
Sofi kembali kelasnya sendiri. Baik Evan atau Guntur tidak ada yang menyusulnya. Lebih baik begitu daripada membuatnya tambah kesal. Dia berjalan sambil memegangi pinggulnya yang sakit akibat terjatuh tadi. Dan hal itu menimbulkan kepanikan pada teman-temannya.
“Kamu kenapa Sof?” Noni bertanya dengan panik, wajahnya terlihat cemas.
“Sini aku bantu!” Farah berdiri mendekat dan membantu Sofi berjalan dan membantunya duduk.
“Tadi jatuh diperpus, jangan tanya apa-apa!” Pintanya yang langsung membuka bukunya dan sibuk dengan pikirannya sendiri.
Teman-temannya pun terkejut dengan reaksi Sofi yang seperti ini, mereka hanya bisa diam menunggu Sofi mau bercerita nanti. Selama jam pelajaran pun dia hanya diam menatap kekosongan.
Sofi sudah menolak ajakan teman-temannya untuk mengantarkan pulang dan ia pun
sudah berdiri di depan kelas untuk menunggu kak Tasya. Dan sialnya baru saja Kak Tasya mengiriminya pesan bahwa hari ini dia tidak bisa menjemput karena ada meeting mendadak. Lagi?? Uhhh?
Dia harus segera mencari taksi untuk pulang karena dilihatnya awan mulai gelap. Mendung. Sepertinya sebentar lagi akan hujan. Hujan? Lagi? Benar-benar buruk hari ini. Aku benci hujan.
Dia berjalan kedepan dengan terpincang-pincang karena pinggulnya masih nyeri. Tiba-tiba sebuah motor berhenti di depannya. Dia terdiam sesaat. Dia sepertinya mengenali sepeda motor sekaligus pemiliknya. Guntur turun dari motornya dan membuka helmnya.
Dengan terheran-heran Sofi mencoba tetap melangkahkan kaki dan pura-pura tidak melihatnya. Ia menundukkan kepalanya kebawah mencoba menghindari tatapannya. Sampai depan gerbang Sofi mencoba mencari ponselnya dan akan menelpon taksi. Sebelum berhasil memencet tombol ponselnya Guntur menghampirinya.
“Hei kamu!” Sofi terlonjak kaget, hampir saja ponselnya jatuh, ia menoleh kanan-kiri mencoba mencari tahu siapa yang diajaknya bicara. Lagi-lagi jantungnya berdegup tak karuan.
“Eh…kamu!” Guntur memanggilnya lagi karena tidak mendapat respon dari Sofi. Sofi mencoba mengalihkan pandangannya kearah Guntur lalu menatapnya, seolah mencari jawaban.
“Aku?” Menunjuk dirinya untuk meyakinkan.
“Iya kamu, Nunggu siapa?” tanyanya cuek.
__ADS_1
“Aku mau telpon taksi.” Sambil mengacungkan ponselnya.
“Nggak dijemput?”
Kok tahu aku biasanya dijemput? Pikirnya dalam hati. Guntur masih menatapnya buru-buru ia menjawab pertanyaannya.
“Nggak, kak Tasya lagi nggak bisa jemput. Kak Tasya lagi.. nggakk...”
“Ayo aku anterin!” sambungnya sebelum Sofi dapat meneruskan kata-katanya.
“Apa??” tanyanya berusaha meyakinkan apa yang didengarnya.
“Aku anterin.” jawabannya singkat dan jelas.
“Pulang??.” Tanyanya seperti orang bodoh.
“Iya pulang sih.”
“Ya udah aku anter.” tak segera mendapat jawaban Guntur bertanya lagi “Kenapa masih sakit?”
“Masih sedikit, nggak usah dianter deh aku bisa pulang sendiri kok.” Sofi mulai merasa takut dengan cowok ini. Deg-degan lebih tepatnya.
Dilihatnya langit yang mulai menghitam. Sebentar lagi sepertinya akan hujan.
“Ini udah mau hujan ayo aku anterin!” katanya lalu berbalik mengambil motornya.
Dilihatnya langit yang sudah begitu gelap dan bertambah gelap. Yah, sebentar lagi hujan memang akan turun. Sofi mulai merasa tidak aman berada disini dan tidak nyaman dengan situasinya juga.
__ADS_1
Guntur mendekat ke arahnya, beberapa orang yang lewat menatap mereka dengan tatapan aneh. Tak segera naik Guntur bertanya lagi. "Kenapa lagi? Ayo!!"
Yakin ini orang punya niat baik? Apa jangan-jangan mau ngerjain dia?
Sofi mulai ketakutan, keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya. Dia benar-benar cemas. Dia terus sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia mulai tampak kedinginan ia mengusap-usapkan tangannya. Melihat itu tanpa aba-aba Guntur melepaskan jaketnya, dan memakaikannya pada Sofi. Sofi bengong. Jantungnya semakin berdegup kencang.
Sofi menyerah merasa tak punya pilihan. Sofi akhirnya naik ke motornya.
Meskipun hatinya terus bertanya-tanya, ia biarkan semuanya terjadi. Ia merasa ada sesuatu yang lain dihatinya yang tak bisa ia jelaskan. Ia tidak pernah merasaa seperti ini termasuk kepada Evan. Dan entah mengapa ia merasa yakin bahwa Guntur tidak memiliki niat jahat padanya.
“Pegangan ya.” katanya tanpa menoleh.
Dalam perjalanan mereka hanya diam dalam keheningan.
Sofi sibuk dengan pikirannya lagi dan juga sibuk merapikan rambutnya yang tergerai menjadi acak-acakan karena angin. Guntur mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi, biar cepet sampai dan nggak kehujanan atau mencari kesempatan. Sofi tetap tak mau berpegangan padanya.
Hingga pada akhirnya karena takut Sofi memeluk Guntur dari belakang karena caranya mengemudi yang ugal-ugalan. Otaknya ini berfungsi gak sih? Bisa-bisanya dia melakukan ini. Ia melingkarkan tangannya begitu erat seolah takut terjatuh.
Sebentar emang Guntur tau rumahnya?
Di lampu merah, Sofi bertanya dia menggunakan suara yang agak tinggi lebih cenderung berteriak sih agar Guntur dapat mendengarnya.
“Emang kamu tahu rumah aku?” Tanya Sofi ingin tahu.
******
bersambung.
__ADS_1
Ayo bantu kasih like dong🙏🏼🙏🏼😘