Rain Memories

Rain Memories
Good News


__ADS_3

Dari dalam kelas Evan melihat Sofi berjalan lewat depan kelasnya, kemudian dia bergegas menuju kearahnya. Sofi tidak menyadari kehadiran Evan dan terkejut saat Evan tiba-tiba sudah berdiri di dekatnya.


"Hai Sof belum pulang?" Evan bertanya dengan senyumnya yang manis. " Eh ada Noni juga.." Senyuman yang bisa membuat cewek seantero sekolah pingsan karenanya. Tak terkecuali Sofi.


Evan adalah mantan ketua OSIS yang meski sudah lengser dari posisinya tetap jadi cowok populer incaran cewek-cewek. Evan memang cowok perfect selain baik dan berprestasi. Selama ini Evan menjadi seorang cowok yang disukainya pula.


Merasa tak di jawab pertanyaan nya. Evan bertanya lagi sambil menepuk pundaknya. "Sof, kami dengar aku nggak sih?"


"Oh iya kak. Ada apa?" Sofi tersadar dari lamunannya dan menunduk karena mukanya menjadi merah karena malu.


"Aku tadi tanya kamu kok belum pulang?" tanya Evan masih dengan senyum manisnya.


Sofi tak segera menjawab, dia masih terpaku dengan kehadiran Evan. Di dekat kakak kelasnya ini memang bisa membuat jantungnya Sofi berdegup kencang dan kehilangan kata-kata.


Evan kembali menegurnya, sambil mengibaskan tangannya di depan Sofi. "Heyy..!"


"I...iya ini mau pulang. Ehh kak Evan kok belum pulang?"


"Ini juga mau pulang, kamu belum di jemput?" tanyanya kemudian.


"Aku pulang sendiri kak. Kak Tasya nggak bisa jemput, mau naik taksi aja." Sofi menjawab dengan cepat mencoba menutupi kegugupannya.


Noni yang berdiri disampingnya hanya diam memperhatikan keduanya. Sesekali tersenyum melihat interaksi keduanya. Jadi obat nyamuk ini.

__ADS_1


"Oh gitu ya, mau bareng nggak?" tanya Evan menawarkan bantuan.


Sofi memandang Evan, tak percaya dengan apa yang didengarnya. Sofi melongo hingga membuat Evan salah tingkah.


"Kenapa? Lagian rumah kita kan dekat. Kamu juga nggak di jemput. Aku kan bukan orang lain buat kamu." Evan menjelaskan alasannya tanpa perlu diminta.


"Bukan nggak mau tapi nggak papa...?" Sofi menghentikan ucapannya, ia menatap Evan sebentar sebelum melanjutkan. " trus pacar kakak?"


"Pacar? Yang mana? Oh maksud kamu Prita? Aku udah nggak jalan lagi sama dia kok." sahut Evan mengerti siapa yang dimaksud Sofi.


" Oh jadi kabar itu bener?" Sofi tidak sadar mengatakan itu. Bibirnya tersenyum tanpa diminta.


Sofi teringat kejadian minggu lalu saat Prita melabraknya dan menuduhnya cewek penggoda pacar orang. Yah Evan kan memang tetangganya dan mereka memang cukup dekat, banyak siswa yang berpikir kalau mereka punya hubungan termasuk Prita. Meskipun dalam hati dia mengamini itu, karena sebenarnya dia memang suka dengan Evan.


"Aku nggak bilang apa-apa kok." Sofi menggeleng cepat. Takut jika Evan mendengar apa yang dia ucapkan.


"Gimana?" tawarnya lagi.


Sofi tak menjawab. Dia bingung. Maunya sih iya, kapan lagi bisa pulang bareng cowok idola. Mumpung ada kesempatan. Tapi dia juga nggak mau kena bulan-bulanan anak seantero sekolah gara-gara bareng Evan.


Noni yang sedari tadi diam saja, membuka suara. " Ya udah deh Sof kamu bareng sama kak Evan aja daripada naik taksi sendiri."


"Iya ayo!" Evan menganggukkan kepalanya tanda setuju pada saran Noni.

__ADS_1


"Kamu nggak takut sama aku kan? Atau jangan-jangan kamu takut sama Prita. Kalau ada apa-apa bilang aja sama aku, aku juga udah nggak punya hubungan apapun sama dia. Dia nggak berhak marah sama kamu."


"Tuh kan Evan berani tanggung keadaan." Noni berusaha meyakinkan Sofi karena dia tahu Sofi suka sama Evan. Dia nggak mau kalau sampai Sofi melewatkan kesempatan ini, mumpung keduanya sama-sama jomblo. " tapi awas ya kalau kak Evan ngapa-ngapain Sofi nanti langsung berhadapan sama aku." Noni menambahi sambil tertawa.


" Nggaklah. Sofi aman kok sama aku."


Dengan segala keberanian akhirnya Sofi memutuskan untuk pulang bareng Evan. "Ok deh Kak, tapi nunggu jemputan Noni dulu ya. kasihan dia sendirian."


"Nggak usah. Kalian pulang aja dulu." Baru saja bilang, mang Udin supirnya Noni datang menghampiri mereka sambil membawa payung.


"Maaf non jemput nya telat jalannya macet."


mang Udin menjelaskan keterlambatannya.


"Iya mang belum lama nunggu juga kok. Ya udah aku pulang dulu ya." Noni berpamitan sambil mengerlingkan matanya pada Sofi dan melambaikan tangannya.


"Hati-hati ya!" sahut Sofi yang kini merasa gugup karena hanya berdua dengan Evan.


"Ayo Sof!" Evan mengajak Sofi pulang. Sofi dan Evan berjalan bersama sambil sesekali Evan mengeluarkan candaannya. Di mobil pun begitu, sehingga mengurangi kecanggungan diantara keduanya.


Apa ini pilihan yang benar? Setidaknya hari ini aku bahagia mendapatkan kesempatan. Bisa jadi awal yang baik.


*****

__ADS_1


ayo vote dan comment πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ₯°πŸ˜˜πŸ˜˜


__ADS_2