
Banyak yang bilang bahwa hujan selalu memiliki kenangan, itu juga yang selalu Sofi rasakan. Kenangan manis kenangan pahit datang silih berganti bersamaan dengan turunnya hujan. Air yang turun membasahi bumi adalah sebuah anugrah Tuhan namun juga mengisahkan hati yang luka dan kesedihan yang mendalam. Percayalah bahwa saat hujan akan ada Guntur untuk Sofi...
Hujan turun sangat deras malam ini. Jalanan Jakarta menjadi macet karena air tergenang dimana-mana. Perasaan Sofi khawatir dia dan kakaknya baru mendapatkan telepon dari rumah sakit yang mengabarkan bahwa kedua orangtuanya mengalami pengeroyokan di jalan. Di dalam taksi yang mereka tumpangi Sofi terus berdoa agar orang tuanya tidak apa-apa.
"Pak bisa cepat tidak?" Sofi tidak bisa menyembunyikan rasa cemasnya. Dia ingin segera sampai dan mengetahui kondisi kedua orangtuanya.
"Iya mbak ini saya juga berusaha, jalanan tergenang jadi macet." Supir taksi itu menoleh memberi penjelasan.
Sofi menghela napas berat, dipandanginya jalanan di luar penuh mobil yang berebut jalan sambil meneriakkan klakson bergantian. Sofi melirik Tasya kakaknya yang juga terlihat cemas.
DUARR!! suara gelegar guntur menggema.
"Berdoalah Sof semoga mereka baik-baik saja" Kak Tasya mengusap punggung tangannya. "dan mereka akan baik-baik saja" Tasya mencoba memberi kekuatan pada adiknya.
Kenapa hari ini harus hujan? Hujan ini membuatnya terjebak dalam perasaan cemas takut dan khawatir.
**********
__ADS_1
Sofi dan kakaknya berlarian di lorong rumah sakit, mereka baru saja sampai setelah terjebak cukup lama di jalan. Mereka tidak peduli basah kuyup setelah berlarian dari taksi ke dalam rumah sakit. Mereka juga tidak peduli kalau lantainya akan menjadi kotor.
"Sus ruang gawat darurat di sebelah mana?" Kak Tasya bertanya di bagian informasi.
"Dari sini belok di sebelah kanan setelah ruang pemeriksaan." Suster menjelaskan dengan singkat.
Sofi langsung berlari meninggalkan kakaknya menuju ruang gawat darurat. Kakaknya berlari menyusul di belakangnya. Seorang dokter dan perawat berdiri di depan pintu ruang UGD, Sofi segera menghampiri keduanya.
"Dokter bagaimana keadaan orang tua saya? Mereka baik-baik saja kan?" Sofi bertanya dengan panik.
"Iya dok kami anaknya." Kak Tasya yang menyusul dibelakang bergabung dengan mereka.
"Bagaimana keadaan orang tua saya dok?" Sofi bertanya lagi tidak sabar.
Dokter itu menoleh pada suster di sampingnya. Ada makna yang tersampaikan dari ekspresi keduanya. Sebelum akhirnya menatap Sofi dan kakaknya bergantian. Dokter itu menunduk dalam sebelum melemparkan bom itu pada mereka.
"Maafkan kami, kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Kedua orangtua kalian sudah meninggal."
__ADS_1
Oksigen seakan lenyap dari sekitarnya. Sofi diam membeku tidak sanggup mengatakan apa-apa. Air matanya jatuh tanpa dia sadari.
Kak Tasya bersuara dengan bergetar. "Tidak mungkin."
"Saat mereka di bawa kesini mereka terluka parahdan kehilangan banyak darah. Maafkan kami." Dokter itu menunduk dalam sebelum meninggalkan keduanya.
Sofi jatuh ke lantai, kak Tasya memeluknya erat. Tangis keduanya pecah.
"Kak ini nggak mungkinkan?" kak Tasya hanya diam semakin mengeratkan pelukannya. "Dokter pasti bohong." kakaknya hanya diam tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Dia juga sama terlukanya.
"Kita terlambat mereka sudah pergi."
Mereka menangis bersama dalam kesedihan yang pilu. Mereka kehilangan kedua orangtuanya dan kini hanya tinggal mereka berdua.
Tak jauh dari tempat itu seseorang memperhatikan dalam diam. Dialah yang membawa kedua orangtuanya ke rumah sakit. Seseorang yang menjadi saksi.
Aku akan menjagamu aku janji. Bisiknya.
__ADS_1