Rain Memories

Rain Memories
Heboh


__ADS_3

Pagi harinya di sekolah.


Sofi merasa aneh hari ini. Dia merasa semua orang menatapnya aneh dan juga ada yang berbisik-bisik di belakangnya.


“Hei Sof baru datang?” Noni menghampirinya.


“Iya Non kamu ngerasa aneh nggak sih hari ini?” Sofi mencoba bertanya pada Noni.


Noni yang ditanya malah bingung sendiri. “Kenapa?”


“Kayaknya semua orang lihat aku aneh gitu deh, apa ada yang salah ya? Penampilan aku mungkin.” katanya merasa tak percaya diri.


Noni menilai penampilannya dari atas kebawah.


“Biasa aja kayak biasanya. Kamu kenapa sih mikir kayak gitu? Nggak usah dipikirin kita ke kelas yuk!”


Mereka pun berjalan menuju kelas berusaha tak menganggap tatapan atau bisik-bisikan


Sebenarnya dalam hati Noni juga bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi tak biasanya Sofi di perhatikan sebegitunya. Tapi dibuang jauh perasaan itu, tapi apa ada yang dia lewatkan Sofi kan selalu cerita apapun padanya. Bahkan kemarin Sofi sudah bercerita banyak kepadanya. Masihkah ada yang Sofi sembunyikan?


Sampai dikelas pun semua orang masih menatapnya aneh. Itu juga membuat kedua sahabatnya jadi bingung.


“Ini sebenarnya kenapa sih?” Farah langsung memberondong Sofi dan Noni yang baru saja datang. Mau tak mau, Farah penasaran tak biasanya mereka jadi pusat perhatian.


Noni mengangkat bahunya. “Nggak tau.”


Sofi berusaha tak memperdulikan keduanya. “Eh aku pinjam PRnya dong semalam lupa.”


“Tumben Sofi bisa lupa." Mita nyeletuk sendiri.

__ADS_1


“Ada masalah?” Noni bertanya meminta kepastian dari Sofi.


“Nggak kok, cuma semalam ngobrol sama kak Tasya sampai malam. Jadi lupa deh PR-nya.” jawabnya nyengir.


“Tumben.”


“Ya berhubung kak Tasya lagi nggak sibuk sama kerjaannya, boleh dong mengorbankan yang lain dikit.” jawabnya meminta pengertian.


Noni hanya tersenyum sambil menyerahkan bukunya pada Sofi.


Saat Sofi menyalin PRnya Noni. Tiba –tiba kelas gaduh, tapi Sofi berusaha konsen pada buku didepannya. Menyelesaikan salinan PRnya yang tinggal sedikit.


"Selesai." Sofi menutup bukunya dan menyerahkan buku milik Noni kembali pada pemiliknya. "Thanks ya Non."


“Ayo temani aku!” dengan nada memerintah Guntur membuka suara. Entah sejak kapan Guntur ada disana. Tiba-tiba saja Guntur sudah ada disebelahnya. Sofi mendongak menatap kaget, kemudian dia mengalihkan pandangannya kearah ketiga sahabatnya yang tak kalah shocknya. Sofi menunduk mencoba mengalihkan diri dari situasi ini. Jadi ribut- ribut tadi berasal dari kedatangan Guntur. Dia tak menyangka kalau Guntur akan datang ke kelasnya seperti ini.


“Kantin aku mau sarapan.” Jawab Guntur dengan nada datar. Singkat padat dan jelas.


“Trus?” Hubungannya sama aku apa? Sofi membatin.


“Aku mau kamu temani aku.”


“Kenapa nggak sendiri aja sih? Lagian ngapain sih minta aku temani biasanya juga sendiri.” Sofi tidak berani menatap Guntur ia terus sibuk dengan buku yang ada di depannya. Membolak-balik bukunya hingga terlihat kusut.


“Aku maunya ditemani sama kamu.”


Sofi mulai risih, sepertinya keringat mulai menetes. Dia masih diam saja tak bergeming, bahkan tangannya mulai gemetaran.


Merasa tak mendapat jawaban akhirnya Guntur meledakkan bom itu.

__ADS_1


“Kamu kan pacar aku kamu harus temani aku terus dong!” Sofi mengangkat kepalanya. matanya melotot. Dia megap-megap seakan seluruh oksigen di dunia ini lenyap.


“Hah????” ketiga sahabatnya berteriak kaget bersamaan.


Sofi menatap ketiga sahabatnya itu bergantian. Belum sempat Sofi menjelaskan apa-apa pada ketiga sahabatnya itu. Tangannya sudah ditarik keluar oleh Guntur. Kelas pun jadi riuh karenanya.


*****


“Sof kepala kamu nggak papa? Nggak kejedot apa gitu? Atau gue salah denger tadi ya? Kamu pacaran sama Guntur troublemaker itu. Oh My God.” Mita bertanya padanya saat sekembalinya Sofi dari kantin. Dia duduk lemas shock membayangkan apa yang akan terjadi lagi.


“Apaan sih ?” Sofi benar-benar kesal, semua orang memandangnya seakan tak percaya. Guntur menggandeng tangannya di depan mata anak-anak lain seantero sekolah. Wah dia bakal jadi sumber gossip.


“Sof, kamu kenapa?” mau tak mau Noni bertanya.


“Apanya yang kenapa?” Sofi menjawab pertanyaan Noni dengan pertanyaan.


“Jadian sama Guntur.” katanya hati-hati .


“Jadian dari mana? kemarin tuh aku nggak bilang apa-apa dianya aja yang lebay.” Sofi setengah berteriak. Kesal bukan main.


“Tapi dia bukan pelampiasan kamu kan?” Noni berbisik pelan di telinga Sofi.


“WHAT???? Kamu sebenarnya mikirin apa sih?” Sofi meletakkan kepalanya di atas meja. Dia bingung dengan keadaannya sekarang.


Farah yang melihat kejadian itu hanya diam saja tak menanggapi. Dia tidak tahu apa-apa tentang Sofi.


Dan benar saja hari ini semua orang memandanginya aneh. Dan tidak berhenti berbisik-bisik di belakangnya, sampai dia tak berani keluar kelas karena malu.


Guntur!!!!

__ADS_1


__ADS_2