
Gara-gara kejadian tadi pagi suasana hati Sofi jadi buruk. Dia memang tidak bisa melarang untuk menyukai Evan apalagi sahabatnya sendiri. Toh Evan kan juga bukan miliknya. Tapi apa yang harus dilakukan? Menuruti permintaan Farah? Sama saja membunuh hatinya sendiri. Siapakah yang harus dia pilih sahabatnya atau orang yang dia sukai?
"Sof kamu kenapa sih?" Noni menyenggol lengan Sofi saat keduanya sedang berada di kantin berdua, sedangkan Mita dan Farah sedang berada di perpustakaan mengerjakan tugas dari pak Bambang tempo hari. Raganya memang disini tapi pikirannya entah kemana.
Sofi yang tengah tak bersemangat mengangkat wajahnya tak menjawab. Terlihat dari wajahnya yang tampak murung.
"Aku nggak papa kok. Aku ke kamar mandi bentar ya?!" Dia langsung berdiri begitu saja meninggalkan Noni yang masih bingung dengan keadaannya.
Noni mencekal tangan Sofi sebelum berlalu pergi. "Kamu kenapa sih? Kok aneh gini, ada masalah? Cerita dong!"
Sofi hanya menoleh sebentar menggeleng kan kepalanya dan menepis tangan Noni. " Nggak ada apa-apa, aku cuma mau ke kamar mandi saja kok."
Sofi berlalu pergi dan Noni tak mengejarnya. Mungkin dia nanti akan cerita sendiri. Tapi bukankah Sofi harusnya senang kemarin punya kesempatan untuk bisa pulang bareng Evan, cowok yang dia suka. Bukannya malah kayak gini, apa jangan-jangan kemarin terjadi sesuatu?? Ahh tahu ah nanya orangnya saja nanti.
*******
Gara-gara pikirannya yang entah kemana. Kakinya dan tubuhnya berjalan sendiri tanpa perintah darinya. Sofi sudah berada di belakang sekolah, tempat menyeramkan yang jarang orang sadar mau datang ke sana. Letaknya yang tidak jauh dari kamar mandi, membuat tempat itu seakan jarang terjamah. Hanya segerombolan anak-anak nakal yang menjadikan sebagai tempat nongkrong. Meskipun banyak siswa yang tahu, tidak ada yang berani melaporkan pada guru.
Kepulan asap yang berada di sekitarnya tak membuatnya segera sadar dimana dia berada. Mendadak dia sadar dimana kakinya berpijak. Suasana sepi yang tiba-tiba jadi ramai membuat Sofi mendongak kan kepalanya.
__ADS_1
"Woi kamu!!!!" Teriakan itu membuat Sofi terlonjak kaget. Sofi menengok ke kanan-kiri melihat sekelilingnya. Tidak ada seorangpun yang bisa menolongnya. Wah gawat ini.
Melihat segerombolan cowok di hadapannya membuat Sofi begitu takut, bahkan untuk berlari atau berjalan menjauh saja kakinya terasa lemas. Bukan hanya satu atau dua tapi ada sekitar delapan sampai sepuluh orang. Mungkin juga lebih. Sofi tidak berani menatap ke arah mereka.
Tampilan mereka yang liar dengan baju yang berantakan, putung rokok yang bertebaran dan botol-botol bekas minuman keras membuatnya tambah ngeri.
"Maa....aff." Sofi berhasil mengeluarkan suaranya dengan tergagap. Hanya itu yang mampu lolos dari bibirnya. Dengan langkah hati-hati, Sofi berbalik ke arah lain mencoba mencari jalan keluar.
"Woi siapa suruh pergi!!" Teriakan itu membuat Sofi terlonjak lagi. Dan kembali menghentikan langkahnya.
Dengan enggan dan hati-hati, Sofi kembali menghadapkan kembali untuk melihat siapa yang meneriakinya. Kali ini Sofi mencoba memberanikan diri, dia mengendarkan pandangan mencari seseorang yang siapa tahu dia kenal dan mau dimintai tolong atau mungkin berbaik hati membantunya untuk melepaskan diri. Dia tidak mau berurusan lebih lama lagi dengan mereka.
Dia menatap wajah mereka satu-persatu, hingga berhenti pada seseorang yang mungkin dia kenali. Seorang cowok dengan rambut yang dikeluarkan, rambutnya yang acak-acakan tapi terlihat menawan. Cowok itu menghisap rokok dalam-dalam lalu menghembuskannya, seakan tidak peduli dengan apa sedang yang terjadi.
"Lihat apa?" Suara cowok itu mengejutkannya, membuatnya malu dan menundukkan kepalanya.
"Mau apa kamu kesini??!!!" Suara tadi lagi mengejutkan Sofi.
"Aaku nggak sengaja lewat kak, maaf." Sofi mencoba menjelaskan.
__ADS_1
"Bohong!!" Bentak cowok itu lagi. Ih bisa nggak sih nggak pakai teriak. Bikin kaget saja. Mana suaranya cempreng.
Merasa di acuhkan. Cowok yang bernama Ardi itu bertanya lagi. "Kenapa diam saja?"
"Eh iya kak." Sofi pasrah apa yang akan terjadi nanti. Dijelaskan pun sepertinya percuma. Keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya. Tangannya gemetaran.
" Ardi udah lepasin aja, biar dia pergi!" sahut cowok menawan itu. Menawan? Sofi menatap bingung. Sepertinya angin baru saja berhembus semilir menghilangkan ketakutannya.
"Kamu yakin?"
"Dia nggak mungkin macam-macam sama kita, kalau berani biar aku yang urusin." cowok itu masih menatap Sofi. Tatapannya tak terbaca.
Cowok yang bernama Ardi itu menatap Sofi sebentar. "Ok tapi kamu harus janji tidak akan bilang sama siapapun termasuk guru!"
"Iya aku janji." Jawab Sofi lirih.
Sofi masih diam tak bergerak dari tempatnya, ada sesuatu dari cowok menawan itu yang membuatnya ingin tahu.
"Ya udah sana pergi! Ngapain masih disitu?" Ardi menghalau Sofi pergi dengan melotot dan mengibaskan tangannya.
__ADS_1
Sofi yang ketakutan langsung berbalik dan lari. Dia memang tidak ingin berada di tempat menyeramkan itu. Tapi entah mengapa ada rasa yang tertinggal disana.
Mungkinkah cowok menawan itu sudah menawan hatinya?