
Pagi-pagi Sofi sudah berada di sekolahnya. Dia terpaksa berangkat lebih pagi karena kak Tasya harus bertemu dengan klien dari luar kota. Dan banyak hal yang harus kakaknya persiapkan.
Masih pagi sekali. Sekolah masih sepi. Dengan langkah ceria Sofi menuju ruang kelasnya. Sesampainya dikelas dia mengeryit, ia melihat ada setangkai mawar merah dan secarik kertas dimejanya. Di datangi dan diambilnya kertas itu lalu dibacanya.
Maaf untuk semuanya.
Sofi tersenyum membaca tulisan di kertas itu. Bagaimana mungkin ada orang yang mengaguminya sampai mengirimkan bunga yang indah untuknya. Kira-kira siapa ya yang memberikannya, ditengoknya kanan-kiri belum ada temannya yang datang ke kelas. Siapa ya? Apakah Evan? Hari ini suasana hatinya berubah ia menjadi begitu bahagia, ternyata ada juga orang lain selain kakak, dan ketiga sahabatnya yang juga peduli padanya.
“Wah-wah tumben nih Sofi senyum-senyum sendiri? Nggak biasanya, Kamu gak kesambet kan gara-gara berangkat pagi kan?” Mita memulai aksi keponya.
Ketiga temannya itu datang bersamaan dan merasa curiga pada tingkah Sofi yang lain dari biasanya.
“Iya biasanya juga cuma melamun.” Farah pun menambahkan.
“Guys coba tebak aku dapat apa?” serunya kegirangan.
“Dapat apa?” Noni penasaran dan menatap satu sama lain.
“Lihat nih!” Kata Sofi sambil menyodorkan bunga yang ditemukannya tadi pagi.
“Wah kamu punya secret admirer nih? so sweet.” Mita berlagak sok imut dan mencium bunga itu.
“Kamu tahu dari siapa?” Noni bertanya ingin tahu.
“Nggak tahu waktu aku datang tadi bunga sama kertasnya udah ada dimeja.” Jawab Sofi sambil tersenyum.
*****
Siang ini mereka memutuskan untuk pergi ke mall. Sebulan sekali kegiatan ini menjadi kegiatan rutin mereka. Selain bisa cuci mata juga bisa melepas stress karena pelajaran. Mereka pergi nonton, pergi ke toko buku, shopping dan akhirnya mereka sampai di kafe langganan mereka.
“Kira-kira siapa ya yang kirim kamu bunga itu?” tanya Farah memulai percakapan.
“Nggak tahu.”
“Jangan-jangan Ari.” Mita asal menebak.
“Ih siapa tuh?” Tanya mereka berbarengan.
“Itu.... yang suka nglihatin Sofi yang pakai..... kacamata segede cermin gue,” Mita menjelaskan dengan mulut penuh makanan.
__ADS_1
“Ih nggak mungkinlah, dari yang dilihat dia tuh bukan orang yang begituan, lagian mana mungkin dia bisa kayak gitu.” Farah tidak percaya.
“Ehhh siapa yang tahu, kita kan gak bisa menilai orang cuma dari penampilannya aja kan?” Mita mencoba memberi penjelasan.
Mereka mengangguk-angguk.
“Tumben kamu bisa ngomong kayak gitu.”
“Emang biasanya aku ngomong apa?” jawab Mita dengan PD-nya
******
“Hai Sof!” Evan menghampiri dan menyapanya dengan tiba-tiba.
“Hai kak. Kakak ngapain disini?”
“Aku lagi cari kado buat Winda. Trus kamu lagi ngapain disini?”
“Biasa kak lagi jalan sama temen-temen.” Menyadari tatapan Farah, Sofi mencoba mengambil kesempatan buat mengenalkan Farah dengan Evan.
“Oh ya kak kenalin nih temen-temen aku, Noni, Farah dan Mita.” Sofi mengenalkan mereka satu-satu.
“Boleh kok, silahkan aja. ”sahut Farah bersemangat.
“Oh ya. Kalian kan cewek menurut kalian apa yang bisa aku kasih buat adek aku, dari tadi aku muter-muter bingung belum dapat apa-apa.”
“Adik kamu ulang tahun yang keberapa?” Farah bertanya dengan senyumnya yang lebar.
“Ulang tahun yang ke- 12.” jawab Evan lalu ia mengalihkan perhatiannya pada Sofi lagi. “Sof kamu kan juga deket sama Winda kamu bisa bantuin aku dong!” Evan menatap Sofi meminta jawaban.
“Ehhhh?” Sofi terkejut dengan pertanyaan Evan yang tiba-tiba. Dan ia berhenti menyeruput es Capuccino-nya. Sebenarnya mau sih tapi menyadari Farah menatapnya, Sofi berusaha mengalihkan diri.
“Maaf kak aku nggak bisa, aku udah janji sama kak Tasya. Jadi harus segera pulang deh.”
“Yah, kok gitu sih,” Evan terlihat kecewa dan raut wajahnya pun berubah.
“Kalo sama Farah aja gimana kak? Dia juga bisa kok bantuin kakak cari kadonya.” Sofi memberanikan diri untuk mengajukan Farah sebelum kesempatannya hilang.
Evan memandang Sofi sesaat lalu bergantian ke Farah tampak berpikir sejenak. “Kamu bisa Far?” suaranya terdengar ragu dan tak bersemangat.
__ADS_1
Noni menyadari sesuatu terjadi di depannya, Evan ingin mengajak Sofi pergi yang artinya ia mungkin memiliki perasaan pada Sofi, juga perubahan sikap, raut wajah dan nada suaranya saat Sofi menolaknya. Dia harus bicara pada Sofi.
“Bisa kak.”sahut Farah bersemangat.
“Trus aku pulangnya gimana” Mita bertanya.
“Ya udah ntar bareng aku aja.” Noni memberikan solusi, karena menyadari raut muka Sofi yang berubah Noni segera bertindak.
”Ya udah kita pulang yuk!” Noni tak ingin teman-temannya apalagi Evan menyadari Perasaan Sofi di saat-saat seperti ini.
Dalam perjalanan pulang Sofi hanya diam saja, ia terlihat tak bersemangat. Ia memandang rintik hujan yang mulai turun dan membasahi kaca mobil. Hatinya bertanya-tanya
Kenapa dia gak mencoba jujur dengan perasaannya?
Kenapa dia malah mengalah sebelum berjuang?
Kenapa dia membiarkan Farah pergi dengan Evan dan menyia-nyiakan kesempatannya?
Dan kenapa dia disini dan diam aja?
Hah??? Semua ini benar-benar menbuatnya frustrasi.
Kenapa? Apa cinta harus menyakiti?
*******
Malam ini hujan masih turun meski tinggal butiran-butiran kecil yang jatuh ke bumi. Dengan sangat tidak bersemangat Sofi mengeluarkan buku-buku dari dalam tasnya. Ada PR yang harus dikerjakannya sekarang. Ia harus tetap mengerjakan tugas-tugasnya, ia tidak mau lagi di panggil oleh wali kelasnya. Dengan kasar ia membuka tasnya dan itu membuat seluruh isi dalam tasnya jatuh berhamburan ke lantai.
Dengan kesal ia memungut barang-barangnya yang berserakan di lantai. Ia terkejut menemukan sebuah kotak musik di bawah mejanya diantara tumpukan buku-bukunya. Sofi heran bagaimana benda ini bisa berada disini lalu dia melihat sebuah kertas berwarna merah yang di dalamnya berisi sebuah kalimat yang di tulis dengan rapi.
Aku harap ini bisa menghiburmu.
Meski aku tahu, aku tidak akan bisa menghapus rasa sedihmu.
Apakah kamu bahagia, Sofi?
Sofi benar-benar penasaran siapa yang mengirimkan pesan-pesan ini untuknya. Sofi tersenyum. Yah setidaknya hari ini ada hal yang bisa membuatnya bahagia.
“Ya aku bahagia, terima kasih,”
__ADS_1