Rain Memories

Rain Memories
Bad News


__ADS_3

Keesokan paginya.


Farah menghampiri Sofi yang tengah duduk di bangkunya sambil membaca buku. Farah langsung duduk di depannya bersiap untuk menginterogasi.


" Sof katanya kemarin kamu pulang bareng Evan ya??" tanyanya tanpa basa-basi.


Ya ampun kabar itu sudah sampai saja kemana-mana.


Sofi meletakkan bukunya dan menatap ke arah Farah. "Iya kenapa?"


"Kamu ngapain aja sama dia?"


Sofi menatap Farah dengan heran, apa maksud Farah menanyakan itu?


"Maksud kamu?"


"Ya kemarin mampir kemana gitu?"


"Nggak kok kita langsung pulang." Sofi menjawab jujur. Memang kemarin langsung pulang.

__ADS_1


"Oh gitu. Kirain." Farah mendesah lega.


Sofi jadi curiga dengan sikap Farah kepadanya. "Kamu kenapa sih? Kok tanya gitu sama aku?"


"Nggak papa sih..tapi.." Farah menghentikan kalimatnya. Dan menatap Sofi misterius.


"Tapi apa?" Sofi semakin penasaran.


"Emmn kamu mau bantu aku nggak? Tapi jangan bilang-bilang." Farah mengetuk jari-jarinya pada meja tampak menimbang sesuatu.


"Bantu apa?" Sofi jadi harap-harap cemas.


Sofi baru tahu kalau ternyata selama ini Farah juga suka sama Evan. Selama ini pun Farah nggak pernah menyebut atau menyinggung soal Evan.


"Kenapa baru bilang sekarang?" tanyanya berusaha bersikap wajar. Jangan sampai ekspresi wajahnya berubah dan Farah tahu.


"Sebenarnya aku udah tahu kalau kamu sama Evan tetanggaan. Cuma aku malu bilang sama kamu. Trus kemarin-kemarin dia kan juga punya pacar." Farah menjelaskan dengan sungguh-sungguh. "Kamu tahu kan kalau Evan sama Prita udah putus? Aku udah dengar soal itu bisa jadi kan sekarang kesempatan buat aku.. jadi pacarnya." Farah berkata panjang lebar dengan semangat tanpa memperhatikan ekspresi Sofi yang mulai berubah.


Sofi terkejut. Dadanya terasa sesak. Entah apa yang harus dilakukannya. Sahabatnya juga menyukai cowok yang sama dengannya. bukan cuma kamu yang suka sama Evan, tapi aku juga. ucapnya dalam hati.

__ADS_1


"Sof kok kamu ngelamun sih? Kamu mau nggak bantuin aku biar bisa dekat sama Evan?" Farah menggenggam tangan Sofi yang mulai dingin.


Sofi tidak bisa mengatakan apa-apa. Lidahnya jadi kelu.


"Ya yaa yaa, please!" Farah terus memintanya.


"Aaaa kuu nggak tahu." Kalimat itu lirih keluar dari mulut Sofi. Sofi menunduk, tampak berpikir.


Yah kalau dibandingkan dengan aku. Farah memang jauh lebih baik. Dia cantik, pintar dan mudah membaur.


"Kamu kok gitu sih?" Farah masih belum menyerah dan terus memohon.


"Ya udah aku coba tapi aku nggak bisa janji." akhirnya kalimat itu yang harus terucap dari bibirnya. Meskipun hatinya sakit, Sofi tidak tahu apa yang mesti dia lakukan.


"Bener ya? Thanks Sofi. Kamu memang sahabatku yang paling baik." Farah menggenggam tangan Sofi dengan erat. Senyumnya pun menghiasi wajah cantiknya.


Pembicaraan yang menyakitkan itu pun berakhir juga. Di sisi lain, Sofi tersenyum getir. Sofi bimbang dengan dirinya sendiri. Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku merelakan Evan cowok yang aku sukai untuk Farah sahabat ku sendiri? Bagaimana caranya mendekatkan mereka? Tidakkah itu menyakiti dirinya sendiri?


Pikiran-pikiran itu terus terbayang di kepalanya dan terus menganggunya. Baru kemarin dia merasa senang mendapat kabar bahagia putusnya Evan dan Prita. Sekarang dia harus dihadapkan dengan dua pilihan cinta atau persahabatan? Evan atau Farah? Pilihan yang tidak ada jawabannya.

__ADS_1


__ADS_2