
Noni berjalan ke luar sekolah bersama Sofi, dia ingin bertanya padanya tentang hubungan yang dijalaninya bersama Guntur. Noni tak bisa bertanya di dalam kelas, dia tak mungkin menginterogasi Sofi di depan temannya yang lain, Mita dan Farah.
Tapi dia ingin tahu perasaan Sofi yang sesungguhnya. Dan Sofi pun dari tadi hanya diam dan tertunduk lesu.
Belum sempat Noni bertanya pada Sofi, dilihatnya Guntur yang sudah stand-by di depan gerbang sekolah dekat pos satpam.
Dia duduk diatas motornya sambil memandang ke belakang melalui kaca spionnya. Seolah menunggu seseorang. Dan dia tahu pasti siapa yang sedang ditunggunya.
“Nah loh, kamu pulang sama Guntur?” Noni bertanya, ada rasa kecewa dalam benaknya, sepertinya banyak hal yang sudah ia lewatkan. Dan ia baru merasa bahwa sebenarnya Sofi tidak sepenuhnya terbuka padanya.
“Gitu deh.” Jawabnya sambil mengangkat bahunya.
“Jangan bilang kemarin kamu juga…” belum sempat Noni melanjutkan bicaranya, Sofi sudah memotong kalimatnya.
“Iya… sorry Non, bukannya nggak dengerin kata-kata kamu cuma….. aku ….aku nggak bisa jelasin pakai kata-kata deh.” Sofi kehilangan kata-kata, ia tak mengerti bagaimana ia harus menjelaskan semua ini pada Noni.
“Kak Tasya tahu?”
“Tahu orang kemarin juga sempet ketemu kak Tasya.” Noni mengerutkan keningnya. Sudah sejauh inikah?
Guntur menoleh kearahnya. Seakan memberi isyarat.
“Aku duluan ya." Ia tak peduli lagi pendapat orang tentangnya lagian sudah terlanjur kan?
“Nih helm kamu!” Di pakaikan helm berwarna pink itu ke kepala Sofi dan mengaitkannya pada kancingnya. Sofi melihat catnya yang masih bagus dan bau khas helm baru.
“Baru ya?” Ia bertanya tak ragu seolah mereka benar-benar begitu akrab dan dekat. Bukan perasaan takut atau cemas yang ada.
“Iya emang kamu mau pakai bekas?”
“Huh…” Sofi manyun dan memutar bola matanya keatas.
“Nggak usah pasang muka kayak gitu deh." lalu ditariknya hidung Sofi.
“Aduh sakit tahu.” sambil memukul lengan Guntur.
Kemudian Sofi naik ke motornya dan melambaikan tangan pada Noni. Tangannya kemudian menyusup ke punggung Guntur.
Noni menatap tak percaya.matanya melebar Apa-apaan ini?
“So sweet.” Mita tiba-tiba nongol di dekat Noni.
“Ah… kamu ngapain sih ngagetin aja, sejak kapan kamu disitu?”
“Dari tadi, romantis banget tahu nggak mereka.”
“Kamu nggak khawatir apa?”
“Khawatir gimana?”
“Kamu tahu kan siapa Guntur itu?”
“Iya sih emang orang kayak gitu, tapi kan dia nggak playboy.”
__ADS_1
“Trus dia nggak berbahaya gitu buat Sofi?”
“Tahu tapi ya... yang aku tahu cinta itu merubah segalanya.”
Noni menatap mita dengan tatapan heran.
“Kenapa?” Mita yang di tatap menjadi salah tingkah.
“Kamu makan apa sih?? Kenapa bisa dapat kata-kata kayak gitu.” Tanyanya penasaran
“Yang mana??? “Mita berusaha mengingat-ingat apa yang tadi dikatakannya.
“Udah deh lupain. Ngapain kamu disini?”
“Sebenernya sih mau cari taksi berhubung uang nggak cukup nebeng kamu yah.”
“Makanya jangan boros beli make up terus, tumben nggak bareng Farah?”
“Lupa ya Farah kan bareng gebetannya teruuuusss.” Mita kesal mengingat itu.
“Oh ya lupa. Ya udah yuk!”
“Boleh asyikkkkk!!” Mita kegirangan.
Dari kejauhan Evan melihat semuanya, hatinya sakit rasanya terbakar. Bukan ini yang dia harapkan, dia harus melakukan sesuatu sebelum semuanya terlalu jauh dan menjadi rumit.
******
“Hahaha.” kak Tasya tertawa.
“Habisnya lucu, kakak pikir dia ngerjain kamu tapi…”
“Tapi apa kak?”
“Mungkin aja dia bener-bener suka sama kamu.”
“Suka dari mana coba?”
“Kalau dari yang kakak lihat dia bener-bener sayang sama kamu, buktinya dia mau antar-jemput kamu, minta izin lagi sama kakak. Dia nggak pernah nyakitin kamu juga kan?”
“Bukan nggak tapi belum….”
“Jangan nilai orang gitu kamu kan belum kenal dia, coba deh kamu kenal lebih dekat……mungkin … dia tak seperti yang kamu pikirkan.” Kata kak Tasya ada benarnya juga.
*******
“Yeay aku dapat coklat.” Mita berseru kegirangan. Hari ini adalah hari Valentine, semua orang di kelas sibuk sendiri. Ada yang membawa bunga, coklat atau kado.
“Dari siapa?”
“Nggak ada namanya. Penggemar rahasia aku pasti. Kamu dapat apa?” tanya Mita sambil memamerkan coklatnya.
“Aku dapat ucapan doangggg! Puas?” Farah merasa kesal karena Evan tak perhatian padanya.
__ADS_1
“Kamu Non?”
“Ntar malam Dennis ngajak aku candlelight dinner gitu,” Noni malu-malu mengatakannya.
“Trus kamu Sof, dapat apa dari Guntur??” kali ini giliran Sofi yang di tanyai.
“Nggak dapat apa-apa.” jawabnya santai. Emang dia mau berharap apa?
“Yakin?”
“Iya.” Sofi tersenyum.
“Ih boong ngaku!” Mita memaksanya.
“Beneran."
Tiba-tiba Guntur muncul dan berdiri di depan pintu kelas. Sofi yang menyadari kedatangan Guntur pun berdiri melihat kearahnya, seakan sudah berantisipasi.
Bel berbunyi.
Tapi Guntur masih diam di tempatnya tanpa kata. Sofi pun berjalan mendekat kearahnya.
“Kamu ngapain disitu? Belnya udah bunyi balik ke kelas gih!”
“Udah mulai berani ya memerintah aku?” Jawabnya menggoda, Sofi mulai merasa risih ditatap teman-teman sekelasnya.
Pak Bambang pun datang. “Ada apa ini? Dengar bel berbunyi nggak?” Tanyanya dengan galak.
Guntur diam saja tak menjawab dan hanya senyum-senyum sendiri. Sofi memberikan isyarat agar Guntur pergi ke kelasnya. Namun tetap saja Guntur tak bergeming.
“Ayo cepetan! Nunggu apa lagi?” pak Bambang sudah mulai gusar.
“Bentar pak nunggu seseorang,” sahutnya dengan santai.
“Nih…nihhhh bunganya!” Ardi mendekat dengan ngos-ngosan. Ardi membawa 17 tangkai bunga mawar merah yang sangat cantik.
Guntur menerima bunga itu. “Lama banget sih?” gerutunya.
Dia menatap Sofi, “Sof selamat hari valentine….. ini buat kamu.” sambil menyodorkan bunga itu padanya.
“Bunganya masih seger baru dipetik tadi,” Ardi menambahi dan langsung mendapat tatapan dari Guntur.
Sofi mengambil bunga itu dari tangan Guntur. “Makasih.” Sofi tersipu malu.
“Sudah, ini? KEMBALI KE KELAS KALIAN!!!!” Pak Bambang benar-benar marah melihat perilaku murid-muridnya ini.
“Oke pak Siap!!” Guntur memberikan hormat pada pak Bambang sebelum berbalik kembali ke kelasnya.
“Kamu juga cepet duduk!!”
Sofi terkejut “Iya pak.”
Sebelum Sofi beranjak pergi. Guntur kembali ke arahnya memegang tangannya dan mencium keningnya. Lalu berlari pergi. Sofi terkejut, malu dan juga senang dalam waktu yang bersamaan.
__ADS_1
“Cie cie...” suara riuh kelas membahana.
“Beruntung ya kamu…” Farah mengatakan kalimat itu saat Sofi kembali duduk di kursinya. Sofi sempat bingung dengan maksud kata-katanya.