Rain Memories

Rain Memories
Terungkap


__ADS_3

Sejak dua hari lalu Guntur sudah keluar dari rumah sakit, meskipun ia belum benar-benar sembuh dan di ijinkan untuk pulang ia memaksa untuk pulang dan beristirahat di rumah saja. Dan karena itu sejak Guntur pulang ke rumah Sofi sering berkunjung kesana setelah pulang sekolah. Ia merasa sedih karena mengetahui bahwa Guntur hanya sendirian dirumah bersama mbak-nya, ayahnya sibuk bekerja dan jarang berada dirumah.


Ia bahkan belum pernah bertemu dengan ayahnya meski sering menghabiskan waktu disana. Sofi jadi mengerti betapa kesepian yang dirasakan Guntur. Dirinya juga hanya tinggal berdua dengan kakaknya namun setidaknya mereka kerap menghabiskan waktu bersama dan berbagi cerita.


“Sof, mau ke rumah Guntur lagi?” Noni bertanya saat Sofi tengah membereskan barang-barangnya di atas meja.


“Iya, kenapa nggak boleh??"


“Boleh kok, emang apa urusannya sama aku. Aku larang pun kamu pasti tetap akan kesana iya kan?” Noni tertawa melihat Sofi.


Mita masuk dengan tiba-tiba, mereka berdua menoleh kearahnya. “Ada apa sih Mit?”


“Aku tadi dari kantor, aku dengar dari guru katanya Farah pindah sekolah.”


“APA?” mereka berdua terkejut.


“Kamu serius?”


“Ya iyalah.”


Sofi sedih karena permasalahan mereka, Farah memutuskan untuk pindah sekolah. Ia tidak mengerti kenapa Farah harus memilih untuk pergi. Ini salahnya.


“Kenapa sih dia begitu? Masalah ini kan bisa diselesaikan secara baik-baik. Ini cuma salah paham.” Noni geleng-geleng kepala.

__ADS_1


“Non aku pengin ngomong sama Farah, aku belum sempat jelasin semua masalahnya. Dia nggak bisa pergi gitu aja kan tanpa bilang apa-apa sama kita.” Sofi menggoyangkan lengan Noni panik.


“Gimana mau ngomong Farah aja nggak mau angkat telepon dari kita, WA juga nggak di bales, apalagi ketemu sama kita.”


“Gimana kalau kita kerumahnya.” Mita memberikan idenya dengan semangat.


“Boleh, mungkin ini satu-satunya cara ketemu dia.” Noni mengiyakan.


Mereka memutuskan untuk pergi ke rumah Farah dan berharap masalah mereka dapat diselesaikan. Namun apa yang diharapkan tak pernah terjadi, saat sampai dirumah Farah.


Rumahnya sepi. Farah sudah pergi tanpa mengatakan apa-apa. Mereka semua kecewa. Apa selama ini persahabatan mereka tak berharga?


******


Sampai disana ternyata Guntur tidak ada. Hanya ada mbak-nya dirumah. Benar-benar hari ini. Padahal ia sudah mengatakan pada Guntur kalau hari ini akan datang ke rumahnya.


“Mbak Sofi, masuk mbak! Mas Gunturnya nggak ada tapi sebentar lagi pasti pulang kok sudah dari tadi perginya.” Sekarang mbak-nya sudah akrab dengannya karena hampir setiap hari dia kesini.


“Emangnya kemana mbak?” Sofi bertanya heran kemana Guntur pergi saat dirinya masih sakit begitu.


“Biasa makan di warteg depan katanya sudah kangen gitu.” Sofi tersenyum mendengar penjelasan mbak-nya.


“Sendiri?

__ADS_1


“Nggak mbak. Sama teman-temannya banyak banget kayak preman-preman gitu. Siapa ya namanya??” Mbak-nya tampak mengingat-ingat.


“Ardi??” Sofi membantu menerka.


“Iya mbak salah satunya itu. Kalau gitu saya permisi ya mbak.”


“Ehh mbak mau tanya?”


“Ada apa mbak?”


“Bapak ada dimana mbak? Kok saya nggak pernah ketemu sama beliau padahal kan saya sering kesini.” Sofi mencoba mencari tahu tentang keluarganya Guntur karena Guntur tidak mau mengatakan apa-apa padanya.


Sofi memang ingin bertemu ayahnya Guntur untuk membicarakan soal keadaan Guntur sekarang. Mau tidak mau ayahnya harus tahu kan tentang keadaan anaknya.


“Oh bapak? Bapak memang tidak tinggal disini mbak beliau lebih sering dirumah istrinya yang pertama. Tapi beliau sering kok mbak datang kesini tapi cuma sebentar, tadi siang juga sempat disini.”


“Istrinya yang pertama?” Sofi mengerutkan keningnya.


“Iya mbak, mas Guntur anak dari istri bapak yang kedua.” Sofi terdiam mendengar berita itu. Tampak terkejut tapi berusaha di tahannya.


“Katanya dulu bapak sama istrinya yang pertama di jodohkan waktu itu bapak sudah punya hubungan sama ibunya mas Guntur. Bapak menikah sama istrinya yang pertama karena permintaan orang tuanya bapak. Tapi bapak nggak bisa meninggalkan ibu jadi bapak nikah sama ibu diam-diam karena takut melukai perasaan istrinya yang pertama karena katanya dia juga cinta sama bapak.” Mbak-nya bercerita meski Sofi tak memintanya.


“Awalnya sih nggak ketahuan tapi lama-lama ketahuan juga. Istri bapak yang pertama pernah kesini marah-marah sama ibu dan bilang macam-macam sama ibu. Pernah juga meneror ibu mengancam mau membunuh juga. Lama-lama ibu depresi, siapa juga yang nggak tertekan di perlakukan begitu hampir setiap hari. Saya sedih melihat ibu seperti itu. Hampir setiap hari saya lihat ibu menangis. Padahal kan bukan salah ibu juga, orang bapak sama ibu saling mencintai. Istrinya yang pertama itu yang nggak tahu diri.” Mbak-nya berhenti setelah bercerita sambil menggebu-gebu tanpa jeda.

__ADS_1


******


__ADS_2