja, aku akan memberi perhitungan padanya.


Suasana kepanikan tergambar di sana. Para pengawal yang bertugas menjaga Priska tampak kelimpungan. Namun, begitu mendapati Priska berada di halaman istana, mendadak semua terlihat lega.


"Nona, anda ke mana saja, mengapa kabur melalui jendela?"


"Mau bagaimana lagi, sudah kukatakan aku punya urusan. Tapi kalian terus saja menghalangiku!"


"Nona, apa anda tahu, karena sikap Nona yang berusaha kabur, kami semua kena omel oleh tuan besar."


"Itu kan urusan kalian, jika tak suka kalian bisa mencari pekerjaan lain, bukan?"


Sikap Nona muda benar-benar keterlaluan. Seperti tak punya hati nurani saja. Benar-benar sombong.


Salah seorang pengawal yang dipercaya untuk memimpin itu berusaha menerangkan, tapi tampaknya Priska acuh oleh nasehat darinya.


Baiklah, mulai sekarang, kami juga tak akan memberi kelonggaran pada Nona!


"Nona, anda harus ikut kami menghadap tuan besar sekarang!" Ia mulai menggenggam erat lengan Priska.


"Apa-apaan ini, beraninya kau menyentuhku, lepaskan!"


"Tidak, Nona. Maaf, saya hanya menjalankan perintah."


"Apa kau bilang. Lepaskan!" Priska masih mencoba berontak. "Kau ...." Ia menunjuk pria pengawal itu dengan tangan sebelah. "Tunggu saja, kelak aku akan membuat pergitungan padamu."

__ADS_1


Pengawal tadi tak menggubrisnya. Hanya menyeret paksa dengan menggenggam pergelangan Priska. Membawanya ke ruang tengah aula utama.


Nampak Sharta duduk di atas sofa empuk di sana. Ia memangku satu kaki di atas kaki sebelahnya. Sementara tangannya berpangku pada pinggiran sofa.


"Tuan, Nona sudah kembali." Pengawal itu menghadap Sharta, lebih tepatnya melapor."


"Papah, katakan padanya untuk melepas tanganku. Kau .. lihat saja, papah akan memberi ganjaran padamu karena berani menyakitiku."


Sharta terlihat diam dan tenang di atas kursi empuk itu.


"Pah, cepatlah katakan pada pengawal ini untuk melepas tanganku."


"Kurung dia di dalam kamarnya. Dia sudah melakukan 2 kesalahan."


Deg.


"Apa??"


Priska melotot. Ia tak percaya, ayahnya tak membela, sebaliknya Sharta justru meminta pengawal itu mengurung Priska di kamarnya.


"Ayo, cepat ikut saya."


"Ta-tapi, Papah! Kenapa Papah tega melakukan hal ini padaku. Aku ini putrimu, Pah."


"Apa? Sialan. Lepaskan aku. Papaaah!" Teriakan keras itu berakhir saat pengawal tadi berhasil mengisolasinya di dalam kamar. Walau bagaimana Priska berteriak, sudah tak ada lagi suara yang terdengar. Dinding tembok di sana membuat semua ruangan menjadi kedap suara saat pintu tertutup rapat.


Priska berteriak berkali-kali, meminta agar ia tidak dikurung. Ini adalah kali pertama Priska mendapat hukuman dari ayahnya. Ia benar-benar terkejut. Gadis itu terbiasa dengan kehidupan bebas,  bahkan saking bebasnya, dia sampai lupa bagaimana cara beradap dengan orangtua. Sikap tak sopannya membuat Sharta memilih untuk menghukumnya, berharap dengan begitu, Priska dapat belajar arti menghormati dan menghargai orangtua.


Bukan hanya Priska yang merengek, Nyonya Sharta yang mengetahui Sharta mengurung putrinya tak sampai hati. Ia juga sampai puluhan kali membujuk agar Sharta menghentikan hukuman pada putrinya. Tapi Pemimpin perusahahaan besar itu adalah pria yang memegang teguh pendiriannya. Ia tak berkelok, meski airmata turut serta menemani Yoona meminta Sharta menghentikan hukuman pada putrinya.


Hingga tengah malam, barulah Sharta mengizinkan Yoona masuk untuk melihat keadaan putri mereka itu.


"Ingatlah. Jangan coba-coba mengizinkannya keluar. Aku hanya memberimu kesempatan untuk bicara padanya. Selain pemberian makan, dia tak boleh mendapatkan yang lainnya."


Yoona menatap lekat penuh dendam pada Sharta, tapi pria atletis itu tak peduli.


Begitu sang pengawal memberinya kesempatan untuk bertemu Priska, Yoona langsung menghambur ke dalam, memeluk putrinya yang terlihat menangis di depan matras.


"Sayang, kamu baik-baik saja?" Priska membalas pelukan pada ibunya.


"Mah, katakan pada Papah untuk berhenti menghukumku, memangnya seberapa besar salahku, aku hanya ingin keluar, tapi pengawal itu tak memberi jalan, aku terpaksa keluar melalui jendela. Apa menurut Mamah hal itu adalah kesalahan besar?" Ia sesenggukan.

__ADS_1


Yoona tahu pasti. Itu bukan alasan utama Sharta mengurungnya, lebih tepatnya karena Prika suka membantah, terlebih terakhir kali kedok pura-pura amnesia Priska terbongkar. Itulah alasan kuat Sharta menghukumnya.


"Iya, Sayang. Anak Mamah tak pernah salah." Bukan menjelaskan, Yoona justru semakin membela putrinya. Ia tak ingin melihat putrinya semakin terluka jika menyalahkannya.


.


.


Keinginan Prilly untuk menikmati pemandangan para manusia yang bermain ica skating akhirnya terwujud. Ia terlihat amat bahagia. Tak percaya akhirnya untuk pertama kali di musim dingin, ia menikmati liburan seperti saat ini.


Jika diingat, setiap musim dingin sebelumnya, Prilly selalu menghabiskan waktunya di pasar ikan. Di saat yang lain sibuk berbelanja untuk mengadakan pesta kecil di rumah, Prilly justru sibuk bekerja mencari peruntungan di saat-saat pasar mengalami peningkatan. Karena itu adalah peluang besar untuk mengumpulkan receh sebanyak-banyaknya.


Ya, dulu ia hanya sibuk mencari nafkah untuk dapat melanjutkan hidup, dapat makan nasi dengan sup ikan di musim dingin saja sudah seperti anugerah besar baginya saat itu. Kini ia merasa amat beruntung, bertemu Revan ternyata adalah satu buah anugerah yang tiada terkira.


Prilly menengadah, merasakan sejuknya kristal-kristal salju berjatuhan di wajahnya. Bayangan kelam bersama ibu terngiang, hanya saja, kini ia sudah tak dapat memindai wajah malaikat tak bersayap itu.


Ibu .. di manapun ibu berada saat ini, kuharap ibu bahagia.


Sementara itu, Revan terlihat lihay bermain ice skating di seputarannya. Berkali-kali datang dan pergi mengitari Prilly. Membuat gadis yang tengah hamil muda itu tertawa riang. Walau kini, Prilly memilih mengingat memory masalalunya.


"Kau suka?" Bisik Revan di telinga Prilly, membuat lamunan gadis itu lenyap seketika. Ada rasa hangat yang langsung meresap. Ya, Revan merangkulnya. Sambil tersenyum, pria tinggi dan tampan itu sesekali ikut menengok ke langit.


"Ya, Tuan. Aku sangat suka."


Revan menatapnya untuk waktu yang lama, membuat Prilly sedikit canggung.


"Aku mencintaimu, Prilly. Sangat mencintaimu."


Dag. Dug.


Dag. Dug.


Seketika debaran di dada berdegub kencang, mengalahkan kencangnya terpaan angin yang membelai mereka.


Ini adalah kali pertama Revan mengungkapkan perasaannya. Setelah sebelumnya ia hanya mengatakan menyukainya. Prilly terdiam, bola matanya berkedip beberapa kali.


"Aku juga mencintaimu, Tuan."


Dag. Dug


Dag. Dug.

__ADS_1


Jantung Revan terpompa otomatis. Ingin rasanya Revan melum*t bibir Prilly saat itu juga andai mereka tidak berada di tempat umum, tapi pada akhirnya, Revan hanya bisa menahan nafsu membaranya di dalam lubuk terdalam.


Satu dulu ya, kita cicil crazy up-nya 😄👍🏻


__ADS_2