Rain Memories

Rain Memories
Jadian (2)


__ADS_3

Sofi tersenyum sendiri. Apakah dia senang dengan perhatian dari Guntur? Tapi kenapa? Apa sekarang dia mulai menyukainya? Lalu mengapa hatinya terus berdegup kencang saat mereka saling berdekatan? Ribuan pertanyaan terus berputar di kepalanya.Tapi dia mencoba mengeyahkan pikiran-pikiran itu dari kepalanya.


“Pak nanti lewat depan SMA International ya pak!” serunya pada supir taksi.


“Baik mbak."


Apa yang akan dilakukannya jika benar Guntur masih disana menunggunya? Dia tidak bisa berhenti berpikir. Sofi kemudian melihat suasana sore Jakarta melalui kaca mobil. Tetes hujan membasahi kaca mobil taksi yang ia naiki. Hujan lagi. Gerutunya dalam hati. Tapi pikirannya melayang pada Guntur.


Apa bener Guntur masih nunggu disekolah hujan gini? Hatinya semakin berdegup kencang saat taksinya sampai di depan sekolahnya. Diamatinya sekolahnya dengan teliti.


“Pak jalannya pelan-pelan ya pak!” Dia tak menemukan Guntur. Nggak mungkin lah dia nungguin. Pikirnya menyimpulkan. Yah dia merasa kecewa.


Eh tunggu apa itu….??? Tiba-tiba ia melihat motor ninja putih milik Guntur di dekat pos satpam. Dia masih nunggu?? Udah 3 jam? Hujan-hujan gini? Sofi tak percaya. Ia terus mengerjapkan kedua matanya. Mencoba meyakini apa yang dilihatnya. Terselip rasa bahagia yang muncul entah dari mana.


Apa yang harus dilakukan? Taksi itu pun melaju menjauh. Gimana kalau dia nggak pulang sampai pagi? Ah nggak mungkin, tapi kalau bener gimana. Lagian orang itu mgapain menghabiskan waktu nunggu sesuatu yang nggak pasti. Menunggu dia.


“Pak balik ke sekolah tadi!” Perintahnya pada sopir taksi.


“Iya mbak.” Sopir taksi itu langsung mengarahkan mobilnya kembali ke sekolah. “Kita masuk mbak?”


“Iya pak masuk. “


Guntur melihat taksi yang masuk ke dalam area sekolah. Ia hanya menoleh sebentar dan mengalihkan pandangannya kearah lain. Sepertinya ia tidak tahu kalau sofi berada didalamnya. Sofi hanya melihat dari dalam taksi ia memilih menjauh dari kaca.


Diamatinya Guntur yang berdiri menyandarkan punggungnya ke tembok. Kasihan dia kedinginan gitu.


“Pacarnya ya mbak? Lagi berantem ya?” Sopir taksi itu membuyarkannya dari pikirannya.


“Ehhh..” Sofi mengerutkan keningnya terkejut dengan pertanyaan supir taksi.


“Kalay punya masalah harus diselesain mbak, kasian tuh pacarnya."


Sofi memandang Guntur lagi, yah dia memang merasa kasihan padanya. Ia membuat Guntur menunggunya.


“Pak menurut bapak dia baik nggak sih pak?”


“Mbak nanya saya, bukannya mbak pacarnya harusnya kan mbaknya yang lebih tahu. Tapi kalau menurut saya sih dia orang baik mbak mana ada orang yang rela nungguin pacarnya hujan-hujanan gini, dia tuh ganteng mbak bisa ganti cari yang lain loh,” goda supir taksi itu.

__ADS_1


Huh ganteng dari mana?


“Ya udah deh pak, ini uangnya biar saya pulang sama dia aja.” ia mengeluarkan uang dari dompetnya sesuai dengan tarif yang tertera.


“Mbak, kalau menilai seseorang tuh harus dari dekat biar tahu gimana hatinya, kadang yang terlihat diluar belum tentu sama seperti yang ada didalamnya,” kata sopir itu sebelum Sofi membuka pintu taksi.


“Makasih pak.” Ia menutup pintu taksi dan berlari kearah Guntur.


Sofi berlari dan menutupi kepalanya dengan tasnya agar tak terkena air hujan. Guntur yang melihat kedatangan Sofi merasa lega.


“Ngapain sih kamu masih disini?” serunya saat dia sudah berada di depan Guntur sambil mengibaskan tubuhnya yang basah terkena air hujan. Guntur melihat Sofi dengan tampang memelas.


“Nungguin kamu, udah aku bilang kan kalau aku nggak akan pulang sebelum nganter kamu.”


“Kamu tuh keras kepala banget ya."


“Tapi kamu tetep kesini kan?" Guntur menampilkan ekspresi menggoda, dan membuat Sofi menjadi salah tingkah. Sofi mengalihkan pandangan, menghindari tatapannya.


“Terus gimana nih pulangnya? masih hujan.” Sofi berpura-pura mengalihkan perhatian Guntur darinya.


“Kamu nggak bawa jas hujan apa?”


“Nggak punya.” jawabnya singkat dan jelas.


Sofi memutar bola matanya. Punya motor nggak punya jas hujan? Aneh ini orang nggak tau apa udah musim hujan.


“Iya besok aku beli,” katanya seolah bisa membaca pikiran Sofi.


Mata sofi melebar saking kagetnya. Mereka saling menatap sejenak, sebelum Sofi membuang mukanya kearah lain.


Sofi menyandarkan tubuhnya ke tembok di sebelah Guntur. Dia berpikir dan terus berpikir tentang semua ini.


Hari sudah mulai sore dan ia juga mulai merasa kedinginan. Hujan sepertinya tidak ingin berhenti.


“Jaketnya kemana?” Guntur bertanya memecah keheningan yang panjang itu.


“Oh ya aku nggak bawa.” Sofi merasa disadarkan akan itu. Gimana mungkin dia bisa melupakan jaketnya Guntur. “Maaf belum aku balikin.”

__ADS_1


“Buat kamu aja, yang penting dibawa biar kamu nggak kedinginan.”


Sofi bengong menatap Guntur, kata-katanya terdengar begitu tulus, lembut tak ada nada memerintah mereka saling berpandangan lagi. Seolah semua yang terjadi ini seperti fim saja.


DUARR!!!! suara guntur membuat Sofi terkejut dan membuatnya menghambur kearah Guntur dan memeluknya, gerakan refleks yang membuat hati Sofi berdegup kencang. Jantungnya benar benar berdegup dengan kencang. Ia merasakan kehangatan yang luar biasa saat Guntur memeluknya juga mengusap rambutnya berusaha menenangkannya.


“Nggak usah takut ada aku kok."


“Sorry.” Sofi baru menyadari semua itu setelah beberapa menit mereka berpelukan dan mendengarkan irama jantung satu sama lain. Ia kemudian berdiri menjauh dari Guntur yang hanya diam membeku.


Sofi mengusap tangannya mencari kehangatan, Guntur tahu apa yang harus dilakukannya. Seakan tak ingin menyiakan kesempatan tiba tiba Guntur berdiri dibelakangnya dan memeluknya dari belakang, tangannya mengeggam tangan Sofi dan melipatnya kedepan. Sofi terkejut, dia ingin berontak tapi tak bisa Guntur menahannya.


“Gini aja biar nggak kedinginan,” dia berbisik di telinga Sofi dengan lembut dagunya diletakkan di bahu Sofi. Sofi merasakan kejutan tak diduga sekujur tubuhnya merasa kaku dan tegang. Ia bahkan harus menahan napasnya sendiri. Guntur memeluknya.


“Apa hubungan kamu sama Evan?” Guntur memulai pembicaraan saat keheningan panjang yang menguasai kebersamaan mereka berdua.


“Tetanggaan. Bukannya kamu dah tahu.” Sofi mengatakan yang sebenarnya. Tentu saja tidak dengan perasaan nya dengan Evan.


“Oh cuma itu."


“Kenapa?” Sofi dibuat penasaran.


“Nggak nanya doang.”


Hening lagi. Hanya suara guyuran dan percikan hujan yang terdengar. Mereka membisu. Tanpa kata mereka sibuk dengan pkiran mereka masing-masing.


“Kamu belum punya pacar?” Tiba-tiba Guntur menanyakan pertanyaan.


“Heh ??” Sofi bertanya lagi untuk menyakinkan apa yang didengarnya.


“Kamu belum punya pacar kan?”


Ia tak menjawab. Mau di jawab apa? “hmmm...”


“Berarti belum kan? Ya udah kamu jadi pacar aku aja."


“APA???”

__ADS_1


__ADS_2