
Saat membaca kertas itu, tiba –tiba ada seseorang yang menabraknya dengan kasar.
“Aduh.” Sofi terjatuh terduduk dilantai.
“Maaf ya aku nggak sengaja,” Prita dengan lagaknya yang sok dan di buat-buat itu. Dia sengaja menabraknya lalu berlalu pergi begitu saja membiarkan Sofi terduduk di tempatnya jatuh.
“Kamu nggak papa?” Suara ini terdengar begitu familiar ditelinganya. Ia langsung refleks menatap orang itu. Dia berhenti bernapas sesaat melihat wajahnya yang kini begitu dekat dengannya. Guntur lagi? Kok dia bisa ada dimana saja?
“Nggak ...pa...pa kok.” Sofi mencoba menjawab pertanyaan itu. Dia masih mencerna kejadian yang menimpanya baru saja. Sofi bingung ia benar-benar tak mengerti.
“Sini aku bantu berdiri!” Diraihnya kedua tangan Sofi dan dibantunya untuk mendudukkannya di kursi, Sofi tak dapat mengalihkan pandangannya pada lelaki ini.
__ADS_1
Bukannya dia cowok yang jago bikin masalah ya, kok malah ngebantuin dia.
“Mana yang sakit??” tanyanya lagi karena tak mendapat respons dari Sofi sambil melihat tangan Sofi yang menyentuh pinggulnya yang nyeri.
Sofi tak memperhatikan pertanyaan Guntur ia hanya menatapnya lama. Tapi entah mengapa hatinya terasa aneh. Begitu Guntur mengalihkan perhatian pada wajahnya dan menatapnya. Sofi terburu-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia tak ingin Guntur tahu kalau ia sedang memperhatikannya.
*****
Keluar dari perpustakaan. Sofi disambut oleh kepanikan Evan yang terkejut melihat Sofi bersama Guntur. Guntur memegang lengan Sofi, begitu erat seolah takut jika ia terjatuh lagi. Mereka berdiri begitu dekat dan terlihat akrab.
Lagian kalau dia mau melakukan sesuatu yang jahat padanya nggak mungkinkan dilakukannya di sekolah seperti ini, pasti akan ada banyak orang yang melihatnya.
__ADS_1
“Sof kamu kenapa?” Evan bertanya dengan panik, sebelum Sofi buka suara Evan sudah bertanya pada Guntur. “Kamu apain dia?”
“Dia nggak ngapa-ngapain aku, aku tadi jatuh di perpus” Sofi mencoba menjelaskan.
“Sini biar aku bantu aja.” Evan sudah bersiap memegang Sofi dan menyingkirkan tangan Guntur.
Sofi merasa bingung lagi. Kenapa Evan bersikap seperti ini padanya? Bukankah ia hanya menganggapnya sebagai adiknya? Kenapa ia begitu perhatian padanya? Sejuta pertanyaan berkecamuk di hatinya.
Sofi menepiskan tangan Evan, ia tak ingin terus bergantung dan berharap padanya. “Nggak usah kak aku bisa jalan sendiri kok.”
Sofi pun meninggalkan Guntur dan Evan berdua, keduanya kemudian saling memandang satu sama lain.
__ADS_1
Sofi mencoba menahan air mata yang mulai mengenang di matanya. Ia benar-benar bingung. Kesal. Kecewa. Semua perasaan bercampur aduk dihatinya.
Menyesal mungkin adalah satu-satunya perasaan dalam hatinya kini. Ia tak pernah tahu, tak pernah mencari tahu atau berjuang atas perasaannya. Kenapa ia berani melepaskan jika ia tak pernah bisa menahan rasa sakitnya?