Rahim Untuk Tuan Muda

Rahim Untuk Tuan Muda
Eps 37


__ADS_3

Flashback 23 tahun silam ....


Sharta dan istrinya yang bernama Yoona sudah menjalani pernikah selama tiga tahun, hidup sebagai orang berada tak lantas membuat mereka bahagia sebab hingga saat itu belum kunjung diberi keturunan. Berbagai cara sudah mereka lakukan untuk mendapatkan buah hati, tapi semua yang mereka lakukan tak kunjung membuahkan hasil.


Suatu sore, hujan mengguyur kota seoul. Awan tebal menutupi langit hingga hanya menyisakan sedikit cahaya. Saat itu seorang wanita tampak berlari menuju halte di pinggir jalan. Ia tak menggunakan payung hingga tubuhnya basah kuyup.


Wanita itu langsung merapat di antara barisan manusia yang memadati halte, salah satu penghuni yang terpaksa berteduh di sana ialah Yoona, wanita yang kini memiliki anak sematawayang bernama Priska.


Ia terlihat menggigil. Yoona mengedarkan pandangan, tak ada satupun yang tampak peduli padanya, ia iba hingga melepas kardigan miliknya dan menautkannya pada bahu wanita itu, membuatnya terkejut, seketika senyum mengembang ia lemparkan pada Yoona yang sama sekali tak terlihat tanda-tanda keturunan dari kalangan bawah.


"Anda pasti orang kaya, bagaimana bisa anda terjebak di halte ini?"


"Ahh, sebenarnya aku sedang menunggu suamiku di seberang jalan saat tiba-tiba hujan. Aku terpaksa berlari ke sini untuk berteduh," ujarnya.


"Ah, saya jadi tak enak mengenakan kardigan mahal milik Nona."


"Tidak perlu sungkan begitu, anda basah kuyup, pasti sekarang kedinginan. Pakai saja."


"Terimakasih atas kemurahan hatinya."


Obrolan singkat itu berakhir saat ponsel dalam saku wanita tadi berdering. Ia menunduk pelan pada Yoona, memberi hormat karena ingin memutus percakapan.


Wanita yang tak lain ialah Ahyoungra, ibu dari Prilly itu tampak menjauh sedikit, agar bisa leluasa mengangkat telepon.


Klik.


"Halo."


Walau berjarak satu meter, percakapan dari dalam telepon itu masih bisa terdengar. Ada suara pria yang memaki kasar dari seberang sana. Cukup panjang makian itu berlangsung hingga Ahyoungra memutuskan untuk mengakhirinya. Ia terduduk lemas di sana usai menerima telepon. Pelan Yoona menghampirinya.


"Nona, apa yang terjadi?" Ahyoungra menoleh, mata merah berbalut buliran kristal memenuhi pelupuk matanya langsung menyambut Yoona.


"Ehh?" Ia terkejut mendapati itu.


Rinai mulai teduh, hanya menyisakan rintik-rintik saja. Satu-persatu para penghuni halte mulai bertebaran, menjauh dari area sesak itu, hanya menyisakan Yoona dan Ahyoungra di sana.


Yoona belum beranjak karena masih menunggu jemputan, sementara Ahyoungra tak berpindah karena ia tak punya nyali untuk kembali ke rumah.


Mereka duduk bersebelahan, Ahyoungra mulai menceritakan sedikit demi sedikit permasalahan yang terjadi dalam rumahtangganya. Baru saja ia menerima telepon dari seorang rentenir penagih hutang, saat itu suami juga tak ada di rumah, dan hanya Ahyoungra yang memiliki telepon genggam, hingga ia menjadi imbas amukan kekesalan para rentenir.


"Aku sudah tak memiliki apa-apa, penghasilan suami hanya cukup untuk makan sehari-hari, kami tak sanggup melunasi hutang itu." Ia berkata pelan diimbuhi deraian airmata. Yoona hanya bisa menepuk pundaknya. "Nona, kau adalah orang kaya, apa kalian hidup dengan penuh kebahagiaan, kalian pasti tak pernah merasakan penderitaan seperti kami."


Yoona terdiam. "Tidak begitu juga. Aku memang orang berada, tapi kehidupanku juga hampa."


"Maksud Nona?" Ahyoungra mengernyit. Ia bingung, padahal dari segi materi tidak ada yang kurang, bagaimana bisa masih belum bahagia.


"Sudah 3 tahun kami menikah, tapi masih belum dikaruniai buah hati."


Deg.


"Aku turut prihatin atas masalah yang kini Nona hadapi."


Keduanya hening. Hanyut dalam lamunan masing-masing. Hingga terbesit sebuah ide dalam isi kepala Yoona.

__ADS_1


"Kau sudah punya anak?"


"Belum. Aku dan suami memutuskan untuk memakai pengaman, kami tidak ingin menyegerakan hal itu."


"Kenapa?"


"Karena kami takut jika kelak tak sanggup membiayai hidupnya. Sedang untuk makan, kami sendiri sudah kesusahan. Kami takut kehadiran buah hati akan semakin mempersulit keadaan."


Yoona terdiam sesaat. Sebuah ide gila meluncur di kepalanya, tapi ia ragu untuk mengutarakan.


"Siapa nama anda?"


"Saya, Ahyoungra."


"Ahyoungra?"


"Ya!"


"Maukah jika aku membantumu keluar dari masalah kalian?"


Deg.


Pernyataan itu nyaris membuat bola mata Ahyoungra berbinar.


"Nona serius?"


"Tentu saja."


"Bagaimana caranya?" Dengan perasaan menggebu ia bertanya.


Deg.


"Anak untuk Nona?"


"Ya, tapi anak itu harus dari benih suamiku."


Dag. Dug.


Dag. Dug.


"Tenang saja, soal hutangmu, aku akan melunasi semua, bahkan aku juga akan memberi hadiah lain, hadiah apa saja yang Nona mau akan aku berikan, asal Nona berhasil melahirkan anak dari suami saya."


Dag. Dug.


Dag. Dug.


"Bagaimana, apa Nona bersedia? Harusnya ini menjadi kesepakan yang baik, bukan? Anda sedang terhimpit ekonomi, sedangkan aku sedang dilanda kesusahan mendapatkan keturunan. Jadi, kuharap Nona setuju dengan tawaranku."


Ahyoungra masih terdiam dengan mata menyalak, menatap rintik di atas genangan air yang terbendung akibat hujan.


"Ini!" Yoona menyerahkan satu buah kartu nama yang tertera sebagai istri dari Presdri Sharta Group. Membuat mata Ahyoungra terbelalak saja.


Jadi ... wanita kaya ini adalah istri dari Presdir Sharta? Lalu, itu artinya benih yang ia minta untuk di tanam dalam rahimku adalah benih dari Presdir Sharta?

__ADS_1


Deg.


Bip. Bip.


Suara klakson mobil klasik era 90an berhasil mencuri pandangan Ahyoungra. Seorang pengawal turun dari sana, membukakan pintu untuk Yoona.


"Maaf sudah membuat Nona Muda menunggu," ujarnya.


"Tidak masalah."


Seketika pandangan Ahyoungra beralih pada wanita itu. Wanita yang menatap lekat padanya. "Hubungi aku jika Nona sudah setuju." Ia kemudian masuk ke dalam mobil yang pintunya sudah di buka lebar oleh seorang pengawal. Lamat Ahyoungra menatap ke arah sana, hingga pemandangan itu berlalu dari hadapan, ia terduduk lemas. Pikirannya langsung kosong, entah jalan terbaik apa yang akan ia pilih ke depannya. Haruskah mengorbankan hargadiri demi mencukupi kebutuhan, atau bertahan dengan nasib nahas karena harus terus menghindar dari kejaran kaum rentenir.


1996, menjadi hari pilu sedunia bagi Ahyoungra, hari di mana ia harus menyerahkan mahkota untuk seorang Presdir yang membutuhkan keturunan.


Ia meringis di dalam kamar mewah paska melayani pria yang bukan suaminya itu. Ia sendiri bahkan tak berani menceritakan perihal kesepakatan itu pada suaminya Jung Ah.


Jung Ah, Pria yang kini dipanggil dengan sebutan ayah oleh Prilly, gadis yang ia yakini bukan darah dagingnya itu, dan memang itulah kenyataannya.


5 bulan berlalu. Kehidupan Ahyoungra sudah membaik. Tak ada lagi serentetan kwitansi hutang dalam dompet, rentenir yang datang menagih hutang pada mereka bahkan tak lagi terlihat. Ditambah, setiap usai bekerja, Ahyoungra selalu berhasil membawa pulang puluhan makanan lezat untuk ia santap bersama suaminya Jung Ah.


Seringkali Jung Ah bertanya perihal pekerjaan istrinya, penasaran kerjaan apa yang digeluti istrinya itu hingga mampu menghasilkan uang banyak setiap kali kembali ke rumah. Namun, Ahyoungra selalu saja memberi jawaban yang tak memuaskan. Hingga timbul dalam benak Jung Ah bahwa mungkin saja Ahyoungra  bekerja sebagai wanita malam.


Terlebih, karena kini kandungan dalam rahim Ahyoungra semakin membesar, semakin menambah kuat pula pikirannya tentang pekerjaan yang digeluti istrinya. Pertengkaran pun mulai terjadi. Hampir setiap malam pasangan suami istri itu berdebat.


Jung Ah yakin tak pernah sekalipun meninggalkan benih dalam rahim istrinya karena itulah ia yakin bahwa anak yang kini berada dalam kandungan Ahyoungra adalah hasil hubungan gelap. 


Mereka memang telah membuat kesepakatan untuk tidak memiliki buah hati secepatnya. Karena hanya akan menambah beban.


Sementara itu, tepat 6 bulan kehamilan Ahyoungra, Yoona mulai memiliki tanda-tanda kehamilan. Tentu saja hal itu disambut riang oleh pihak Sharta Group. Tapi tidak dengan suaminya yang kini mulai melirik Ahyoungra. Kasih sayang dan perhatian pun mulai teralihkan. Yoona istri yang sesungguhnya mulai kehilangan arti kehangatan seorang suami.


Sampai ...


1997, tepat saat Ahyoungra melahirkan seorang gadis cantik yang diberi nama Prilly oleh Yoona yang menjadi istri Sharta itu.


Yoona yang sedang mengandung bayi dengan usia 3 bulan itu sudah tak lagi membutuhkan Ahyoungra. Ia berniat menjauhkan wanita dan anak yang tak berhak menyandang marga suaminya itu, karena semakin hari Sharta semakin mengabaikannya. Bahkan saat dilanda morning sickness pun ia tak mendapat perhatian lebih. Perhatian Sharta teralihkan sepenuhnya pada Ahyoungra dan bayi cantik yang diberi nama Prilly itu. Sampai saat Yoona melahirkan tiba, Sharta bahkan tak mendampinginya di sana, membuat kebencian Yoona pada Ahyoungra semakin menguat. Dan itulah awal mula Yoona tak lagi menyukai Ahyoungra.


2003, tepat saat 2 saudara itu berumur 7 tahun. Sebuah keputusan dari Sharta menggemparkan Yoona, saat suaminya Sharta memutuskan untuk memberikan hak waris tunggal kekayaan Sharta Group pada anak yang bukan dari darah daging Yoona. Melainkan anak dari buah kesepakatan dengan wanita miskin.


Tentu saja hal itu tak dapat diterima oleh akal sehatnya. Bagaimana tidak, mereka yang bahkan memiliki anak dari darah keturunan mereka sendiri tidak dipandang oleh suaminya, tapi Sharta justru menulis wasiat pewaris tunggal untuk anak diluar hubungan mereka.


Hal itu membuat Yoona sangat membenci Ahyoungra. Bagai pepatah kacang lupa kulit, Yoona menganggap Ahyoungra adalah wanita yang tak tahu berterimakasih. Ia sudah memberi segalanya, tapi justru pengkhianatan yang ia terima.


Akhirnya, pada suatu malam yang suram, Yoona memutuskan untuk mengirim pembunuh bayaran untuk menghabisi nyawa Ahyoungra beserta suaminya Jung Ah dan Prilly anak dari Sharta. Ahyoungra yang saat itu mencium bau niat jahat Yoona memutuskan untuk meninggalkan buah hati, menitipkannya pada suami. Ia juga meninggalkan beberapa pesan dalam secarik kertas.


Suamiku. Maafkan aku karena selama ini telah banyak membohongimu. Mulai hari ini aku akan pergi, aku titipkn Prilly padamu. Dan maaf karena kau dan Prilly juga harus meninggalkan rumah itu. Saat ini aku tengah dikejar pembunuh bayaran. Pergilah. Bawalah anak kita.


Pergilah ke kota yang jauh dari seoul. Kelak jika Prilly besar kembalilah ke Seoul. Berilah nama Sharta untuk marga Prilly. Juga carilah tempat tinggal yang kiranya memiliki sangkut-paut dengan kelaurga Sharta. Anak ini, kelak akan menemukan takdirnya di sana.


Bagai disambar geledek, Jung Ah terkejut dengan pesan itu. Ia tak percaya kalau semua kebahagiaan yang berusaha mereka gapai kini berakhir dengan perpisahan.


Sejak saat itu ia memutuskan untuk pergi ke suatu kota, membesarkan Prilly seorang diri, tapi lambat laun, perasaan sedihnya semakin berubah seiring rasa sepi yang semakin merayapi hidup. Jauh dari istri tercinta, bahkan tak tahu kapan akan bertemu lagi, membuat Jung Ah menjadi pria pemabuk, penjudi, hingga beralih profesi menjadi copet.


Terakhir pada tahun 2018 ia mengalami stroke yang mengakibatkan ia tak dapat melakukan aktifitas apapun.

__ADS_1


Ia berakhir menjadi pria terlemah yang hanya bisa mencerocok sepanjang hari, menuntut Prilly untuk mengurusnya juga makannya. Ia merasa pengorbanan yang ia lakukan untuk anak yang ia yakini bukan anakknya cukup besar, sehingga menuntut gadis itu untuk membalas budi padanya.


bersambung ....


__ADS_2