Rain Memories

Rain Memories
Teringat (2)


__ADS_3

"Sof kamu pulangnya gimana?" Noni menyadarkan Sofi yang sedari tadi sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Ehhh apa?" Sofi tersadar dari lamunannya dan menatap temannya itu dengan bingung.


"Kamu pulangnya gimana?" Noni mengulang pertanyaannya lagi.


"Oh aku belum tahu."


"Kamu udah WA kak Tasya?" tanyanya lagi.


"Udah kok tapi kak Tasya nggak bisa jemput katanya bakal pulang sore ada meeting mendadak gitu." jawabnya lemah.


Setelah kedua orangtua mereka meninggal 3 tahun lalu, kakaknya yang harus menjadi tulang punggung keluarga. Sofi merasa kasihan dengan kakaknya itu harus bekerja keras. Kakaknya harus kuliah sambil kerja. Tidak bisa dia bayangkan betapa lelahnya, belum lagi dengan urusan di rumah.


"Jadi gimana Sof?" Farah yang sedari tadi menyimak akhirnya ikut masuk dalam percakapan mereka.


Sofi melamun lagi. "Eh apa?"


"Ya ampun Sof, kamu itu suka banget ngelamun terus?" Mita nyerocos saja.


"Kamu apa-apaan sih?" Noni mengikut lengan Mita sambil memelototinya.


"Sorry...sorry..."


"Ya udah sekalian aku anter deh."Farah menawarkan bantuan untuk Sofi.


"Asyik punya teman lagi ngerjain tugas pak Bambang." sahut Mita kegirangan.


" Itu nggak berlaku untuk Sofi." Farah menegaskan.

__ADS_1


"Ah curang." Mita berteriak kesal.


"Nggak usah deh, makasih. Arah rumah kita kan berlawanan. Biar aku naik taksi aja." Sofi menolak tawaran Farah dengan halus.


" Kenapa sih? Aku nggak papa kok, aku malah ngerasa nggak di anggap gitu."


" Bukan gitu, aku cuma nggak mau ngeepotin aja."


"Ya ampun Sof, kamu anggap kita apa sih? kita teman kan? Bukannya teman harus saling berbagi dan saling bantu ya." Noni menggelengkan kepalanya melihat sikap Sofi yang semakin jauh dan tertutup dengan mereka.


Sofi merasa terharu sekaligus tak enak mendengar kata-kata Noni. Memang selama ini Sofi terkesan menutup diri, dia tak pernah mau menceritakan soal masalah pribadinya selama ini. Sejak kepergian orang tuanya Sofi menjadi berubah dari dulu yang ceria dan suka bercanda menjadi sosok yang tak banyak bicara dan tertutup. Belum sempat Sofi membuka suara sebuah jeritan membuat mereka harus menutup telinga.


"Farah!!" Mita menjerit sambil menunjukkan jam tangannya di depan muka Farah. "Ayo pulang! Nanti aku ketinggalan drama Korea nih." Dia merengek dan menarik lengan Farah.


"Apaan sih?" Farah menepis tangan Mita dari lengannya.


"Kamu yakin nggak mau bareng?" Farah bertanya untuk terakhir kali.


"Nggak deh terimakasih lain kali aja deh, kamu pulang aja sama Mita lihat udah serem gitu takut kalap disini. Udah cepetan sana!" Sofi menunjuk Mita dengan tatapan geli. Mita yang masih menunggu memamerkan tampangnya yang cemberut sambil menghentakkan kakinya.


"Ya udah aku duluan ya." akhirnya Farah bangkit dari tempat duduknya.


"Da ddaaahhh temanku." teriak Mita kegirangan.


Noni dan Mita mengekori kepergian mereka dengan geli.


" Ada ya orang kayak Mita gitu hobi bikin heboh." Noni menggelengkan kepalanya heran.


" Ya emang gitu kan orangnya." Sofi menambahi.

__ADS_1


Dalam hati Sofi merasa bersyukur karena memiliki sahabat seperti mereka. Teman yang masih mau berteman dengannya meskipun dirinya tak bisa berbagi banyak rasa.


" Ya udah yuk nunggu di depan!" ajak Noni karena kelas mereka sudah mulai sepi. Dengan langkah lemah Sofi mengikuti.


********


Saat keluar dari kelas, tiba-tiba ada seorang cowok yang menabrak Sofi hampir saja dia terjatuh jika Noni tak memeganginya.


"Woii lihat-lihat dong kalau jalan!" Noni meneriaki cowok itu dengan kesal.


Cowok itu memakai seragam dengan baju yang sudah tidak rapi lagi dan berbau asap rokok. Tapi kalau di lihat-lihat tampangnya lumayan dengan lesung pipi di kedua pipinya. Pasti kalau tersenyum kelihatan tampan. Hush mikir apa sih??


Noni tahu siapa dia, anak geng di sekolahan mereka yang hobinya bikin ulah. Tapi sepertinya Noni tak gentar. Cowok itu menoleh ke arah Noni dan Sofi bergantian dengan tatapan menakutkan. Noni balas dengan tatapan siap menantang. Sofi menunduk sambil mengedarkan pandangan di sekelilingnya yang sudah sepi. Sofi semakin takut jika sesuatu terjadi.


"Udah Non ...aku nggak papa kok." Sofi berbisik takut. Dia terus memegangi lengan Noni.


Cowok itu diam menatap dalam dan tampak serius. Lama mata mereka beradu saling pandang seperti mencari sesuatu. Sofi yang merasa ditatap seperti itu pun jadi gugup dan salah tingkah. Apa ada yang salah? Dia menundukkan kepalanya dan cowok itu pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun.


"Kamu kenapa sih? Harusnya dia minta maaf sama kamu." Noni memarahi Sofi yang dia. ketakutan seperti itu.


"Udahlah serem tahu...nanti kalau dia ngapa-ngapain kita gimana?"


"Kan ada aku...kamu meragukan kemampuan ku?"


Sofi baru sadar. Noni kan master karate. Bisa-bisanya dia tidak lupa.


"Iya yah... lupa." Sofi nyengir sendiri. Noni tidak memperhatikan ekspresi Sofi yang pikirannya mulai kemana-mana lagi. Dia masih memikirkan kenapa cowok tadi menatap nya seperti itu. Apakah dia mengenalnya? Kenapa dia menatapnya seperti itu?


"Ya udah yuk!" Noni merangkul lengan Sofi dan menyeretnya meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2