Rain Memories

Rain Memories
Berubah


__ADS_3

Siang ini Sofi duduk di depan kelas Guntur, sebentar lagi jam istirahat dia harus bicara padanya karena dua hari ini dia tidak masuk sekolah dan tidak bisa dihubungi. Hari terakhir ketemu mereka masih baik-baik saja.


Bel pun berbunyi yang ditunggunya keluar kelas paling akhir dan tampak terkejut dengan kehadiran Sofi di depan kelasnya.


“Guntur kamu kenapa? Ada masalah?” Sofi bertanya pada Guntur yang akhir-akhir ini sikapnya jadi aneh padanya.


“Nggak kok.” Jawabnya datar saja, seperti dulu. Bahkan ia tak menatap Sofi dan berlalu pergi begitu saja.


Sofi terkejut dengan reaksi Guntur ini, ia mengikuti berjalan dibelakangnya mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Guntur yang merasa diikuti pun menyadari jika Sofi di belakangnya, ia berbalik dan membentak Sofi dengan kesal.


“Kamu apa-apaan sih?”


Sofi terkejut dengan sikap Guntur. Dia berhenti berjalan dan menatap Guntur dengan terluka, Sofi tidak pernah di perlakukan Guntur begini apalagi dia membentaknya di hadapan tatapan teman sekolahnya. Sofi mencoba menahan tangisnya. Evan datang mendekatinya berusaha menolong Sofi jika sesuatu terjadi padanya.


“Kamu kenapa?” Evan bertanya padanya. Lalu menatap Guntur yang mulai berjalan menjauh.


Sofi hanya terdiam. Ada sesuatu yang terjadi. Guntur menghentikan langkahnya ia menoleh ke arah Sofi, ditatapnya ia dan Evan bergantian. Ada ekspresi terluka yang tampak di wajahnya.


“Aku nggak papa kak.” Sahutnya meninggalkan Evan yang termangu.


Aku akan mencari tahu! Sofi berjanji.


*****


Malam ini Sofi tidak bisa tidur matanya terasa perih dan bengkak, sejak tadi siang dia terus menangis gara-gara ulah Guntur tadi disekolah. Sofi tak habis pikir apa yang sebenarnya terjadi, ia menatap ponselnya waktu menunjukkan pukul sebelas malam dan matanya belum mau terpejam sama sekali. Tak ada pesan tak panggilan dari Guntur, yang ada pesan dari Noni dan Evan yang terus menanyakan keadaannya.


Tak inginkah Guntur meminta maaf padanya dan menjelaskan apa yang terjadi?


Matanya mulai terpejam saat sebuah telepon berdering membangunkannya. Dilihat layar ponselnya, Guntur. Matanya langsung terbuka lebar dan buru-buru mengangkatnya.

__ADS_1


“Halo." Sofi berusaha bersikap wajar.


“Halo." ini bukan suara Guntur, ini suara Ardi.


“Ardi??”


“Sof, Guntur kecelakaan." suara diseberang sana membuat Sofi lemas.


“Astaga……,” Sofi membekap mulutnya terkejut.


Segera ia bergegas menuju rumah sakit setelah Ardi menyebutkan sebuah nama rumah sakit. Tak ingin membangunkan kakaknya, Sofi memilih menuliskan pesan ke nomor kak Tasya. Tidak peduli ini sudah malam. Ia berusaha agar secepat mungkin dapat sampai dirumah sakit meski hujan kini akan menemaninya lagi.


*******


Sofi berlarian di lorong rumah sakit, ini adalah kali kedua ia melakukannya. Namun kali ini ia berharap bahwa orang yang tengah berada disini tidak apa-apa. Meskipun saat di jalan tadi Ardi mengatakan bahwa Guntur terluka parah. Ia terus berdoa pada Tuhan agar ia menyelamatkan orang yang disayanginya. Ia tak ingi kehilangan untuk yang kedua kalinya.


Dari jauh Sofi dapat melihat Ardi dan teman-teman Guntur yang lain tengah menunggu di depan ruang Gawat Darurat. Segera Sofi bergegas menghampiri mereka.


Ardi menggeleng. “Belum tau dokter masih di dalam.”


“Kenapa ini bisa terjadi?”


“Biasa kita balapan di jalan, tapi Guntur kayaknya nggak fokus jadi ia kehilangan kendali.” Hati Sofi tertohok ini pasti karena pertengkaran dengannya.


“Kenapa lagi berantem ya?” tanya Ardi yang bisa menebak alasan apa yang terjadi pada Guntur.


Sofi hanya menganggukkan kepalanya.


“Guntur emang kayak gitu orangnya sabar aja.”

__ADS_1


Sofi mengedarkan pandangan ke sekelilingnya tidak terlihat orang tua Guntur. Apakah mereka belum diberi tahu. “Ardi kamu udah hubungi orang tua Guntur belum?”


“Aku tadi udah telepon ayahnya, tapi dia lagi di luar kota besok baru sampai.”


“Kalau ibunya?”


Ardi menatapnya heran. “Kamu nggak tahu ya?”


“Apa?” Sofi bingung.


“Ibunya sudah meninggal 3 tahun yang lalu, bunuh diri.”


“Bunuh diri?” lidah Sofi rasanya kelu, hatinya pun terasa sakit.


“Overdosis obat tidur. Katanya dia tertekan gitu, depresi”. Sofi ingat kata-kata Evan “anak haram”


Belum sempat Sofi menanyakan pertanyaan lagi, pintu ruang gawat darurat itu terbuka. Seorang dokter keluar.


“Bagaimana keadaannya dok?” Sofi menghampirinya. Perasaannya cemas dan takut. Ia berharap ada kabar baik untuknya.


“Dia baik-baik saja meski kehilangan banyak darah dan terluka cukup serius tapi syukurlah ia mampu bertahan dan melewati masa-masa kritisnya.”


Kelegaan luar biasa mereka rasakan.


“Boleh kami menjenguk dokter?” tanya Sofi tidak sabar.


“Boleh kalian bisa menjengukkan di ruang perawatan, kami akan memindahkannya kesana. Saya permisi dulu.”


“Terima kasih dok." Hati Sofi begitu lega, meskipun Guntur terluka setidaknya dia tidak kehilangannya.

__ADS_1


Kali ini Tuhan mendengarkan doanya.


******


__ADS_2