
Sofi sudah duduk di sini berjam-jam yang lalu, dia berada di sebuah cafe yang memiliki suasana romantis dengan gaya 80an yang tak jauh dari kampusnya. Dia memang sudah biasa berada disini jika sedang tidak memiliki kegiatan dan hari ini ia memang tak ada hal yang harus ia kerjakan. Ditemani sebuah buku novel klasik dan secangkir kopi ia menikmati waktunya sendiri.
Di luar sedang hujan, ia merindukan seseorang. Seseorang yang sudah lama menghilang dan tidak ada kabar. Seseorang yang sudah pergi membawa setengah hatinya. Ia berharap bisa bertemu segera dengannya. Hujan kini tak lagi sama.
Hujan aku ingin kau datang, bawakan aku Guntur-ku yang aku rindukan. Pintanya setiap kali hujan datang.
Seseorang di meja seberang sana terus memperhatikannya, seperti sudah biasa terjadi pasti pria itu akan menghampirinya untuk berkenalan dengannya. Dugaannya benar pria itu datang mendekat dan menyapanya.
“Hai!”
Sofi mendongakkan kepalanya menatap pria itu.
“Ini untukmu.” sahutnya.
Pria itu mengulurkan setangkai mawar merah padanya. Teringat dalam hatinya akan bunga pemberian Guntur saat valentine dulu. Saat memberinya kejutan. Yah, memang Guntur selalu penuh kejutan. Lama pria itu berdiri di dekat Sofi. Dan Sofi hanya menatap bunga itu, tidak memperhatikan si pemberi bunga yang masih menunggu jawabannya.
Setelah berpisah dari Guntur, Sofi tak bisa menjalin hubungan dengan pria manapun, dia terus memikirkan Guntur yang sekarang tak ada kabarnya, hilang begitu saja seolah di telan bumi. Dia masih menunggu.
Menunggu Guntur kembali padanya sesuai janjinya dulu, meski ia tidak tahu kapan ia akan kembali. Dan kesendiriannya ini membuat semua orang khawatir termasuk kakaknya.
Hujan turun semakin deras orang-orang berlarian mencari tempat untuk berteduh. Dipandanginya hujan kali ini masih sama seperti dulu, rasa kehilangannya masih membekas dihati, bukan kehilangan orang tuanya namun kehilangan Guntur-nya.
Sofi mengalihkan pandangannya ke luar, ia bisa melihat siapa saja yang berlalu lalang dari dinding kaca yang membatasinya.
__ADS_1
Seorang pria berlari mendekat, ia mengusap bajunya yang basah karena air hujan dan mengibaskan rambutnya yang agak panjang itu. Entah mengapa Sofi merasa mengenali pria itu. Merasa diperhatikan pria itu menoleh kearahnya.
Deg. Jantung Sofi seakan mau berhenti dia mengenali pria ini lebih tepatnya orang yang sangat ingin ia temui. Guntur.
Kedua mata mereka terkunci.Waktu seakan berhenti detik itu juga. Semua kebisingan yang ada disekitar mereka menjadi tiba-tiba menghilang digantikan suara jantung yang berirama memanggil-manggil pujaannya.
Guntur mengalihkan tatapannya pada pria yang berdiri di samping Sofi dan bunga yang tengah di pegangnya. Tanpa pikir panjang Guntur berlari meninggalkan tempat itu menembus derasnya hujan.
“Aku terlambat.” bisiknya.
Sofi berdiri melihat Guntur yang berlari pergi, ia terkejut tanpa pikir panjang di kejarnya Guntur. Sambil berteriak memanggil-manggil namanya.
“Guntur tunggu!” teriaknya di iringi derasnya hujan yang mengguyur.
“Aku melihatmu bahagia dan itu sudah cukup untukku." hanya itu yang di ucapkannya dan berbalik meninggalkan Sofi yang masih berdiri terpaku.
“Aku mencintaimu.” Teriak Sofi berharap Guntur mengerti.
Guntur menghentikan langkahnya, berdiri tak bergerak.
“Apa yang kamu lihat nggak seperti apa yang kamu pikirkan! Kamu harus dengar aku. Aku sudah memaafkanmu dan aku …..aku menunggumu.” Teriak Sofi putus asa.
Guntur masih diam tak bergerak.
__ADS_1
Sofi mendekat kearahnya dan memeluknya dari belakang. “Maaf untuk kata-kata yang pernah ku ucap, aku nggak bermaksud membuatmu merasa lebih bersalah, aku...” Sofi tak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi.
Guntur membalikkan badannya, ia menyentuh pipi Sofi, menatapnya mencari kebenaran lewat mata Sofi. Tanpa aba-aba ia memeluk Sofi erat, seakan tak mau melepaskan lagi.
Tangis Sofi kembali pecah, ia ingin menumpahkan segala kerinduannya yang selama ini dirasakannya. Mereka biarkan hujan yang menjadi saksi, mengakhiri penantian mereka yang panjang.
“Maaf untuk semuanya.” bisik Guntur lirih di telinga Sofi tanpa melepaskan pelukannya.
“Aku sudah memaafkanmu.” Katanya sambil terisak.
“Terima kasih sudah menunggu,” Guntur melepaskan pelukannya dan mencium kening Sofi.
“Aku mencintaimu. Jangan pergi lagi aku mohon.” Sofi menyatakan perasaaannya untuk yang pertama kali pada Guntur, ia ingin mengatakannya sekarang karena dulu ia tidak pernah memiliki kesempatan.
“Aku tahu.” Guntur menganggukkan kepalanya dan memeluk Sofi lebih erat di tengah guyuran hujan yang begitu deras. Ia tak ingin dan tidak akan pernah melepaskannya lagi. “Aku janji nggak bakalan ninggalin kamu lagi dan akan selalu ada untukmu, menjagamu.”
Mereka tak peduli jika orang-orang menatap mereka dengan heran. Tak peduli jika mereka akan sakit nantinya karena hujan-hujan. Yang mereka tahu kini mereka bahagia.
Hujan kali ini begitu indah.
Hujan kali ini ada Guntur.
*****
__ADS_1
TAMAT