
“Jadi selama ini aku cuma jadi mainan kamu?” air mata mulai menetes dari matanya. Ia terluka hatinya hancur merasa dipermainkan. Orang yang selama ini dia percaya memilih menjadi pengkhianat dalam kehidupannya.
“Aku nggak bermaksud begitu,” Evan berusaha menjelaskan namun Farah sudah berdiri meninggalkannya.
Sepanjang jalan menuju kelasnya Farah terus menangis, ia benar-benar tak menyangka semua hal ini akan terjadi padanya. Ia tak peduli saat semua orang menatapnya. Yang ia tahu ia harus meminta penjelasan pada seseorang.
“Kamu ngapain sih Far?” Farah menggebrak meja Sofi dan mengamburkan seluruh buku dan alat tulisnya ke lantai. Semua orang menatapnya dengan bingung.
“Jawab pertanyaanku, kamu suka sama Evan?” Sofi masih terkejut dengan tingkah Farah dan ia semakin terkejut saat Farah kembali mengungkit tentang perasaannya kepada Evan. Sofi terdiam tidak tahu harus berkata apa.
“Kenapa diam nggak bisa jawab?”
“Farah udah kamu nggak usah marah-marah gitu, kalau ada masalah ayo kita bicarakan baik-baik.” Noni berusaha menenangkan Farah yang kalap. Dia tak ingin masalah yang mereka hadapi jadi bahan pembicaraan banyak orang.
“Nggak usah ikut campur deh Non!!" Farah membentak Noni dengan kasar.
“Gimana aku nggak mau ikut campur, kamu marah-marah sama Sofi yang nggak tahu apa-apa.” Noni berusaha meredam kemarahan Farah.
“Nggak tau apa-apa?” Farah mengejek Sofi yang sedari tadi hanya sanggup terdiam. “Sofi juga suka sama Evan. Iya kan Sof kamu suka sama Evan??”
__ADS_1
“Udah deh kalian kenapa sih?” Mita juga berusaha menghentikan Farah.
“Udah deh diam aja kamu!!”
“Bisa nggak sih kita bicarain baik-baik, kamu tiba-tiba datang trus marah-marah nggak jelas sama kita semua. Kalau kamu punya masalah ayo kita selesaikan baik-baik. Nggak perlu marah-marah dan teriak-teriak begini."
“Oh kamu jadi mau tahu apa masalahku.” Farah menghela napas “Kamu tau nggak apa tadi aku ketemu Prita dia bilang dia putus sama Evan gara-gara Sofi.”
“Prita?? Trus kamu percaya gitu kata-katanya kamu tahu kan dari dulu sampai sekarang Prita itu nggak suka sama Sofi....” Farah mengangkat tangannya meminta Noni untuk berhenti.
“Aku belum selesai ngomong ya...aku nggak akan percaya gitu aja sama orang yang lain aku lebih percaya sama temanku sendiri tapi sayangnya apa yang aku percaya nggak selamanya benar. Dan kamu tahu apa yang paling menyakitkan buat aku? Yaitu kata-kata orang lain itu lebih jujur dari temanku sendiri. Seseorang yang aku percaya.”
Sofi terkejut air mata kini membanjiri pipinya. Dia benar-benar bingung. “Nggak usah nangis simpan tuh air mata.” Sofi terkejut dengan perlakuan Farah padanya.
Noni tak tega melihat Sofi di perlakukan begitu ini semua bukan salah Sofi.
“Harusnya ya kamu tuh terima kasih sama Sofi, dia mau merelakan Evan buat kamu!!”
“Terima kasih???? Heh yang bener aja!!!” Farah benar-benar tak terima lalu kemudian ia menyadari “Oh jadi kamu juga udah tau. Gila ya!”
__ADS_1
“Lagian itu dulu, sekarang Sofi udah punya Guntur.” Kali ini Mita berusaha menghentikan kemarahan Farah.
“Trus semua jadi baik-baik aja gitu? Kamu nggak ngerasain apa yang aku rasa, aku merasa sakit, kecewa dan dipermainkan.”
“Maaf.” Sofi akhirnya membuka suara setelah mengerti posisinya “Aku tahu dulu aku salah karena nggak jujur, tapi semua itu udah nggak penting”
“Nggak penting!!! Iya kamu seneng trus aku??”
“Berhenti salahin Sofi, Far. Semua ini bukan salah Sofi sendiri, ini juga salah Evan dan kamu.” Kali ini Mita mencoba menenangkan Farah yang semakin hilang kendali.
“Diam deh kamu!!” Farah membentak Mita dengan kasar.
“Harusnya sebagai temen juga peka sama perasaan temen sendiri,” Noni berusaha menyadarkan Farah.
“Gila ya salahin aja terus aku. Aku nggak percaya sama kalian! Ingat ya aku nggak mau ngomong lagi sama kalian!" Farah pergi meninggalkan mereka yang masih shock dengan kejadian barusan.
Tangis Sofi semakin pecah, Mita dan Noni memeluknya. Persahabatan mereka tampaknya akan hancur, bukan. Sudah hancur.
*******
__ADS_1
😭😭