
Setelah kejadian di mall itu Farah bersemangat, ia terus saja menceritakan pengalamannya pergi sama Evan. Katanya Evan baiklah, perhatianlah, manislah atau apa lagi… Bahkan katanya mereka sempat bertukar nomor dan berjanji akan pergi lagi.
“Oh ya katanya aku bakal di undang lho dipesta adiknya.” sahutnya kegirangan.
“Wuuiiih senengnya Farah.” Mita berkomentar dengan sewot.
“Seneng dong, aku sudah satu langkah di depan kamu.” Farah membanggakan diri.
“Sejak kapan kita berkompetisi kayak gini?” Mita menatap Farah curiga.
“Bilang aja kamu udah siap buat kalah.” Farah percaya diri.
Sofi yang mendengar percakapan itu hanya diam saja tak bersemangat, dia patah hati. Mati rasa. Dia membolak-balikan bukunya dengan gusar.
“Sof, aku mau bicara sama kamu.” Noni mencoba memulai percakapan dengannya.
“Heemm.” sahutnya sambil mencorat-coret bukunya tak jelas.
“Soal kemarin, kamu sama Evan.” merasa tak diperhatikan Noni langsung to the point dan itu langsung membuat Sofi menoleh padanya.
“Kayaknya Evan suka sama kamu deh.” Sofi melotot matanya melebar mendengar kata-kata Noni. Belum sempat ia membuka mulutnya Bu Anne sudah masuk ke dalam kelas.
Gara-gara tadi Sofi terus memikirkan kata-kata Noni ia terus berpikir dalam benaknya sambil memainkan bolpointnya, tiba-tiba Bu Anne memberikan pertanyaan mendadak kepada Sofi. Padahal dari tadi Sofi melamun dan tak memperhatikan pelajaran.
“Sofia Larasati kerjakan soal nomor satu!!” sahut Bu Anne yang membuat Sofi terkejut dan geragapan, Sofi tak dapat mengerjakannya. Dia benar-benar blank.
“Kenapa tidak bisa?” Bu Anne bertanya lagi. Sofi hanya dapat tertunduk lesu.
“Makanya jangan melamun saat pelajaran!!” Bu Anne memperingatkan Sofi.
“Maaf bu.” Sahutnya lemah. Ia benar-benar tidak bisa konsentrasi jika begini terus.
Sofi mendapat pesan untuk menemui Bu Indah, wali kelasnya. Ada apa lagi?
__ADS_1
Dengan langkah gontai dan berat ia pergi ke kantor guru. Sampai di kantor Sofi menemui Bu Indah yang sepertinya sudah menunggunya.
Sofi yang sudah berdiri di depan meja Bu Indah mencoba bersuara dengan sopan. “Permisi bu, maaf tadi katanya ibu mencari saya?”
“Iya, duduk Sof!” perintahnya dengan ramah.
Sofi lalu duduk di hadapan Bu Indah dengan perasaan cemas akan apa yang akan terjadi.
“Sof, kenapa dengan kamu? Nilai kamu turun drastis hampir di semua mata pelajaran, ada masalahkah? Bu Anne juga bilang kalo kamu melamun di kelas waktu pelajaran. Kamu kenapa?” Bu indah bertanya dengan halus dan hati-hati.
Pertanyaan Bu Indah membuatnya bingung. Apa yang harus dia katakan? Dia tak mungkin menceritakan masalah pribadinya pada Bu Indah, meski mereka cukup dekat karena Bu Indah juga sahabat mamanya.
“Nggak ada apa-apa bu,” jawabnya berbohong.
“Kalau kamu ada masalah cerita sama ibu, kamu tahu kan ibu sudah anggap kamu seperti anak ibu sendiri.” Bu Indah menatapnya serius.
“Iya bu terimakasih, tapi saya benar-benar nggak ada masalah kok bu, mungkin cuma kecapekan karena semakin banyak tugas jadi nggak bisa konsentrasi.” Sofi berbohong.
“Ya sudah kamu jangan capek-capek, kalau kamu butuh sesuatu jangan sungkan minta tolong sama ibu.”
“Iya bu, bu tolong jangan bilang sama kak Tasya ya soal ini.” Pintanya.
“Memang kenapa?” tanya Bu Indah penasaran.
“Kak Tasya sibuk kerja akhir-akhir ini. Saya cuma nggak ingin menambah beban pikirannya.”
Bu Indah menghela napas ia tahu betapa sulitnya hidup berdua hanya dengan kakaknya.
“Iya tapi kamu harus janji sama ibu untuk tidak terjadi hal-hal yang seperti ini lagi, kamu harus bisa memperbaiki semuanya ya.”
Sofi mengangguk mengiyakan.
“Ini ada titipan dari guru mata pelajaran kamu, mereka memberikan kamu kesempatan untuk memperbaiki nilai.” Sambil menyodorkan beberapa kertas padanya. “tugas ini cuma dikasih waktu 3 hari, jadi ibu mohon kamu kerjakan dengan baik ya!”
__ADS_1
“Iya bu, terimakasih.” Sofi berpamitan dan meninggalkan kantor dengan perasaan campur aduk.
*****
Di perpus, Sofi harus bekerja keras untuk memperbaiki nilainya dia tak ingin kak Tasya tahu kalau nilainya turun. Kak Tasya bisa sedih dan kecewa dia tak ingin membebani kakaknya dengan masalahnya.
Sofi mengerjakan soal-soal, merangkum beberapa materi dan juga membuat kliping hingga lupa waktu jika bel sebentar lagi akan berbunyi. Waktu akan mengembalikan buku ke rak ada orang yang menabraknya. Sofi kehilangan keseimbangan dan siap untuk jatuh ia terkejut ketika ada orang yang memegangginya.
Guntur?? Ngapain dia disini? Sofi tak habis pikir apa orang itu mengikutinya.
Ditatapnya orang itu mereka begitu dekat mereka saling menatap. Selama beberapa saat, waktu seakan berhenti. Mereka terdiam membeku dalam posisi yang setengah berpelukan dengan hati yang berdebar-debar.
“Ehmm.” suara seseorang yang akan mengambil buku menyadarkan mereka. Mereka menjadi salah tingkah, Dengan segera Sofi berdiri kembali dan mengucapkan terima kasih.
“Thanks” sahutnya kikuk.
Orang itu pun berlalu meninggalkannya yang masih dalam keadaan shock dan bingung.
******
Sekembalinya ia di tempat duduknya tadi, Sofi merapikan buku-bukunya yang berserakan di meja. Pada saat itu dia menemukan kertas di balik bukunya. Lagi???
Aku ingin mengembalikan senyummu
Aku ingin menghapus rasa sedihmu
Maaf untuk semuanya
Maafkan aku
Aku akan berusaha membuatmu bahagia
Aku akan menjagamu
__ADS_1