Rain Memories

Rain Memories
Kecewa


__ADS_3

Gara-gara kesal, Evan mencari cara agar membuat Sofi cemburu dan mengakui perasaannya. Sebenernya selama ini Evan juga menyukai Sofi dan tahu jika Sofi kerap memperhatikannya. Tanpa pikir panjang lagi ia menyiapkan rencana dan mengirimkan pesan pada Farah kalau dia memiliki perasaan padanya.


“Haiiii semua!” sahut Farah dengan ceria saat memasuki kelas.


Mereka semua mengangkat alis, tumben Farah bersikap kayak begini. Jadi lebay kayak Mita.


"Kamu kenapa sih udah ketularan sama Mita?" Noni bertanya dengan heran.


“Ini bukan masalah itu.” jawabnya ceria.


“Trus apaan? Seru banget kayaknya.” Sofi penasaran.


“Sof makasih banget ya.” katanya sambil memegang tangan Sofi.


“Apa sih kamu?” Sofi kaget dengan sikap Farah. Dan Farah hanya senyum-senyum sendiri seperti orang gila. “Apaan sih Far? Bilang aja deh nggak usah bikin penasaran.” Sambungnya lagi.


“Ehhhh gue.... emm kemarin Evan kirim pesan gitu dia bilang dia punya rasa sama aku, yah meskipun belum jadian sama Evan, tapi setidaknya gue sama Evan punya rasa yang sama. Dan kemungkinan gue ma Evan bakal jadian. Horeee!!” jelasnya sambil kegirangan.


Yang lain memasang tampang heran dan terkejut. Mita tampak kesal sedangkan Noni balik menatap Sofi. Dia tahu Sofi pasti kecewa.

__ADS_1


Wajah Sofi berubah senyumnya pudar. Hatinya terasa sakit. “Secepat itu?” sahutnya lirih tanpa sadar.


“Kenapa nggak?? Cinta kan bisa datang tiba-tiba.” Farah mencoba meyakinkan diri.


“Guys aku ke kamar mandi dulu ya.” Sofi berlalu pergi begitu saja, ia ingin menangis.


Noni sebenarnya ingin menyusul Sofi tapi dia tidak ingin membuat Farah curiga dengan perubahan Sofi.


Beginikah sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan? Ia benar-benar patah hati sekarang.


Di kamar mandi Sofi menangis, cintanya selama ini bertepuk sebelah tangan. Walaupun Sofi tahu Evan hanya menganggapnya sebagai adiknya dan ia sudah merelakannya untuk sahabatnya Farah.


Saat kematian orang tuanya, Evan sering datang menghiburnya dan mengajaknya bermain, dia dapat mengisi kekosongan hati Sofi sejak saat itu. Bahkan ia masuk ke sekolah ini juga karena Evan, meskipun pada awalnya dia masih menjadi pacar orang. Evan putus setidaknya ia memiliki kesempatan kan? Tapi apa?


Seperti biasa semua yang terjadi tidak seperti yang ia harapkan. Setelah puas menangis ia mengusap air matanya, ia tak boleh terlihat sedih. Dia segera membasuh mukanya dan memaksakan senyumnya.


Keluar dari kamar mandi, ada seseorang yang menghalangi langkahnya. Sofi sudah tahu bahkan jika hanya melihat sepatunya. Prita lagi. Seakan tak cukup satu masalah ini.


“Ada siapa nih? Perusak hubungan orang.” Prita menghardiknya di depan banyak orang.

__ADS_1


Sofi berusaha tak mengubris omongan Prita yang malah memancing air matanya keluar lagi.


Ia berusaha melewati mereka namun sayangnya mereka sepertinya tak ingin melepaskannya begitu saja. Dengan cepat tangan Prita menarik tangannya dengan kuat.


“Mau pergi kemana lo? Masalah kita belum selesai.” Bentak Prita dengan kasar.


“Apaan sih? Lepasin nggak!” Sofi melihat sekeliling mencoba mencari pertolongan sayangnya tak seperti yang diharapkannya, tak ada orang yang sepertinya berniat menolongnya. Mereka hanya menatap ingin tahu. Memangnya ini tontonan gratis?


“Lo tahu gue diputusin Evan gara-gara lo!” Prita membentaknya dengan kasar.


“Gara-gara aku apa tuh maksudnya? Bilang aja sebenarnya kak Evan tuh dah bosen sama kamu dan muak dengan semua tingkah laku kamu yang nggak jelas. Harusnya kamu tuh instropeksi diri kenapa melempar kesalahan ke orang lain!!” Entah darimana Sofi mendapatkan keberanian super ajaib bisa bentak Prita kayak gitu.


“Kurang ajar lo!” Prita bersiap menamparnya ia terlihat begitu marah atas kata-kata Sofi yang berani menghinanya.


Sofi sudah bersiap mendapat tamparan darinya, ia menutup mata.


*******


ayo dukung dan like untuk author ya🙏🏼🙏🏼🥰

__ADS_1


__ADS_2