
Hari ini Farah tidak masuk sekolah, Sofi dan teman-temannya tidak tahu harus berbuat apa. Dihubungi pun tidak bisa. Sofi benar-benar sedih hubungannya dengan Farah menjadi seperti ini. Dia tidak pernah menginginkan semua hal ini terjadi.
“Non kita harus gimana?” Sofi mencoba bertanya solusi untuk menyelesaikan masalahnya pada Noni.
Masalah mereka. Noni hanya mengangkat bahunya. Mereka tengah duduk di dalam kelas bersama. Saat ini jam istirahat tapi mereka bertiga sepertinya tidak ingin kemana-mana.
“Biarin aja Farah tenang dulu!” Mita membuka suaranya, ia menoleh pada kedua temannya yang bermuka kusut. “Kita semua tahu gimana Farah kan, nanti kalau dia udah tenang kita ajak dia bicara.”
Noni menganggukkan kepalanya menyetujui ide itu. Yah percuma jika mengajak Farah bicara saat hatinya masih dipenuhi kemarahan. Dan Sofi pun akhirnya menurut. Keheningan yang panjang kembali menyelimuti mereka.
Tiba-tiba seseorang datang. Evan.
Sejak kemarin Sofi memang menghindari Evan, dia tidak siap bertemu dengannya apalagi jika harus bertengkar lagi.
“Sof, bisa aku bicara sama kamu?” Evan menghampirinya. Ia harus bicara.
“Bicara soal apa kak?” Sofi enggan berbicara dengannya.
“Soal hubungan AKU, KAMU dan FARAH.” Evan menekankan kata-kata itu membuat Sofi merasa aneh saat dirinya jadi ikut terlibat dalam masalah seperti ini.
“Ayo!” Sofi mengikuti langkah Evan. Noni dan Mita tersenyum pengertian. Mereka tahu masalah ini harus diselesaikan satu-satu. Dan yang pertama harus di mulai dari EVAN.
“Kenapa kak?” Sofi bertanya saat mereka tengah duduk di pinggir lapangan basket.
“Maaf,” Evan menatapnya, ada rasa penyesalan disana.
“Untuk?”
“Semuanya.” Evan gugup. “Aku udah buat kesalahan, aku membuat hubungan persahabatan kamu dan Farah jadi begini.”
Sofi terdiam. Tidak tahu harus berkata apa.
__ADS_1
“Kamu tahu….aku sebenarnya suka sama kamu. Aku merasa bingung, kehilangan akal buat mendekati kamu. Aku ingin buat kamu cemburu, aku ingin tahu bagaimana perasaanmu. Dan aku melibatkan Farah untuk itu.
“Trus apa gunanya kak Evan ngomong begini ke aku? Persahabatan kami udah terlanjur begini.”
Evan menatap Sofi meminta pengertiannya.
“Ya aku juga salah. Dari awal aku sudah tidak jujur dengan hatiku. Awalnya aku memang menyukaimu lalu Farah mengatakan bahwa ia juga menyukaimu dan aku membiarkannya dekat denganmu, aku ingin temanku bahagia. Harusnya dari awal aku jujur dengannya. Jadi hal seperti ini tidak akan terjadi.”
“Sofi kamu menyukaiku?” Evan menatapnya dengan mata berbinar. Ah. Kenapa baru sekarang ia mengetahuinya. Jika perasaannya ternyata tak bertepuk sebelah tangan.
“Jadi...bisakah kita bersama?”Evan menggengam tangannya. Ia berharap.
“Apa?” Sofi terkejut dia melepaskan tangannya dari genggaman Evan.
“Kita bisa mencari cara untuk menyelesaikan masalah kita dengan Farah, aku akan berusaha membantumu.”
Sofi terdiam tak percaya, dia baru tahu betapa egoisnya dia. Cowok yang pernah dia suka ternyata tak seperti apa yang dipikirkannya.
"Nggak kak, aku nggak bisa!”
Sofi terdiam sebentar dan menatap Evan dengan mantap. "Aku tidak mau menyakiti Farah lagi dan... Aku mencintai Guntur.”
Kata-kata itu bak petir di siang bolong.
Evan terdiam shock. Bahkan dia tak sanggup mengatakan apa-apa.
“Aku berterima kasih kak, untuk semua yang sudah kakak berikan kepadaku. Dan aku berterima kasih karena dengan semua ini aku dapat belajar menerima dan memberi juga itu memberikanku kesempatan untuk mengenalnya dan mencintainya.”
“Beri aku satu kesempatan Sof, biar aku bisa buktikan perasaan cintaku yang sesungguhnya sama kamu.” Evan mencoba mencari celah di hati Sofi.
Sofi menggeleng. “Aku mencintainya."
__ADS_1
“Apa yang bisa kamu harapkan dari orang seperti itu? Dia nggak akan pernah bisa buat kamu bahagia apalagi melindungi kamu, coba kamu lihat Sof!"
“Aku sudah bahagia dan itu cukup untukku.”
“Dia nggak pantas buat kamu. Dia Cuma anak HARAM!!” teriaknya dengan kesal meninggalkan Sofi dengan hati yang berkecamuk. Anak haram? Apa masud Evan bicara seperti itu?
*****
Evan menggedor pintu rumah Guntur keras-keras. Guntur yang membuka pintu pun terkejut dengan kehadiran Evan disana. Mereka hanya saling menatap dalam kemarahan.
“Lihat diri lo? Kamu memang nggak ada bedanya ya sama ibu kamu, cuma bisa jadi orang yang selalu nyusahin!” Evan berteriak di depan Guntur dengan kemarahan.
“Ngomong langsung aja nggak usah bawa-bawa ibuku!” Guntur mulai kesal dengan kata-kata Evan.
“Belum puas ibu kamu menghancurkan keluargaku dan sekarang apa?? Kamu merebut Sofi dari aku!!” Evan berteriak dengan marah.
Guntur terdiam.
“Senang ya lo bisa dapatin hati Sofi, senang bisa ngalahin aku?? Heh?!!”
“Apa pun yang terjadi antara Sofi dan aku itu nggak ada hubungannya sama kamu!!”
Guntur menunjuk ke arah Evan.
“Kamu pikir kamu siapa? Kamu pikir kamu bisa bahagia-in Sofi?” Hardik Evan sambil mencengkram kaos Guntur.
“Aku akan berusaha.”
“Apa kamu pikir Sofi bisa nerima kamu? Kamu bahkan nggak jujur sama dia.”
“Itu bukan urusanmu!!”
__ADS_1
“Percaya atau nggak kamu bakal kehilangan Sofi! Karena hanya aku yang bisa menjaganya!!” Evan meninggalkan rumah Guntur dengan berbagai macam sumpah serapah yang keluar dari mulutnya.
Yah memang benar, Sofi akan marah padanya jika mengetahui yang sebenarnya. Sofi akan menjadi semakin terluka karenanya. Ia tidak bisa menghapus masa lalu yang pernah ada.