Rain Memories

Rain Memories
Surprise (2)


__ADS_3

Sofi memutuskan untuk menemui Guntur ke tempat persembunyiannya di belakang sekolah. Semua teman-temannya tak terkejut seolah sudah terbiasa dengan kehadirannya. Walaupun ia merasa tak begitu nyaman berada di tempat ini, setidaknya tidak seperti saat pertama kali kesini dulu.


“Kenapa kamu nggak ngucapin ulang tahun ke aku?”


“Selamat ulang tahun ya sayang." Guntur mengelus pipinya membuat Sofi tersipu.


“Kamu udah jadi orang yang kesekian buat bilang itu ke aku.” Sofi menepiskan tangan Guntur sambil memasang muka cemberut.


“Trus mau kamu apa?”


“Kamu nggak niat apa jadi orang yang pertama kali ngucapin buat aku?”


“Wah kamu nunggu telp aku ya?” katanya dengan menggoda “Ntar kalau malam-malam takut ganggu kamu."


Sofi melunak, “thanks ya buat hadiahnya.”


“Hadiah apa?” Guntur menaikkan alisnya keheranan.


“Lho bukannya kamu yang kasih hadiah di kelas?”


“Kok kamu bisa anggap itu dari aku sih?”


“Lha trus dari siapa?” Sofi bingung, ia tampak berpikir keras. Tulisan itu kan kayak dari penggemar rahasianya, kenapa dia bisa lupa dan anggap itu dari Guntur.


Melihat Sofi seperti itu Guntur tertawa keras, Sofi mengerutkan keningnya keheranan.


“Iya iya itu dari aku.”


“Jadi??? Kamu penggemar rahasia aku ya?” Mata Guntur langsung melebar mendengar pertanyaan itu. Kenapa ia lupa?? Guntur mencoba mencari penjelasan, dia mengaruk kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya ia sudah ketahuan.


“Kenapa nggak jawab? berarti bener kan. huh udah ketahuan nggak mau ngaku lagi.”


“Aku bukan penggemar rahasia kamu tapi aku pacar kamu tahu.”


Sofi memukul lengan Guntur dan dengan gemasnya juga mencubitnya. Guntur merasa kesakitan sambil mengelus-elus lengannya yang dicubit.


“Aku cuma nggak bisa nunjukkin perasaan aku ke kamu.” Mendengar alasan Guntur hati Sofi dijalari perasaan hangat.

__ADS_1


“Kenapa kamu kasih aku hadiah teddy bear?”


“Ya ntar kalau kamu kangen aku kan bisa meluk itu.”


“Ihhh...”


“Lagian itu kan buat ngejagain kamu, kalau lagi nggak sama aku dirumah.”


Sofi tersenyum bahagia mendengar kata-kata Guntur itu. Lalu ia teringat apa tujuannya datang kemari.


“Ntar aku mau traktir teman-teman, kamu ikut ya??”


“Boleh."


“Kita diajak nggak nih?” Sahut Ardi yang dari tadi memperhatikan keduanya.


“Nggak!!” Jawab Guntur sekenanya.


“Diajak kok aku yang traktir.” Sofi menambahi sebelum terjadi pertengkaran yang nggak penting diantara mereka.


“Udah udah jangan kayak begitu malu-maluin aku.” Guntur memelototi mereka, dan mereka hanya cengingisan di pelototi seperti itu tanpa menghentikan aksi tari aneh mereka.


“Kenapa sih ajak mereka? Mereka banyak makan tahu.” Guntur menegur Sofi yang hanya tertawa melihat tingkah teman-temannya.


“Ini kan hari ulang tahun aku. Jadi aku pengin ngerayain bareng-bareng.”


Mereka pun mendekati Sofi untuk mengucapkan selamat ulang tahun padanya dan berebut bersalaman dengannya. Sofi kewalahan, dan itu membuat Guntur cemburu.


*******


Ketika sampai di café bersama Guntur, kak Tasya sudah menunggu dan menyiapkan semuanya. Semua teman-temannya sudah ada disana, Noni, Farah, Mita, Dennis dan juga Evan. Sofi menyadari tatapan Evan namun ia menepiskan hatinya, ia sudah tak merasakan lagi perasaan itu pada Evan.


“Udah datang nih!!”, Kak Tasya menyapa mereka di café, ada banyak makanan disana, tempatnya sudah disusun sedemikian rupa dan ada sebuah kue berukuran besar di meja dengan liin ber-angka 17.


Kak Manda melihat Sofi datang bersama Guntur dan menggodanya, “Wah udah seneng ya, tahu nggak tadi pagi dia ngambek gara-gara kamu nggak kirim pesan sama dia.” Kontan Sofi menyikut kakaknya. Ia malu mengingat tingkahnya tadi pagi.


Guntur tertawa.

__ADS_1


“Nggak mungkin ngambeklah kak orang udah dikasih hadiah kok,” Mita kembali beraksi.


“Sayang kenalin ini temen kakak. Namanya kak Roby.”


“Halo, Roby.” Pria itu mengulurkan tangannya pada Sofi.


Sofi membalas uluran tangan itu. “Sofi”


“Selamat ulang tahun ya,”


“Iya kak makasih.”


“Kak Roby ini bantu kakak lho nyiapin pesta kamu ini.”


Sofi tahu yang dimaksud kakaknya, kemudian ia berbisik. “Bukan temen kan tapi pacar?”


“Nggak boleh, orang kamu aja dah punya masak kakak nggak."


“Ayo dong dimulai acaranya!!” Ardi beteriak tidak sabaran, ia ingin segera makan-makan.


“Oke ayo kita mulai sekarang!” Kak Tasya menyalakan lilinnya dan meminta semuanya mendekat. Dan lagu ulang tahun itu dinyanyikan dengan sukacita.


“Huuuh” Sofi meniup lilinnya dan mendapat sorakkan dari semua yang hadir. Sofi merasa benar-benar bahagia pada hari ini. Ia kemudian memotong kuenya ia mengedarkan pandangan ke sekelilingnya untuk memberikan suapannya.


“Suapan pertama buat kakakku yang terbaik, kak Tasya.”


“Suapan kedua buat sahabat-sahabat aku tapi aku wakilin sama Noni”


“Yang ketiga..” Sofi menghentikan ucapannya, ia kemudian menatap Guntur. Haruskah ia? Ia masih ragu untuk mengakuinya “Suapan ketiga buat Guntur.”


“Kok aku dapat yang ketiga sih?” Sahutnya sambil cemberut.


“Siapa suruh ngucapinnya telat.” Tapi mau tak mau Guntur juga menerima suapan itu diringi riuh teman-teman yang menyorakinya.


Sepanjang acara Evan terus memperhatikan Sofi dan Guntur, ia tak menyukai apa yang dilihatnya ini. Ia merasa kesal, marah dan cemburu dengan kedekatan mereka.


Sofi merasa bahwa Evan tak menyukai Guntur karena sedari tadi Evan terus memperhatikannya dengan wajah kesal. Juga mereka tidak saling menyapa satu sama lain, tapi mengapa bukankah mereka teman sekelas?

__ADS_1


__ADS_2