Rain Memories

Rain Memories
Jadian


__ADS_3

“Kak Tasya sibuk banget ya sekarang?” Tanya Noni saat mereka sudah bisa mengatasi ketegangannya tadi dan mulai mengganti topik pembicaraan.


“Iya nih namanya juga kerja sambil kuliah, kadang aku kasihan tahu lihat kak Tasya. Seandainya aku bisa bantu.” Pikiran Sofi menerawang pada kakaknya yang kini mengambil tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga dan harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan mereka.


“Iya sih tapi kamu mau bantu apa coba, yang bisa kamu lakukan ya cuma belajar yang baik supaya nggak ngecewain kak Tasya.”


“Iya sih.” Sofi mengiyakan.


Sampai depan sekolah Sofi dan Noni terkejut melihat ada Guntur disana, ia tak bersama teman-temannya. Sendirian. Ia duduk diatas motornya sepertinya menunggu seseorang. Hatinya berdegup kencang. Kenapa ini?


“Ngapain dia disitu tumben amat?” Noni bertanya penasaran.


“Nggak tahu ngapain ya?” Sofi menjawab takut-takut. Dia takut kalo sebenarnya Guntur menunggunya. Eh GR banget sih.


“Ya udah nggak usah dipikirin, lagian bukan urusan kita juga.” Sofi merasa gelagapan, dia kan nggak cerita kalau ia pernah pulang bareng Guntur.


“Ayo Sof kamu kenapa sih?” Sofi diam membeku ditempatnya. Digandengnya lengan Sofi menuju mobilnya yang terparkir diseberang jalan, mang Udin terlihat bersiap membukakan pintu.


Kehadiran Sofi dan Noni yang juga bergerak mendekat kearahnya pun disadari Guntur ia menoleh dan menatap Sofi. Lalu tersenyum padanya. Mereka berpandangan seolah-olah bunga jatuh bertebaran diantara mereka.


Dug-dug dug. Hatinya berdebar tak karuan. Semoga Noni nggak dengar.


“Senyum sama siapa tuh?” Noni menengok kanan-kiri nggak ada yang orang disekitar mereka. Muka Sofi bertambah pucat Noni bakal ngamuk nggak ya.


Guntur turun dari motornya.


“Lama banget ngapain aja sih?” Guntur bertanya pada Sofi.


Noni kini tahu siapa yang dari tadi diperhatikan Guntur. Noni mengangkat alisnya pada Sofi heran.


“Ehhh....” Sofi tak bisa menjawab lidahnya kelu. Antara bingung dan takut. Dia menatap Guntur dan Noni bergantian.


“Mau ngapain kamu?” Noni bertanya pada Guntur yang penasaran. Karena mereka berdua hanya diam saja dan saling menatap tidak jelas.

__ADS_1


“Gue mau nganter Sofi pulang.” Jawabnya singkat.


“Bercanda lo? Nggak usah deket-deket deh ma Sofi udah sana pergi!” Noni mengusir Guntur dengan galak.


“Gue nggak ngomong sama lo, gue ngomong sama Sofi, ayo Sof buruan!” sahutnya merasa kesal urusan mereka dicampuri oleh orang lain.


“Aku….” belum sempat melanjutkan kalimatnya.


Dipotong begitu saja oleh Noni “Udah Sof kita pergi.” Noni menyeretnya ke mobil tanpa bisa mengatakan apa-apa. Ia menatap Guntur mencoba meminta pengertian.


“Aku nggak pergi kalau tanpa kamu, aku bakal terus nunggu kamu disini!” Teriaknya menatap kepergian Sofi sebelum melangkah pergi menjauh. Sebelum masuk mobil Noni, Sofi sempat melihat kearah Guntur. Kenapa sih dia?


*****


“Ngapain sih tuh orang? Udah gila kali ya? Dia suka ganggu kamu ya? Ini pertama kalinya kan? Atau dari kemarin dia udah ganggu kamu? Kamu kenapa nggak bilang aku?” Noni memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan saat mereka sudah berada dalam mobil.


Sofi hanya diam saja terpaku, tak tahu harus memulai dari mana. Tapi mau tak mau dia harus mengatakannya. Bukan?


“Apa?” Sahutnya gusar.


“Sebenarnya.... kemarin Guntur nganter aku pulang."


“Whatttttt?????? Kamu bercanda? Kesambet apa kanu!!” Ia menyentuhkan tangannya pada dahi Sofi.


“Aduh gini lho,... kemarin tuh waktu aku nunggu taksi Guntur nawarin nganter aku pulang.” Jelas Sofi.


“Trus kamu mau?”


“Habisnya dia nungguin aku terus, waktu itu juga mau hujan dan ya udah....” Sofi berusaha meminta pemakluman dan menatap Noni dengan tatapan minta maaf.


“Dan kamu baru cerita ini ma aku,” Sofi hanya mengangguk lemah, saat ditatap begitu oleh Noni.


“Sorry aku lupa, tahu kan???” sambil memainkan alis matanya ia mencoba mengingatkan pada Farah dan Evan yang akhir-akhir ini menganggu pikirannya.

__ADS_1


“Iya aku tahu,” Noni mengerti yang dirasakan sahabatnya itu. Tapi tetap saja ia merasa aneh pada sikap Guntur “ngapain dia bersikap kayak gitu ma kamu?”


“Aku juga nggak tahu,” Sofi mengeleng-gelengkan kepalanya dan memikirkan semua kejadian-kejadian yang berhubungan dengan Guntur “Tadi juga waktu Prita mau nampar aku Guntur datang dia nolong aku dan ngancam Prita supaya nggak ganggu aku lagi.”


Noni bengong tak percaya. Sofi tetap melanjutnya ceritanya tanpa memperhatikan ekspresi Noni yang kaget setengah mati.


“Terus waktu aku jatuh di perpus kemarin Guntur juga yang nolongin aku.”


“Aneh banget tuh orang.” Noni merasa ada sesuatu yang ganjil “Pokoknya ya Sof kamu jangan deket-deket lagi sama dia, alasannya apa coba atau jangan-jangan dia mau ngerjain kamu.” Noni mencoba menegaskan dengan nada yang tak bisa dibantah.


Sofi hanya diam dalam kebimbangan.


****


“Kamu yakin nggak mau aku antar?” Noni bertanya saat mereka sudah selesai dari toko buku dan akan beranjak pulang.


Dia mengelengkan kepalanya, tampak sedang berpikir “Nggak deh makasih, aku dah telp taksi kok lagian kak Tasya nggak suka kalau aku sering ngrepotin kalian.” Jawabnya asal-asalan.


“Ya ampun Sof ma temen sendiri juga." Noni yang mendengar kata-kata Sofi jadi kesal.


“Iya aku tahu, eh itu taksinya datang aku duluan ya!” sahutnya seraya pergi dan melambaikan tangannya pada Noni.


“Ok hati-hati!” teriaknya pada Sofi sebelum dia sempat mengatakan sesuatu yang lain. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang nanti akan terjadi.


Sebenarnya Sofi menolak ajakan pulang bareng Noni karena dia pengen lihat Guntur. Apa benar dia masih menunggunya disekolah? Sejak tadi dia terus memikirkan Guntur, feeling-nya mengatakan bahwa Guntur masih menunggunya. Meski dia tak mengerti kenapa Guntur bersikap seperti ini padanya, entah mengapa dia yakin Guntur tak ingin menyakitinya.


Sofi tersenyum sendiri. Apakah dia senang dengan perhatian dari Guntur? Tapi kenapa? Apa sekarang dia mulai menyukainya? Lalu mengapa hatinya terus berdegup kencang saat mereka saling berdekatan? Ribuan pertanyaan terus berputar di kepalanya.Tapi dia mencoba mengeyahkan pikiran-pikiran itu dari kepalanya.


“Pak nanti lewat depan SMA International ya pak!” serunya pada supir taksi.


“Baik mbak."


Apa yang akan dilakukannya jika benar Guntur masih disana menunggunya? Dia tidak bisa berhenti berpikir.

__ADS_1


__ADS_2