Rain Memories

Rain Memories
Perpisahan


__ADS_3

Sofi masih menangis saat sampai dirumahnya, bajunya pun basah kuyup.


Kak Tasya yang melihatnya pun terkejut dan menghampiri. “Ya ampun Sof, kamu kenapa hujan-hujanan begini?”


Ia langsung memeluk kakaknya dan menangis sejadi-jadinya. Kakaknya yang tidak tahu apa-apa hanya bisa membalas pelukannya berusaha menenangkannya.


Semalaman Sofi tidak bisa tidur ia terus merasa sedih akan apa yang terjadi padanya. Guntur berulang kali mencoba menghubunginya tapi ia enggan berhubungan lagi dengannya, ia memilih mematikan ponselnya.


Keesokkan harinya, Sofi tidak berangkat sekolah. Dia sakit tubuhnya demam, bukan hanya tubuhnya yang sakit tapi hatinya juga. Kak Tasya berulang kali bertanya padanya apa yang terjadi tapi Sofi memilih diam. Ia harus menenangkan dirinya dulu sebelum mengatakan semuanya pada kakaknya.


Siang ini Noni, Mita dan Evan datang kerumahnya. Mereka khawatir karena Sofi tidak masuk sekolah dan tidak bisa di hubungi. Sofi hanya mengatakan bahwa ia sakit dan sedang butuh istirahat.


Saat Noni dan Mita berpamitan pulang, Evan memilih untuk tetap berada disini menemaninya. Sofi benar-benar ingin sendiri tapi ia juga merasa tidak enak jika harus meminta Evan untuk pulang.


“Aku tahu kenapa kamu sakit begini?” Evan berbicara setelah kedua teman Sofi pergi.


Sofi menatap Evan tanpa kata. Apa yang Evan tahu?


“Kemarin aku lihat kamu pulang hujan-hujanan sambil menangis. Aku tahu ini semua karena Guntur. Aku udah bilang kan kalau Guntur itu nggak baik buat kamu. Dia nggak pantas buat dapatin kamu. Cuma aku yang bisa Sof." Evan mengenggam tangan Sofi.


Sofi merasa tidak nyaman dengan situasi ini, ia segera menarik tangannya. Ia tidak mau membahas masalahnya sekarang.


“Maaf kak aku mau istirahat.”


Evan terlihat kecewa. Dan akhirnya berpamitan pulang.


********


Sofi masih berdiam di kamarnya, sore ini dia berencana menceritakan masalahnya dengan kakaknya. Meskipun merasa belum siap, ia harus menceritakan semuanya karena tidak sanggup menyimpan semua ini sendiri. Kakaknya masuk ke kamar sambil membawa nampan berisi makanan.

__ADS_1


“Kak aku mau cerita sesuatu sama kakak,” Sofi membuka mulutnya saat kakaknya meletakkan nampan itu di meja sebelah tempat tidurnya.


“Akhirnya.. kamu mau cerita.” Kakanya duduk di tepi tempat tidurnya. Sofi mengeluarkan kalung ibunya yang disimpannya. Kakaknya terkejut. Ia mengambil kalung itu dari tangan Sofi.


“Bukankah ini kalung ibu yang hilang?” kak Tasya menatapnya penuh tanya. “kok ada di kamu. Kamu nemu dimana?”


Belum sempat Sofi menjawab pertanyaannya. Mereka mendengar suara bel rumah mereka berbunyi. Ada tamu.


“Sebentar ada tamu, nanti kita bicara lagi.” Kakaknya bergegas membukakan pintu. Mungkinkah Guntur?


Beberapa saat kemudian kakaknya kembali masuk ke kamarnya, Sofi sudah berantisipasi ia akan menolak bertemu dengan Guntur.


“Sof ada Om Danu diluar dia mau ketemu sama kamu.”


Ternyata bukan Guntur. Sofi mengangkat alisnya heran. Kenapa om Danu ingin bertemu dengannya. Sofi bangun dari tempat tidur dan melangkahkan kakinya menuju ruang tamu.


“Selamat sore om." sapa Sofi saat bertemu di ruang tamu.


“Ada apa om? Tumben kok mencari saya." tanya Sofi jujur, dia memang bingung dengan kehadiran om Danu di rumah nya.


Om danu menatapnya sesaat. “Ini soal Guntur.”


“Guntur??” Sofi terkejut. “Apa om Danu mengenal Guntur?” Sofi balik bertanya.


“Ya, Guntur anak Om sama seperti Evan dan Winda.”


Ya Tuhan. Sofi membekap mulutnya. Ini adalah berita yang sangat luar biasa yang tidak pernah disangkanya. Jadi Guntur dan Evan? Itukah sebabnya Evan membenci Guntur dan seolah tahu tentang dirinya.


“Jadi??. . ..” Sofi tidak bisa melanjutkan kalimatnya.

__ADS_1


“Ceritanya panjang.”


“Saya sudah tahu om.” Sofi menatap hampa.


Om Danu menatapnya heran.


“Mbak sudah ceritakan semuanya.” lanjut Sofi.


Om Danu menggangguk paham. “Begitulah kehidupan kami.”


Sofi mengangguk mengerti.


“Saya akan langsung saja, saya terkejut melihat kamu kemarin di rumah Guntur. Saya tidak tahu kalau kalian juga saling mengenal. Dan bahkan hubungan kalian sangat.... dekat." Om Danu berbicara hati-hati.


“Saya sudah tahu hubungan kalian, juga Evan dan Farah. Guntur sudah menceritakan semuanya sama om. Termasuk soal pengeroyokkan kedua orang tuamu juga.” Hati Sofi perih mendengarnya. "Sebenarnya Guntur berniat datang kemari untuk menemuimu, tapi om melarangnya. Kalian sama-sama butuh waktu untuk memahami semua. Om minta maaf atas nama Guntur dan Evan jika mereka sudah membuatmu merasa sedih dan terluka. Om tidak menyangka jika hubungan kalian rumit seperti ini.”


Sofi menangis ia tidak sanggup menahan air matanya. “Om merasa sudah gagal menjadi orang tua, om tidak bisa memahami anak-anak om sendiri terutama Guntur. Dia jatuh terlalu dalam dan om tidak pernah berada di sisinya saat ia membutuhkan teman untuk berbagi. Saat ibunya meninggal, om sama terlukanya dengan Guntur tapi kami sama-sama memilih jalan kami sendiri untuk melewati kesedihan kami.”


“Om sudah menyadari kesalahan yang om lakukan pada Guntur, om akan pergi bersama Guntur. Kami akan memulai semuanya dari awal. Karena Guntur adalah satu-satunya peninggalan almarhumah istri om yang sangat berharga.” om Danu menyelesaikan cerita nya.


Sofi membelalakkan matanya. Guntur akan pergi.


Om Danu mengambil sesuatu dari dalam kantongnya. Sebuah kotak kecil dan sebuah surat, ia menyerahkannya pada Sofi.


“Ini titipan dari Guntur untukmu.” Sofi menerimanya dengan gugup.


“Hanya itu yang ingin om sampailah, kalau begitu om permisi dulu, maaf untuk semuanya Sofi. Semoga suatu saat nanti kita akan dipertemukan lagi dengan keadaan yang lebih baik.” Om Danu berpamitan dan meninggalkan Sofi yang masih duduk terpaku di ruang tamu.


*****

__ADS_1


ayo beri dukungan untuk author 🙏🏼🥰


__ADS_2