Rain Memories

Rain Memories
Ternyata


__ADS_3

Gara-gara bangun kesiangan, kak Tasya tidak sempet masak buat sarapan, tadi cuma sempat minum susu.


Mana nanti ada ulangan lagi? Sofi terus mengelus perutnya. Karena tidak tahan dengan perutnya yang terasa perih Sofi memutuskan untuk sarapan dikantin sebentar.


"Aku ke kantin bentar ya?" Pamitnya pada ketiga temannya yang tengah sibuk belajar.


"Perlu di temani Sof?" tanya Noni.


"Nggak usah, aku cuma sebentar." Sofi langsung bergegas menuju kantin. Dia tidak mau membuang waktunya.


Setelah mendapatkan semangkuk soto dan teh hangat Sofi duduk disalah satu kursi yang dekat dengan jalan menuju koridor kelasnya biar bisa melihat jika nanti gurunya masuk kelas. Sedang asyik menikmati sarapannya tiba-tiba ada seseorang yang menghampirinya.


“Gue duduk sini ya?” tanya seseorang tanpa basa-basi.


“Iya duduk aja.” jawab Sofi tanpa menoleh kearah pemilik suara tersebut.


Asyik dengan sarapan dan bukunya. Waktu akan mengambil tisu, Sofi tidak bisa meraihnya. Tangannya coba meraba-raba di atas meja, lalu orang itu menyodorkan tisunya ke tangannya.


“Thanks!” Sofi menoleh kearah orang itu. Dia membeku.


Matanya melotot rasanya ingin terjungkal dari tempat duduknya. Cowok ini?? Apa yang dia lakukan? Dia nggak tahu kan kalau dia yang kemarin? Sofi benar-benar tak menyangka. Dia terus menatap cowok itu tanpa kata.


“Ngapain kamu?” Ia merasa risih ditatap oleh Sofi seperti itu. Cowok itu bertanya tanpa mengangkat kepalanya. Ia tahu Sofi kaget dengan kehadirannya.


Sofi tak sanggup berkata-kata. Lidahnya kelu, dia tidak bisa berpikir apa-apa. Dia mengerjapnya matanya berharap bahwa ia salah lihat. Dia menoleh ke sekeliling mereka kantin masih sepi. Dengan memberanikan diri Sofi berusaha untuk menjawab pertanyaan itu.


Sofi mencoba memberanikan diri dan bertanya dengan gugup. “Kamuuu…ngapain disini?”


“Lagi makan nggak lihat??” cowok itu menjawab tanpa menghentikan aksi makannya.


“Oh gituu ya.” Sofi pun bergerak ingin beranjak dari tempat duduknya, ia takut dan ia ingin segera pergi dari sini.


Cowok itu yang merasa ada keanehan dari Sofi pun menghentikan suapan-suapannya. Dan menatapnya tajam. Belum sempat Sofi berdiri tangannya sudah ditarik oleh seseorang.


Evan.

__ADS_1


Sofi terkejut bukan main. Kemudian Evan pun membayarkan makanannya dan menyeretnya pergi dari situ.


“Kak Evan kenapa sih?” Sofi bertanya pada Evan setelah mereka agak jauh dari tempat itu.


“Kamu ngapain dekat-dekat sama dia?” bukannya menjawab Evan malah balik bertanya.


“Aku nggak dekat-dekat sama dia, dia yang nyamperin aku trus duduk disitu. Lagian dia nggak ngapa-ngapain aku kok.” Sofi menjelaskan tanpa perlu diminta.


Padahal sebenarnya dia udah mau pingsan tadi melihat cowok itu duduk dihadapannya. Tanpa disadari tangan Evan masih memegang tangannya.


"Kak?" Sofi menarik tangannya dari Evan.


“Oh, maaf.” katanya dengan gugup.


“Besok-besok kamu jangan dekat-dekat lagi sama dia.” kata Evan padanya.


Apa maksudnya? Sofi tersenyum, mukanya memerah. Hatinya berdegup kencang. Ada bunga yang akan mekar dihatinya. Apakah Evan khawatir padanya.


“Kenapa?” tanyanya tanpa sadar.


“Oh.” Sofi kecewa mendengar jawaban dari Evan rasanya hatinya jatuh di hempaskan ke bumi begitu saja setelah terbang melayang ternyata selama ini dia cuma dianggap adik. Hatinya terluka, pupus sudah harapannya.


******


“Kamu tadi ngapain sama Evan?” tanya Farah padanya.


Evan memutuskan untuk mengantar Sofi sampai ke kelas dan sekarang Farah sedang menginterogasinya. Sofi merasa kesal sekali.


“Nggak ngapa-ngapain.” jawabnya asal-asalan. Dia sedang memikirkan hatinya.


Farah memandang penuh selidik. Merasa di tatap seperti itu Sofi jadi risih dan mau tak mau menjelaskan apa yang terjadi di kantin tadi.


“Tadi tuh waktu dikantin ada cowok itu,” mereka menyipitkan mata, tidak tahu siapa yang dimaksud. “Itu yang kemarin nabrak aku siapa namanya aku nggak tau, terus Evan datang.”


“Cowok itu namanya Guntur.” Noni tahu siapa yang dimaksud.

__ADS_1


“Guntur?? Ketua gank ….itu?” Mita yang dari tadi sibuk dandan tiba-tiba menyambung. “Ih Sof hati-hati dia berbahaya lho katanya dia sering mukulin orang sampai babak belur, minum-minuman, katanya juga pake narkoba gitu.”


Oh ya cowok yang dilihatnya waktu hujan-hujan dan hampir ketabrak mobilnya kak Tasya itu apa mungkin...dia? Kayaknya gitu Sofi baru ingat pantas saja dia merasa mengenali wajahnya. Ih serem amat.


“Emang kayak gitu, yang aku denger sihh.” sahut Mita tanpa menolehkan kepalanya yang lagi asyik pake make-up.


Farah merasa lega ia menghembuskan napasnya dan Sofi tahu kelegaan Farah itu.


“Kamu nggak usah cemburu gitu, Evan anggap aku adiknya sendiri kok.” katanya.


“Kok kamu bisa bilang gitu?” Farah penasaran dan menatapnya.


“Dia sendiri yang bilang.” jawabnya lemah sambil mencoba tersenyum. Tersenyum kecut. Noni hanya diam saja melihat percakapan kedua sahabatnya itu akhirnya buka suara.


“Maksudnya?? Cemburu?? Emang Farah ada hubungan apa sama Evan??” tanyanya bingung. Noni menatap kedua temannya itu bergantian.


“Gini lho Non sebenernya aku suka sama Evan.” tutur Farah dengan ceria.


“Evan mantan anak OSIS itu?? Wah kamu mau berkompetisi ya ma aku gara –gara kemarin.” Mita menyablak sambil membanting kacanya ke meja.


Noni memandang Farah yang bersemangat dengan dirinya sendiri. Lalu ditatapnya Sofi yang tampak sedih dan…kecewa. Kalau kedua sahabatnya menyukai orang yang sama apa yang harus dilakukan?


“Sof kita temen kan?” tanyanya kepada Sofi berbisik di telinganya.


“Iya, kamu kok nanya gitu sih?” Sofi menjawab dengan lirih, berusaha tidak terdengar oleh kedua temannya yang lain.


“Kalau kamu ada masalah cerita dong. Kamu janji sama aku ya!” Noni menatapnya serius. Noni menatap Sofi mencoba mendapat jawaban.


“Iya.” aku janji sambil menggenggam tangannya.


Sofi merogoh laci mejanya mengambil buku pelajarannya saat gurunya masuk ke dalam kelas. Ia harus fokus dan berkonsentrasi untuk pelajaran sekarang. Bukan masalah cintanya yang bertepuk sebelah tangan.


Saat meraba lacinya, Sofi menemukan sesuatu. Kali ini setangkai mawar putih yang ada disana bersama selembar kartu yang bertuliskan:


Aku ingin kamu bahagia.

__ADS_1


Sofi mau tak mau tersenyum membacanya. Orang ini benar-benar menjadi obat di saat kesedihan datang menghampirinya.


__ADS_2