Rain Memories

Rain Memories
Beruntung? (2)


__ADS_3

Di lampu merah, Sofi bertanya dia menggunakan suara yang agak tinggi lebih cenderung berteriak sih agar Guntur dapat mendengarnya.


“Emang kamu tahu rumah aku?” Tanya Sofi ingin tahu.


“Menurut kamu?” Lampu hijau menyala Guntur langsung mengegas motornya.


Sofi tak mau bertanya lagi. Sumpah saat ini dia benar-benar tak bisa berpikir apa-apa seperti terbius oleh pesona seorang Guntur. Terpesona??


Sofi pun merasakan hatinya semakin berdebar-debar tak karuan dan tak disadarinya ia tersenyum sendiri. Karena asyik memikirkan yang tidak-tidak, membuat Sofi tak sadar sudah berada di depan rumahnya.


“Udah sampau kamu nggak mau turun?? Atau…. kamu seneng meluk aku?” Guntur berkata tanpa basa-basi.


Sofi langsung melepaskan pegangannya pada Guntur. Sofi sadar dan melihat kanan-kiri dan muka Sofi langsung merah padam.


Lalu dia turun, “Makasih ya udah dianterin.” katanya sambil mencoba menelaah apa yang sedang terjadi.


“Iya.” hanya itu yang diucapkan olehnya Guntur pun langsung bergegas meninggalkan rumahnya.


Sofi senyum-senyum sendiri mencoba merangkai apa yang sebenarnya terjadi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena mulai berpikir yang tidak-tidak. Apa Guntur menyukainya?


Ketika akan berbalik, dilihatnya Evan tengah menatapnya. Evan lalu datang menghampirinya. Dia langsung bertanya padanya tanpa basa-basi. "Kamu pulang bareng Guntur? Kenapa?"


“Iya tadi ketemu di depan sekolah, kak Tasya nggak bisa jemput jadi...,” belum sempat melanjutkan kata-katanya Evan sudah memotong penjelasannya.


“Kenapa nggak minta tolong ke aku?” ekspresinya berubah serius.


“Lagian tadinya aku mau pulang naik taksi, tapi ya …..” lagi-lagi Evan memotong kata-katanya.


“Oh ya udah deh, tapi lain kali minta bantuan aku ya!” kata Evan dengan nada tegas seolah marah padanya sambil berlalu pergi begitu saja meninggalkan Sofi yang masih berdiri terpaku. Bingung terhadap reaksi Evan akhir-akhir ini.

__ADS_1


Rasanya hari ini benar-benar seperti rollercoaster. Sofi pun baru sadar kalau jaketnya Guntur lupa belum dikembalikannya. Tik tik tik hujan mulai turun disaat yang tepat, ia pun segera berlari ke dalam rumah.


*******


“Dianterin siapa tadi?” tanya kak Tasya saat sampai dirumah.


“Siapa?” Sofi yang sibuk mengerjakan PR-nya pura-pura tidak mendengarkan apa yang dibicarakan kakaknya itu.


“Kok malah nanya kakak sih, yang dianterinkan kamu. Katanya pake motor, pacar kamu?”


“Ehhh?” Sofi berpikir sejenak tanpa menghentikan kegiatannya.


“Oh Guntur, tadi dia nawarin nganter pulang.” Tiba-tiba dia menghentikan kegiatannya. Terkejut. Lalu ia menoleh pada kakaknya itu. “Kok kakak bisa tahu?”


Kakaknya hanya mengangkat bahunya dan menggodanya. 'Kok nggak bareng Evan kayak kemarin?”


“Nggak kepikiran?” Kakaknya heran dan mengangkat alisnya.


“Kak Tasya kenapa sih?” Melihat ekspresi kakaknya itu.


“Kamu nggak mau ngaku?” kak Tasya menghampirinya dan duduk di depannya.


“Aku nggak ngerti maksud kak Tasya.” Sofi bingung dan menyipitkan matanya.


“Sebenarnya kakak tahu kalau kamu suka sama Evan." kak Tasya tersenyum penuh arti padanya.


Sofi kaget mendengarnya, ia menghentikan kegiatannya dan menutup bukunya, “Kakak tahu? Kok bisa? Aku kan nggak pernah bilang apa-apa.” Sahut Sofi.


“Kamu diam-diam suka lihat dia, trus juga kamu juga suka ngintipin dia yang lagi nyuci mobilnya di depan, iya gak??” Kak Tasya berhasil menggodanya.

__ADS_1


Sebegitu kelihatan kah sampai kak Tasya dan Noni sampai tahu?


Sofi hanya terdiam.


“Kamu kenapa? Kakak salah? Atau kamu sekarang suka sama cowok itu?” kakaknya bertanya lagi melihat adiknya yang hanya diam saja.


“Nggak, kakak emang bener tapi aku nggak bisa berharap sama kak Evan lagi.” jawabnya dengan sedih.


“Kenapa?” kak Tasya penasaran.


“Soalnya Farah juga suka sama evan.” Sofi menjawab jujur.


“Trus kalau Farah suka sama Evan bukan berarti kamu nggak bisa suka juga sama Evan juga dong! Lagian kan cuma suka belum jadi pacar." kak Tasya mencoba meyakinkan Sofi.


“Iya tapi kak Evan cuma anggap aku adik doang, lagian kak Evan kemarin habis jalan kok sama Farah."


Yah, meskipun Evan nggak akan pergi sama Farah kalau bukan karena dirinya yang menolak ajakannya Evan. Tapi semua sudah terlanjur terjadi.


“Oh jadi sekarang kamu suka sama cowok itu?” kak Tasya cengar-cengir menggodanya. Sofi berpikir tentang kejadian hari ini. Namun segera ia menjawab.


“Nggaklah, tadi aja aku sempat mikir kesambet apa bisa dianterin pulang sama dia.” Sofi mencoba membela diri. Mengetahui arah pandangannya kak Tasya. Sofi mencoba memberi penjelasan. "Ini jaketnya Guntur .”


“Nggak suka kok dipake.” Kakaknya menggoda lagi. Sofi seperti mati kutu.


“Ini Sofi pakai karena aku nggak nemuin jaket aku dimana.” bantahnya sambil berdiri ke kamarnya sebelum kak Tasya menginterogasinya lebih jauh.


Kak Tasya hanya tertawa dan tawanya semakin keras melihat tingkah adiknya itu.


*****

__ADS_1


__ADS_2