
Kehidupan Sofi berubah drastis, dari yang dulunya bukan siapa-siapa dan bahkan mungkin banyak teman disekolahnya yang tidak menyadari kehadirannya atau malah tidak menganggapnya ada. Kini mereka hampir semua membicarakannya.
Hubungannya dengan Guntur seakan menjadi magnet yang menarik perhatian teman-temannya.
Hari ini Sofi berulang tahun ke -17
“Happy birthday sayang." Kak Tasya membangunkannya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya mencoba bangun dari dunia mimpi dan kembali ke dunia nyata.
"Terimakasih kak." Jawab Sofi seraya bangun dan memeluk kakaknya.
“Kamu mau hadiah apa?”
“Aku nggak minta apa-apa kok kak." Tiba-tiba ada sebuah ide yang terlintas. "Kalau hari ini bolos boleh nggak?”
“Apaan sih kamu?” kak Tasya mencubit hidungnya Sofi.
“Bercanda.” Sahutnya sambil tertawa.
“Maaf ya kakak kemarin sibuk jadi nggak sempat untuk buatin kamu pesta.”
“Aku nggak butuh pesta kak yang aku butuhin adalah doa dan kasih sayang kak Tasya sama satu lagi uang jajan yang banyak....hehehehe.”
“Ya udah sana cepet mandi!” Perintah kakaknya sembari berjalan keluar dari kamar.
Sofi masih malas-malasan ia mengulingkan tubuhnya ke kanan-kiri. Di ambilnya ponselnya ada 4 pesan masuk. Dari Noni, Mita, Farah dan……Evan mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Ia membacanya sebentar lalu membalas pesan dari Evan untuk mengucapkan terima kasih.
Hatinya kini tak seperti dulu ia selalu menantikan saat Evan mengiriminya pesan mau pinjam buku, pinjam apa lah atau meminta bantuan padanya, tapi sekarang tidak Evan sama seperti teman lainnya ia kini menjadi begitu tak istimewa untuknya.
Kok nggak ada pesan dari Guntur, dia nggak mau ngucapin selamat ulang tahun apa sama aku. Atau jangan-jangan dia gak tahu kalo hari ini dirinya berulang tahun. Lho kok jadi sedih sih? Kenapa dia jadi begitu mengharapkannya, bukannya Guntur bukan siapa-siapanya.
Katanya kan pacar, sejak kapan hatinya mengakui seperti itu. Ia tak mau berpikiran yang aneh-aneh lagi, Sofi beranjak dari tempat tidurmya, menarik handuk dan pergi ke kamar mandi.
__ADS_1
Walaupun sudah berusaha menepis rasa kesal di hatinya, tetap saja ia masih murung.
“Hai ulang tahun kok cemberut gitu, kenapa nggak seneng tambah dewasa?” Kak Tasya merasa aneh dengan sikap Sofi, kalau biasanya dia tampak begitu sedih karena harus melewati ulang tanpa kedua orang tua mereka tapi kini tampak lain, Sofi cemberut ia tampak kesal.
Sofi tak menjawab. Ia hanya diam sambil memasukkan roti kedalam mulutnya.
“Ntar deh kakak beliin hadiah.”
Sofi tetap tak bereaksi, sepertinya bukan itu masalahnya. Mungkin…..
“Udah dapat ucapan dari Guntur?”
Sofi menggeleng. Oh ini toh masalahnya. Kak Tasya tahu apa penyebabnya.
“Oh….itu toh yang bikin kamu kesal. Katanya bukan pacar, bilang nggak suka juga ngapain berharap dia ucapin buat kamu?”
Kak Tasya menggodanya dan itu malah membuatnya semakin buruk. Sebuah pesan masuk. Buru-buru Sofi melihat ponselnya, berharap Guntur mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Dilihat layar ponselnya yah sebuah pesan dari Guntur. Sofi tersenyum lebar yang ditunggu akhirnya.
Sofi tak menjawab pertanyaan kakaknya dia hanya mengangguk-angguk bersemangat.
Lalu ia tiba-tiba cemberut lagi. Mau tak mau Kak Tasya bertanya lagi.
“Kenapa?”
“Guntur bilang hari ini dia nggak bisa jemput aku, katanya motornya sedang mogak sekarang.” Sofi membanting ponselnya dan memasukkan roti banyak-banyak ke mulutnya. Kak Tasya tertawa melihat tingkah adiknya ini.
Selama perjalanan menuju sekolah dari rumah hingga sampai di sekolah Sofi terus cemberut.
Sesampainya di kelas, dia melihat sesuatu di atas mejanya. Dihampirinya kursi duduknya.
“Apaan nih?” Sofi melihat ada boneka beruang teddy bear besar berwarna coklat dan memakai syal abu-abu duduk di kursinya dan ada sebuah kartu ucapan dipangkuannya. Dia membaca tulisan yang ada di dalamnya
__ADS_1
Happy birthday!
I hope you’ll get our dreams
And want the best for you
Sofi tersenyum riang seolah kekesalannya yang dari tadi memuncak di kepalanya serasa hilang tertiup angin dan tentunya dia juga dapat jawaban dari pertanyaan yang ada dalam benaknya.
“So sweet.” Mita datang dan berusaha mengambil boneka itu.
Dengan cepat Sofi menjauhkan boneka itu darinya. “Mau ngapain kamu?”
“Aku pengen meluk bonekanya.”
“Ih nggak boleh, ini hadiah ulang tahun aku tahu...”
Noni tersenyum melihat tingkah Sofi yang ceria bahagia. Entah kapan ia melihat Sofi sebahagia ini. Farah merasa iri. Kenapa Evan tak pernah menunjukkan perhatian padanya?
*******
Saat jam istirahat Farah bersama Evan menghabiskan waktu di kantin berdua. Farah mencoba menarik perhatian Evan yang dari tadi sibuk mengaduk-aduk makanannya. Tentu saja ia tahu apa yang terjadi tadi pagi antara Sofi dan Guntur.
“Aku iri banget masak tadi Sofi dikasih surprise sama Guntur romantis banget tahu.” katanya sambil menatap Evan.
Evan yang merasa kesal menjadi tambah kesal dengan arah pembicaraan yang satu ini.
“Kamu kan nggak lagi ulang tahun jadi surprise apa yang bisa aku kasih? Kamu mau banding-bandingin aku sama Guntur?” Evan menjawab dengan ketus.
“Van kamu kenapa sih kok jawabnya begitu?”
Evan tak menjawab dan langsung pergi meninggalkan Farah yang bingung sambil meneriakkan namanya. Evan tak peduli. Ia merasa sudah salah langkah.
__ADS_1