
Siang ini hujan masih turun begitu deras dan langit pun begitu gelap. Sebagian siswa SMA Internasional Jakarta masih tinggal di sekolah menunggu hujan agar reda sebentar saja. Sebagian masih berdiri di depan kelas mereka, sebagian lagi sudah pulang mengendarai kendaraan pribadi mereka masing-masing. Termasuk juga anak-anak kelas XI IPA 2 yang sebagian memilih tetap berada di dalam kelas berteduh sementara. Termasuk Sofi dan ketiga sahabatnya Noni, Mita dan Farah yang memilih tinggal di dalam kelas mereka. Sementara anak-anak yang lain ribut memikirkan cara untuk pulang.
"Wah hujannya deras banget, gimana pulangnya nih?" sahut Mita cemberut sambil membanting tasnya ke meja Farah, dia lalu duduk di kursi sebelahnya.
"Emang kamu nggak bawa mobil apa?" Farah bertanya dengan kesal sambil menyingkirkan tasnya Mita yang di lemparkan ke mejanya.
"Nggak, mobilnya lagi di service, kemarin mogok." jawab Mita sambil mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kelas.
"Terus kamu mau pulang naik apa?" tanya Noni menatap Mita.
Mita yang di tanya malah balik menatap temannya satu persatu dengan tatapan 'ada maunya'
"Pengennya sih naik taksi, tapi.....uang jajan gue udah habis ndak cukup buat naik taksi hehehe... Farah nanti gue nebeng ya?" Pinta Mita manja sambil cengar-cengir.
"Ogahhhhhhhhh bangeeettttttt.....naik bis aja kalau gitu." jawab Farah seenaknya. Sambil memperlihatkan muka garangnya pada Mita.
"Ih kamu kok gitu sih jahat sama teman sendiri.." ujar Mita dengan memanyunkan bibirnya dan memperlihatkan wajah memelas yang dibuat-buat.
"Biar. Orang kamu juga jahat sama aku." Farah balik memarahi Mita.
Farah masih kesal komik Naruto-nya disita sama pak Bambang guru fisika mereka yang super killer. Dan Mita yang sebangku dengannya nggak kasih tahu kalau pak Bambang datang ke meja mereka. Jadi dengan sangat terpaksa Farah harus merelakan komik kesayangannya disita. Karena ketahuan baca komik saat pak Bambang menjelaskan di depan kelas akhirnya Farah pun dapat hukuman.
__ADS_1
"Oh itu...Maaf tadi aku nggak sempat kasih tahu kamu." Mita menjelaskan dengan wajah yang dibuat pura-pura bersalah. Dia sendiri memang sengaja tak memberitahu Farah kalau pak Bambang datang ke meja mereka karena sibuk merapikan alat make up nya yang tadi juga berserakan di meja.
"So aku nggak mau nganter kamu pulang." Farah memainkan ponselnya sok tak peduli dengan penjelasan Mita. Sebenarnya dia tahu kalau tadi Mita kelabakan mengamankan alat make up nya.
"Ah kamu gitu sama teman sendiri." Mita masih belum menyerah merajuk pada Farah sambil menggoyang kan tubuh nya.
"Oke kalau gitu tapi kami harus bantu aku bikin tugas dari pak Bambang!"
"Whatt! kamu bercanda aku bisa botak tahu!" Mita yang kapasitas otaknya sedikit manja dan ala drama queen ini nggak memungkinkan untuk mengerjakan tugas fisika yang pasti bakal bikin pusing itu.
"Lagian ini semua juga gara-gara kamu, mau nggak?" Farah berteriak kesal padanya.
Mita cemberut. Dia kesal menyebut fisika saja dia merasa seperti di tusuk-tusuk gimana rasanya kalau disuruh ngerjain laporan begitu. Mengerjakan tugas dan ulangan saja nyontek. (jangan ditiru)
"Nggak mau ya udah..tawaran terakhir nih." Farah menggoda Mita sambil memainkan alis matanya.
Mita pun mencoba meminta tolong pada dua sahabatnya yang lain, yang dari tadi tak memperdulikan perdebatan mereka. Mita berusaha menghindari Farah dan mencari pertolongan yang lain.
"Noni kamu pulang naik apa??" Mita berganti rencana dengan merayu Noni.
Noni menyipitkan mata, menatap dengan curiga padanya. "Kenapa? Gagal negosiasi?"
__ADS_1
Noni menggoda dengan menaikkan kedua alisnya sambil tersenyum dan menatap mereka berdua secara bergantian.
"Iya nih, aku bareng kamu aja ya.. kamu tega kepalaku jadi botak gara-gara bantuin dia. Bayangin aja masak aku di suruh kencan sama fisika." Mita merayu dengan tatapan memelas sambil mengatupkan kedua tangannya ke depan.
"Boleh sih tapi cuma sampai depan komplek aja nggak papa?"
"Kok cuma sampai situ? Biasanya juga sampai depan rumah, kalau gitu masih jauh dari rumah masak aku di suruh jalan hujan-hujanan. Lagian besok kan seragamnya masih di pakai." Mita merengek manja.
"Soalnya ntar aku mau ke rumah sakit dulu jemput nyokap dulu udah jam pulang kerja. Kalau kamu mau ikut juga nggak papa sih? Soalnya kalau nganter kamu dulu sampai rumah malah muter-muter jalannya." Noni coba menjelaskan.
"Ah ntar lama, aku mau nonton drama Korea di TV nih." Mita merengek dengan putus asa.
"Udah nebeng maksa lagi." Farah menyela pembicaraan mereka. Dengan melipat tangan di depan dadanya dan tampak tersenyum puas. Sepertinya dia akan menang.
"Jadi gimana nih?" Farah masih getol menawarkan diri.
Mita benci kalau udah begini. Dengan sangat sangat terpaksa akhirnya mengiyakan. "Ok deh."
"Yes!!! Akhirnya aku punya pembantu." Farah bersorak ria dia merasa menang sambil memperlihatkan senyumnya yang lebar dan menaikkan kedua tangannya ke atas. Akhirnya dia bisa membuat Mita menyerah dan berbagi hukuman dengannya.
"Kenapa hujan sih?" batin Sofi dalam lamunannya. Kehebohan temannya tadi tidak mengganggunya, dia masih memikirkan hujan. Hujan yang membuat semuanya basah, hujan yang membuat semuanya gelap. Hujan yang mengingatkannya kembali pada kenangan buruk penuh luka yang membuat hatinya terasa sakit.
__ADS_1
********